
Bab 46
Ardian membuka pintu kamarnya yang di lantai 3 villa. Suasana di sekitarnya sangat sunyi, tidak ada sesiapa di situ karena hampir tak ada yang berkepentingan naik ke lantai 3 kecuali Ardian yang kamarnya di situ.
Dengan langkah kaki perlahan Ardian menuruni anak tangga hingga sampai di lantai 2. Di situ juga sunyi sekali karena para karyawan sudah keluar dari kamar dan turun ke bawah berkumpul di taman menyambut tibanya detik-detik tahun baru.
Ardian melangkah lagi menuruni anak tangga lebar ke lantai 1. Tujuannya tentu saja menuju taman yang letaknya beberapa meter dari pintu depan untuk bergabung dengan para karyawan merayakan old and new.
Langkah Ardian sudah sampai di anak tangga terakhir yang tak jauh dari dapur. Tidak ada orang lain di situ kecuali... kecuali... Ayu!
Mata Ardian membelalak. Dalam jarak beberapa meter dilihatnya Ayu sedang sibuk mencuci piring, gelas, mangkuk, baskom, dan lain-lain yang bertumpuk di bak cuci piring. Sementara tidak ada seorang pun yang membantunya.
Seperti ditarik Ayu yang memiliki magnet, Ardian berjalan perlahan mendekati gadis itu. Ayu yang sedang berdiri dalam posisi membelakangi Ardian tidak menyadari kehadiran coeok itu karena suara langkah kaki Ardian hampir tak kedengaran.
Ditambah lagi Ayu sendiri sedang sibuk menekuni pekerjaannya hingga tak berpikiran seseorang akan mendekatinya dari belakang. Pastinya semua orang sedang bersuka-ria berkumpul di taman sekarang ini, mana ada yang sempat memikirkan apa yang sedang dikerjakan seorang cleaning service di detik-detik penting?
Ayu yang sedang sibuk sama sekali tak menyadari Ardian sedang mengawasinya dari belakang. Dia hanya fokus menyelesaikan tugasnya sebagai seorang cleaning service.
Ardian memandangi gerak-gerik Ayu yang sedang bekerja dalam waktu cukup lama. Dia lihat gadis itu sangat cekatan mencuci piring. Ayu mencucinya dengan sangat bersih hingga ke sela-sela hingga diam-diam Ardian pun mengagumi ketelitiannya. Gadis ini sangat rajin, cermat, dan bertanggung jawab pada pekerjaan, kata hati Ardian.
Ayu yang sudah selesai mencuci piring dan meletakkannya di keranjang rak untuk dikeringkan bersiap-siap melap piring-piring itu. Namun sebelumnya dia melap dulu bak cuci piring yang sudah berserak air dan basah karena cipratan air dari kran. Ada juga busa sabun cair yang berserak di sekitaran situ hingga Ayu turut melapnya sampai kering dan bersih. Dia membilas kain lapnya berkali-kali dan melap bak cuci piring itu berulang-ulang. Teringat olehnya lantai yang juga basah terkena tetesan-tetesan air yang jatuh dari bak.
__ADS_1
Ayu membalikkan badan, bermaksud mengambil sapu pel untuk mengepel sekitaran dapur dulu yang agak licin terkena cipratan air. Saat dia berbalik, baru disadarinya ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya.
Ayu terlonjak kaget. Dia memekik kecil saking kagetnya. Dia tak tahu entah sejak kapan Ardian berdiri di belakangnya. Apakah sudah lama?.Dan apakah cowok itu berdiri mengawasinya sedari tadi?
"Pak... Pak Ardian...," Ayu memanggil nama anak boss-nya itu dengan suara kecil dan tertahan yang kedengaran sangat merdu dan menggoda di telinga Ardian.
Begitulah Ardian merindukan suara Ayu yang merdu merayu itu setiap malam setelah gadis itu menyelamatkannya dari insiden di proyek luar kota beberapa bulan lalu. Ardian juga mengkhayalkan sosok gadis belia itu yang wajahnya sangat manis dengan 2 bola mata bundar besar dan bulu mata lentik. Belum lagi bentuk tubuhnya yang indah dengan pinggul meliuk seperti gitar spanyol. Apalagi bagian depan dada Ayu yang montok, padat, dan kenyal sudah pernah menyentuh dada Ardian secara tak sengaja saat mereka terjatuh di atas tanah.dalam insiden penyelamatan anak boss oleh cleaning service di lapangan proyek.
Semua momen mendebarkan yang dialami Ardian tidak pernah bisa lenyap dari ingatan cowok itu. Begitu juga dengan Ayu yang malam-malam di saat hendak tidur dan beristirahat dari lelahnya bertugas seharian, juga mengkhayalkan cowok amat sangat tampan yang diselamatkannya itu.
Ayu merasa bahagia dengan mengkhayalkan pangeran tampan kaya baik hati yang sekarang berdiri di depannya. Walaupun cantik, manis, dan memiliki banyak kelebihan sebagai seorang gadis yang layak mendapat perhatian khusus dari para cowok tampan kaya, namun Ayu merasa agak minder juga saat berhadapan dengan Ardian. Dia merasa cowok itu levelnya terlalu jauh di atasnya untuk diharapkan. Bagaikan pungguk sedang merindukan bulan. Atau Upik Abu yang sedang mengharapkan pangeran tampan berkuda putih. Ayu tak berani berkhayal menjadi putri cinderella yang berhasil mencuri hati pangeran tampan.
"Pak Ardian kok di sini?" tanya Ayu spontan, memecah keheningan antara dirinya dengan cowok itu.
"Pak Ardian?" Ayu menyebut nama cowok itu, menatapnya dengan bola matanya yang bundar indah. Bibirnya yang ranum merekah mengembangkan seulas senyum manis semanis buah apel yang membuat hati Ardian ketar-ketir.
"Aku... sedang nggak ngapa-ngapain," jawab Ardian dengan tampang polos. Padahal biasanya tampangnya dingin dan cool banget deh saat berhadapan dengan cewek-cewek lain. Apalagi di hadapan para karyawan cewek, wajahnya walaupun sangat tampan namun terkesan angkuh dan angker. Kenapa saat berhadapan dengan Ayu bisa berubah 180 derajat? Ardian sendiri pun heran.
"Hihihi," Ayu tertawa cekikian. Hilang sudah rasa capek gadis itu melihat tampang Ardian yang lucu saat sedang bengong seperti itu.
"Hihihi apa?" tanya Ardian polos.
__ADS_1
"Kenapa dengan Bapak?" Ayu pun tertawa keras. "Pak, jangan berdiri di sini lama-lama karena lantainya licin belum aku lap. Pak Ardian duduk di sana saja!" tunjuk Ayu pada kursi sofa yang terletak di ruang tamu yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
"Oh, kerjaanmu sudah selesai, Yu?" tanya Ardian.
"Emangnya kenapa, Pak?" Ayu balik bertanya.
"Nggak, cuma dari tadi aku lihat kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Mau bantuin karena kasihan," jujur Ardian.
"Bapak mau bantuin aku?" Ayu menunjuk hidungnya.
"Iya," Ardian mengangguk. "Apa yang bisa kubantu, Yu?" tanya Ardian tulus. Dalam hati Ardian merasa kasihan Ayu seorang pasti sudah capek bekerja sedari tadi, sementara para karyawan lain bisa asyik berkumpul, mengobrol, dan berpesta di taman.
Ayu membalas senyuman tulus Ardian. Hatinya sedikit tergelitik atau tepatnya tersentuh karena masih ada yang memperhatikannya di saat begini, di saat semua orang sedang sibuk merayakan old and new dan tak ada yang peduli apa yang sedang dikerjakan oleh seorang cleaning service di saat penting seperti ini.
"Tidak ada, Pak. Aku sudah biasa kerjakan ini semua sendiri. Hehe," jawab Ayu dengan suara lembut dan sopan.
"Benar tidak perlu bantuan?" ulang Ardian penasaran.
Ayu menggeleng. "Pak Ardian duduk di sofa sana saja supaya aku bisa mengepel lantai ini. Hehe," kata Ayu seperti sebuah usiran halus.
"Oh," Ardian melihat sofa besar mewah yang terletak di ruang tamu. Dia mengangguk pada Ayu lalu berjalan beberapa meter dan duduk bersandar di situ. Dilayangkankannya pandangan dan senyuman kecilnya ke arah Ayu yang mrngangguk padanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur, mengepel lantai, melap piring, dan menyusun piring-piring ke rak.
__ADS_1
* * *