Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Hari Pertama Nia dan Ardian ke Kampus


__ADS_3

Bab 16


Enam minggu sudah Nia tinggal di rumah Om Wisnu. Selama enam minggu itu, dia bersama Ardian melewati banyak hal. Bincang-bincang, sarapan bersama, berenang di kolam renang depan rumah, melihat ikan peliharaan di kolam, menaiki ayunan besi, melihat matahari sore, jalan-jalan ke mal, makan, shopping, nongkrong di kafe, nonton, dan banyak lagi.


Enam minggu itu adalah saat-saat bahagia Nia dan Ardian. Enam minggu yang bahagia, hanya butuh empat minggu lagi supaya cukup bagi Ardian untuk menghapus 10 tahun hidupnya yang tak bahagia dan menggantinya dengan 10 minggu yang bahagia.


“Besok kuliah akan dimulai, Nia,” kata Ardian mengingatkan di suatu sore saat mereka sedang duduk-duduk di beranda.


“Iya, Ardi. Aku takut kuliah. Bagaimana rasanya kuliah itu? Apakah teman-teman di kampus akan baik pada Nia nanti?” tanyanya.


“Pastilah ada yang baik nanti,” senyum Ardian. “Santai saja, Nia, kalau ada yang berani macam-macam padamu, katakan saja padaku, biar kuberi pelajaran. Haha,” tawa Ardian.


“Kamu terkenal di kampus, ya?” tanya Nia ingin tahu.


“Begitulah,”angguk Ardian sambil melempar seulas senyum manis.


“Rencananya, besok kita akan ke kampus bareng, ya? Kamu mengantarku?” tanya Nia memperjelas.


“Pastilah, kita pergi bareng,” jawab Ardian.


Keesokan paginya…


Nia mengenakan baju kaos putih dipadu celana jeans biru, senada dengan warna pakaian Ardian bahkan sama coraknya.


Selama 1,5 bulan ini, setiap mereka jalan-jalan ke mal, Ardian selalu singgah ke toko baju di mal untuk membeli baju baru buat Nia. Katanya, untuk persiapan kuliah di kampus nanti. Para mahasiswa kebanyakan berpakaian yang bersih dan tampak baru, sedangkan baju-baju yang dibawa Nia dari rumahnya adalah baju-baju lama yang sudah agak luntur warnanya.


Kata Ardian, Nia harus berpakaian yang lumayan sedap dipandang mata bila bepergian dengannya. Kalau tidak, nanti ketemu teman-temannya bakal diperhatikan dengan heran. Tak padu, Ardian selalu memakai baju ber-merk terkenal sedangkan Nia hanya biasa-biasa saja.


Karena itu, dia sengaja membelikan baju-baju baru yang ber-merk tekenal buat Nia juga. Bahkan di hari pertama kuliah, Ardian mengatakan akan memakai baju yang sama dengan Nia yang mereka beli dua pasang., mode cowok dan cewek.


Om Wisnu dan Tante Siska tampak senang melihat kedekatan Nia dan Ardian. Tak seperti pertama kali mereka bertemu sering adu mulut, sekarang kelihatan lebih akur.


Emosi Ardian perlahan-lahan berubah di saat bersama Nia. Dia menjadi lebih sabar dan perhatian. Selama enam minggu ini, Nia tak lepas darinya, karena itu hatinya terasa bahagia.


Ardian dan Nia sudah duduk di dalam mobil dengan membawa tas kuliah masing-masing. Sebentar kemudian, mobil yang dikendarai Ardian pun melaju meninggalkan pekarangan rumah membelah jalan raya menuju kampus mereka.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan menuju kampus, wajah Nia tersenyum cemas. Bahagia, karena dia bisa sekolah lagi. Semasa di sekolah dulu, Nia adalah anak yang rajin dan pintar, selalu juara kelas hingga mendapat bea siswa.


Sekarang, menginjakkan kaki lagi di tempat menuntut ilmu, hatinya pun senang walaupun penuh harapan cemas. Bagaimana rasanya kuliah itu? Apakah teman-teman kuliah nanti akan baik padanya? Sombongkah mereka?


“Santai saja, Nia,” kata Ardian sambil tersenyum melirik gadis itu. Dia seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Nia dari melihat ekspresi wajahnya, senang bercampur cemas.


“Iya, Ardi. Aku agak gugup,” katanya.


“Nggak apa-apa, nggak ada yang perlu ditakuti,” hibur Ardian.


Nia mengangguk.


Setengah jam lebih kemudian, mobil Ardian sampai di gerbang kampus. Diarahkannya mobilnya menuju tempat parkiran dan menghentikan mobilnya di satu tempat.


“Ayo, kita turun!” ajaknya.


Nia membuka sabuk pengaman, mengambil tas kuliahnya, lalu keluar dari mobil bersama Ardian.


Diperhatikannya sekeliling gedung kampus yang tampak luas dan megah. Banyak mahasiswa yang sudah hadir di pagi itu. Cowok, cewek, berjalan sendiri, berdua, atau bergerombol.


Di koridor lantai atas gedung itu sudah tampak banyak mahasiswa yang berdiri, berjalan mondar-mandir, atau bercakap-cakap.


Sungguh luas gedung universitas ini, satu Fakultas Ekonomi saja sudah begitu luas, apalagi seluruh kampus.


Nia mengikuti langkah-langkah kaki Ardian yang membawanya berjalan menuju gedung itu. Tak lama kemudian, langkah mereka sampai di anak tangga menuju lantai 2 gedung.


“Mahasiswa semester satu kuliahnya di lantai 2,” kata Ardian. Kalau aku di lantai 3.”


“Oh… jadi kita beda lantai, Ardi? Bakal susah ketemu nanti,” kata Nia.


“Nggak juga, yang penting aku tahu kelasmu, aku kan bisa mencarimu. Kamu jangan ke mana-mana ya, tetap saja di kelasmu biar aku gampang mencarimu nanti.”


“Lalu, aku mau mencarimu gimana? Haruskah naik ke lantai 3?” tanya Nia.


“Nggak, kamu nggak usah mencariku, aku yang mencarimu saja. Okey?”

__ADS_1


Nia mengangguk.


Langkah mereka sampai di lantai 2 gedung.


Nia membuntuti Ardian di belakang yang tampak sibuk mencari-cari kelas Nia di tengah keramaian mahasiswa yang berdiri dan, berjalan mondar-mandir, dan bercakap-cakap.


“Ketemu!” seru Ardian saat menemukan kelas yang dicarinya. Ditolehkannya kepala ke belakang, melihat Nia yang mengikutinya sedari tadi. “Ini kelasmu, Nia. Masuklah ke dalam,” katanya.


Nia pun masuk ke dalam kelas yang ditunjuk Ardian itu.


“Duduk di sini saja,” kata Ardian, memilihkan sebuah tempat duduk paling depan untuk Nia.


Gadis itu menuruti perintah Ardian, duduk di tempat yang dipilihkan dan menaruh tasnya.


“Kamu di sini saja, ya, tunggu lonceng masuk berbunyi. Aku hendak mencari kelasku dulu di lantai 3,” katanya.


“Iya, Ardi,” balas Nia.


Ardian pun membalikkan badan, berjalan keluar dari kelas Nia.


Nia duduk di kursi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.


Dilihatnya ada beberapa mahasiswa yang duduk di satu sudut, di sudut lainnya lagi beberapa mahasiswi. Lalu ada yang duduk sendiri seperti dirinya, belum ada yang memilih tempat di dekatnya.


Nia duduk seperti orang linglung, tak ada yang menyapanya. Tak ada yang mengajaknya bicara. Para mahasiswa mahasiswi itu seolah punya kesibukan dan pikiran sendiri-sendiri. Ada yang bercakap-cakap dengan teman di dekatnya, ada yang melihat-lihat gadget di tangannya, namun tak ada yang duduk melamun seperti dia.


Ardian pernah berkata, untuk mencari teman, kita harus menyapa orang lain duluan, memperkenalkan diri, mengajak bicara, lama-lama akan jadi teman dan akrab. Kalau kita hanya diam, jarang yang mau mendekati karena menganggap makhluk sombong yang tak suka berteman.


Jadi, dia harus menyapa mereka duluan? pikir Nia sambil menelan ludah. Dia tak punya keberanian untuk itu. Tak biasa baginya mengajak bicara orang yang belum dikenalnya. Bahkan orang yang sudah dikenalnya pun jarang dia membuka percakapan karena Nia memang pendiam. Dia hanya akan tampak akrab dengan orang yang sudah dikenalnya lama dan dekat.


Nia masih duduk melamun, melihat gerak-gerik mahasiswa dari kursi yang didudukinya. Nggak apa-apalah kalau nggak ada yang menyapanya, toh dia ke kampus ini pun tujuan utamanya adalah kuliah, mencari ilmu, menambah pengetahuan. Ada atau tidak ada teman itu soal kedua, pikirnya.


Nia menundukkan kepala setelah bosan mengedarkan pandangan di sekeliling kelas. Diperhatikannya jari-jari tangannya yang pendek kukunya. Lentik dan bersih.


* * *

__ADS_1


__ADS_2