
Bab 18
Sebulan sudah Nia menyesuaikan diri di kampus. Sebulan dia menjadi anak kuliahan. Sebulan juga Ardian bersama Nia pergi pulang bareng dengan mobil yang dikendarai Ardian.
Sebulan kuliah itu, Ardian tampak sibuk dengan teman-teman kuliahnya di kampus yang tak berhenti mengerubutinya baik cowok maupun cewek. Ardian sampai tak menyadari, kalau selama sebulan itu Nia pun ikut sibuk dengan gandengan barunya, cowok sekelasnya yang bernama Hansen.
Nia merasa nyaman saja berada di samping Hansen. Apalagi Hansen juga sangat mengerti dirinya, pintar menghiburnya dengan kata-kata manis, bersikap sopan namun akrab, peduli, penyayang, dan penuh perhatian.
Selama sebulan pertemanan mereka di kampus, Nia dan Hansen bolak-balik makan bersama di dekat gerbang kampus. Janji Nia, seolah ditepatinya. Tidak mengecewakan Hansen.
Namun, ada yang terasa masih mengganjal di hati cowok itu. Nia tinggal serumah dengan Ardian, sahabat masa kecilnya. Walaupun di rumah itu hanya menumpang dan ada penghuni lain, namun hati Hansen tetap tak tenang. Dia selalu pura-pura menunduk tak mengenal Nia setiap kali Ardian selesai kuliah dan masuk ke kelas Nia menjemput gadis itu pulang. Hansen pura-pura tak mengenal Ardian, padahal sudut matanya diam-diam selalu mencuri pandang gerak-gerik Ardian dan Nia saat hendak sama-sama pulang itu.
Diperhatikannya, kadang Ardian menggandeng tangan Nia, kadang tidak. Digandengnya tangan Nia saat dia merasa gadis itu agak lambat membereskan barang-barangnya. Digandeng seperti diseret supaya cepat, sehingga gadis itu akan tampak buru-buru meraih tasnya sambil melambaikan tangan pada Hansen.
Kalau dilihat dari caranya memperlakukan Nia, Hansen merasa Ardian bukan cowok yang sepenuhnya memedulikan atau menyayangi Nia. Bahkan kadang, Hansen merasa Ardian seperti terbebani harus mengantar jemput gadis itu pergi pulang kuliah walaupun bareng-bareng.
Entah bagaimana perasaan Nia sendiri pada Ardian? Cerita Nia, Ardian adalah sahabat masa kecilnya di kampung halaman. Dia diundang masuk ke rumah Ardian dan dibiayai kuliah oleh papanya Ardian. Papanya Ardian adalah tetangga lamanya yang sangat baik di kampung halaman dulu. Jadi, Nia dan Ardian hanyalah sepasang sahabat masa kecil alias sahabat lama yang saling membantu? Tidak adakah yang lainnya? Itulah yang selalu mengganggu pikiran dan hati Hansen.
Suatu siang selepas kuliah, Ardian berkata dia tak bisa pulang bareng Nia. Dia menyuruh Nia memanggil taksi online saja, karena Ardian masih harus pergi ke rumah temannya, mengerjakan tugas kelompok.
“Kamu bisa kan panggil taksi online?” tanya Ardian yang singgah di kelas Nia selepas kuliah itu.
Nia mengangguk. “Bisa, Ardi,” jawabnya singkat. Dia merasa sikap Ardian padanya akhir-akhir ini agak dingin dan menjauh. Barangkali dia kembali lagi ke sifat lamanya, emoh bersama gadis sederhana seperti dirinya dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang seabrek.
Nia pernah melihat Ardian memeluk punggung seorang teman kuliah saat di kampus. Ardian tepergok Nia sedang merangkul pundak gadis itu yang kelihatan cantik dan seksi. Gadis itu tertawa manja. Ketika menyadari Nia memergokinya, Ardian buru-buru melepas rangkulannya dan membuang muka. Apakah Ardian memiliki gandengan baru? pikir Nia. Tak heran kalau pemuda itu seolah mengacuhkannya baik di kampus maupun di rumah.
Om Wisnu dan Tante Siska sampai heran akan perubahan sikap mereka yang kembali menjauh. Apalagi Bik Aini. Padahal sebelumnya, mereka sudah sempat tampak akur dan akrab.
Nia menatap punggung Ardian yang menghilang di balik pintu kelas. Dengan segera, diambilnya hp android-nya dari dalam tas, bermaksud memanggil taksi online untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
Melihat aplikasi taksi online yang dibuka Nia, Hansen langsung menyela, “Kamu mau pulang naik taxol?” tanyanya.
“Iya, Hansen,” jawab Nia.
“Nggak usah, Nia. Biar aku antar kamu pulang saja. Kebetulan aku sempat, kok!” tawar Hansen.
Nia mengerutkan dahi, menimang tawaran Hansen.
“Ayolah, naik mobilku saja, kuantar kamu sampai di rumahmu, eh maksudku rumah Om Wisnu yang kamu tumpangi itu. Biar sekalian aku bisa tahu tempat tinggalmu. Kali lain, kita ada keperluan kuliah bisa saling mengunjungi, kan?” yakin Hansen.
Merasa tak ada salahnya menolak tawaran dan kebaikan hati Hansen, Nia pun mengangguk. “Okey,” katanya.
Nia berjalan berdampingan dengan Hansen yang tampak senang tawarannya diterima gadis itu. Ini adalah kesempatan yang sudah lama ditunggunya, bisa bersama gadis itu lebih lama di luar selain daripada di dalam kampus.
Mereka terus berjalan berdampingan, menuruni anak tangga, melangkah ke tempat parkiran.
“Ohiya, kita langsung pulang ke rumahmu?” tanya Hansen.
“Maksudnya?” tanya Nia balik.
“Maksudku, kita jalan-jalan dulu ke toko buku dulu nggak? Mumpung Ardian tak menjemputmu, jadi kita bisa jalan-jalan ke toko buku hari ini. Hobimu membaca buku, kan, Nia?” tebaknya.
Nia tersenyum. Tahu saja Hansen tentang dirinya. Cowok itu seolah mengerti keinginannya. Memang sudah lama Nia ingin jalan-jalan ke toko buku, membeli beberapa buku novel yang bagus lalu membacanya di kamar seperti hobinya di rumah dulu, meminjam buku dari perpustakaan sekolah dan membacanya sampai habis.
Selama bersama Ardian, Nia tak berani mengutarakan keinginannya pergi ke toko buku karena dia tahu Ardian tak hobi membaca apalagi buku novel. Ardian hanya suka jalan-jalan dan keluyuran di luar rumah.
Nia mengangguk. “Iya, kita pergi ke toko buku dulu saja, mumpung hari masih siang,” setuju Nia.
Dipikirnya, sampai di rumah cepat pun tak ada yang bisa dikerjakan selain belajar dan belajar terus. Lalu setelah bosan dia akan menonton televisi di kamarnya.
__ADS_1
Ardian, semenjak kuliah dimulai, tampak sibuk keluar rumah terus sepulang kuliah. Banyak sekali kegiatannya bersama teman-temannya, baik teman kampus maupun teman yang dikenalnya di tempat lain, cowok maupun cewek. Kehadiran Nia di rumah itu seolah terlupakan olehnya. Karena itu, Nia merasa kesepian di rumah Om Wisnu yang besar itu.
Hansen membelokkan mobilnya keluar dari gerbang kampus. Disusurinya jalan raya menuju toko buku besar di kota Medan. Toko buku yang sangat lengkap dan terkenal, tersebar di beberapa mall dan beberapa tempat di kota Medan.
Hansen memilih singgah di toko buku yang ada di jalan Gajah Mada. Nia turun dari mobil bersama Hansen dan memasuki toko buku itu.
Di lantai 1 ada tumpukan buku-buku novel dan buku-buku lain dari berbagai topik. Buku-buku itu dibandrol dengan harga murah.
Hansen mengajak Nia naik ke lantai 2, di situ tersusun lengkap segala jenis buku aneka judul dan warna dari berbagai topik. Buku pelajaran sekolah, agama, sains, komputer, fiksi, sejarah, motivasi, tips, cerita inspiratif, cergam, komik, majalah, tabloid, koran, dan banyak lagi.
Nia seolah berada di surga saat di dalam toko buku besar dan lengkap itu. Dengan takjub, dia berjalan mengitari setiap sudut toko, melihat-lihat hampir semua buku dan mengambil beberapa judul yang mengena di hatinya.
Di sana, Nia merasa sangat nyaman dan betah. Bahkan dia tak menyadari, karena asyik melihat-lihat dan memilih buku yang disukai, dia sampai lupa waktu.
Hansen juga turut memilih beberapa buku yang disukainya dan membayarnya di kasir bersama beberapa buku novel yang dibeli Nia.
“Aku bayar sendiri saja,” kata Nia hendak membuka tasnya ketika Hansen mengeluarkan dompetnya dari saku celana, bermaksud melunasi bon pembelian di kasir atas pembelian bukunya dan buku Nia.
“Nggak usah, Nia, biar aku sekalian bayar saja,” Hansen mencegah Nia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
Sebelum Nia sempat menemukan dompetnya yang ditaruh di dalam tas kuliah, Hansen sudah melunasi bon pembelian di kasir itu.
“Terima kasih, Hansen,” ucap Nia agak tak enak karena total 5 buku novel yang dibelinya lumayan mahal.
“Nggak apa-apa, Nia. Aku senang menemanimu jalan-jalan. Aku juga senang hari ini bisa memilih buku bersamamu di tempat yang sama-sama kita sukai,” kata Hansen. “Terima kasih kamu juga mau menemaniku,” katanya.
Setelah itu, Nia dan Hansen berjalan menuruni anak tangga, turun kembali ke lantai 1. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar dan mendapatkan mobil Hansen. Cowok itu membukakan pintu untuk Nia lalu dia pun berjalan memutar dan membuka pintu untuknya sendiri.
* * *
__ADS_1