
Bab 72
Ardian dan Shella selesai makan. Mereka tampak kepedasan dan menyeruput teh manis dingin di gelas masing-masing.
"Wuih, enak sekali!" kata Shella.
Ardian tak berucap apa-apa, cuma dari raut wajahnya jelas tergambar dia puas menikmati seluruh masakan yang tersaji di atas meja. Piring-piring berisi nasi dan 4 macam lauk itu itu telah kosong.
Ardian dan Shella sedang duduk bersantai sejenak sehabis makan ketika seorang wanita berusia 40-an mendekatinya.
"Kamu... wajahmu sangat familiar sekali tapi lupa-lupa ingat," kata wanita itu.
Ardian mengernyitkan alis, menatap wanita itu.
"Kamu asalnya dari mana, Nak?" tanyanya ingin tahu. "Sepertinya kamu orang sini ya? Tapi pindah ke kota lain dan sekarang lagi balik," tebaknya.
Wanita yang dirasa Ardian agak usil itu memperhatikan Ardian dengan teliti.
"Iya, aku asal sini tapi pindah ke Medan waktu umur 10 tahun," jawab Ardian seadanya tanpa menyapa balik.
"Nah, kan, tak salah aku!" seru wanita itu sok tahu. "Sepertinya kamu ini..."
"Anak Pak Wisnu," ucap Ardian cepat. Dia tak suka basa-basi atau beramah-tamah dengan orang asing yang tak memiliki hubungan atau kepentingan langsung dengannya.
Ardian berharap setelah memberi tahu, wanita itu akan merasa puas lalu pergi dari mejanya.
Namun wanita itu malah semakin menjadi-jadi dan tertarik bicara dengannya. "Iya, tak salah lagi! Kamu anaknya Pak Wisnu yang pindah ke Medan untuk menikah dengan gadis tua putri orang kaya, iya kan?"
Ardian melotot. Wanita itu dirasanya keterlaluan menyebut kata-kata seperti gadis tua putri orang kaya. Kesannya seperti papanya Ardian mau menikah dengan gadis tua itu karena hartanya.
Sebelumnya, Pak Wisnu adalah duda sepeninggal mama Ardian. Lalu ada kenalan yang menawarkan Pak Wisnu menikah dengan seorang gadis tua putri orang kaya pemilik perusahaan yang sekarang dipegang Ardian. Pak Wisnu menerima tawaran itu sehingga dia pun pindah ke Medan bersama Ardian yang saat itu berumur 10 tahun. Mereka tinggal di rumah mewah gadis tua yang dinikahi papa Ardian itu, yaitu Bu Siska.
__ADS_1
"Dari mana Tante tahu?" tanya Ardian sopan walaupun hatinya kesal dan hendak marah namun ditahannya.
"Aku kan tetangga Pak Wisnu! Masa kamu lupa, Ardian?" wanita itu berinisiatif duduk di kursi yang di meja Ardian. Sepertinya dia punya banyak waktu untuk berbincang-bincang.
Ardian memperhatikannya sekilas. Karena wanita itu bilang tetangganya dulu, Ardian berusaha mengenalinya.
"Kamu sudah sebesar ini, Ardian! Tante dulu tinggal berjarak 3 pintu dari rumahmu dan sering melihatmu bermain-main di halaman rumah. Ohya, kamu juga suka berenang bersama Nia di sungai yang di dekat rumah," cerocosnya.
Ardian dan Shella membelalakkan mata. Begitu nama Nia disebut, seperti ada yang menarik bagi Ardian dan Shella.
"Ohya, kamu tidak mencari Nia?"dia terus bicara sebelum Ardian sempat membalas.
"Belum," jawab Ardian pendek.
"Kami datang ke Tanjungbalai mau mencarinya, Tante," beri tahu Shella. "Tante mengenal Nia jugakah?" tanya Shella yang penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Nia.
"Iya dong! Masa nggak kenal? Kan sama-sama tetanggaan kita dengan Pak Wisnu. Nia anaknya baik dan dulu sering main bareng Ardian. Mereka akrab sekali," cerita wanita itu.
"Iya, masih. Kalian boleh ke sana mencarinya besok. Tapi... sepertinya hari Minggu dia bakal nggak ada di rumah. Karena biasanya hari Minggu Nia keluar jalan-jalan bersama Riko," cerita wanita itu.
Ardian terhenyak. Shella membelalakkan mata. "Riko itu siapa, Tante?"
"Riko anak pemilik toko sembako yang sering datang ke rumah Nia. Sering juga dia bawa Nia dan ibunya jalan-jalan ke tepi sungai di lokasi lain. Anaknya baik lho, kalau Bu Rani, mamanya Nia yang di kursi roda itu ikut, Riko sering bantu dorongin sampai ke tempat tujuan."
"Oh... kok begitu, Tante? Apa Riko itu pacarnya Nia?" Shella langsung to the point bertanya tentang identitas Riko.
"Mmm... gimana ya?" wanita itu melirik Ardian sekilas, seperti tahu kalau Ardian dulu menyukai Nia dan bisa kecewa kalau tahu Nia sudah punya pacar. "Kayaknya iya sih. Soalnya sering datang berkunjung, sering keluar bareng, bahkan mamanya Nia pun suka sama Riko," jelas wanita itu.
Ardian menahan napas mendengar cerita wanita itu. Shella juga menahan napas melihat reaksi Ardian. Ekspresi wajah Ardian terlihat tegang dan kurang senang mendengar Nia dan Riko dekat.
"Ohya, Nak Ardian sekarang kerja apa? Sudah tamat kuliahkah? Gimana kabar papamu? Apakah sekarang kamu yang memegang perusahaan gadis tua itu yang diwariskan dari papanya?" pertanyaan beruntun dari wanita itu membuat Ardian tak tahu harus menjawab yang mana dulu. Namun dia berusaha menjawab dengan jelas.
__ADS_1
"Iya, aku di perusahaan sekarang. Sudah tamat kuliah. Papaku dan Tante Siska tinggal di luar negeri sejak beberapa bulan lalu jadi aku yang mengurus perusahaan."
"Wah... mantab sekali kamu, Ardian!" wanita itu berdecak kagum. "Dulu kamu masih anak ingusan yang lucu dan comel. Sekarang tumbuh dewasa, tinggi kekar, sangat tampan dan elegan, pintar juga cerdas," pujinya bertubi-tubi sampai Ardian bingung apa perbedaan pintar dan cerdas?
"Tante terlalu memuji," Ardian merendah sambil tersenyum paksa.
"Iya, nggak salah, Tante. Ardian yang dulu comel sekarang sudah menjadi direktur perusahaan yang disegani," kata Shella.
"Wow! Bagus sekali!" matanya berbinar menatap Ardian.
"Jadi kalian ke sini jalan-jalan ya?" tanyanya.
"Iya, Tante. Jalan-jalan melihat kembali kampung halaman Ardian sekaligus berniat menjumpai Nia," senyum Shella.
"Oh, iyakah? Jadi besok kalian ke rumahnya?" wanita itu tampak sangat ingin tahu urusan orang, bertanya banyak layaknya seorang detektif.
"Iya, Tante. Rencananya besok kami ke rumahnya," jujur Nia. "Pak Ardian mau bertemu sahabat masa kecilnya itu."
"Pak Ardian?" wanita itu mengerutkan kening, bolak-balik melihat ke Ardian dan Shella.
"Iya, Tante. Pak Ardian direktur saya. Saya ini sekretarisnya. Hehe."
"Oh, rupanya sekretaris toh? Kupikir tadi pacarnya Ardian. Haha. Soalnya cocok sih," dia tertawa lebar.
Shella tersenyum kikuk namun senang karena dipikir pacar Ardian dan dibilang serasi. Sedangkan Ardian menampakkan wajah kaku dan melengos.
"Nak Shella nih cantik sekali ya dan pintar berdandan. Tampak seperti gadis kota besar yang kaya raya dan elegan," pujinya. Merasa Ardian tak menggubrisnya lagi, dia mengajak Shella bicara.
Namanya juga sama-sama perempuan yang suka menggosip, Shella dan wanita setengah tua itu pun terlibat pembicaraan seru dan hangat. Sesekali mereka ketawa, menunjukkan betapa gembiranya dan senangnya mereka bercakap-cakap dan bergosip ria.
Ardian yang kurang tertarik pada apa yang mereka bicarakan, memandang di kejauhan. Pikirannya melayang pada Nia yang disebut wanita itu telah memiliki seorang pacar bernama Riko.
__ADS_1
* * *