Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Riana Mencari Willy di Panglong


__ADS_3

Bab 101


Siang yang terik.


Riana memasuki panglong "Makmur" tempat Willy bekerja.


Dia berjalan mendekati seorang pegawai yang tampak di situ dan bertanya, "Bang, boleh tanya Willy ada nggak ya?"


Pegawai yang sedang menyusun bersak-sak semen di tempatnya itu menoleh dan menatap Riana. "Mau cari Willy?"


"Iya, Bang. Willy. Aku temannya, Riana," jawab Riana.


"Oh... Willy-nya sedang keluar, Dek. Entar agak lama baru balik," jawab rekan kerja Willy itu.


"Waduh, kira- kira jam berapa baru balik ya, Bang?" tanya Riana.


Dia mengangkat bahu. "Tergantung ke mana, Dek. Kalau banyak tempat yang harus dikunjungi ya lamalah."


"Maksudnya, Bang?" Riana memicingkan mata.


"Misalnya nagih piutang ke mana saja gitu," jelasnya.


"Oh, baiklah. Aku akan tunggu dia balik," Riana mengambil tempat di markas yang berada di bawah tenda seng. Di sana terdapat meja dan bangku. Riana duduk di situ.


Matahari benar-benar terik. Riana sampai harus mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengademkan lehernya yang berkeringat.


Pegawai di panglong itu yang jumlahnya 10 orang sekarang terlihat 4 orang. Yang 2 sedang mengantar semen dengan mobil pick up, 2 sedang mengantar batu bata dan kerikil dengan mobil truk, 1 yaitu Willy sedang menagih piutang, dan 1 lagi sedang mengantar cat dengan becak barang.


Empat yang tersisa di panglong itu, 1 sedang menyusun semen, 1 sedang mengetam kayu, dan 2 sedang mengayak pasir.


Begitulah gambaran panglong "Makmur" tempat Willy bekerja yang merupakan milik Pak Johdy, papanya Santi.


Riana berkeringat banyak walaupun duduk di bawah tenda seng di markas istirahat para pegawai. Dia biasanya bekerja di ruangan kantor ber-AC perusahaan ekspedisi "Lintas Jaya Pulau" milik papanya. Jadi terbiasa di ruangan yang sejuk dan tak terbiasa di di terik matahari.


Pegawai yang tadi ditanya Riana beberapa kali melirik Riana yang duduk di markas di bawah tenda seng. Walau hatinya heran ada cewek yang mencari Willy sampai ke panglong, namun karena kesibukannya bekerja dia urung bertanya lebih banyak.

__ADS_1


Riana menunggu Willy satu jam namun Willy belum juga balik. Dia mulai nggak nyaman dan hendak pulang namun ditahannya niatnya itu. Kalau memutuskan pulang berarti bakal sia-sia usahanya datang ke sini. Apalagi dia sudah menunggu Willy satu jam.


Riana bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pegawai yang bicara dengannya tadi.


"Bang, kira-kira masih lama nggak ya Willy balik?" tanyanya dengan raut wajah lelah.


"Nggak tahu, Dek," jawabnya. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Aduh...!" seru Riana kecewa.


"Kenapa, Dek? Mau balik sekarang?" tanyanya memperhatikan Riana sekilas.


Riana menunjukkan wajah sedih. "Iya nih, Bang. Tampaknya harus balik tanpa hasil," keluhnya.


Melihat gadis yang sejak tadi menunggu Willy itu kecewa, rekan kerja Willy merasa tak tega. Dia menyarankan satu hal.


"Kalau nggak, Adek ke ruang kerja Santi saja tanya Willy kapan balik."


"Santi? Santi siapa, Bang?" Riana mengerutkan kening.


"Oh... jadi Santi-nya di mana?" tanya Riana ingin tahu.


"Itu... di kantornya sebelah sana. Kamu masuk saja ke ruangannya tanya. Orangnya baik kok. Bilang saja kamu teman Willy," dia menunjuk ke satu arah.


"Oh, kok nggak bilang dari tadi," balas Riana lalu dengan cepat dia pun berjalan menuju kantor yang ditunjuk.


Riana sudah sampai di kantor itu. Dia menebak-nebak yang mana ruangan Santi di antara 2 ruang kerja yang ada.


Kayaknya yang ini, Riana memilih ruangan yang pertama dan mengetuk pintunya sampai terdengar sahutan dari dalam. "Masuk."


Tak salah lagi, ini pasti ruang kerja Santi karena suara cewek yang menjawab. Riana memutar gagang pintu dan menguakkannya perlahan. Seraut wajah gadis yang sebaya dirinya menatapnya dari belakang meja.


"Iya?" sambut Santi heran karena merasa tak mengenal orang yang baru masuk ke ruangannya.


"Sore ya, Dek. Santi ya? Aku Riana, teman Willy," Riana langsung memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Iya... Riana. Ada apa ya?" tanya Santi melihati Riana yang datang mendekatinya.


"Mmmm... aku disuruh tanya sama Santi kira-kira Willy-nya kapan balik ya dari nagih piutang?" Riana langsung ke pokok persoalan.


"Oh...," Santi menarik napas panjang. Ditatapnya Riana lekat. Heran karena ada cewek mencari Wiily. "Mungkin setengah jam lagi, Riana. Ada penting dengan Willy-kah?" tanya Santi.


"Iya nih, mau sampaikan ke dia hal penting. Hehe," Riana melirik kursi di depan meja Santi. Dia masih belum dipersilakan duduk oleh yang empunya ruangan.


"Aku boleh menunggunya di sini?" tanya Riana sambil menunjuk kursi di depan Santi.


"Iya, silakan," Santi mengangguk dengan sedikit senyum simpul.


Sebenarnya tadi dia sedang sibuk mengurusi pekerjaannya saat Riana mengetuk pintu dan diizinkan masuk Tapi dia tak enak bilang Riana mengusik kesibukannya bekerja. Apalagi mendengar nama Willy disebut, Santi terpancing ingin tahu.


"Willy sudah lama ya bekerja di panglong ini?" Santi mencoba mengajak gadis yang sebaya dengannya itu berbincang. Soalnya dia merasa bosan dari tadi duduk bengong seorang diri di luar sana.


"Dua tahun," jawab Santi pendek. Dia menjawab dan membalas tatapan Riana sekadarnya karena harus kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Tak ada waktu mengobrol atau meladeni Riana.


"Oh," Riana tak bertanya lagi melihat keenganan Santi menjawab. Dia terpaksa duduk membisu saja di depan Santi sambil memperhatikan gadis itu bekerja.


Santi terus menekuni perkerjaannya tanpa menghiraukan Rian yang duduk di depan mejanya. Gadis itu tak menunjukkan sikap sangat ramah tapi tak juga hendak mengusir.


Sekitar setengah jam kemudian pintu ruang kerja Santi dibuka dari luar. Willy muncul di situ sambil memegang dompet kulit segi empat berukuran sekitar 10 X 20 cm untuk tempat menaruh bon-bon tagihan piutang dan giro-giro yang dibayarkan langganan.


Dia berjalan menuju meja kerja Santi dan tampak terkejut saat melihat Riana ada di sana.


"Riana?" sebutnya spontan.


"Iya, Wil. Ini aku, Riana. Syukurlah kamu pulang, aku sudah menunggumu satu setengah jam," kata Riana dengan napas lega.


Santi melirik Riana sekilas lalu memandang Willy. "Ini temanmu ya?" tanyanya memastikan.


"Iya, San. Teman masa SMP dulu," jawab Willy sekadarnya. "Ini giro-giro hasil tagihan hari ini," Willy meletakkan beberapa lembar giro ke hadapan Santi. Giro-giro itu dikeluarkannya dari dompet kulit segi empat yang berwarna hitam.


Riana memperhatikan Willy dan Santi yang saling memberi dan menerima giro. Dia menunggu mereka bercakap-cakap sebentar. Willy menyampaikan laporan hasil penagihan piutang hari ini pada Santi dan Santi mendengarkannya dengan khidmat.

__ADS_1


* * *


__ADS_2