Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Riana Menyebut Nama Willy di Depan Ardian.


__ADS_3

Bab 87


Ardian dan Ayu kini berada di ruang parkir mobil dalam gedung. Mereka berjalan menuju mobil Ardian yang diparkir lalu memasukkan barang-barang belanjaan Ayu ke bagasi mobil.


Saat Ardian menyusun barang-barang itu di belakang mobil, tiba-tiba Ayu didekati seseorang.


"Berjodoh sekali kita ya, Yu. Ketemu lagi," kata orang itu yang ternyata Riana. Kebetulan dia bersama pacarnya, Randy ke ruang parkir mobil juga untuk mengambil mobilnya.


Ayu terkejut. Dia menoleh ke belakang. Riana sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan mata sinis. Di sampingnya, Randy sedang berusaha menarik tangannya. Seperti mencegah Riana bicara lagi dengan Ayu.


Ardian ikut menoleh. Dia barusan selesai menyusun barang-barang belanjaan Ayu di bagasi mobil dan menutup pintu bagasi saat dilihatnya Riana muncul di belakang Ayu. Bukannya meladeni Riana yang bicara dengannya, Ayu malah tak menggubrisnya dan menarik tangan Ardian untuk segera pergi dari situ.


Ardian pun mengikuti langkah Ayu menuju pintu depan mobil. Dia berjalan memutar lalu membuka pintu sebelah kanan. Sedangkan Ayu membuka pintu sebelah kiri.


Namun sebelum Ardian dan Ayu masuk ke dalam mobil, Riana berkata dengan cepat.


"Yu, kamu belum menjawab pertanyaanku, gimana kabar Willy? Di mana dia sekarang?"


Srrr... hati Ayu berdebar. Kalimat yang diucapkan Riana itu cukup keras terdengar sampai di telinga Ardian. Ayu jelas tahu, karena itulah hatinya berdebar. Gawat, Ardian akhirnya akan tahu juga perihal Willy gara-gara Riana.


"Hei, jawab dong pertanyaanku! Di mana Willy?!" Riana masih berseru-seru di luar padahal Ayu sudah masuk ke dalam mobil dan pintu mobil pun sudah ditutup Ayu.


Ardian yang sudah duduk di belakang setir melirik ke arah Ayu dan Riana. Dilihatnya wajah Ayu yang kaget dan gugup, sementara wajah Riana di samping kaca jendela mobil kelihatan tak puas. Dia terus berseru-seru dan mengumpat di samping Ayu sambil menggedor-gedor kaca jendela mobil. Sementara Randy, pacarnya Riana berusaha menarik tangan Riana menjauh dari situ.


"Sudah, Yu?" tanya Ardian menyadarkan Ayu yang gugup.


"I-iya, Pak. Kita jalan saja, nggak usah pedulikan dia," jawab Ayu cepat.


Ardian pun menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya. Mobil bergerak meninggalkan Riana yang masih berseru-seru tak puas.

__ADS_1


"Sudahlah, Riana. Mereka kan sudah pergi. Untuk apa lagi kamu marah-marah begini," kata Randy.


"Aku tak puas!" ucap Riana. Suaranya ketus dan marah.


"Tak puas pun orangnya sudah pergi," ingat Randy.


"Awas kalau ketemu lagi! Aku mau bocorkan rahasianya ke boss-nya itu. Kayaknya Pak Ardian itu tak tahu apa-apa mengenai latar belakang Ayu. Dia sudah punya pacar, Ran. Namanya Willy. Masa mau gaet boss-nya lagi. Lalu Willy mau taruh di mana? Kasihan kan, Willy-nya baik dan sabar banget, dikhianati sama Ayu hanya karena Willy tak sekaya atau setampan boss-nya."


"Itu kan waktu SMP, Riana. Mana tahu sekarang mereka sudah putus?" ingat Randy lagi.


Riana terhenyak. "Tak mungkin, Ran. Aku yakin dia masih pacaran dengan Willy sampai sekarang."


"Kok yakin?" tanya Randy.


"Karena Ayu dan Willy itu soulmate banget waktu SMP. Tak semudah itu mereka memilih berpisah. Pasti keduanya akan saling mempertahankan. Terlebih-lebih lagi Willy yang seratus persen cinta sama Ayu. Dia tak akan bisa melepaskan Ayu sampai kapan pun," terang Riana dengan suara berapi-api.


"Nggak mungkin. Aku tak percaya!" Riana menggeleng-geleng.


"Sudahlah, lupakan saja. Toh bukan urusanmu Ayu mau pasang dua dengan Willy dan boss-nya. Suka dia mau gandeng dua atau jalan dua bukan urusan kita," pendapat Randy.


"Tapi aku tak tega kalau Willy yang demikian baik diduakan sama Ayu. Apalagi jika Willy-nya tak tahu dan masih menganggap Ayu begitu baik. Padahal pengkhianat, dikira masih setia. Huh!" umpat Riana.


"Kamu peduli sama urusan mereka karena dulu kamu naksir Willy kan?" tegas Randy.


"Iya, Ran. Itu dulu. Sekarang aku kan sudah punya kamu," Riana tersenyum paksa.


"Ya makanya, Riana. Kalau kamu terus-menerus peduli dan perhatian begitu sama Willy, aku bisa cemburu," Randy memasang wajah cemberut.


Melihat Randy mulai protes, Riana pun mengakhiri amarahnya. "Nggak kok, Ran. Hanya kasihan saja sama Willy. Bukan perhatian. Yuk ah, Ran, kita cabut," Riana menggandeng tangan Randy untuk beranjak dari situ menuju mobil mereka.

__ADS_1


Saat di dalam mobil, Riana menyadari kalau mobil Randy masih kalah jauh dari mobil boss-nya Ayu. Lagi-lagi Riana merasa cemburu. Dia benar-benar jengkel dan tak puas.


Tunggu.saja, Yu, suatu hari nanti akan kubuktikan kebohonganmu pada Willy, bisiknya dalam hati.


"Kira-kira Ayu bekerja di mana ya, Ran? Maksudku perusahaan boss-nya itu terletak di mana dan Ayu bekerja sebagai apa?" Riana berkata-kata sendiri di tengah perjalanan pulang bersama Randy.


Randy yang sedang menyetir di sampingnya mengangkat bahu. "Mana aku tahu?"


"Cari tahu dong, Ran," pinta Riana tak puas.


"Buat apa cari tahu, Riana? Kamu masih belum puaskah dan ingin membalasnya? Atau kamu penasaran akan kabar Willy? Atau barangkali kamu tak senang temanmu punya pacar yang lebih kaya dari pacarmu, karena itu kamu berusaha merusak hubungan mereka?" tebak Randy.


Hatinya mulai terasa mangkel gara-gara Riana yang keras kepala terus menyinggung dan mencampuri urusan Ayu. Apalagi Willy, orang yang dulu pernah disukai Riana terlibat di dalamnya. Pantaslah jika Randy merasa jengkel.


Riana terhenyak. Pacarnya, Randy mulai cemburu. Riana menoleh ke samping. Wajah Randy memang kelihatan agak merah seperti menahan amarah. Duh... Randy pun bisa cemburu. Riana yang baru sadar dari tadi terus membicarakan dan membela Willy tanpa mempertimbangkan perasaan Randy pun diam. Dia tak berani lagi bicara soal Willy, Ayu, dan boss-nya itu.


"Kita langsung pulang ke rumah sekarang?" Randy bertanya memecah keheningan di dalam mobil setelah beberapa saat.


"Iya, Ran. Kamu antar aku pulang dulu. Besok aku masih harus menyelesaikan kerjaan yang diberikan papaku di kantor. Kamu juga kan?" Riana meliriknya.


Randy mengangguk. "Samalah. Terus siangnya aku jemput kamu makan siang. Kita ke kafe yang baru dibuka dekat kantormu."


"Iya juga, aku belum sempat ke sana. Besok siang kita perginya ya? Aku langsung ke sana saja. Jalan kaki saja sudah bisa sampai karena dekat saja," kata Riana.


"Baiklah. Kamu tunggu aku di sana," setuju Randy.


Riana mencoba tersenyum. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok mobil dan menggeser duduknya agak ke kanan. Dimiringkannya kepalanya ke kanan supaya bisa bersandar di bahu Randy yang sedang menyetir.


* * *

__ADS_1


__ADS_2