Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Rombongan Tiba Kembali di Medan


__ADS_3

Bab 58


Tiga hari dua malam di Berastagi telah mendekatkan hubungan Ardian-Ayu. Benih-benih suka dan mabuk kepayang tumbuh semakin subur di hati keduanya.


Ayu seperti lupa kalau sebenarnya dia sudah punya Willy, pacar yang setia menemaninya dalam suka dan duka selama beberapa tahun terakhir. Ardian juga seperti lupa kalau sebenarnya dia sudah punya Nia yang dipacarinya tak resmi selama 3 tahun semenjak gadis itu menumpang tinggal di rumahnya.


Karena Willy hanya teman sekelas semasa SMP-nya Ayu yang dijadikan pacar supaya Ayu punya ojek pribadi yang mengantar ke mana-mana, maka begitu Ayu menemukan pangeran tampan berkuda putih yang lebih pantas bersanding dengan dirinya yang cantik montok manis dan menawan, Ayu pun segera melupakan pacarnya itu.


Sebaliknya Ardian yang dari awal menyukai Nia yang merupakan sahabat masa kecilnya di Tanjungbalai, merasa gadis itu mengkhianatinya dan mengecewakannya dengan pulang ke Tanjungbalai selama setengah tahun untuk merawat ibunya yang sakit. Begitu Ardian menemukan Ayu yang begitu mempesona dengan gigi gingsul yang menggemaskan dan lesung pipit yang manis, segera melupakan Nia yang sebenarnya adalah pacar tak resminya.


Ayu pulang dari Berastagi dengan membawa banyak oleh-oleh yang dibelikan Ardian untuk ibu, adik, dan dirinya sendiri. Ada buah, sayur, baju, tas, dompet, souvenir, dan lain-lain. Ardian tak lupa juga menyelipkan uang tunai 2 juta rupiah ke dalam saku celana jens gadis itu saat perpisahan pulang ke rumah masing-masing sepulangnya dari Berastagi.


Bus pariwisata yang menurunkan para karyawan perusahaan Ardian dengan boss mereka Ardian dan cleaning service Ayu pun bergerak meninggalkan perusahaan untuk kembali ke markas setelah supir selesai melaksanakan tugasnya membawa mereka pergi dan pulang Berastagi-Medan.


Ardian tentu saja pulang ke rumahnya sendiri dengan mengendarai mobil mewahnya, sementara Ayu yang sempat ditawari Ardian menumpang di mobilnya dan diantar pulang menolak. Alasan Ayu nggak mau merepotkan Ardian yang sudah capek dan hendak buru-buru pulang ke rumah untuk istirahat.


"Lain kali ya, Yu, aku berkunjung ke rumahmu," kata Ardian menanggapi penolakan Ayu untuk diantar pulang.


"Iya, Pak Ardian. Lain kali saja ya, Pak. Pak Ardian kan sudah capek, masa harus mengantar Ayu pulang lagi. Ayu bisa sendiri, Pak," kata gadis cleaning service itu yang selama di Berastagi terus-menerua lengket di sisi Ardian bagaikan lem dengan kertas.

__ADS_1


Ardian tersenyum dan melambaikan tangannya menuju mobilnya yang diparkir di depan perusahaan.


"Terima kasih untuk semuanya ya, Pak!" tak lupa Ayu mengucapkan terima kasih pada cowok itu atas semua kebaikannya selama di Berastagi. Mulai dari memberikan Ayu tempat tumpangan tidur, mengajaknya naik kuda, makan jagung, sampai membelikannya banyak oleh-oleh.


Ardian masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya perlahan meninggalkan halaman parkir gedung perusahaan miliknya sambil melambaikan tangan sekali lagi pada Ayu.


Para karyawan yang berkerumun di depan gedung begitu diturunkan dari bus pariwisata tadi, sekarang mulai bubar pulang ke rumah masing-masing.


Ayu berjalan menuju tempat yang agak lapang dan sunyi. Dikeluarkannya hp-nya dan dihubunginya satu nomor. Tukang ojek pribadi gratisan yang akan mengantarnya pulang ke rumah dengan hati senang dan rindu.


"Yu... Sayang... Kamu sudah sampai di Medan?" suara Willy yang terdengar sangat merana memendam rindu 3 hari tak bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang juga pacarnya itu membuat Ayu merinding.


"Oh, syukurlah," Willy berucap lega. Secepat kilat dia keluar dari dalam rumahnya, mendekati sepeda motornya, memakai helm-nya, dan menghidupkan mesin motornya untuk kemudian menjalankannya membelah jalan raya yang ramai di hari itu.


Hatinya bergolak dan jantungnya berdegup menahan rindu yang menggebu-gebu. Aliran darah di tubuhnya panas dingin menyongsong gadis yang sangat dicintainya itu namun seringkali membuatnya terombang-ambing dalam ketidakpastian.


Yu... Ayu... Ayu sayang... sebentar lagi aku akan bisa melihatmu kembali. Sebentar lagi aku akan bisa melepas rindu. Tak sabar lagi aku memelukmu, menggandeng tanganmu, mengecup pipimu, dan memboncengmu di belakangku. Begitulah Willy berkata-kata sendiri dalam hati.


Pemuda yang sebenarnya berwajah lumayan ganteng itu menyenandungkan melodi-melodi indah di dalam hatinya. Dia terus bernyanyi-nyanyi sendiri dengan suara kecil di balik topeng helm-nya saat menjalankan motornya menuju gedung perusahaan untuk menjemput Ayu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Willy pun tiba di tempat yang dituju. Tak perlu lama baginya menemukan sosok Ayu yang sedang duduk di satu sudut menunggu kedatangannya.


Ayu yang sudah lelah dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah bernapas lega ketika melihat kedatangan Willy. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Willy, menerima helm yang disodorkan cowok itu, dan memakainya. Sebelumnya barang-barang bawaannya yang dari Berastagi itu disodorkannya pada Willy untuk dipegang sementara atau disangkutkan di gantungan kereta.


Ayu hanya melihat Willy sekilas. Tak dipedulikannya raut wajah Willy yang menahan rindu dan senang berjumpa kembali dengannya.


Ayu melihat Willy sekilas tanpa perasaan apa-apa. Willy baginya selama ini memang lebih mirip tukang ojek pribadi gratisan dibandingkan seorang pacar.


Pemuda yang tahu pacarnya yang cantik itu dalam keadaan lelah sepulangnya dari Berastagi, tak berkata apa-apa supaya tak membuat gadis itu semakin capek. Padahal banyak yang ingin ditanyakannya dan diomongkannya dengan gadis itu tapi pemuda itu hanya diam saja. Begitulah dia selalu harus tahu dan paham situasi kondisi Ayu dan menyesuaikan diri supaya gadis itu betah bersamanya.


Willy sangat takut Ayu mendepaknya sebagai pacar, mengingat Ayu yang memiliki kecantikan fisik di wajah dan tubuh yang demikian memikat lawan jenis. Siapa saja bisa menjadi saingan Willy merebut pacarnya itu. Karena itu Willy selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk menyenangkan hati Ayu.


Willy sadar kalau dia hanya pemuda dari keluarga sederhana. Dia sama sekali bukan anak orang kaya atau pangeran tampan berkuda putih yang juga pantas memiliki pacarnya itu.


Keberuntungan Willy bisa menjadi pacar gadis itu beberapa tahun lalu karena mereka sekelas waktu SMP dan Willy berhasil menjadi orang yang selalu menampung segala keluh kesah, kesedihan, dan kemarahan gadis itu.


Willy bersedia menjadi tong sampah bagi gadis itu tanpa protes apa-apa. Bersedia menjadi tukang ojek pribadi gratisannya yang disuruh bawa ke mana-mana. Walau selama bertahun-tahun pengorbanan dan kesetiaannya seolah dipandang sebelah mata, namun itu tak mengapa bagi Willy, karena dia memang sangat mencintai Ayu.


* * *

__ADS_1


__ADS_2