Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu dan Riana Berpapasan Lagi


__ADS_3

Bab 85


Ardian dan Ayu duduk di sofa setengah jam sebelum terdengar panggilan untuk memasuki ruang cinema.


Para pengunjung yang akan menonton film yang sama dengan film yang akan ditonton Ardian dan Ayu pun bangkit dari duduknya. Mereka berjalan menuju pintu cinema.


Ardian dan Ayu mengantre di belakang para pengunjung lain yang hendak sama-sama masuk ke dalam. Setelah tiba giliran mereka, Ardian menyerahkan karcis pada wanita penjaga pintu cinema. Dia mengoyak karcis Ardian separuh, separuhnya lagi Ardian bawa masuk supaya tahu nomor kursi atau tempat duduk mereka.


Mereka kebagian tempat duduk di baris ketiga dari belakang. Ardian dan Ayu duduk di barisan itu bersama pengunjung-pengunjung lain.


Layar lebar di depan mereka sedang menayangkan iklan film-film lain saat mereka duduk. Sepuluh menit kemudian barulah film yang hendak mereka tonton tayang setelah lampu dan pintu di ruang cinema ditutup. Hanya lampu sorot fillm yang masih terlihat terang menyorot film ke layar lebar.


Ardian dan Ayu mulai menikmati film itu. Menyimak jalan ceritanya dari awal. Sesekali bila sudah lewat adegan konfliknya, mereka saling mencuri pandang ke samping lalu melempar senyum lega, seolah turut berperan serta di dalamnya.


Di saat film hendak mencapai klimaks, Ardian tiba-tiba menggenggam tangan Ayu yang duduk di sampingnya.


Ayu merasakan kehangatan menjalar lewat tangannya di tengah dinginnya ruang cinema ber-AC yang membuatnya menggigil.


"Filmnya sudah usai, Pak," kata Ayu saat klimaks lewat dan film pun selesai setelah 10 menit melewati klimaks.


"Iya," Ardian melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Ayu dan bersiap-siap bangkit menuju pintu keluar. Kalau pintu masuknya tadi berada di bagian belakang kursi, maka pintu keluarnya berada di bagian depan alias di samping layar lebar.


Ardian dan Ayu menunggu sampai para pengunjung lain keluar dulu baru mereka keluar karena tak ingin berdesak-desakan.


"Bagus ya filmnya, Pak," kata Ayu sambil melirik Ardian yang berjalan di sisinya.

__ADS_1


"Iya, Yu, memang bagus. Kamu mau ke toilet?" tanya Ardian.


"Iya, Pak. Mau."


"Di situ," Ardian menunjuk suatu tempat dan mereka berjalan ke situ.


"Tunggu aku ya, Pak," Ayu masuk ke ruang toilet wanita.


Sementara Ardian berdiri menunggu di luar, Ayu mengantre di ruang toilet. Ada 8 toilet di ruang itu yang semuanya penuh antrean.


Karena antrean masih banyak, Ayu melihat-lihat sejenak riasan wajahnya di cermin yang terletak di depan wastafel. Dia merapikan blus dan roknya padahal itu pasti akan diulanginya lagi sebelum keluar dari ruang toilet.


"Halo, ketemu lagi kita," tiba-tiba Riana muncul di ruang toilet dan langsung menyapa Ayu yang sedang melihati dirinya di cermin.


Ayu terlonjak kaget. Tak disangkanya dan tak diinginkannya sama sekali akan bertemu kembali dengan Riana di ruang toilet.


"Iya," Ayu hanya mengangguk sekilas lalu buru-buru melangkah mendekati pintu salah satu toilet untuk mengantre di sana.


Riana sekali lagi bisa membaca gerak-gerik Ayu yang terkesan tak ingin bicara banyak atau beramah tamah dengannya. Teman masa SMP-nya itu seperti takut ditanyai macam-macam yang akan membuat rahasianya terbongkar. Terutama di depan Ardian.


Entah kenapa, semakin dihindari Ayu, Riana semakin ingin tahu. Dia merasa terpancing melihat reaksi Ayu yang keihatan gugup saat dirinya menyebut nama Willy dan bertanya kabarnya. Apalagi saat Riana bertanya banyak perihal Willy, Ayu tak mampu menjawabnya.


Bagi Ayu, kemunculan kembali Riana di dekatnya seperti membangkitkan kenangan masa SMP-nya yang tak mengenakkan. Saat itu walaupun Ayu mendapat simpati dari para guru dan perhatian dari lawan jenis serta menjadi bintang kelas, namun selalu ada seseorang yang tak senang padanya. Seseorang yang selalu mengerjainya, yaitu Riana.


Ayu mengantre di depan pintu toilet dengan wajah kurang nyaman. Kalau saja barusan Riana tidak muncul di situ dan mengusiknya kembali, Ayu pasti akan gembira dan tenang-tenang saja setelah menghabiskan film berdua dengan Ardian.

__ADS_1


Sungguh, hal yang belum berubah, Riana selalu menjadi orang yang menghalangi kegembiraannya sejak SMP sampai sekarang.


Merasa tak sopan jika dia banyak bicara dengan Ayu saat di ruang toilet yang ramai pengunjung, Riana pun terpaksa menahan keinginannya yang membuncah menanyai Ayu perihal Willy. Biarlah nanti kutanya dia saja saat di depan pintu ruangan ini, kata hati Riana.


Riana cepat-cepat ikut mengantre di depan pintu toilet yang lain supaya saat Ayu siap nanti, dia juga sudah siap.


Ayu tak melihat ke arah Riana yang mengantre tak jauh darinya walaupun dia mengetahui Riana berdiri di situ lewat lirikan ujung mata.


Ayu mendesah resah dalam hati. Sepertinya Riana tidak akan melepaskannya dengan mudah kalau dilihat dari gerak-geriknya yang terus mengawasi Ayu.


Riana seolah musuh bagi Ayu. Padahal musuh itu sebenarnya adalah teman yang iri pada kita atau pengagum rahasia yang tak mampu seperti kita lalu dia pun mencari kelemahan kita.


Pintu toilet yang di depan Ayu terbuka. Ayu yang antreannya sudah sampai paling depan langsung masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian pintu toilet di depan Riana pun terbuka dan Riana juga bergegas masuk ke dalam.


Ayu dan Riana keluar sama-sama dari dalam toilet. Dengan agak tergesa Ayu mencuci tangannya di kran wastafal menggunakan sabun. Setelah itu dia hanya melihat dirinya sejenak di depan cermin sebelum bergegas pergi.


Riana yang juga sudah selesai mencuci tangannya di wastafel mengikuti langkah Ayu. Teman SMP Ayu itu membuntuti langkah Ayu ke mana saja.


Tiba-tiba Ayu membalikkan badan saat mereka sampai di depan ruang toilet. Dia berkata pada Riana dengan suara geram seperti menghardik. "Kenapa, Riana?! Kamu masih belum puas padaku ya?! Belum puaskah kamu mengerjaiku dulu dan sekarang hendak melanjutkannya lagi?!"


Riana terpana. Ayu juga tercekat. Dia sama sekali tak sangka kalau dia bisa tiba-tiba emosi. Entah dari mana datangnya keberanian itu untuk melawan Riana. Barangkali karena Ayu sudah tak mampu manahan emosinya yang tertahan-tahan sejak lama hingga kini muncul keberanian untuk melampiaskannya saat dia merasa kebahagiaanya hendak diusik. Apalagi oleh Riana, orang yang dulu selalu tak puas padanya, selalu mengejeknya, menyindirnya, memandangnya rendah, dan mengata-ngatainya sesuka hati. Riana sungguh membuat amarah Ayu tak tertahankan lagi.


Riana terkaget-kaget. Namun walau begitu dia masih sempat membalas dengan pedas. "Lho? Kok tiba-tiba marah, Yu? Apa salahku? Aku hanya menyapamu tadi. Just say 'helo' to you, Yu, kok tiba-tiba ngamuk?"


Ayu menarik napas panjang, berusaha menahan gunung berapi ganas di dadanya yang hendak meluap keluar. Sinar matanya berkilat-kilat merah, seperti petir yang hendak menyambar. Riana, sungguh telah membuatnya hilang kesabaran.

__ADS_1


* * *


__ADS_2