Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Santi Menemani Willy yang Terpukul


__ADS_3

Bab 103


"Aku pergi ya, Wil. Mau balik kantor lagi," Riana melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.


Willy tak menjawab. Dia sedang berusaha menenangkan gejolak amarah dan cemburu di dadanya. Ditariknya napas panjang berkali-kali untuk memberi oksigen lebih banyak ke dalam paru-parunya yang sesak.


Riana merasa takut juga melihat reaksi Willy yang wajahnya pucat setelah mendengar ceritanya. Namun dia melangkah pergi juga karena merasa tugasnya menyampaikan berita ke Willy sudah selesai. Dia sama sekali tak memikirkan efek yang dia timbulkan dari berita yang dia sampaikan.


Ah, yang penting aku puas sekarang. Ayu yang mengkhianati Willy memang pantas menerimanya, bisik hati Riana.


Sebenarnya itu sama sekali bukan urusan Riana, tapi sifatnya memang suka ikut campur. Apalagi bila itu menyangkut Ayu yang merupakan musuh bebuyutannya, lebih harus lagi dia ikut campur.


Setelah Riana pergi, Willy masih berdiri bersandar pada dinding ruang kerja Santi. Dia belum berhasil menenangkan hatinya yang galau, karena itu dia belum bergerak untuk kembali bekerja.


Sementara itu Santi yang sedari tadi berdiri menguping di balik pintu merasa tak mendengar lagi suara percakapan Willy dan Riana. Pasti Riana sudah pergi, pikirnya.


Santi pun membuka pintu ruang kerjanya dan agak kaget saat mengetahui Willy masih berdiri di dekat pintu. Dilihatnya wajah pemuda itu pucat pias dan tubuhnya tampak lemas bersandar pada dinding kayu.


"Wil, kamu kenapa?" tanya Santi dengan mimik wajah khawatir. Didekatinya pemuda itu dan disentuhnya lengan kirinya. "Kamu kenapa, Wil?" ulangnya.


Willy menatap ke depan dengan tatapan kosong. Santi menduga dia pasti terkejut sekali mendengar cerita Riana soal Ayu yang berduaan dengan cowok lain. Apalagi pakai acara nonton segala. Bahkan cowok itu seperti yang Santi dengar dari hasil pengupingannya tadi, adalah boss Ayu yang masih muda, kaya, sangat tampan dan tinggi.


Bagaimana perasaan Willy tidak terpukul mendengarnya? Apalagi selama ini Willy sangat mencintai dan membanggai pacarnya itu. Dia bahkan sangat setia dan tak pernah melirik cewek lain yang lebih kaya dan perhatian padanya.


Ayu pun tak begitu menghargai dan mempedulikannya. Seolah-olah Willy hanya alat transportasi yang siap mengantar ke mana-mana. Ditambah tong sampah yang tak pernah menolak segala keluh kesah dan kekesalannya.


Perlahan, Willy mengalihkan pandangannya yang kosong dari depan ke wajah Santi. Dia tak tahu harus bicara apa kecuali hanya menatap Santi dengan sorot mata pasrah.

__ADS_1


Santi melihat mata Willy yang berkaca-kaca. Tampaknya sebentar lagi dia akan menitikkan air mata.


Benarlah, sejurus kemudian Willy menitikkan 2 tetes air mata. Hatinya benar-benar sakit. Belati yang ditusukkan Ayu ke dalam jantungnya benar-benar tajam dan menyakitkan. Melukai hatinya yang selama ini menaruh kepercayaan penuh pada gadis itu.


Begitulah rasanya dikhianati oleh orang yang kita percayai. Sangat menyakitkan. Ayu ibarat orang terdekat yang paling dicintainya yang menikamnya dari belakang. Membuatnya terluka parah karena lengah dan tak siap.


Santi adalah orang pertama di dunia ini yang melihat Willy menangis setelah dewasa. Tentunya orang pertama yang melihatnya menangis saat kecil adalah ibunya.


Ibunya dan saudari-saudarinya di rumah tak pernah melihat Willy menangis setelah dewasa. Ayu juga tak pernah Santilah yang melihatnya.


"Wil, kamu baik-baik saja?" Santi mempererat pegangannya di lengan kiri Willy. Ditatapnya wajah pemuda itu yang pucat pias seperti kehabisan darah.


Sebenarnya, betapa ingin Santi memeluk pemuda itu untuk menenangkan hatinya dan mengurangi kesedihannya. Namun Santi merasa tak pantas. Karena itulah dia hanya menatap Willy dengan mata iba dan berusaha menenangkan perasaannya dengan menggosok-gosok lengannya.


"Aku baik-baik saja," jawab Willy setelah beberapa saat. Dia menaikkan tangannya, menghapus basah pipinya karena 2 titik air mata yang jatuh.


"Nggak apa-apa, San. Aku..."


"Ayolah, kita ke dapur dan duduk di sana. Aku buatkan kamu segelas teh manis hangat," ucap Santi.


Willy menatap Santi sekilas lalu menurut saat gadis itu menarik pergelangan tangannya untuk ikut ke belakang.


Santi tak melepaskan gandengannya di tangan Willy karena takut mungkin pemuda itu ambruk setelah hatinya mendapat pukulan telak. Begitulah pengertian dan perhatiannya Santi pada Willy.


Santi dan Willy sudah sampai di dapur. Santi menarik sebuah kursi di meja makan untuk diduduki Willy. Setelah itu dia mengambil sebuah gelas dan menaruh air panas dari dispenser. Diambilnya bubuk teh dan gula yang ada di dapur lalu dicampurkannya dengan air panas yang ada di gelas. Kemudian diaduk-aduknya dan disaringkannya ke dalam gelas lain.


Teh manis panas untuk Willy sudah siap. Tinggal ditaruh di meja dan ditunggu hingga hangat sebelum diminum.

__ADS_1


"Ini, Wil. Kamu boleh minum sedikit-sedikit sebelum hangat," kata Santi.


Gadis itu menarik sebuah kursi lain yang ada di meja makan dan duduk di situ berhadapan dengan Willy dalam jarak satu meter.


"Makasih," Willy mencoba minum 2 sendok teh manis yang masih panas itu. Setelah itu dia menunduk menatapi gelas berisi teh manis itu dengan pikiran melayang.


Ayu... benarkah kamu seperti itu? jerit hatinya. Benarkah semua yang dikatakan Riana itu tentang dirimu? Aku tak percaya, tapi mau tak mau aku harus percaya karena Riana bahkan berani bersumpah.


Santi tak bicara. Dia hanya duduk menatap wajah Wily yang masih pucat. Sebaiknya memang dia membiarkan pemuda itu tenang dulu sambil menemaninya duduk. Santi khawatir terjadi apa-apa pada Willy, karena itu dia tak berani meninggalkannya seorang diri.


"Teh manisnya sudah mulai hangat, Wil. Tampaknya boleh diminum sekarang," kata Santi setelah waktu berlalu 10 menit dan Willy masih duduk membisu menatap kosong ke dalam gelas.


Willy tersadar. Dia mengangkat kepalanya sejenak menatap Santi yang tersenyum iba padanya. Setelah itu dia mengangkat gelasnya dan mulai meminum teh manis yang sudah hangat.


Beberapa saat, Santi menunggu Willy meminum teh manis hangatnya. Hatinya senang bisa menemani pemuda itu di saat tersulitnya. Bahkan dia membuatkannya teh manis yang bisa memulihkan tenaga Willy dan memberi kehangatan baginya.


"Sudah agak baikan sekarang?" tanya Santi ketika melihat Willy hampir menghabiskan isi gelasnya. Hanya tersisa seperempat lagi.


Willy mengangguk. "Makasih, San," ucapnya sekali lagi.


"Usah terlalu dipikirkan, Wil. Semua yang dikatakan Riana belum tentu benar 100 persen. Untuk jelasnya, kamu harus tanya sendiri ke Ayu. Dengar penjelasannya. Mana tahu yang kamu pikirkan itu tidak sama dengan kenyataannya," nasihat Santi.


"Kamu tahu soal Ayu, San?" Willy menatap Santi heran karena gadis itu mengetahui cerita Riana soal Ayu.


"Iya, sori, Wil, tadi aku tak sengaja mendengar percakapan Riana dengan kamu dari balik pintu," akunya.


* * *

__ADS_1


__ADS_2