Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Shella Mengajak Ayu


__ADS_3

Bab 40


Shella mendehem dua kali untuk mengalihkan perhatian Ardian dari layar laptop ke dirinya.


"Tampaknya kami harus bawa cleaning service juga ke sana," kata Shella dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Ardian mendengar ucapan Shella. Dua kata "cleaning service" ternyata mampu membuat Ardian mengalihkan perhatiannya dari layar laptop ke wajah Shella. Seolah-olah ada yang menarik dari dua kata itu.


"Iya, cleaning service," Shella mengulangi ucapannya dengan sangat jelas. "Kami harus bawa seorang cleaning service yang paling rajin ikut rombongan kami supaya nanti bisa beres-beres dan bersih-bersih setelah pesta-pesta."


Ardian kembali melihat ke layar laptop, walaupun tadi sempat matanya membesar sekejap.


Merasa Ardian tak mungkin tak peduli, Shella pun kembali bicara. "Cleaning service yang paling rajin setahuku ada di proyek luar kota, Pak. Kalau nggak salah namanya Ayu. Iya, namanya Ayu."


Ardian terperangah. Melodi jantungnya seketika berpacu cepat. Dag-dig-dug mendengar nama Ayu disebut.


"Itu loh, Pak, yang waktu itu menyelamatkan Bapak!" seru Shella saking gemasnya karena Ardian masih tak bersuara walaupun ekspresi wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa tertarik.


"A-Ayu?" Ardian akhirnya menyebutkan nama itu dengan hati berdebar. Suaranya kecil dan reaksinya seperti pura-pura lupa atau tak peduli. Namun mimik wajahnya tak bisa berbohong. Jelas-jelas Ardian tertarik mendengar nama Ayu disebut.


"Betul, Pak! Ayu itu cleaning service yang paling rajin dari semua cleaning service yang bekerja di perusahaan kita. Dia sangat loyal dan bertanggung jawab, jadi aku rasa membawanya ikut rombongan kami itu yang paling tepat," nyerocos Shella.


Mata Shella dengan jeli memperhatikan bagaimana reaksi Ardian mendengar kata-katanya atau ceritanya mengenai Ayu. Sepertinya Ardian makin terpesona, pikir Shella.


"Dia mau ikut?" tanya Ardian pendek.


"Ya, ini, Pak. Mau kutanya sekarang," jawab Shella sambil mengeluarkan hp-nya dan menelepon kepala proyek yang di luar kota.


Ardian mengambil sikap tak begitu kentara dengan pura-pura kembali menekuni layar laptopnya, padahal sebenarnya matanya tak begitu fokus dan telinganya sedang dipasang buat mendengar pembicaraan antara Shella dan Ayu yang akan segera berlangsung.


"Iya, Pak. Ini saya Shella, sekretarisnya Pak Ardian," kata Shella ketika panggilannya dijawab kepala proyek.


"Oh, Non Shella. Ada apa rupanya, Non?" tanya kepala proyek di seberang sana.


"Gini, Pak. Saya ada perlu dengan pegawai cleaning service yang bekerja di proyek yang Bapak tangani. Namanya Ayu. Boleh Bapak sambungkan ke dia?" pinta Shella.


"Oh... Ayu? Iya, dia memang cleaning service di sini. Tunggu, saya panggilkan dulu," jawab kepala proyek. Lalu terdengar suaranya memanggil nama Ayu yang mungkin karena kebetulan sedang berada di ruangan kepala proyek.


"Ada telepon untukmu, Yu," katanya sambil menyodorkan hp di tangannya.


"Telepon? Untuk saya, Pak?" tanya Ayu yang sedang membereskan berkas-berkas di rak kerja kepala proyek.


"Iya, sini dengar. Dari Non Shella," kata kepala proyek.


Ayu berjalan mendekat, menerima sodoran hp dari tangan kepala proyek.

__ADS_1


Iya, ini Ayu," katanya setelah hp itu berada di tangannya.


"Yu. Ini saya, Shella."


"Oh, Kak Shella. Ada apa ya, Kak?"


"Saya mau ajak kamu ikut rombongan kami ke tempat wisata old and new nanti," kata Shella.


"Old and new?" Ayu mengulangi kata-kata itu.


"Iya, Yu. Tak mungkin kan kamu tak tahu apa itu old and new? Malam pergantian tahun loh."


"Oh, itu toh."


"Iya. Mau nggak?"


"Apanya?"


"Kok apanya lagi? Ya ikut rombongan kami ke tempat wisata!"


"Oh..."


"Oh-oh pula. Mau nggak? Bilang sekarang!"


"Lha, ke mana tuh, Kak?"


"Iih, Non Shella ini maksa saya toh?" jawab Ayu dengan suaranya yang melengking, membuat bulu kuduk Shella merinding.


Sementara Ardian yang bisa mendengar percakapan antara Shella dan ayu karena loudspeaker hp-nya Shella dihidupkan, mempertajam telinganya. Dia tak bisa lagi fokus ke layar laptopnya. Matanya berkali-kali melirik mimik wajah Shella ketika sedang berbicara dengan Ayu.


"Nggak maksa, Yu," kata Shella. "Saya ajak kamu karena kami butuh cleaning service paling rajin untuk beres-beres dan bersih-bersih di villa yang kami tinggali nanti, selama tiga hari. Nah, kamulah orangnya yang saya pilih!"


"Oh...," reaksi Ayu.


"Gimana, Yu?" tanya Shella.


"Saya mau saja sih. Cuma harus minta izin dulu sama ibu saya, Kak. Soalnya ini kan nginap tiga hari."


"Nginap dua malam. Tiga hari kita di sana. Jadi dua malam tiga hari. Ngerti?"


"Ya... ngerti toh, Kak. Cuma..."


"Nggak ada alasan lagi. Ikut saja. Mana nomor telepon ibumu? Biar saya yang minta izin sama ibumu."


"Jangan, Kak. Entar biar saya saja," kata Ayu.

__ADS_1


"Okey. Bilang sama ibumu, nanti Pak Ardian akan kasih kamu bonus dua juta buat kamu akhir tahun ini karena kerajinanmu. Cuma syaratnya kamu harus ikut rombongan kami ke tempat wisata tanggal 31 ini," kata Shella.


"Aku dikasih bonus, Kak? Dua juta?!" Ayu memekik seolah tak percaya.


"Ya iyalah. Tapi itu syaratnya tadi," jawab Shella. Apa pula si Ayu ini, baru dengar duit dua juta saja sudah memekik begitu, kata hati Shella.


"Ya, ya. Saya mau, Kak. Ayu mau ikut rombongan Kak Shella ke tempat wisata tanggal 31 nanti."


"Iya, kasih tahu ibumu begitu, pasti dia kasih izin."


"Iya, Kak."


"Sekarang juga ya setelah kita tutup pembicaraan, kamu telepon ibumu minta izin."


"Beres, Kak."


"Kasih tahu kabar secepatnya."


"Sip."


Pembicaraan selesai antara Shella dan Ayu. Shella mengangkat kepalanya menatap Ardian, tepergok Ardian sedang melihatinya. Pasti dia menguping.semua percakapanku dengan Ayu di hp tadi, kata hati Shella saat melihat ekspresi wajah Ardian.


"Jadi mau si Ayu ikut?" tanya Ardian seolah sambil lalu. Matanya kembali melihati layar laptop.


"Dia sudah mau, cuma harus minta izin ibunya dulu. Kusuruh dia telepon ibunya sekarang."


"Oh," reaksi Ardian.


"Pak," panggil Shella.


"Ya?" tanya Ardian.


"Bapak betuk nggak mau ikut?" tanyanya.


"Ikut ke tempat wisata?"


"Iya, Pak."


"Apa harus?"


"Sebagai pimpinan perusahaan saat ini, alangkah baiknya jika Bapak ikut. Bisa mendekatkan pribadi Bapak pada para karyawan. Ayu saja yang pegawai proyek luar kota mau ikut, apalagi Pak Ardian yang pimpinan perusahaan dan atasannya para karyawan. Kalau Bapak nggak ikut, apa kata orang nanti? Atasan yang sombong dan menjaga jarak dengan para bawahannya," sindir Shella, berusaha memanas-manasi Ardian supaya mau ikut. Sebagai pancingannya, sudah Shella lemparkan kail dengan umpan. Tinggal Ardian mendekati umpan itu.


"Mmm... nanti aku pikirkan lagilah," kata Ardian.


Mata Shella berbinar. "Betul ya, Pak? Akan dipikirkan kembali?" tanyanya gembira.

__ADS_1


Ardian mengangguk.


* * *


__ADS_2