
Bab 30
Sebuah sepeda motor berhenti di dekat bangunan proyek. Pengendaranya, seorang pemuda berusia 19 tahun .
Dalam keadaan remang-remang lampu jalan pukul 7 malam, tampaklah kedua tangannya yang menanggalkan helm dan turun dari sepeda motor. Tubuhnya atletis, wajahnya tampan dan sedap dipandang. Sorot matanya pun teduh dan dalam. Pemuda itu adalah gambaran sosok cowok yang melindungi dan memberi kelembutan pada cewek mana pun yang menjadi kekasihnya.
Dia berjalan memasuki bangunan proyek. Berjalan terus sampai ke ujung di mana terdapat ruangan kantor yang siang tadi dikunjungi Adrian dan Shella. Pemuda itu mencari-cari sesuatu atau mungkin seseorang dengan kedua bola matanya yang hitam. Ketika melihat apa yang dicarinya, senyum lega pun hadir di sudut bibirnya yang dihiasi kumis tipis.
“Sayang…,” katanya sambil memeluk sosok itu dari belakang. Dicobanya untuk mencium pipi orang yang dipeluknya itu dari belakang, namun orang itu yang ternyata seorang gadis belia menghindar lalu mendorong tubuhnya.
“Jangan begitu, Wil, nanti kelihatan orang,” katanya dengan suaranya yang terdengar merdu.
Ruangan itu sunyi, tidak ada lagi orang lain di situ selain gadis belia itu. Tak heran pemuda itu mengambil kesempatan untuk menciumnya, namun ditolak halus olehnya.
Di telinga pemuda yang dipanggil Wil itu, suara gadis yang menolak ciumannya itu terdengar amat merdu, manja merayu membangkitkan kerinduan dan kelelakiannya setiap saat.
Dia betul-betul amat merindukan dan mengasihi gadis itu. Siang dan malam dia memikirkannya. Tiada semenit pun dia bisa melupakan gadis itu. Bayangan gadis itu senantiasa bermain-main di pelupuk matanya. Bahkan di saat kerja pun dia tak bisa konsentrasi karena selalu memikirkan gadis itu.
“Lelahkah, Yu?’ tanyanya sesaat setelah tubuhnya didorong menjauh oleh si gadis yang ternyata Ayu, gadis yang siang tadi menolong Ardian dari insiden yang membahayakan nyawa.
__ADS_1
Ayu berusaha tersenyum, senyum yang terkesan dipaksakan. Dia tak menjawab, hanya berjalan beberapa langkah untuk mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja dekat sofa, lalu membereskan rambut dan bajunya sebentar sebelum berbalik menghadap pemuda yang tadi memeluknya.
“Ayo kita pulang,” katanya pendek.
Willy, pemuda yang selama setahun ini rajin mengantar jemput Ayu pergi dan pulang kerja, mengikuti langkah-langkah kaki Ayu keluar dari ruangan kantor yang barusan dibereskan Ayu.
Begitulah kerja Ayu di proyek setiap hari. Sebagai cleaning service membersihkan dan membereskan setiap sudut ruangan, mulai dari ruangan kantor, ruang istirahat para karyawan, ruang dapur, sampai kamar mandi dan toilet.
Sering Ayu membuatkan minuman, mie, atau cemilan bagi para pekerja yang ada di proyek itu bila diminta. Membuang sampah, memasak untuk kepala proyek, sampai mengunci pintu kantor. Bahkan sering juga dia disuruh ke sana ke mari melakukan berbagai hal, seperti memfotokopi berkas-berkas, membantu kepala proyek menyalin beberapa catatan di secarik kertas, dan sebagainya.
Semua pekerjaan serampangan itu dilakukan Ayu tanpa kenal lelah dan tanpa keluhan. Dia melakukan semua itu dengan ikhlas dan sabar. Cuma satu yang ada pikirannya, suatu saat nanti dia akan menjadi orang yang dilayani bukan yang melayani, menjadi orang yang memerintah bukan yang diperintah, apalagi diperintah ke sana ke mari melakukan itu dan ini.
Willy mengikuti langkah-langkah kaki Ayu yang bergerak cepat menuju ke luar ruangan. Dia menguntit di belakang Ayu, melihat langkah-langkah gadis itu yang kelihatan tergesa-gesa menyusuri lapangan yang luas.
Ayu selalu berharap, dengan menunjukkan kerajinan yang amat sangat, juga pekerjaan yang beres dan memuaskan, akan bisa mendapat pujian dari kepala proyek, lalu bisa dipromosikan, dihargai, atau dinaikkan gaji. Begitulah harapan Ayu setiap hari.
Siapa sangka, harapannya itu akan segera terwujud. Iya, Ayu yakin tindakannya yang spontan menolong anak boss hari ini akan membawa berkah bagi dirinya tak lama lagi.
Ayu berjalan lambat saat langkahnya sampai di tempat di mana tadi dia menyelamatkan Ardian, dan saat mana anak big boss-nya itu terpeluk atau memeluk dirinya secara tak sengaja.
__ADS_1
Bibirnya mengukir seulas senyum puas yang penuh arti. Dipandangnya sejenak bangunan tinggi yang tadi sempat terjatuh benda berat dari sana dan hampir mengenai Ardian. Diingatnya lagi ketika dia berlari cepat menyelamatkan Ardian dan betapa cowok itu amat sangat berterima kasih padanya.
Dari gerak-gerik dan pandangan mata Ardian, Ayu bisa menangkap, cowok tampan dan kaya itu tertarik padanya. Cowok itu terpesona olehnya. Bukan saja karena telah menyelamatkan nyawanya, tapi juga karena Ayu sendiri yang begitu menggairahkan.
Aku pasti sangat baik di matanya, pikir Ayu sambil tersenyum puas, mengusir kelelahan amat sangat yang dirasakannya hari ini dan juga setiap hari, setelah bekerja seharian bersih-bersih dan beres-beres.
Willy yang berdiri di belakang Ayu, tak mengerti kenapa Ayu tiba-tiba melambat sejenak saat sampai di samping bangunan tinggi yang sedang dikerjakan. Apalagi gadis itu menatap ke atas lalu menatap ke tanah sambil tersenyum penuh arti.
Ingin dia bertanya, tapi tak berani karena seperti biasanya, Willy hanya akan menjadi tempat Ayu melepaskan lelah dan meringankan langkah. Dia hanya menjadi tong sampah tempat Ayu bisa meluapkan segala kekesalan, kemarahan, atau tangisnya yang mana dia tak bisa luapkan kepada siapapun selain kepada Willy, kakak kelasnya yang dipacarinya sejak 3 tahun lalu saat dia masih SMP.
Karena ketiadaan biaya, Ayu berhenti sekolah setahun lalu saat kelas I SMA, dan mencari kerja ke mana-mana sampai diterima di proyek ini sebagai cleaning service.
Walaupun begitu, dia sangat bersyukur, karena selain tak lagi menjadi beban bagi ibunya yang mengambil cucian di beberapa rumah tetangga, Ayu juga bisa membantu meringankan beban ibunya, membiayai sekolah adik laki-laki satu-satunya yang sekarang kelas I SMA. Ayah Ayu, semenjak Ayu kecil sudah pergi meninggalkan keluarga, melepaskan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan hingga kini Ayu tak tahu ke mana rimbanya.
Satu yang pasti, Ayu sangat menyayangi ibu dan adiknya, hingga dia akan melakukan apa saja demi untuk bisa membahagiakan ibu dan adiknya itu. Dia juga berharap, suatu saat nanti adiknya itu akan menjadi orang sukses, dan membanggakan dirinya juga ibunya.
Langkah Ayu dan Willy sampai di dekat sepeda motor yang tadi diparkir. Willy menyerahkan sebuah helm berwarna merah kepada Ayu. Ayu menerimanya dan memakainya. Selanjutnya pemuda itu pun memakai helm-nya sendiri dan naik ke atas sepeda motor, bersiap-siap menjalankan motornya, membawa Ayu pulang ke rumah.
Ayu duduk di boncengan Willy dengan menaruh tasnya di tengah jok, di antara dirinya dan Willy. Sepeda motor itu melaju membelah jalanan yang lumayan sepi di malam itu.
__ADS_1
Seperti biasanya, Ayu hanya akan melingkarkan sebelah tangannya memeluk pinggang Willy, sementara tangannya yang satu lagi memegang tasnya yang ditaruhnya di tengah jok.
* * *