
Bab 60
Seminggu setelah tahun baru di perusahaan Ardian.
Shella masuk ke ruangan Ardian dengan membawa berkas-berkas. Setelah sampai, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Ardian.
Diletakkannya map berisi berkas-berkas yang harus ditandatangani Ardian. Lalu matanya menatap cowok itu.
"Sedang ngapain, Pak?" tanya Shella melihat Ardian seperti sedang sibuk melap meja kerjanya dengan tisu.
"Hah... kamu nggak lihat? Nih berdebu semua," Ardian memperlihatkan tisu di tangannya yang digunakannya untuk melap meja.
Shella mengernyitkan dahi. Memang ada debu di tisu itu walaupun cuma sedikit. Apa maksud Ardian? pikirnya.
"Cleaning service di kantor kita ini kerja kurang bersih. Bisa kamu pindahkan dia ke proyek yang di luar kota dan pindahkan Ayu ke sini?" tukas Ardian.
Shella terperanjat. Perlahan-lahan dia mulai mengerti maksud cowok itu.
"Setahuku cleaning service di kantor kita sudah lumayan kerjanya, Pak. Ini hanya debu sedikit," protes Shella.
"Oh... setahuku juga Ayu bisa lebih bersih dari ini. Dia sangat rajin dan berdedikasi. Pindahkan dia ke sini, Shella," kata Ardian.
"Tapi... tapi kasihan nanti cleaning service yang di sini dipindahkan ke proyek luar kota. Jauh sekali dari rumahnya, Pak!" Shella mencoba menolak.
Ardian melotot. "Itu bukan urusanku! Mau kerja tapi jauh atau nggak mau kerja lagi? Terserah!" ketus Ardian.
"Pak... Pak Ardian kok begitu? Apa salahnya?" Shella terkesima dengan hati berdebar.
"Lho, kamu kok begitu? Menolak perintah atasan, Shel?" tanya Ardian balik.
Shella menelan ludah. Dia tak berani mengulangi kelancangannya seperti waktu di Berastagi karena Ardian sudah mengancamnya akan memecatnya kalau dia berani macam-macam.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Shella mengiyakan. "Baiklah, Pak. Ayu akan dipindahkan ke sini nanti."
"Iya, secepatnya ya, Shel. Kalau bisa besok!" tukas Ardian.
Shella membelalakkan mata. Ingin membantah tapi kemudian berpikir apa bedanya besok lusa? Toh ini sudah perintah atasan. "Iyalah, Pak. Besok," jawab Shella.
Ardian sudah selesai menandatangani berkas-berkas di map yang dibawa Shella tadi.
"Ini," disodorkannya map itu ke hadapan Shella.
Shella menerimanya lalu bangkit dari duduknya dan pergi.
Begitulah enaknya jadi boss, seluruh perintah harus dilaksanakan walau mengada-ada. Kesalahan yang kecil pun bisa dibuatnya menjadi seperti kesalahan besar yang pantas mendapat hukuman. Boss juga bisa main trik supaya apa yang diinginkannya tercapai tanpa seorang pun berani membantah.
Ayu lagi! Ayu lagi! Bakal berabe kalau Ayu dipindahkan ke sini! rutuk hati Shella menahan kekesalan yang amat sangat.
Sepeninggalnya Shella, Ardian menarik napas lega seolah sudah menyelesaikan suatu masalah penting. Iya, dengan dipindahkannya Ayu ke sini, ke kantor perusahaan, kesempatannya untuk berada dekat-dekat dengan gadis itu akan terbuka lebar. Dengan demikian ada harapan hubungan mereka bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Membayangkan Ayu akan pindah ke sini dan tiap hari harus bertemu dengannya saja sudah membuat Shella emosi, apalagi harus melihat kedekatannya dengan Ardian setiap hari. Mereka bakal pamer kemesraan di depan Shella. Rasanya Shella tak sanggup lagi kerja di perusahaan Ardian kalau harus menyaksikan Ardian dan Ayu berdua setiap hari.
Tapi... tunggu dulu! Walau Ayu dipindahkan ke sini kan tapi dia masih bertugas sebagai cleaning service. Nanti dia akan disuruh membersihkan dan membereskan ruangan-ruangan lain juga, bukan hanya ruang kerja Ardian.
Iya, Shella memikirkan rencana akan memberi banyak tugas pada Ayu dan membuatnya sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk dekat-dekat dengan Ardian apalagi sampai pamer kemesraan. Gampang itu, pikir Shella sambil tersenyum licik.
Diambilnya hp-nya dan diteleponnya Ayu. Sambil menunggu panggilannya tersambung, dia mendehem-dehem.
Ayu yang sedang mengepel di ruangan mandor yang ada di proyek luar kota menghentikan kegiatannya sejenak untuk menjawab panggilan masuk. Dari Shella, bisik hatinya heran saat melihat nama yang terpampang di layar hp-nya.
"Ya, Kak Shel?" Ayu menjawab sambil satu tangannya memegang sapu pel dan satu lagi memegang hp. Tangannya yang basah tadi sudah dilap-lapkannya ke baju kaosnya.
"Iya, ini Shella. Kamu mulai besok pindah tugas ke sini!" ucap Shella keras.
__ADS_1
"Hah? Apa?!" jawab Ayu tak mengerti dengan suara keras juga.
"Dengar baik-baik. Kamu... Ayu, mulai besok pindah tugas ke sini. Jadi kamu masuk kerja pagi-pagi di sini, bukan di tempatmu yang sekarang lagi!"
Ayu terperanjat. "Maksud Kak Shel aku ke sana besok?" tanya Ayu masih kurang paham.
"Iya, bukan besok saja, tapi untuk seterusnya kamu dipindahkan ke sini. Mengerti? Ini perintah Pak Ardian!"
"Hah? Perintah Pak Ardian? Tapi... tapi... aku tak mengerti, Kak. Maksudnya untuk seterusnya aku kerja di situkah? Bukan di sini lagi?" Ayu memperjelas.
"Iya! Kamu dipindahtugaskan ke sini mulai besok. Bersiap-siaplah!" kata Shella.
"Tapi... tapi ini terlalu mendadak, Kak. Masih banyak kerjaanku yang harus dibereskan besok lusa. Masih menumpuk, Kak Shel."
"Haiya, banyak sekali alasan! Ya sudahlah, nanti aku kasih tahu Pak Ardian. Aku beri kamu waktu 3 hari untuk beres-beresin sana. Nanti ada cleaning service dari sini yang akan menggantikan tugasmu di sana. Kamu bisa tenang," kata Shella.
"Oh, begitu ya, Kak Shel? Baiklah kalau begitu," kata Ayu.
"Okey," Shella pun menutup hp-nya. Begitu juga Ayu.
Seolah belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan Shella barusan, Ayu melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai dengan sapu pel.
Kenapa aku dipindahkan ke perusahaan? tanya hati Ayu bingung. Ohya, tadi Shella menyebut nama Pak Ardian. Katanya ini perintah Pak Ardian. Berarti Pak Ardian yang menginginkannya pindah ke sana? Apakah Pak Ardian yang memerintahkan Shella untuk memindahkan dirinya dari proyek luar kota ke kantor perusahaan? Kalau iya, apa maksud Pak Ardian?
Begitulah, Ayu terus bertanya-tanya dalam hati dan memutar otaknya memikirkan sebab Ardian hendak memindahkannya dari proyek luar kota ke perusahaan. Padahal jawabannya sangat mudah, Ardian ingin selalu bisa dekat-dekat dengan Ayu setiap hari.
Namun apa pun ceritanya, Ayu harus bersiap-siap 3 hari lagi pindah tugas ke perusahaan. Wah, berarti Willy pacarnya harus mengantar jemput Ayu setiap hari ke perusahaan?
Willy pasti bersedia mengantar jemput Ayu bagaimana pun jauhnya tempat kerjanya nanti. Cuma masalahnya, bisa-bisa Willy bertemu dengan Ardian suatu ketika bila setiap hari bolak-balik perusahaan. Nah, di situlah masalahnya. Bisa-bisa Ardian tahu Ayu ternyata sudah punya pacar dan Willy yang mengantar jemput Ayu itu adalah pacarnya.
Waduh, gimana pula ini? pekik hati Ayu antara bingung dan resah.
__ADS_1
* * *