Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Perbincangan Nia dengan Om Wisnu dan Tante Siska


__ADS_3

Bab 11


"Om, Tante,” kata Nia sambil berjalan perlahan mendekati mereka berdua, membungkukkan badannya dengan sopan dan berdiri di depan mereka.


Om Wisnu dan Tante Siska yang sedang duduk bersandar pada punggung sofa, meluruskan badan ke depan ketika melihat kedatangan Nia.


“Oh, Nia, kamu ada di sini rupanya!” seru Om Wisnu.


Tante Siska yang melihat kedatangan Nia, melirik Om Wisnu sekilas, menunggu untuk diperkenalkan dengan gadis belia anak tetangga lama suaminya itu.


“Iya, Om, kebetulan Nia lagi membantu Bik Aini menghidangkan makanan di atas meja tadi dan mendengar suara kedatangan Om dan Tante,” jawab Nia.


Di akhir kalimatnya, Nia memandang Tante Siska yang kelihatan masih cantik dan seksi dengan gaun ketat yang dikenakannya.


Tante Siska yang berumur sekitar 50 tahun seolah lebih muda 10 tahun dari usianya. Barangkali karena hidup mewah dan rajin merawat diri di salon makanya bisa tampak awet muda dan tetap cantik di usia setengah abad.


Tante Siska tersenyum, ramah. Dia mengangguk ke arah Nia sebelum berkata, “Duduklah. Nia namamu, bukan?” tanyanya bersahabat.


“Iya, Tante,” angguk Nia.


Nia duduk di depan Tante Siska dan Om Wisnu. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Tante Siska sebagai awal perkenalan dengan Nia. Tampaknya, Tante Siska lumayan menyukai Nia yang dirasanya anak yang baik dan sopan.


“Tante bersuyukur kamu datang ke sini, Nia,” kata wanita separuh abad itu. “Selama ini, Nia mendengar cerita suami Om tentang dirimu. Katanya, kamu anak yang baik dan rajin, penurut, dan suka membantu orangtua. Tapi yang paling penting lagi adalah kamu yang teman masa kecil dari Ardian. Om dan Tante sangat sulit mengerti sifat Ardian sekarang. Jangankan sekarang, semenjak pertama kali Ardian datang ke rumah Tante bersama suami Tante ini,” katanya sambil menunjuk Om Wisnu, “Ardian sudah menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dan agak emosian. Dia mudah marah karena hal kecil, uring-uringan tanpa sebab. Sampai sekarang tak juga berubah sifatnya itu. Om dan Tante sudah kehabisan akal menghadapinya,” jelas wanita itu.


Nia mendengarkan dengan cermat. Ternyata, Om Wisnu dan Tante Siska pun merasa sikap Ardian kurang bersahabat dan agak emosian. Juga kasar tentunya. Lain sekali dengan Ardian dulu yang berenang dan bermain bersamanya di kampung halaman sebelum dia kehilangan ibu kandungnya. Saat itu Ardian sangat baik hati dan perhatian, peduli pada orang lain, sabar, tak mudah marah, apalagi bersikap kasar.


“Karena Om Wisnu bilang kamu adalah teman baiknya dulu, jadi Tante memiliki ide untuk mendatangkan kamu dari jauh, tinggal di rumah ini dan kuliah di sini kalau mau. Mana tahu, dengan adanya kamu di rumah ini, bisa bersahabat kembali dengan Ardian, mengerti dirinya, memberinya nasihat, dan mengubah dirinya. Tante merasa kamu pasti akan sanggup melakukannya, Nia.”


Nia masih mendengarkan kata-kata Tante Siska. Rupanya, maksud diundangnya dia tinggal di rumah Om Wisnu adalah untuk mendekati Ardian dan mengubah dirinya.


Ah, ternyata pekerjaan yang sangat sulit, sanggupkah dirinya? Sedangkan tadi saja saat duduk di boncengan Ardian, tak berani sekali pun dia menyuruhnya berhenti untuk membeli minuman walaupun dirinya sudah teramat haus. Bahkan, saat ditolak raun-raun lagi kapan-kapan, Ardian langsung marah-marah. Apalagi saat disinggung nama Om Wisnu dan Tante Siska, semakin menjadi-jadi rasa tidak senangnya.

__ADS_1


Teringat bagaimana tadi Ardian dengan kasar langsung membuang plastik berisi sisa minuman es tebu di tangannya ke dalam tong sampah, melewati wajah Nia yang sedang duduk di sampingnya. Sikap yang tidak sopan dan agak kasar menurut Nia, tapi Nia bahkan tak berani menegurnya. Sekarang tiba-tiba dia tahu tugasnya adalah “mengurusi” pemuda itu nanti. Ya, ampun! Sungguh tugas yang teramat berat! Tak akan sanggup dia memikulnya!


“Bagaimana, Nia? Apakah kamu bersedia?” tanya Tante Siska melihat Nia belum juga mengiyakan.


“Aku harus mengubah Ardian, Tante? Mengubah sikapnya, karakternya, emosinya, dan segalanya?” tanya Nia dengan hati berdebar.


Tante Siska mengangguk, pasti.


Nia mengalihkan pandangan kepada Om Wisnu yang duduk di samping Tante Siska. Dia berharap Om Wisnu bisa membantunya bicara, namun laki-laki itu hanya tersenyum memberi semangat dan mendukung kata-kata istrinya.


“Terimalah tugas ini, Nia. Bukan saja untuk Om dan Tante, tapi juga untuk Ardian dan dirimu sendiri nanti,” kata Om Wisnu.


Demi dirinya sendiri nanti? Apa maksud perkataan Om Wisnu itu? pikir Nia tak mengerti. Apa untungnya bagi dia bila berhasil mengubah sikap Ardian yang kasar menjadi lembut, yang emosian menjadi penyabar, yang suka marah-marah menjadi perhatian atau peduli pada orang lain? Itu bukan tugas yang mudah, dan seandainya dia berhasil nanti, yang untung pastilah Ardian juga dengan Om Wisnu dan Tante Siska. Sedangkan dia? Oh, anggap saja ini balas budi yang harus dilakukan oleh Nia atas kebaikan mereka membiarkannya tinggal gratis dan enak di rumah mewah ini, makan minum gratis, dan kuliah juga bakal gratis nanti.


Karena merasa telanjur datang ke Medan dengan membawa harapan ibunya akan masa depannya yang lebih cerah, pendidikan tinggi yang lebih menjadi jaminan pekerjaan bagus kelak, Nia pun dengan setengah hati mengangguk. “Baiklah, Om, Tante, Nia akan berusaha,” jawabnya singkat.


“Terima kasih, Nia,” Tante Siska tiba-tiba bangkit dari duduknya, berpindah duduk di samping Nia dan memeluk bahu gadis itu.


Nia tersenyum kikuk dibelai seperti itu oleh Tante Siska. Selama ini, hanya ibunya sendiri yang pernah membelai kepalanya begitu.


Om Wisnu dan Tante Siska merasa lapar, begitu juga Nia. Bagaikan teringat, Nia mengajak papa mama Ardian itu untuk ke ruang makan mencicipi masakan Bik Aini yang sudah tersedia sedari tadi.


Sambil tersenyum gembira, ketiganya berjalan menuju ruang makan. Bik Aini sudah menyendokkan nasi di piring masing-masing dan menyusunnya di atas meja. Ketiganya, Om Wisnu, Tante Siska, dan Nia pun mengambil tempat di atas kursi, mulai mencicipi hidangan.


“Ohiya, Ardian ke mana? Kok nggak nampak sedari tadi?” tanya Om Wisnu di sela-sela makan malamnya itu.


“Nggak tahu, Om, barangkali sudah keluar rumah lagi, pergi raun-raun,” jawab Nia.


“Ohya?” Tante Siska mengerutkan kening. “Memangnya tadi kalian keluar, ya? Ohiya, kamu sudah bertemu, berkenalan, dan berbincang-bincang dengan Ardian, bukan?” tanya Tante Siska sambil mengunyah makanannya.


“Iya, Tante, tadi Nia sempat dibawa raun-raun keliling kota Medan dengan motor besar Ardi. Empat jam kami keliling-keliling. Sampai di rumah sudah sore tadi padahal perginya siang,” cerita Nia.

__ADS_1


“Jadi, Ardian ke mana lagi sekarang?” tanya Om Wisnu.


“Ah, biarlah, barangkali mencari makan malam di luar,” kata Tante Siska. Dia tahu, Ardian tak suka bertemu dirinya, karena itu sengaja menghindar begitu tahu papa mamanya akan pulang dari Berastagi.


Bik Aini mendekat. “Nak Ardian tidak keluar rumah, Tuan, Nyonya. Saya lihat tadi motornya masih ada di tempat parkiran. Barangkali Nak Ardian sedang tidur di kamarnya. Istirahat karena tapi lelah jalan-jalan,” kata Bik Aini.


“Oh, jadi Ardian sedang tidur di kamar, toh?” reaksi Om Wisnu. “Baguslah kalau begitu.”


Nia melirik Bik Aini dan tersenyum. Bik Aini mengangguk ke arahnya, membenarkan tebakannya tentang keberadaaan Ardian. Barangkali saja Ardian memang sedang tidur di kamarnya sendiri, karena tadi ketika Nia melewati kamar itu terdengar sunyi tanpa suara apa-apa.


Nia masih bercerita dengan Om Wisnu dan Tante Siska di meja makan sehabis makan malam. Tante Siska bertanya tentang kehidupannya di kampung halaman. Dia juga bertanya tentang sosok Ardian di masa kecilnya.


Tampaknya, Tante Siska bukan seorang yang sombong melainkan ramah. Walaupun wajahnya tampak sudah amat lelah pulang dari Brastagi, tapi dia masih bertanya ini itu pada Nia. Dia seperti ingin tahu dan tertarik akan kehidupan gadis sederhana itu. Padahal bila dibandingkan dengan kehidupannya sendiri yang glamour di kota besar, berbagai kegiatan padat dan pekerjaan berat yang harus dipikulnya dalam mengurus perusahaan almarhum papanya, Nia seolah kertas kosong yang baru ditulisi sebaris dua baris. Sedangkan kehidupan Tante Siska di kertas itu sudah penuh corat-coret seperti rumus matematika yang berat.


Nia hanya menjawab dengan jujur dan apa adanya setiap pertanyaan Tante Siska. Dia tak suka berbohong dan memang dia tak pandai berbohong. Lagipula, tidak ada satu bagian pun dari kehidupannya yang perlu ditutup-tutupi, karena memang kehidupannya bersih, tidak ada noda hitam yang mengotori lembar kertas kosong yang diisinya itu.


Tante Siska menyukai kejujuran Nia dan sikapnya yang terbuka apa adanya. Nia juga menyukai sikap Tante Siska yang ramah, tidak sombong, dan peduli pada orang lain walaupun dia hanya seorang gadis lugu yang sederhana.


Tak terasa, sudah dua jam mereka duduk mengobrol. Malam mulai merangkak, dan Nia merasa harus pamit untuk tidur di kamarnya.


Dilihatnya, Om Wisnu dan Tante Siska pun sudah ngantuk berat. Kasihan, esok paginya mereka berdua harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor bersama-sama. Sedangkan dia dan Ardian masih bisa tidur sampai agak siang karena masih musim liburan.


“Nia naik dulu ke lantai 2, Om, Tante. Mau tidur duluan,” katanya.


“Iya, Nia, silakan,” kata Tante Siska sambil tersenyum ramah.


Dia sudah menguap beberapa kali semenjak tadi, matanya pun sudah merah berair karena menahan kantuk. Namun dia menunjukkan sikap menghargai perkenalan pertama dengan gadis belia seperti Nia, hingga mau menemaninya ngobrol selama berjam-jam dan menanyakan segala seluk beluk dirinya. Padahal kepalanya sendiri pun sudah penat barangkali. Itulah sikap Tante Siska yang disukai oleh Nia, menghargai.


Nia berdiri dari duduknya dan mengangguk pada Om Wisnu berikut Tante Siska. Setelah itu dia pun berjalan naik ke lantai 2. Melewati kamar Ardian masih seperti tadi, tak terdengar suara sedikit pun. Pemuda itu masih tertidur pulas dan tak tahu kapan akan bangun. Bisa-bisa tak bangun untuk makan malam dan baru akan bangun keesokan paginya, pikir Nia.


Lelah berat seharian di hari Minggu itu, Nia pun masuk ke kamarnya dan membaringkan diri di ranjang. Tak lama setelah memejamkan mata, dia pun tertidur pulas.

__ADS_1


* * *


__ADS_2