
Bab 93
Hati Ayu berbunga-bunga. Pagi ini dia akan bertemu Ardian lagi. Seharusnya begitu datang dia membersihkan ruang Ardian dulu, namun dia sengaja menunda melakukannya sampai Ardian datang baru dia masuk ke ruang Ardian untuk membersihkannya.
Karena kalau tak begitu akan sulit bertemu Ardian atau berduaan dengannya dikarenakan Ardian kalau sudah datang lebih sering berada di ruang kerjanya sedangkan Ayu harus mengitari setiap sudut gedung perusahaan untuk membersihkannya. Kesempatan untuk bertemu dan berduaan dengan Ardian adalah pada saat Ayu membersihkan ruangannya dan Ardian ada di dalam.
Ayu sengaja mengabaikan pesan Shella untuk membersihkan ruang Ardian terlebih dahulu begitu datang. Buat apa terus melaksanakan pesan Shella itu yang tak menguntungkan dirinya, pikir Ayu. Kenapa harus takut pada pesan Shella kalau kemarin baru saja Ardian bersikap sangat baik padanya. Dia pasti tak akan marah seandainya Ayu masuk membersihkan ruangannya pada saat dia sudah datang.
Berpikir demikian hati Ayu pun terasa senang dan bersenandung seperti kicau burung di pagi hari. Dia membersihkan ruangan lain dulu setelah itu saat jam menunjukkan pukul 10 saat biasanya Ardian masuk kantor, Ayu baru cepat-cepat mengambil ember dan sapu pelnya berikut kain lap meja menuju ruang Ardian.
Ayu menguakkan pintu ruang kerja Ardian dan masuk ke dalam. Ardian masih belum datang. Kayaknya sebentar lagi, bisik hati Ayu.
Dengan seulas senyum manis dia mulai melap barang-barang beserta perabotan yang ada di ruangan itu. Setelah itu dia mengepel lantai menggunakan sapu pel namun Ardian belum juga datang.
Ayu mulai cemas karena kerjaannya di ruang Ardian sudah hampir selesai dan akan keluar dari situ namun Ardian belum juga datang. Huh! Sia-sia saja dia mengatur waktunya tadi kalau tak bisa bertemu atau berduaan dengan Ardian.
Ayu baru saja hendak keluar dari ruang kerja Ardian saat pintu dibuka dari luar. Shella melangkah masuk dengan map berisi berkas-berkas di tangannya.
"Lho, Yu," ucapnya saat melihat Ayu ada di ruang Ardian. "Tumben, kamu hari ini kok jam segini baru beresin ruang Pak Ardian? Emang baru datang ya?" tanya Shella dengan tatapan mata menyelidik. Sorot matanya penasaran dan dirasa Ayu tajam menghunjam ke permukaan wajahnya.
Rona wajah Ayu memerah. Dia seperti malu kepergok berbuat salah. Sepertinya Shella tahu Ayu sengaja jam segini baru membereskan ruang Ardian supaya bisa bertemu atau berduaan dengan Ardian.
Ayu tak menjawab. Dia malah berkilah, "Sudah selesai, Kak Shella. Aku mau bersihkan tempat lain dulu. Masih banyak kerjaanku."
__ADS_1
"Eh... Ayu... kok begitu kamu jawabnya?" Shella menahan langkah Ayu di ambang pintu. "Tampaknya ada yang bangga dan besar kepala hari ini?" sindir Shella sambil menatap Ayu tajam. "Ohya, aku lupa, kemarin barangkali kamu sudah menemani Pak Ardian ke hotel makanya hari ini begitu berani," bibir Shella menyungging senyum sinis dan matanya memercikkan kilatan api.
"Apa maksud Kak Shella?" Ayu mengangkat kepalanya, menatap Shella hati-hati. Baru disadarinya kalau Shella adalah orang kedua yang selalu mengusik ketenangannya dan berusaha mengganggu kebahagiaannay setelah Riana, teman masa SMP-nya.
"Lho, jadi kemarin kamu nggak ke hotel sama Pak Ardian? Ups! Rugi dong! Kasihan... aku saja sudah pernah masuk hotel berdua dengan Pak Ardian," sindir Shella.
Shella sengaja memanas-manasi Ayu padahal waktu masuk ke hotel berdua dengan Ardian waktu mereka ke Tanjungbalai mencari Nia, Ardian memesan dua kamar.
"Maksudmu apa, Kak Shella? Kami hanya jalan-jalan ke mal, makan, nonton, dan shoping," terang Ayu.
"Oh... rupanya hanya itu. Kupikir Pak Ardian saking lelahnya sama kamu di hotel sampai terlambat bangun pagi ini. Terlambat masuk kantor lagi. Haizzz... padahal banyak sekali berkas yang harus ditandatangani. Pekerjaan kayaknya kurang penting dibandingkan seorang gadis," Shella menggeleng-gelengkan kepala.
Ayu membelalakkan mata. Dia benar-benar geram disindir Shella seperti itu. Mukanya merah padam. Ingin sekali dia membalas tapi tak tahu harus bilang apa.
"Kenapa, Yu? Kok masih berdiri bengong di situ? Masih mau menunggu Pak Ardian datang? Belum puas kayaknya kamu ronde yang semalam? Masih mau dilanjutkan hari inikah?" Shella semakin mencibir.
"Kamu menghalangi jalanku!" ketusnya sambil menahan kepalan di tangannya supaya tidak melayang ke wajah Shella.
"Oh... rupanya... Ups!" Shella merasakan seseorang tiba-tiba muncul di sampingnya. Orang itu menggeser tubuhnya ke samping dengan menyentuh lengannya. Rupanya Ardian.
"Ada apa ini? Kok pagi-pagi sudah ramai?" Ardian masuk ke dalam ruangannya lewat celah yang dia dapat setelah menggeser tubuh Shella yang menghalangi pintu. Dia melangkah menuju meja kerjanya setelah melirik dan melewati Ayu yang berdiri berhadapan dengan Shella.
Mengetahui Ardian sudah datang, Shella buru-buru hendak bicara sebelum Ayu menjelaskan. Dia melangkah juga menuju meja kerja Ardian dan berkata cepat, "Nggak ada yang serius kok, Pak. Hanya heran saja Pak Ardian pagi ini terlambat masuk kantor. Jadi tanya Ayu apakah kemarin pulangnya larut?"
__ADS_1
Shella tersenyum, meletakkan map berisi berkas-berkas yang harus ditandatangani Ardian. Sementara Ayu berbalik menghadap ke arah mereka untuk mengambil ember dan sapu pelnya. Dia melihat ke arah Ardian sebentar yang juga kebetulan sedang menatapnya. Ayu tersenyum tipis yang dipaksakan, setelah itu berbalik dan melangkah pergi dengan tentengan di tangannya.
"Hmmm... Kamu pasti galak lagi ya sama Ayu?" tebak Ardian lalu membuka map yang disodorkan Shella.
Shella duduk di kursi yang berhadapan dengan Ardian di meja kerjanya itu. Ardian pun sudah duduk dan meletakkan tasnya.
"Nggak galak kok, Pak. Kan lumrah tanya sama Ayu yang kemarin seharian bersama Pak Ardian," elak Shella setengah memancing.
Sifat Shella masih belum berubah, tak segan bicara atau bertanya walau yang ditanya merasa tak nyaman.
"Tanya saja aku langsung, jangan ganggu Ayu," kata Ardian tiba-tiba.
Srrr... hati Shella berdesir. Sepertinya Ardian sedang melindungi Ayu. Gawat! Berarti jalan-jalan mereka kemarin telah memperat kembali hubungan Ayu dan Ardian setelah sebelumnya sempat renggang.
"He-eh. Tampaknya lumayan senang ya kemarin, Pak?" grogi Ayu.
" Iya, jelas senang. Bahkan sangat senang," tajam suara Ardian.
Gedubrak! Shella merasakan debaran keras di hatinya. Cara menjawab Ardian kali ini sangat lain dari biasanya. Sepertinya dia mulai belajar balik menyindir juga.
"Wah... selamat dong, Pak. Hehe," balas Ayu sambil tersenyum hambar.
"Selamat? Maksudmu?" Ardian mengerutkan kening.
__ADS_1
Kali ini Shella terperanjat. Ardian sangat lain hari ini. Wajahnya serius tanpa senyum. Seperti sedang tak bisa diajak bercanda. Nada suaranya terdengar ketus. Apa yang sebenarnya telah terjadi? pikir Shella.
* * *