
Bab 66
Shella menerima map berisi berkas-berkas yang sudah ditandatangani Ardian namun dia belum menunjukkan gelagat akan keluar dari ruangan itu.
"Ada apa lagi, Shel?" tanya Ardian yang melihat Shella masih duduk santai di kursi yang di depannya.
"Mmm... aku boleh tanya sesuatu, Pak?" tanya Shella.
"Tanya apa?" jawab Ardian.
"Kenapa Pak Ardian tak menghubungi Nia langsung? Tak mungkin kan dia tak punya hp?"
Ardian mengerutkan kening. "Hubungi buat apa?" tanyanya heran.
"Ya buat tanya langsung kapan dia balik ke rumah Bapak, kan kuliahnya masih sisa 1 tahun lagi," jawab Shella.
"Apa aku harus tanya begitu?" tampang Ardian bodoh.
"Iyalah, Pak," tegas Shella. "Soalnya Bapak kan sedih ditinggal Nia. Dari cerita Tante Siska, semenjak Nia tak lagi tinggal menumpang di rumah Bapak, Pak Ardian jadi sedih."
"Nggak usahlah," tolak Ardian. "Toh dia sudah punya pacar sekarang."
"Hah? Apa? Maksud Bapak, Nia sudah punya pacar? Tapi kok dari cerita Tante Siska sepertinya Pak Ardian dan Nia saling menyukai? Apa sebelumnya dia sudah punya pacar? Lalu suka lagi sama Pak Ardian?" berondong Shella tak mengerti.
"Nggak, barusan saja dia punya pacar semenjak pulang ke Tanjungbalai," jawab Ardian sekenanya.
"Lho, kok begitu, Pak? Pak Ardian kok bisa tahu dia sudah punya pacar sekarang?"
"Waktu malam tahun baru di Brastagi itu, Ayu telepon ke hp-nya pakai hp-ku dan yang jawab pacarnya," jelas Ardian.
Shella menggeleng-geleng tak mengerti. "Jadi Pak Ardian sempat bicara dengan Nia?"
__ADS_1
"Nggak."
"Kok nggak?"
"Buat apa, Shel? Kan dia sudah punya pacar sekarang, buat apa diganggu lagi?"
"Bapak yakin yang menjawab panggilan itu adalah pacarnya Nia? Bukan orang lain?"
"Lha, kan dia sendiri yang ngaku pacar Nia. Kalau bukan pacar masa bisa pegang hp-nya Nia?"
"Oh...," Shella mengangguk-angguk. Dia mulai mengerti. "Jadi yang menjawab panggilan Bapak bukan Nia, melainkan seorang cowok yang mengaku pacar Nia, begitu ya, Pak?"
Ardian terkesiap sesaat. "Iya," jawabnya ringkas.
"Nah, di situlah salahnya Bapak!" cela Shella.
"Lha, di mana pula salahku?" giliran Ardian heran.
"Maksudmu? Kamu tak percaya sama yang ngaku pacarnya Nia?" selidik Ardian.
"Iya, betul sekali, Pak! Barangkali saja orang yang menjawab panggilan Bapak itu adalah orang asing yang mengambil hp Nia, atau entah siapa yang menyerobot panggilan dari Bapak waktu itu. Temannya, tetangganya, atau sembarang orang."
"Tak mungkin," Ardian menggeleng-geleng. "Nia bukan tipe orang ceroboh yang membiarkan hp-nya disabot orang lain. Dia tak mungkin membiarkan orang lain menjawab panggilanku. Atau marah sampai menyuruh orang lain yang bicara sambil mengaku-ngaku pacarnya. Karena yang bersalah itu dia, bukan aku! Dia yang meninggalkan aku."
"Okelah, kalau Bapak masih ragu, kenapa tak sekali lagi menelepon Nia?" usul Shella. "Barangkali saja kali ini dia sendiri yang akan menjawab panggilan Bapak?"
Ardian berpikir sebentar sebelum menyerahkan hp-nya pada Shella. "Kamu saja yang telepon dia, Shel. Aku emoh."
Shella menerima hp android yang disodorkan Ardian dan membuka aplikasi WA. Dia mencari nama Nia di WA-nya Ardian dan melakukan panggilan.
Panggilan dari hp Ardian tersambung. Seseorang menjawab panggilan WA-nya.
__ADS_1
"Ya, kamu lagi," jawab suara itu yang ternyata seorang cowok.
"Halo, ini siapa?" tanya Shella sambil meletakkan hp android Ardian di atas meja dan menyetel supaya suaranya terdengar jelas.
"Lho, kok cewek lagi?" cowok di seberang sana yang menjawab panggilan dari nomor WA Ardian balik bertanya.
"Iya, kamu siapa?" serobot Shella. "Sambungkan teleponnya ke Nia sekarang!" perintah Shella dengan suara galak.
"Lha, kok banyak sekali ceweknya si Ardian ini? Tempo hari yang telepon juga cewek tapi nggak segalak ini," balas cowok di seberang sana.
"Huh! Emang kamu siapa? Kok bisa pegang hp-nya Nia? Kamu nyuri hp-nya ya?"
"Hei, jangan sembarang ngomong! Aku bukan pencuri!"
"Lha, kalau bukan pencuri kok bisa-bisanya pegang hp orang lain? Ini kan hp-nya Nia. Memangnya kamu siapa?" ketus Shella.
"Ya aku... aku... aku ini pacarnya!" jawab cowok itu yang ternyata Riko.
Ardian tak tahu kalau hp android yang dibelikannya untuk Nia saat dia dan gadis itu jalan-jalan ke mal, sudah dijual Nia kepada Riko, teman SMA-nya dulu. Saat itu Nia membutuhkan duit untuk biaya berobat ibunya jadi terpaksa menjual hp Ardian kepada Riko sehingga kini Riko menguasai hp-nya. Sesuatu yang cukup riskan karena Riko sudah lama menaksir Nia dan dengan hp Nia di tangannya dia bisa menyabotase panggilan-panggilan masuk dari Ardian, cowok yang diketahui Riko dekat dengan Nia selama gadis itu kuliah di Medan. Bahkan Nia sudah tinggal menumpang di rumahnya selama 3 tahun. Pastilah hubungan mereka sudah sangat dekat, apalagi Nia dan Ardian bersahabat baik sejak anak-anak.
"Oh... aku tahu sekarang. Kamu ini pasti orang yang menyabotase hp-nya Nia. Kamu bukan pacarnya! Kamu cuma orang iseng yang tak dikenal Nia yang mengambil hp-nya!" tuduh Shella.
"Hei, jangan kurang ajar ya! Aku ini orang baik-baik. Aku ini pacarnya Nia! Kalau tak percaya biar kukirimkan foto kami berdua biar bisa kamu tunjukkan sama yang namanya Ardian itu! Huh, dasar playboy, ganti-ganti pula ceweknya si Ardian ini!" cowok yang ternyata Riko itu merutuk.
"Oh... emang ada bukti foto kalian berdua? Kalau berani ya kirimkan saja!" tantang Shella.
"Okey, ditunggu ya! Segera kukirimkan!" balas Riko kesal.
Dengan segera, Riko yang berada di seberang sana alias di Tanjungbalai mencari foto berduanya dengan Nia yang diambilnya seminggu lalu. Foto itu disimpan Riko di galeri foto yang ada di hp Nia yang dibelinya. Riko meminta kesediaan Nia untuk foto berdua dengannya seminggu lalu saat mereka sedang berjalan-jalan di tepi sungai Asahan. Nia yang merasa berutang budi pada Riko selama beberapa bulan terakhir ini tentu saja mengiyakan permintaan Riko karena pikirnya toh hanya diminta selfie berdua.
Selama ini Riko terus bertamu ke rumahnya dengan alasan menjenguk ibunya yang sakit sambil tak lupa membawa berbagai macam keperluan untuk kebutuhan sehari-hari buat Nia dan ibunya. Ya, Rikolah yang telah membantu Nia selama beberapa bulan ini sehingga gadis itu dan ibunya tak lagi kekurangan satu apa pun. Bahkan biaya berobat ibunya Nia pun berkali-kali ditanggung Riko atas seizin ibunya Riko.
__ADS_1
* * *