Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Menolong Ayu yang Terpeleset


__ADS_3

Bab 76


Senin pagi.


Ayu sedang mengepel lantai dekat pintu masuk utama saat Ardian datang dan memarkirkan mobilnya di halaman gedung.


Melihat mobil Ardian datang, entah kenapa Ayu tiba-tiba gugup. Sepertinya dia sangsi antara cepat menghindar atau tetap di tempat. Bukan apa, soalnya masih membekas di ingatannya sikap Ardian yang dingin padanya akhir-akhir ini setelah dia memecahkan bingkai foto dirinya dengan Nia.


Sabtu siang lalu Ardian pergi ke Tanjungbalai bersama Shella dan Minggu sore sudah kembali ke Medan. Seperti kata Shella, Ardian ke Tanjungbalai untuk menjumpai Nia. Apakah sudah ketemu Ardian dengan Nia-nya? penasaran hati Ayu.


Ayu mengamati dari kejauhan lewat pintu kaca, wajah Ardian yang baru keluar dari mobil. Sepertinya wajah itu kurang cerah. Kurang senang. Oh, apakah gagal pertemuan bossnya itu dengan sahabat masa kecilnya? Ataukah rencananya tidak berjalan mulus? Kalau tidak, kenapa Ardian berwajah masam?


Karena takut, Ayu secara spontan bergerak menjauh dari arah datangnya Ardian. Cowok itu sudah melangkah menaiki tangga gedung dan sebentar lagi akan masuk. Kalau Ayu masih tetap di tempat, Ardian akan melihatnya lalu melewatinya. Apakah Ardian akan pura-pura tak melihat atau bahkan membuang muka seperti yang dilakukannya pada Ayu akhir-akhir ini?


Karena merasa tak sanggup lagi melihat sikap dingin Ardian yang menjauhinya ditambah wajah yang kurang senang hari ini, Ayu pun buru-buru menghindar.


Hati Pak Ardian pasti sedang tak gembira kalau dilihat dari wajahnya. Karena itu Ayu bermaksud menjauh atau menghindar supaya Ardian tidak melihatnya sehingga tak bertambah rasa tak senangnya.


Ayu melangkah buru-buru ke arah kiri atau ke arah meja resepsionis. Begitu gugup dan terburu-burunya sampai dia tak menyadari kalau tadi dia meletakkan ember berisi air dan sabun cair dekat meja resepsionis. Karena itu saat dia berjalan ke arah sana dengan cepat sambil kepalanya menoleh ke arah pintu masuk, kakinya tak sengaja menyepak ember itu hingga airnya muncrat keluar membasahi lantai.


Ayu terlambat menjaga keseimbangan tubuhnya. Basahan air dan sabun cair yang tumpah ke lantai itu membuatnya jatuh. Lantai yang mengkilap dan licin, ditambah air dan sabun cair, pantaslah dia jatuh terpeleset dengan posisi paha kiri menghantam lantai dan lengan kiri menopang lantai.


"Waduh!" terdengar jeritan kecil dari 3 resepsionis cewek yang ada di belakang meja resepsionis.


Ayu mengaduh kesakitan sambil berusaha bangkit. Sementara satu di antara ketiga resepsionia di depannya itu mengomelinya.


"Gimana sih kamu ini? Pagi-pagi sudah buat lantai basah!"


"Ceroboh sekali!" umpat teman di sampingnya.


"Mana Pak Ardian sudah datang pula," sambung temannya yang satu lagi.


"Benar-benar ceroboh kamu!"


Ayu meringis. Dia belum sempat bangkit dari posisi terduduknya saat mendengar suara Ardian di belakangnya. Ardian sudah masuk dan kini berdiri di belakangnya.


"Ada apa ini?" tanya Ardian.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak!"


"Selamat pagi, Pak!"


"Selamat pagi, Pak!"


Ketiga resepsionis cewek itu memberi salam pada Ardian secara berturutan.


"Iya, ada apa?" Ardian bertanya ulang.


"Ini, Pak, ada cleaning service ceroboh menjatuhkan air ke lantai hingga dia sendiri terpeleset," jawab satu di antara ketiganya.


Ardian menundukkan kepalanya melihat cleaning service yang dimaksud yang masih belum bangkit dari posisi jatuhnya. Dia berusaha menghindari tatapan Ardian yang menyelidik.


"Yu, Ayu!" Ardian mengenalinya lalu memanggilnya


Ayu menoleh ke atas dengan mata takut. Sepertinya dia masih sangsi bersua kembali dengan bossnya itu.


"Kenapa, Yu? Jatuh ya? Ayo, aku bantu kamu bangkit," Ardian mengulurkan tangannya saat matanya beradu dengan mata Ayu.


Ayu tercekat. Apakah dia salah dengar atau sedang bermimpi? Karena Ardian yang selama beberapa hari belakangan ini bersikap dingin padanya tiba-tiba bersikap ramah.


"Ayo, Yu," Ardian masih mengulurkan tangannya menunggu Ayu menggapainya.


Kali ini Ayu tak merasa sangsi lagi. Dengan segera dia menggapai uluran tangan Ardian dan berusaha untuk bangkit. Paha kirinya terasa sakit saat dia berdiri. Karena itu dia meringis.


Ardian menggenggam lengan Ayu dan membantunya bangkit. Dilihatnya gadis itu memang cukup parah jatuhnya sampai wajahnya menunjukkan rasa kaget.


"Terima kasih, Pak," kata Ayu saat dia sudah berdiri.


"Sama-sama, Yu, kamu juga pernah menolongku dulu," balas Ardian.


Ardian ingat dulu saat dia hampir celaka karena nyaris tertimpa benda berat yang jatuh dari atas bangunan tinggi, Ayu menolongnya. Insiden di lapangan proyek luar kota itu membuat Ardian dan Ayu saling mengenal lebih dekat dan membuat Ardian mengistimewakannya selama di Berastagi.


Ayu yang sudah berdiri di depan Ardian memijat-mijat pahanya untuk meringankan rasa sakit yang menggumpal.


Ardian memperhatikan gerak-gerik Ayu itu sementara ketiga resepsionis cewek yang berdiri di belakang meja mengamati aksi Ayu dengan sebal. Mereka merasa Ayu terlalu over acting di depan Ardian.

__ADS_1


Sekilas mereka ingat kalau Ayu ini jugalah yang waktu di Berastagi tempo hari mendapat perlakuan istimewa dari Ardian. Gadis montok sintal dan sensual ini asyik berdua saja dengan boss muda mereka selama di sana. Lengket terus keduanya seperti lem dengan kertas. Bahkan menunjukkan kemesraan yang membuat mereka iri. Sekarang hal itu terulang lagi di depan mata.


Ardian melirik ketiga resepsionis cewek yang sedang memperhatikan dirinya dengan Ayu. Merasa Ardian balik menatap, ketiganya buru-buru menundukkan wajah.


"Lain kali jangan galak-galak sama orang baru," tegur Ardian. "Orang jatuh itu harus dibantu, bukan dimarah," ingatnya.


"Iya, Pak," jawab ketiga resepsionis cewek itu dengan suara kecil dan pelan.


Ardian pun berjalan meninggalkan tempat itu sementara Ayu berdiri sambil menundukkan wajah memijat-mijat pahanya.


Setelah Ardian pergi, Ayu pun buru-buru menjauh dari meja resepsionis sebelum mendapat omelan lagi. Telinganya gerah dan hatinya panas mendengar kata-kata sindiran yang keluar dari mulut tajam ketiganya. Apalagi Ayu merasa pandangan mereka sinis kepadanya.


"Hei! Hei! Kok pergi begitu saja? Airnya belum dikeringkan tuh! Nanti kami yang jatuh pula dibuat kamu!" teriak satu di antara mereka saat melihat Ayu melangkah pergi. Karena gugup Ayu sampai melupakan basahan air di lantai.


Ayu melangkah kembali ke tempat semula dan mengeringkan air yang tumpah ke lantai dengan sapu pel. Setelah siap, dia segera pergi dari situ dengan menenteng ember dan sapu pelnya.


"Gimana sih cleaning service yang satu ini? Tadi kan sedang ngepel. Belum siap ngepel bagian sini saja sudah pergi," omel satu di antaranya.


"Iya, kerjaan nggak beres. Sudah itu sok pula cari perhatian boss dan belagu."


"Pura-pura jatuh dia kali ya supaya tampak kasihan."


"Iya, sudah jelas itu! Sengaja mencuri perhatian Pak Ardian!"


"Kamu nggak lihat tadi gayanya memijat-mijat pahanya yang sakit? Bahasa tubuhnya itu lho, kayak meminta Pak Ardian yang memijatnya."


"Iya, kurasa nggak sakit pun itu. Hanya pura-pura sakit saja."


"Benar."


"Sebal."


"Jijik."


"Kesal."


😁

__ADS_1


* * *


__ADS_2