
Bab 127
Selasa pagi.
Ayu sampai di depan villa Ardian saat cowok itu bersiap-siap ke kantor. Mereka berpapasan di pintu utama dan hampir bertabrakan karena Ayu berjalan terburu-buru.
"Ups, Pak Ardian. Sori. Aku telat hari ini. Nggak sempat masak sarapan untuk Bapak," kata Ayu dengan nafas yang terengah-terengah.
Ardian menghentikan langkahnya dan menatap Ayu sejenak. Dilihatnya wajah gadis itu agak pucat dan lelah seperti kurang tidur.
Kalau saja Ardian tahu Ayu memang semalaman nggak tidur memikirkan esok harinya harus bertemu Nia, saingan beratnya dalam memperebutkan hati Ardian.
Memikirkan setiap hari harus bertemu Nia saja sudah membuat hati Ayu terasa panas, apalagi harus beramah tamah dengannya.
"Iya, nggak apa-apa, Yu," jawab Ardian. "Nia sudah masak untukku tadi. Dan aku juga sudah sarapan. Kamu sendiri?" tanya Ardian sambil menatap wajah Ayu lekat.
Ardian sendiri heran kenapa dia harus bertanya hal itu pada Ayu padahal Nia sudah balik ke sisinya. Seharusnya mulai sekarang dia tak usah lagi terlalu dekat dengan Ayu apalagi sampai harus menanyakan hal-hal yang menunjukkan perhatian. Bisa-bisa Ayu merasa Ardian masih menyisakan harapan untuknya. Masih memperhatikannya. Padahal untuk melupakan atau melepaskan seseorang, jangan pernah lagi peduli pada orang itu, apalagi sampai menunjukkan perhatian yang membuatnya merasa kita masih menyayanginya. Itu hanya akan membuatnya bimbang.
"Aku... iya, Pak Ardian. Aku akan masak sendiri untuk sarapanku nanti," jawab Ayu dengan lidah yang terasa kelu.
Ardian menatap wajah Ayu dengan lekat sekali lagi sebelum menghela nafas panjang dan berjalan ke samping kanan. Untuk selanjutnya cowok itu menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam. Ayu pun diam-diam menoleh ke belakang saat mobil Ardian melaju perlahan meninggalkan taman.
__ADS_1
"Lho, Yu? Sudah datang? Kok masih berdiri di sini sedari tadi?" suara sapaan Nia yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya membuat Ayu terperanjat.
Spontan saja Ayu mendongakkan wajah menatap Nia yang pas berada di depannya. Tubuh Nia lebih tinggi dari Ayu karena Nia tinggi ramping sedangkan Ayu montok berisi. Rambut Nia lurus panjang sepinggang, sedangkan rambut Ayu ikal sebahu.
Tentu saja Ayu kaget dipergoki Nia sedang berdiri di depan pintu utama. Apalagi Nia melihatnya di sana sedari tadi. Apakah mungkin Nia juga melihatnya bercakap-cakap dan saling menatap dengan Ardian tadi saat dia dan cowok itu berpapasan di depan pintu utama?
""I-iya," jawab Ayu pendek. "Aku masuk sekarang," Ayu menghindari tatapan Nia yang menyapu wajahnya seperti hendak menggali sesuatu dari situ. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Nia yang seperti tepekur melihat reaksinya yang dingin.
Balasan Ayu terhadap pertanyannya dirasa Nia agak ketus dan kurang sopan. Kenapa begitu? Kenapa Ayu harus bersikap dingin padanya padahal Nia merasa dia tidak berbuat hal apa pun yang bisa menyinggung perasaan Ayu. Apa salahnya? Apakah pertanyaannya tadi salah?
Memang betul dia melihat Ayu berdiri saja di depan pintu utama dan tidak langsung melangkah masuk padahal sudah sampai di pintu villa. Sekilas Nia juga melihat kepala Ayu yang menoleh ke belakang melihat Ardian yang berjalan menuju mobilnya. Ayu seperti menaruh perhatian yang amat sangat pada cowok itu. Untuk apa seorang celaning service pengganti di villa Ardian menaruh perhatian yang demikian besar pada majikannya kalau bukan karena apa-apa?
Nia terpaksa menarik nafas panjang untuk mengisi oksigen di dadanya yang terasa sesak. Keanehan yang dilihatnya pada sikap Ardian dan Ayu pada hari Minggu lalu waktu dia baru balik dari Tanjungbalai, hari ini kembali disaksikannya. Ada apa sebenarnya antara Ayu dan Ardian yang tidak diketahuinya? Tidak mungkin Ardian berbohong padanya dengan mengatakan Ayu hanya cleaning service pengganti di villanya yang menggantikan tugas Bik Aini sementara Bik Aini belum balik dari kampung halaman.
Ayu sudah sampai di ruang dapur. Dia baru saja hendak mencuci perkakas dapur yang tadi digunakan Nia untuk memasak saat Nia berjalan mendekatinya.
"Kamu sudah sarapan, Yu?" tanya Nia yang sekarang berdiri di samping Ayu.
Ayu tercekat. Kenapa Nia melontarkan pertanyaan yang sama dengan Ardian? Apakah Nia bermaksud menyindir dirinya?
Dengan pandangan mata yang agak kurang sedap, Ayu membalas tatapan Nia yang membuatnya gerah. Kenapa gadis sahabat masa kecil Ardian ini terasa amat mengganggunya walaupun yang Nia lontarkan adalah pertanyaan yang menunjukkan perhatian?
__ADS_1
"Sebentar lagi aku masak sendiri," jawab Ayu kecil lalu mengalihkan pandangannya kembali ke perkakas masak yang sedang dicucinya.
"Kamu mau nasi goreng yang kumasak? Tadi aku masak nasi goreng untuk Pak Ardian dan kebetulan masih ada sisa sepiring. Kamu boleh makan itu. Nanti siang baru kamu masak lauk baru lagi," kata Nia.
"Masak untuk siapa, Kak Nia?" akhirnya Ayu menyebut nama Nia karena merasa tak pantas jika dia terus bersikap dingin pada Nia padahal gadis itu tak menunjukkan sikap yang memusuhinya. Gadis itu bersikap ramah padanya. Bahkan kata-katanya pun menunjukkan perhatian.
"Untuk kita, Yu? Barangkali untuk Pak Ardian juga?" jawab Nia seolah balik bertanya.
"Pak Ardian jarang pulang ke rumah makan siang. Biasanya dia makan di kantor dibelikan cleaning service kantor," balas Ayu sekenanya.
"Oh, iyakah?" Nia merasa surprais. "Kamu tahu banyak tentang Pak Ardian, Yu...," Nia melembutkan suaranya supaya kalimatnya tak mengagetkan gadis itu. Walau sangat penasaran tapi Nia merasa tak boleh terlalu berprasangka juga.
Kalimat yang diucapkan Nia itu tak urung membuat hati Ayu berdesir. Ayu bisa merasa kalau Nia mungkin curiga padanya. Setelah apa yang dilihatnya pada hari Minggu lalu di dapur villa Ardian ini di mana Ardian dan Ayu berdua layaknya sepasang kekasih tapi Ardian menepis rasa heran dan aneh di hati gadis itu dengan memeluknya seketika dan berkata kalau Ayu hanya pengganti sementara Bik Aini.
Apakah sekarang Nia berpikir kalau sebenarnya Ayu bukan pengganti sementara Bik Aini melainkan pengganti sementara Nia sementara gadis itu pulang ke Tanjungbalai?
"Iya, Kak," jawab Ayu pendek. Dia tak berniat untuk menjelaskan karena dia merasa tak harus menjaga perasaan Nia yang bukan orang yang harus dia hargai, segani, atau pun hormati. Kalau bisa pun dia tak usah menjawab segala pertanyaan Nia karena gadis itu tak lain tak bukan hanyalah saingan cintanya yang membuat perhatian Ardian terbelah dua.
Yang ada di pikiran Ayu hanyalah bagaimana cara supaya Nia disingkirkan dari sisi Ardian supaya perhatian dan rasa sayang cinta cowok itu hanya untuknya.
__ADS_1
* * *