Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Telepon dari Sinta untuk Ardian


__ADS_3

Bab 13


Nia mengetuk pintu itu dua kali. Dua kali lagi. “Ardi…,” panggilnya. “Ardi…”


Pintu itu dibuka dari dalam. Ardian berdiri di depannya dengan pandangan bertanya. Tak disangkanya gadis itu akan kembali ke kamarnya setelah marah tadi. Bukankah dia pergi setelah menamparnya dalam kemarahan hingga pintu kamarnya pun dibanting saat ditutup tadi? Kenapa sekarang balik mengetuk?


“Ayo, turun makan!” katanya berusaha melembutkan suara.


Ardian menatapnya semakin heran. Gadis itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tak tampak lagi kemarahan di wajahnya.


“Oh… Iya, aku akan turun makan setelah mandi,” jawab Ardian sambil menatap Nia lekat.


“Aku turun dulu. Kutunggu kamu ya, jangan lama-lama,” kata Nia.


Nia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah tangga.


Merasa tak terjadi apa-apa seperti Nia, Ardian pun membalikkan badannya dan pergi mandi.


Bik Aini menyambut kedatangan Nia di dapur.


“Selamat pagi, Non,” sapa Bik Aini duluan.


“Pagi, Bik,” balas Nia dengan senyum seperti dipaksakan.


Merasakan ada sesuatu yang lain dari biasanya, Bik Aini bertanya, “Kenapa, Non? Tampaknya kurang semangat dan seperti ada masalah?”


“Masalah? Masalah apa, Bik?” balik bertanya Nia dengan mata mengawang-awang.


Pikirannya belum lepas dari sikap Ardian tadi yang sekonyong-konyong menciumnya. Rasanya belum bisa hilang rasa kaget dan marah di hatinya, namun dia dengan cepat dan terpaksa harus menyingkirkannya segera. Semakin lama dipendam rasa marah itu akan semakin menyakiti diri sendiri.


“Nggak, wajah Non Nia lain dari biasanya. Biasanya senang saja terus seperti anak-anak yang tiada beban. Pagi ini kok berubah jadi lain. Hehe,” kata Bik Aini.


“Begitukah, Bik?” tanya Nia berusaha tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat lebih ikhlas.


“Nah, gitu dong, Non Nia. Senyumnya harus lebih ikhlas,” kata Bik Aini.


Bik Aini dan Nia pun sama-sama tertawa.


“Iya, deh! Iya, deh! Tak boleh bertampang sedih di rumah ini. Rumah yang sangat nyaman dan menyenangkan. Seandainya…,” Nia berpikir, seandainya Ardian bisa diubahnya menjadi seperti yang diinginkan semua orang di rumah ini, maka kenyamanan di rumah ini akan terasa lengkap.


“Seandainya apa, Non?” tanya Bi Aini.


“Tak apa-apa, Bik,” senyum Nia.


“Nak Ardian sudah bangun? Malam tadi dia tak turun makan malam,” kata Bik Aini.


“Wah, berarti sampai sekarang belum makan, Bik?” tanya Nia agak takjub.


“Iya, Non. Kalau Nak Ardian sudah tidur nyenyak, ada gempa bumi pun tak tahu. Hahaha…”


“Hahaha...,” Nia ikut tertawa.

__ADS_1


“Non sarapan duluan saja, tak usah menunggu Nak Ardian. Bangunnya bakal siang lagi nanti.”


“Nggak, Bik. Ardi sudah bangun kok, lagi mandi,” kata Nia.


“Oh, Non kok tahu?”


“He-eh,” Nia cengar-cengir. “Ohya, Om Wisnu dan Tante Siska sudah bangun?” tanya Nia mengalihkan pembicaraan.


“Malah sudah berangkat ke kantor pun, Non. Barusan,” jawab Bik Aini.


“Wah, sepagi ini sudah berangkat?” tanya Nia sambil melirik jam dinding yang ada di dapur. Hampir pukul 8 pagi.


“Iya, Non, sebagai boss yang baik, harus memberi contoh yang baik juga. Duluan sampai di kantor sebelum anak buah sampai, biar mereka nggak berani terlambat,” celoteh Bik Aini sok tahu.


“Betul juga, ya. Berarti capek dong setiap hari begini, berangkatnya pagi-pagi, pulangnya malam-malam, iya, kan?” tebak Nia.


Bik Aini mengangguk. Begitulah orang sukses, Non, jarang punya banyak waktu bersantai. Anak-anaknya barangkali yang bisa bersantai, seperti Ardian misalnya.”


“Iya toh, Bik. Ardian kan sudah dewasa, seharusnya di musim libur kuliah seperti ini bisa membantu papa mamanya di kantor. Belajar bekerja, belajar memahami seluk-beluk perusahaan. Kalau liburannya cuma tidur kesiangan setiap hari, sayang waktunya,” celoteh Nia mengeluarkan pendapatnya.


“Mana mau Nak Ardian disuruh bangun pagi dan ikut papa mamanya ke kantor. Dia tak suka kerja, ah. Lebih suka main dan keluyuran sama teman-temannya,” cerita Bik Aini.


“Keluyuran sama teman-temannya?” tanya Nia memperjelas.


“Iya, Non, lihat saja kalau dia turun sarapan nanti, sebentar saja makan sudah berdering ponselnya, dari si anu gitu, terus nanti buru-buru deh makannya dan langsung cabut dengan mobilnya.”


“Wah...,” reaksi Nia.


“Oh....,” desis Nia. “Teman-teman Ardi itu cowok atau cewek, Bik?” tanyanya.


“Cowok cewek ada. Kadang yang dibawa datang cowok cewek, kadang cewek saja. Kalau yang cewek itu, pakaiannya, Non, gitu lho, terbuka, seksi, rok pendek, ketat, macam di film-film itulah, Non make up-nya.”


Nia menahan napasnya, seolah tak berani melanjutkan bernapas saking terpananya mendengar cerita Bik Aini.


Dikiranya, Ardi cuma memiliki sikap, karakter, dan emosi yang buruk, ternyata dia juga bergaul dengan teman-teman yang begitu.


“Non, Non,” Bik Aini memanggil, menyadarkan Nia yang tampak melamun.


“Iya, Bik?” sadar Nia.


“Kalau bisa, Non ubahlah Nak Ardian menjadi anak baik seperti Non Nia. Sabar, perhatian, peduli, rajin, hormat, dan sopan pada orang tua,” pinta Bik Aini.


“Wah, Bibik terlalu memujiku,” senyum Nia tawar. Seperti ada palu yang menghantam hatinya setelah mendengar cerita Bik Aini tentang Ardian.


Tugas yang diembannya dirasakannya semakin berat. Selain harus bisa mengubah sikap, karakter, dan emosi Ardian, dia juga harus menjauhkan Ardian dari teman-teman yang membawa pengaruh kurang baik.


“Sebenarnya, teman-teman Nak Ardian tak bisa disalahkan juga, Non. Mereka cuma gambaran sebagian dari kaum milenial kita yang hidupnya senang, suka berfoya-foya. Tapi Bibik lebih suka bila Nak Ardian bergaul dengan teman yang seperti Non Nia, sederhana, tahu kesusahan orang tua.”


“Nggak juga, Bik,” Nia menggeleng. “Yang penting mereka hatinya nggak jahat apalagi menjahati Ardi, ya nggak apa-apa juga sih Ardi bergaul dengan mereka,” pendapat Nia, walau terdengar agak ragu.


“Bergaul dengan siapa, Nia?” tiba-tiba terdengar suara Ardian yang baru masuk ke ruang dapur.

__ADS_1


Kaget, menyadari kehadiran Ardian yang entah mendengar percakapan mereka sedari tadi atau tidak, Bik Aini dan Nia buru-buru menjauh satu sama lain dan Bik Aini pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


Nia berjalan gugup melewati Ardian yang berdiri di depannya, langkahnya menuju ruang makan. Dengan cepat di raihnya piring makan di atas meja yang tersaji mie goreng. Tanpa bertanya lebih lanjut, Nia pun langsung duduk di kursi makan dan menyantap mie goreng itu seolah sudah sangat lapar.


“Ardian melihat Bik Aini yang pura-pura sibuk dengan cucian piringnya. Maunya sih dia marah karena digosipin Bik Aini. Tapi diurungkan niatnya untuk marah, dia berbalik, berjalan ke ruang makan. Didekatinya meja makan di mana Nia sedang pura-pura asyik melahap sarapannya. Merasa gadis itu tak mau menjawab pertanyaannya, Ardian pun duduk, meraih satu piring makan berisi mie goreng juga lalu menyantapnya dengan cepat.


Sambil makan, Ardian melihat beberapa kali ke arah Nia, tapi gadis itu seperti tak peduli akan kehadirannya. Hatinya masih dag-dig-dug. Takut kalau-kalau Ardian sudah mendengar semua percakapannya dengan Bik Aini tadi.


Jangan-jangan dia sudah bersembunyi di samping ruang dapur sedari tadi dan menguping pembicaraannya dengan Bik Aini.


Apa yang mereka gosipkan tadi? Keburukan sikap teman-teman Ardian yang memberantakkan kolam renang, memanggil online food dan memakannya ramai-ramai seperti sedang berpesta. Lalu Wak Amat dan Bik Aini yang kebagian tugas membereskan sampah-sampah bekas makanan. Lho, Ardian kan bisa bilang, itu memang tugas mereka. Tapi, kalau bertamu di rumah orang pun semestinya sopan, jangan menganggap toh semuanya ada yang membereskan jadi semau gue. Hiks.


“Kenapa?” tanya Ardian melihat sikap Nia yang lain dari biasanya. Pagi ini dia nampak pendiam, padahal biasanya banyak sekali celoteh dan perintahnya.


“Hah? Apa?” Nia mengangkat wajahnya yang sedang menunduk melahap mie goreng. Mie goreng itu sampai menggantung di mulutnya karena dia bicara sambil makan.


“Lho, aku tanya kamu kenapa? Kok malah balik nanya?” reaksi Ardian.


Nia membuka mulut, hendak berkata-kata lebih jelas setelah mie goreng itu masuk ke dalam kerongkongannya. Namun suara deringan ponsel Ardian yang diletakkan di meja makan mengurungkan maksudnya.


Ardian melirik Nia yang seperti melongok memperhatikan ponsel Ardian yang sedang berdering. Tampaknya dia penasaran ingin tahu dari siapa, apakah dari temannya seperti kata Bik Aini tadi?


Ardian melihat reaksi Nia yang seperti tak sabar melihatnya menjawab panggilan. Karena ingin tahu reaksi selanjutnya dari gadis itu, Ardian pun menjawab panggilan itu dengan sebelah tangan. “Halo?”


“Hai, Ardian! Lagi ngapain?” suara cewek di seberang sana.


Ardian tak menyimpan nomor ponsel cewek yang suaranya di telinga Ardian terasa lupa-lupa ingat. Ini cewek yang mana, temannya siapa yang dikenalkan padanya tempo hari? pikirnya.


Merasa malas menggenggam ponselnya sambil makan untuk bicara dengan cewek yang dia sendiri pun tak tahu yang mana, Ardian menyetel loud di pilihan ponselnya hingga suara cewek itu terdengar keras menggema di ruang makan. Suara cewek itu berikutnya, Nia bisa mendengarnya.


“Ardian… kamu lagi ngapain, Sayang? Bisa nggak siang ini kita pergi jalan-jalan? Sekalian makan siang, ada kafe baru yang menyajikan makanan Jepang. Aku pengen coba, Ardian. Temani aku, ya?” suara cewek itu di seberang sana.


“Kafe? Kafe di mana?” tanya Ardian dengan suara santai. Diliriknya reaksi Nia setiap kali dia membalas percakapan di ponsel yang dikeraskan suaranya itu.


“Ada deh, kafenya dekat mal. Nanti kita sekalian shopping. Mau kan Ardian temani aku?” tanya suara itu.


“Temani kamu? Ke kafe? Makan? Shopping? Waduh, sori ya, kamu itu siapa, sih? Kok nggak sebut nama sebelum bicara, nomor ponselmu nggak ada di daftar kontakku, lho,” seruduk Ardian.


“Hah?” cewek itu bereaksi, bengong.


“Kamu siapa? Aduh, mengganggu makan pagiku saja,” kata Ardian langsung.


“Ardian, aku ini Sinta, lho. Masa kamu nggak tanda suaraku? Bukankah kita sudah dikenalkan Andika, teman baikmu tempo hari. Lalu kita pun sudah pernah pergi nonton bareng, makan, belanja, main ke rumahmu, sampai berenang ramai-ramai di kolam renang rumahmu yang besar itu. Lalu…”


“Waduh, sori, ya. Sinta yang mana ini? Temanku yang namanya Sinta itu banyak. Lalu yang pernah nonton bareng, makan, belanja, dan main ke rumah pun banyak. Aku nggak hapal nama mereka satu per satu,” kata Ardian dengan suara agak kesal namun terdengar enteng.


“Ardian, kamu kok tega banget…?” suara di seberang sana.


“Iya, aku memang tega orangnya!” ketus Ardian langsung memutus percakapan di ponselnya.


Nia yang sedari tadi mendengarkan percakapan Ardian dengan cewek bernama Sinta lewat ponsel itu, cuma menganga seperti baru melihat satu adegan film yang seru.

__ADS_1


* * *


__ADS_2