
Bab 53
Pagi-pagi di depan villa sudah penuh oleh para karyawan yang berkumpul. Mereka berbincang-bincang dan berjalan-jalan di sekitaran kompleks pervillaan. Ada yang melakukan olahraga ringan dan ada juga yang iseng menaiki ayunan di taman.
Ardian turun setelah mandi dan berpakaian rapi. Dia duduk di kursi makan yang ada di dapur dan menikmati sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang dibuatkan Ayu.
Suasana dapur yang semula ramai beranjak sepi setelah kehadiran Ardian. Para karyawan cewek yang ada di situ bergegas meninggalkan dapur setelah memberi salam pada Ardian.
"Masih kamu-kamu terus yang ada di dapur, Yu," kata Ardian memecah kesunyian di dapur sepeninggalnya para karyawan.
"Iya, Pak," Ayu memasang seulas senyum simpel.
Ardian memakan nasi goreng di atas piring dengan lahap. Nasi goreng yang dibuatkan Ayu ini rasanya sangat lezat seperti mie instan yang dulu pernah dibuatkan Ayu untuknya saat pertemuan pertama mereka di proyek luar kota.
"Mau tambah lagi nasi gorengnya, Pak?" tanya Ayu setelah Ardian menghabiskan isi piringnya.
"Iya, boleh juga," jawab Ardian.
Ayu menyendok nasi goreng lagi dari dalam baskom ke piring Ardian. Dia menggunakan centong nasi plastik.
Ayu senang melihat Ardian melahap kembali isi piringnya yang baru ditambahinya. Tak ada kegembiraan lain bagi Ayu selain hasil masakannya dinikmati Ardian dengan senang. Itu seperti sebuah penghargaan untuknya.
"Kamu sudah makan, Yu?" tanya Arduan bagai teringat.
"Sebentar lagi, Pak," jawab Ayu.
"Kok sebentar lagi? Sekarang saja, Yu. Kamu duduk di sini makan bareng aku," kata Ardian.
Ayu tampak ragu.
"Ayolah, ambil piringmu dan duduk di sampingku," Ardian meyakinkan.
Ayu pun mengikuti apa kata Ardian. Dia mengambil piring kosong, menyendok nasi goreng dari dalam baskom ke atas piringnya dan duduk di samping Ardian.
Ardian tersenyum lega saat melihat Ayu mulai melahap nasi gorengnya.
"Kamu merasa fit pagi ini?" tanya Ardian.
__ADS_1
"Iya, Pak, lumayan," jawab Ayu.
"Kamu sudah pernah naik kuda?"
"Apa, Pak?" tanya Ayu.
"Naik kuda," ulang Ardian.
Ayu menggeleng.
"Iya, makan dulu, nanti aku bawa kamu naik kuda."
"Pak Ardian pintar naik kuda?"
Ardian mengangguk.
"Wow!" reaksi Ayu.
Selepas makan dan mencuci piring, Ayu diajak Ardian meninggalkan dapur dan menuju halaman villa. Belasan karyawan yang ada di halaman villa memberi salam pada Ardian.
"Mereka berpencar-pencar, Pak. Sebagian ke kolam renang, jalan pagi, olahraga lari, atau ke kantin yang tak jauh dari sini," jelas seorang karyawan cewek.
"Oh," Ardian mengangguk.
Seorang penunggang kuda lewat di depan villa yang ditempati Ardian. Ardian memanggilnya sehingga penunggang kuda itu pun turun dari kudanya dan melakukan percakapan dengan Ardian.
"Pak, sewa kudanya setengah jam ya, Pak," kata Ardian.
"Boleh, Pak. Mau dibantu menuntun kudanya nggak?" tanya pemilik kuda itu.
"Hmmm... boleh juga. Tapi kami bisa sendiri sebenarnya," kata Ardian.
"Oh, kalau begitu nggak apa-apa. Bapak sendiri yang bawa kudanya," kata pemilik kuda itu sambil menyodorkan tali kuda yang sedang dipegangnya pada Ardian.
Ardian menerima tali kuda yang disodorkan pemilik kuda itu. Dia menyuruh Ayu naik ke atas kuda sementara Ardian menjaga di sampingnya. Setelah Ayu berhasil naik, giliran Ardian yang naik ke punggung kuda dan mulai menjalankannya.
Ardian menjalankan kuda berwarna putih itu perlahan. Kuda itu berjalan dengan moncong yang ditarik Ardian.
__ADS_1
Sekarang Ayu yang duduk di depan Ardian benar-benar tampak seperti seorang putri cinderella yang dikawal pangeran tampan berkuda putih. Mimpi pun Ayu tidak pernah seperti ini.
Para karyawan cewek yang ada di situ memasang wajah iri saat melihat Ayu dikawal Ardian di atas kuda. Tak tampak Shella di antara mereka.
Kuda yang ditunggangi Ardian berjalan cukup jauh mengitari sekeliling kompleks pervillaan yang luas. Kuda itu tampak jinak ditunggangi Ardian dan Ayu. Barangkali karena Ardian pintar mengendalikannya.
Senangnya hati Ayu dibuat Ardian pagi itu. Hilang sudah kelelahan di jiwa raganya karena Ardian memperlakukannya dengan baik dan seperti paling mengistimewakannya dibandingkan seluruh karyawan lain. Bahkan Shella yang sekretarisnya Ardian pun tak diberi kesempatan naik kuda berdua bersama Ardian, tapi Ayu yang seorang cleaning service diberi kesempatan itu. Jelas ada kebanggaan tersendiri di hati Ayu.
"Kamu senang, Yu?" bisik Ardian di telinga Ayu sambil menjalankan kudanya perlahan.
"Iya, Pak, senang sekali," jawab Ayu sambil memiringkan kepala sedikit, menoleh ke belakang.
"Nanti kita berenang juga," lanjut Ardian setengah berbisik.
"Pak Ardian mau berenang juga?" surprais Ayu.
"Iya, kita berenang sama-sama, Yu."
"Aku... aku tak bisa berenang, Pak," jawab Ayu ragu.
"Nanti aku ajari," kata Ardian.
Sekejap berkelabat bayangan seorang gadis yang dulu sering menemaninya berenang di sungai Asahan. Gadis itu sangat pintar berenang bahkan sewaktu masih anak-anak karena rumahnya dan rumah Ardian dekat sekali dengan sungai. Gadis itu adalah Nia yang sekarang ada di Tanjungbalai.
Ardian buru-buru membuang bayangan Nia dari pelupuk mata dan pikirannya. Dia tak ingin mengingat gadis itu sekarang karena rasa marahnya ditambah rasa curiganya kalau-kalau gadis itu sudah memiliki pacar baru di Tanjungbalai dan mencampakkan dirinya. Sungguh tak bisa diterima oleh Ardian yang merasa kecewa.
Sekarang dia harus memanfaatkan momen baru bersama gadis manis belia yang duduk di depannya di atas kuda yang berjalan. Gadis yang bernama Ayu, berwajah manis, seorang cleaning service tapi pernah menyelamatkan dirinya dari insiden yang membahayakan di proyek luar kota.
Gadis yang duduk di depannya ini memilki aroma tubuh yang menawan dengan lekuk-lekuk sintal yang menggoda dan membangkitkan gairah. Apalagi sikapnya yang baik, sopan, dan sabar dibarengi suara yang merdu menggairahkan terasa sangat mempesona dan memabukkan bagi Ardian.
Ardian benar-benar nyaris tak mampu menguasai diri saat menunggang kuda dengan Ayu yang duduk mendempetinya di depan dada. Hasratnya saat ini adalah memeluk Ayu dan memberinya kehangatan di pagi yang dingin. Namun tentu saja hal itu tak dilakukannya. Ardian berusaha tetap tenang dan sopan di sepanjang perjalanan bersama Ayu di atas kuda. Bahkan saat kuda itu berjalan di jalan sepi yang hanya ada Ardian dan Ayu berdua.
Ayu tertawa-tawa kecil duduk di depan Ardian di atas kuda yang berjalan. Sekali-sekali dia mengajak Ardian berbicara sambil memamerkan gigi gingsul dan lesung pipitnya yang dalam di depan wajah Ardian dalam jarak sangat dekat.
Ardian, tentu saja harus menahan napas dan menguasai debaran keras di hatinya menyikapi pesona yang amat menawan itu.
* * *
__ADS_1