
Bab 48
Ayu tak sabar melihat Ardian masih ragu memberikan reaksi. Dengan inisiatif sendiri, Ayu melakukan panggilan ke nomor WA Nia menggunakan hp Ardian.
"Sedang kuhubungi, Pak," kata Ayu dengan mimik berani. "Ini Bapak mau bicara langsung dengan Kak Nia?" tanyanya.
Ardian tak bisa mengambil keputusan saat itu juga, karena itu dengan ragu dia berkata, "Kamu sajalah yang bicara dengannya."
"Benar, Pak?" tanya Ayu memastikan.
"Iya," jawab Ardian.
Panggilan telepon ke nomor WA Nia berbunyi 9 kali sebelum dijawab orang di seberang sana.
"Halo?" suara seorang cowok membuat Ayu terpana. Bukankah ini nomor WA-nya Nia, kok suara cowok yang menjawab? pikirnya.
"Halo? Ini siapa? Bisa bicara dengan Nia?" tanya Ayu dengan suara keras.
Penerima panggilan di seberang sana yang ternyata adalah Riko, membalas dengan suara keras juga. "Kamu siapa?" tanyanya.
Riko merasa heran karena di nomor WA yang masuk adalah nama Ardian tapi kok suara cewek yang bicara?
Ayu bertambah bingung. "Suara cowok, Pak. Padahal ini nomor WA-nya Kak Nia," kata Ayu.
Ardian mengerutkan kening. Dia tak tahu kalau hp Nia yang dibelikannya untuk gadis itu sudah dijual Nia kepada Riko, teman semasa SMA Nia. Nia menjual hp pemberian Ardian itu demi biaya pengobatan ibunya yang sakit.
"Bapak dengar saja sendiri kalau tak percaya," kata Ayu sambil menyodorkan hp itu kepada Ardian.
Ardian pun menerima kembali hp-nya dari tangan Ayu dan mendekatkan ke telinga.
"Halo?" sapa Ardian.
Lha, ini nomor yang masuk tertulis nama Ardian. Tapi tadi yang bicara suara cewek dan sekarang berganti suara cowok. Riko pun menebak-nebak, mungkinkah Ardian yang dulu sering kontak dengan Nia ini sudah punya gandengan baru?
__ADS_1
"Halo juga," jawab Riko.
"Ini nomor WA Nia bukan? Kamu siapa?" tanya Ardian penasaran.
"Aku?" Riko merasa tak adil rasanya jika Ardian menduakan Nia. Dipikirnya suara cewek yang bicara tadi adalah gandengan baru Ardian. Karena itu Riko pun menjawab dengan berani, "Aku ya pacar barunya Nia. Emang kamu belum tahu, Ardian?"
Ardian tercekat. Si penerima panggilan tahu namanya dan kenal nama Nia. Berarti ada kemungkinan dia memang pacar barunya Nia, pikir Ardian. Tiba-tiba hatinya merasa gelisah.
"Pak, Pak," Ayu memanggil Ardian yang diam tak tahu harus menjawab apa. Melihat kebingungannya, Ayu mengambil inisiatif untuk meraih kembali hp Ardian dan berbicara dengan orang di seberang sana.
"Halo? Kamu siapa? Kok hp-nya Nia bisa ada di tanganmu?" tanya Ayu curiga.
"Kamu sendiri siapa?"
"Aku... aku...," Ayu tak tahu harus menjawab apa.
Merasa amarah di dadanya yang tiba-tiba meletup mendengar suara cowok yang mengaku-ngaku pacar Nia, Ardian pun menyambar hp-nya dari tangan Ayu dan menjawab keras, "Dia pacarku sekarang! Puas?!"
Setelah berkata begitu, Ardian langsung memutuskan pembicaraan dengan Riko dan membanting hp-nya ke sofa.
"Sudah, Yu. Nggak usah hubungi lagi Kak Nia untuk selanjutnya," ketus Ardian. Kekesalan yang dipendam Ardian selama setengah tahun ini akibat ditinggal balik Nia ke Tanjungbalai, meletus hari ini begitu mendengar suara cowok yang menerima panggilan dan mengaku sebagai pacar baru Nia.
Adapun Riko yang mendengar suara Ayu tadi dan suara Ardian yang mengatakan cewek itu adalah pacar barunya ikut tercengang.
Kesalahpahaman telah terjadi di kedua belah pihak, yaitu pihak Ardian-Ayu dan pihak Riko. Padahal seandainya saja Ardian tahu Riko hanya teman semasa SMA Nia yang membeli hp-nya di saat Nia butuh duit untuk biaya berobat ibunya. Dan seandainya saja Riko tahu Ayu itu hanya cleaning service yang kebetulan berada di dekat Ardian mewakilinya menelepon Nia pada malam tahun baru demi mengucapkan selamat tahun baru, pastilah kesalahpahaman ini tidak terjadi. Masalahnya mereka tidak bicara baik-baik dan sama-sama asal mengaku-ngaku saja setelah menebak-nebak yang belum tentu benar.
"Jadi?" tanya Ayu bingung. Dia kaget juga melihat kemarahan Ardian dan lebih kaget lagi karena Ardian mengakui dirinya sebagai pacar barunya walaupun hanya bo'ongan kepada Riko saja.
"Jadi ya lupakan saja," kata Ardian. Kali ini suaranya tidak lagi seketus tadi walaupun masih terkesan agak marah.
"Oh," reaksi Ayu. "Sori ya, Pak, maksudku tadi hendak membuat Pak Ardian berbaikan lagi dengan Kak Nia dengan mengucapkan selamat tahun baru, siapa sangka malah suara cowok yang jawab."
Ardian melengos. "Biarkan saja kalau dia memiliki pacar baru di sana, biar dianya senang," kata Ardian berusaha tenang namun nada suaranya terdengar geram.
__ADS_1
"Barangkali ada alasan lain di baliknya. Pak Ardian jangan berprasangka buruk dulu," nasihat Ayu.
"Nggak apa-apa, Yu," kata Ardian. "Nggak usah lagi dibahas soal Nia. Sekarang kita fokus saja di sini merayakan tahun baru."
"Iya, Pak," kata Ayu sambil berusaha tersenyum.
Pantaslah para karyawan segan pada Pak Ardian karena kalau lagi marah wajahnya memang kelihatan angker, pikir Ayu. Biasanya wajah Ardian sehari-hari pun selalu tampak dingin dan angker di mata para karyawan saat berada di kantor. Cuma saat berhadapan dengan Ayu saja Ardian memasang tampang ramah dan lembut.
"Jadi sekarang Pak Ardian hendak ke taman bergabung dengan mereka?" tanya Ayu.
Ucapannya seolah mengingatkan Ardian yang dari tadi lupa tujuannya turun ke lantai 1 dari kamarnya yang di lantai 3 adalah untuk ke taman bergabung dengan para karyawan merayakan malam old and new.
"Malas sekali rasanya ke sana," kata Ardian. "Kita berbincang-bincang saja di sini, Yu," pintanya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Masih pukul 9 malam. "Satu jam lagi baru ke sana," kata Ardian.
"Wah, satu jam lagi apa tidak terlalu telat, Pak?" tanya Ayu sambil terus berusaha tersenyum di tengah kelelahannya bekerja tadi.
"Tak tahu mau bicara apa dengan mereka di sana," kata Ardian. "Kita bicara saja mengenai dirimu, Yu."
"Mengenai aku?" Ayu menunjuk hidungnya.
Ardian mengangguk. "Iya."
"Aku... tidak ada yang spesial, Pak. Di rumahku ada seorang ibu dan seorang adik laki-laki. Kami tinggal bertiga. Aku membantu ibuku bekerja untuk membiayai sekolah adikku, Pak," terang Ayu.
"Begitukah?" Ardian menatap Ayu dengan mata salut. "Kamu sendiri? Sudah tamat SMA?"
"Aku putus sekolah waktu SMA, Pak. Terpaksa berkorban demi adikku."
"Kasihan kamu, Yu," kata Ardian. "Lalu?" tanyanya lanjut.
"Lalu apa, Pak?" tanya Ayu tak mengerti.
Sebenarnya Ardian ingin Ayu bercerita lebih lanjut tentang diri dan kehidupan pribadinya. Misalnya apakah dia sudah punya pacar atau pernah pacaran? Tapi melihat Ayu yang tak begitu berminat menceritakan kehidupan pribadinya, Ardian pun membatalkan niatnya.
__ADS_1
* * *