
Bab 97
Santi dan Willy membuka kotak makan siang masing-masing. Keduanya duduk berhadapan dan bersiap-siap memakan nasi yang tersaji di atas meja.
"Wah, enak sekali tampaknya nasi lemak yang dimasak ibumu ini," Santi melihat isi kotak makan siang Willy yang segera akan dilahapnya.
"Iya, San. Semua masakan ibuku lezat. Tapi beliau paling pintar memasak nasi lemak," promosi Willy.
Santi mulai mencicipi nasi lemak buatan ibu Willy. Sebaliknya Willy juga mencicipi nasi ayam buatan kafe "Yummy-yummy".
Wow... keduanya makan dengan lahap karena memang sama-sama lezat dan sama-sama sudah lapar.
"Aku boleh coba sedikit nasi ayamnya, Wil?" tanya Santi.
"Hah?" Willy ternganga. "Oh, tapi sudah bekasku," jawab Willy.
"Nggak apa-apa, Wil. Aku cuma pengen merasakan sedikit nasi ayam kafe ini yang katanya sangat lezat," Santi tersenyum sambil memandang Willy.
"Ini, ambillah," Willy menyorongkan kotak nasi ayamnya sedikit ke depan sehingga Santi bisa mengambilnya.
Santi pun menyendok sedikit nasi berikut ayam yang ada di kotak makan Willy. Dia merasainya dengan ujung lidahnya lalu berdecak, "Wow! Benar-benar enak, tapi lebih enak lagi nasi lemak buatan ibumu," puji Santi.
"He-eh," Willy melempar senyum sebagai ucapan terima kasih atas pujian Santi terhadap masakan ibunya.
"Rupanya begini rasanya makan nasi bontot buatan Ibu," Santi tiba-tiba berkata dengan mata terharu.
"Iya, San?" Willy tak mengerti maksud Santi. Dia melanjutkan makan nasi ayamnya sambil menunggu jawaban Santi.
Santi mulai bercerita, "Sejak kecil aku sudah kehilangan ibuku. Bahkan bayangan ibuku hanya samar-samar berada di benakku karena saat beliau pergi aku masih berumur 5 tahun."
"Oh, kasihan sekali," Willy tampak prihatin. "Kupikir ibumu tiada saat kamu sudah dewasa."
"Nggak, Wil," Santi menggeleng. "Ibu terkena kanker yang tak bisa diobati," mata Santi berkaca-kaca sambil memakan nasi lemak buatan ibu Willy.
"Turut prihatin, San," kata Willy.
"Iya, Wil. Makasih. Setelah kepergian ibuku, ayahku yang menjadi pengganti kasih sayang Ibu tapi beliau dibantu Bu Risma yang mengurusku sejak kecil," cerita Santi.
"Oh, Bu Risma yang sering ke sini mengantarkan nasi makan siang untukmu itu ya?" tanya Willy.
__ADS_1
"Iya, betul. Itulah Bu Risma. Hari ini aku sengaja pesan ke Bu Risma nggak usah bawakan makan siangku ke panglong karena ada rencana beli nasi ayam dari kafe baru," beri tahu Santi.
Willy manggut-manggut.
"Anaknya Bu Risma sudah besar-besar. Ada yang sudah SMA dan kuliah. Bu Risma bekerja di keluarga kami sejak ibuku masih ada sampai sekarang umurnya sudah 40 tahun. Waktu itu dia meninggalkan anak-anaknya di kampung diasuh ibunya sementara Bu Risma berkerja dan tinggal di keluarga kami," cerita Santi lagi.
"Oh, dia pasti seperti pengganti ibu bagimu," tebak Willy.
"Betul sekali! Tapi bagaimana pun Bu Risma bukan ibuku. Aku merindukan seorang ibu seperti ibumu yang setiap hari menyediakan nasi bontot untukmu," harap Santi.
"He-eh," Willy tersenyum kecil. Dia sudah selesai memakan nasi ayamnya dan bangkit dari kursi untuk mencuci tangannya di bak cuci piring.
Santi pun sudah selesai memakan nasi lemak buatan ibu Willy. Dia melakukan hal yang sama seperti Willy.
Saat melihat Willy bersiap-siap balik ke markasnya di depan, Santi menahannya.
"Duduk sebentar lagi di sini, Wil. Istirahat sejenak sehabis makan."
Karena yang meminta adalah putri boss-nya yang memberinya gaji setiap bulan, mau tak mau Willy pun menurutinya duduk di kursi makan yang tadi.
Santi kembali duduk di hadapan Willy. Sepertinya hari ini dia ingin bicara banyak dengan cowok itu.
"Iya," Willy mengangguk.
"Namanya Ayu kan, Wil?" Santi mencoba tersenyum namun terkesan kaku. Ternyata benar kata rekan-rekan kerja Willy kalau pemuda itu sudah punya pacar bernama Ayu.
"Betul, San. Kamu kok tahu?" Willy tertawa lepas saat Santi menyebut nama Ayu.
"Iya dong. Kata mereka pacarmu cantik sekali dan berkerja di perusahaan besar. Dia seusia dengankukah?" tanya Santi ingin tahu.
"Tujuh belas tahun. Sama denganmu ya?" tanya Willy balik.
"Iya, aku juga tujuh belas. "Kapan-kapan aku pengen melihat pacarmu itu, Wil. Pasti sangat cantik," ada sedikit nada iri di kalimat Santi.
Dia penasaran apa yang membuat Willy memilih pacar seperti Ayu. Selama bekerja di panglong, Willy walaupun dekat dengan Santi namun tetap menganggapnya rekan kerja atau putri boss-nya semata. Tak pernah dia menunjukkan gelagat ingin berselingkuh atau memberikan perhatian lebih pada Santi.
Santi sangat penasaran akan pacar Willy yang bernama Ayu itu karena dia melihat Willy pemuda yang baik, sabar, dan rajin itu sangat setia padanya.
"Cantik sekali. Dia juga rajin dan berdedikasi pada pekerjaan. Sewaktu di SMP dia selalu menjadi bintang kelas," cerita Willy.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu mengenalnya waktu SMP? Kalian teman satu kelaskah?" Santi penasaran.
"Nggak sekelas tapi satu sekolah. Dia satu kelas di bawahku," jawab Willy.
"Oh, karena itu kamu pacaran dengannya sejak SMP? Karena kamu suka dia cantik, pintar, rajin, dan berdedikasi pada pekerjaan?" pancing Santi.
Willy mengangguk. "Iya, karena itu juga. Tapi sebenarnya aku suka semua yang ada padanya," jawab Willy.
"Maksudmu, kamu tak keberatan kalau dia memiliki kekurangan?" tanya Santi lagi.
Willy menggeleng. "Nggak, San. Bukan kelebihannya yang aku utamakan. Aku suka dia sejak SMP."
"Kalian pacaran sejak SMP sampai sekarang?"
"Iya."
"Oh. Pastinya sekarang dia sudah mendapat posisi yang mapan di perusahaan besar tempatnya bekerja ya karena katamu dia bintang kelas."
Willy tercenung sesaat sebelum menjawab. "Nggak juga, dia bekerja sebagai cleaning service," jujur Willy.
"Hah?" Santi membelalakkan mata. "Tapi... tapi katamu dia selalu menjadi bintang kelas?"
"Iya, tapi SMA-nya tidak tamat karena tidak ada biaya untuk melanjutkan waktu itu," Willy menunduk agak sedih. Timbul penyesalan di hatinya karena beberapa tahun lalu saat Ayu putus sekolah, Willy tidak sanggup membantunya.
"Sayang juga ya, Wil," desis Santi.
"Iya, kasihan Ayu," angguk Willy.
"Oh...," Santi memperhatikan raut wajah Willy yang tiba-tiba sedih. Barangkali dia merasa tak berdaya karena sampai saat ini masih membiarkan Ayu bekerja sebagai cleaning service.
"Aku jadi pengen berkenalan dengan Ayu," kata Santi. "Pengen tahu wajahnya dan orangnya lebih dekat."
Willy berpikir sebentar sebelum mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana jeansnya. Dibukanya dompet itu dan diperlihatkannya pada Santi foto Ayu.
"Ini orangnya, San," kata Willy.
Santi buru-buru melihat foto itu dan mengamatinya agak lama. "Ini Ayu, Wil?" tanyanya surprais melihat kecantikan gadis di foto itu. Dia juga tampak sangat manis dengan lesung pipit dan gigi gingsul yang menggoda. Bola matanya yang besar bundar memancarkan sinar yang cerah, terang, dan bercahaya.
Willy mengangguk.
__ADS_1
* * *