Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu Menggunting Gaun Nia


__ADS_3

Bab 131


Nia sudah selesai mencuci tangannya. Dia melihat Ayu sekilas sebelum berbalik dan meninggalkan ruang dapur.


Langkahnya sampai di ruang tamu tempat di mana Ardian sedang menunggu.


"Sudah siap, Nia? Kita berangkat sekarang?" tanya Ardian.


"Tunggu sebentar, Ardi. Aku ambil berkas-berkas yang diperlukan dulu di kamar," jawab Nia.


"Okey," balas Ardian.


Nia bergegas menuju tangga ke lantai dua. Dia masuk ke kamarnya dan mengambil berkas-berkas yang dirasa perlu. Setelah itu Nia pun kembali turun dan menemui Ardian yang sedang menunggunya di sofa ruang tamu.


"Ayo kita berangkat sekarang," kata Nia.


Ardian bangkit dari duduknya dan berjalan berdampingan dengan Nia menuju pintu utama. Mereka keluar dari sana dan mendekati mobil yang sedang diparkir.


Setelah masuk ke dalam, Ardian segera menjalankan mobilnya keluar dari villa dan menyusuri jalanan lengang di kompleks pervilaan untuk sampai di jalan raya dan selanjutnya menuju kampus Nia yang mana Ardian juga kuliah di sana dulunya.


Sementara Nia dan Ardian pergi ke kampus mengurus rencana kuliah Nia yang tertinggal satu tahun, Ayu berberes-beres di rumah.


Ayu sudah selesai mencuci piring dan membereskan meja. Dia bermaksud melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai satu. Tapi entah kenapa tiba-tiba terlintas satu pikiran di benaknya untuk kembali ke kamar Nia di lantai dua. Hatinya menyuruhnya untuk ke kamar Nia itu walaupun tadi sudah selesai dipelnya.

__ADS_1


Dengan bergegas Ayu kembali naik ke lantai dua dan menuju kamar Nia. Dia masuk ke dalam dengan hati-hati seolah-olah was-was kalau-kalau Nia masih ada di kamar. Padahal dari keadaan ruang tamu yang kosong dan sunyi ditambah mobil Ardian yang tidak lagi diparkir di halaman, Ayu jelas tahu kalau Nia dan Ardian sudah berangkat ke kampus seperti apa yang dikatakan Nia dan Ardian tadi saat mereka bercakap-cakap di ruang dapur.


Ayu mendekati tas travel Nia yang tergeletak di lantai. Dengan rasa ingin tahu dibukanya ritlesting tas itu. Setelah itu dia mulai mencari tahu apa saja isi di dalamnya.


Tidak ada yang spesial di dalam tas itu. Sepertinya baju-baju yang dibawa Nia dari Tanjungbalai ke rumah Ardian kali ini sudah disusunnya ke dalam lemari baju karena tas itu tak lagi bersisa baju.


Dengan penasaran, Ayu bangkit dari lantai di mana dia barusan menggeledah tas Nia. Didekatinya lemari baju yang ada di dekat tas travel itu. Dengan sekali putar dan tarik, pintu lemari pun terbuka.


Ayu menarik nafas dalam-dalam dan menahannya. Dadanya terasa sesak melihat banyak gaun yang bagus-bagus tergantung di rak bawah. Sementara di rak atas baju-baju kaos dan celana jeans terlipat dan tersusun rapi.


Gaun-gaun yang sangat bagus ini pasti Ardian yang membelikannya untuk Nia, pikir Ayu. Api cemburu seketika memercik di dadanya. Apalagi saat disentuhnya gaun-gaun itu dengan jari-jari tangannya dan ditaksirnya berasal dari bahan yang mahal, hati Ayu pun semakin gregetan.


Dia benar-benar iri melihat keberuntungan Nia yang disayang dan diperhatikan Ardian sedemikian rupa. Rasanya tidak setara dengan perhatian apalagi rasa sayang yang ditunjukkan Ardian kepadanya. Ardian sepertinya hanya bersimpati atau peduli padanya karena kerajinannya atau karena dirinya yang pernah menyelamatkan Ardian sewaktu terjadi insiden di proyek luar kota.


Begitulah, Ayu menghadirkan sendiri berbagai macam praduga di benaknya hingga dia merasa lelah sendiri. Praduga-praduga itu membakar dadanya, membuatnya overthinking, dan ingin segera melampiaskannya ke dalam bentuk nyata supaya rasa kesal dan cemburu yang ditahannya bisa impas terbayarkan.


Apa yang harus kulakukan? pikir Ayu sambil mengeluarkan sebuah gaun dari dalam lemari dan menatapnya.


Gaun ini sangat cantik, pikir Ayu. Sepertinya gaun ini lebih cocok untukku. Akan kelihatan lebih bagus jika dikenakan olehku daripada oleh Nia. Lihatlah, tubuh Nia begitu ramping, tidak cocok


mengenakan gaun ini. Sepertinya lebih cocok bila dikenakan olehku. Begitulah Ayu terus berkata-kata sendiri dalam hati.


Tapi... gaun ini dibelikan Ardian untuk Nia. Bukan untukku. Lalu... bagaimana aku bisa memilikinya. Tak mungkin kan aku mengambilnya dan membawanya pulang begitu saja? Bisa-bisa aku dicap sebagai pencuri dan tak diizinkan lagi bekerja di sini.

__ADS_1


Ayu mulai gelisah menatapi gaun di gantungan baju yang sedang dipegangnya. Apa yang harus kulakukan dengan gaun ini? pikirnya berulang kali.


Tidak. Gaun ini tidak bagus sama sekali! ketus hati Ayu. Tidak bagus lagi karena sudah pernah dikenakan Nia, saingan cintanya dalam memperebutkan hati Ardian. Ini hanya sebuah gaun bekas, tidak cocok untukku! Huh! kesal hati Ayu.


Entah bisikan dari mana yang membuat Ayu kemudian mencari-cari gunting di laci meja yang ada di kamar Nia. Dibukanya laci di sana sini sampai ditemukannya gunting yang dia kehendaki. Setelah gunting itu berada di tangannya, dia pun tersenyum senang.


Dengan tatapan mata licik Ayu berjalan kembali mendekati lemari baju. Diambilnya kembali gaun itu dari sangkutan baju dan dibawanya ke atas ranjang. Setelah itu dihamparkannya ke atas ranjang Nia.


Dengan hati yang dipenuhi rasa benci dan geram dibakar api cemburu dan perasaan iri, Ayu menggerak-menggerakkan gunting di tangannya dan mulai merobek beberapa bagian dari gaun itu. Dia tidak membuat robekan yang besar karena itu akan kentara melainkan robekan-robekan kecil di beberapa sisi gaun, seperti di ujung lengan, di ujung kaki, atau di dekat leher.


Rasakan kamu, Nia! geramnya sambil tersenyum sinis dan puas setelah berhasil mempreteli gaun Nia.


Kasihan... gaun itu dibeli Ardian dengan harga jutaan untuk dipakai Nia dulu saat menemani Ardian ke pesta. Tapi Ayu merusaknya begitu saja seolah gaun itu tak berharga. Dan yang terutama lagi, Ayu tega merusak nilai kasih sayang yang diberikan Ardian kepada Nia lewat gaun itu.


Setelah melaksanakan niatnya, Ayu kaget sendiri. Dia segera tersadar dan membuang gunting di tangannya ke atas lantai hingga menimbulkan suara berdebam. Dia baru sadar telah melakukan hal yang salah karena bisikan sekejap yang lewat di hatinya.


Dengan tergesa-gesa, Ayu meraih kembali gaun Nia yang terhampar di atas ranjang yang sudah dijahatinya beberapa menit lalu dan membawanya kembali ke lemari baju. Disangkutkannya kembali gaun itu ke tiang sangkutan yang ada di rak lemari. Dia menyangkutkannya di tengah-tengah di antara bertumpuk-tumpuk gaun Nia yang tersusun rapi.


Setelah itu Ayu menutup lemari itu dan berjalan mengambil gunting yang tergeletak di atas lantai lalu menyimpannya kembali ke dalam laci.


Setelah dirasanya tidak ada lagi yang ketinggalan, Ayu pun segera meninggalkan kamar Nia.


* * *

__ADS_1


__ADS_2