
Bab 89
Tiba-tiba terbersit rasa kasihan di hatinya melihat wajah gadis itu yang demikian lelah. Pasti selama ini Ayu sangat lelah menjalani hidup yang tidak gampang baginya. Saat gadis lain masih bisa bersekolah dan menikmati canda tawa dengan teman-teman seusianya, Ayu sudah harus bekerja membanting tulang meringankan beban ibunya. Dia bahkan tak sempat menamatkan SMA-nya dikarenakan ketiadaan biaya.
Ardian menggerakkan tangannya membelai kepala gadis itu. Walaupun gadis yang duduk tertidur di sampingnya saat ini sangat menggoda hasrat kelelakiannya namun dia menahan diri untuk tidak menjamahnya.
Tidak mudah bagi Ardian melawan hasrat yang demikian membuncah di dadanya, menghangatkan diri dengan memeluk gadis itu misalnya. Dia juga bisa melakukan lebih sampai hasratnya terpenuhi tanpa ada perlawanan dari gadis itu. Namun Ardian tak tega melakukannya. Rasa kasihan dan sayangnya pada gadis itu mengalahkan hasrat besar dan keinginan hatinya.
Kalau Ardian melakukan apa-apa pada Ayu, itu sama dengan mengambil keuntungan darinya saat gadis itu tak siaga karena lagi tertidur. Kalau pun gadis itu terbangun dan mendapati Ardian sedang berusaha mengambil keuntungan darinya, dia pun tak akan melawan. Karena Ayu sudah jatuh cinta pada Ardian dan cinta yang buta pasti akan membuatnya pasrah atau menyerah.
Ayu jelas mengharapkan Ardian menjadi kekasih hatinya. Kalau bisa dengan menyerahkan diri pada Ardian seutuhnya, dia bisa mengikat cowok itu menjadi miliknya. Karena itulah mungkin Ayu sengaja tak hendak membentengi diri sendiri.
Padahal dia jelas tahu saat berdua begini dalam satu mobil yang dinginnya membuat menggigil pada larut malam yang sepi adalah saat yang berbahaya bagi sepasang muda-mudi di mana mereka harus bisa menjaga diri atau menahan keinginan dan hasrat yang sulit terkendali.
Ardian menggigit bibirnya sendiri. Perang batin sedang terjadi dalam hatinya. Bergolak antara keinginan menjamah tubuh gadis itu dan menikmatinya sampai puncak ataukah hanya menatapnya dan membelai wajahnya?
Ardian hampir tak bisa menahan diri melihat pemandangan yang demikian menggoda kelelakiannya. Ingin detik itu juga dia menyelesaikan libidonya yang mendesak keluar untuk segera dituntaskan.
Napasnya terasa sesak. Pandangan matanya nanar karena otaknya ikut bertempur mengikuti kata hatinya. Yang mana yang harus dituruti?
"Tidak, aku tidak boleh melakukannya," kata hatinya yang sebelah kanan.
"Kenapa tidak? Ayo, lakukan saja, ini kesempatan bagus yang jarang datang dua kali. Saat inilah yang paling tepat. Dia pasti tak akan menolakmu karena dia sangat mencintai dan mengharapkanmu," kata hatinya yang sebelah kiri.
Ardian menggerakkan jarinya, menyentuh bibir gadis itu. Dia memajukan wajahnya untuk menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya.
Namun sebelum niatnya terlaksanakan, hatinya yang sebelah kanan memperingatkan. "Jangan lakukan itu, Ardian! Karena kalau kamu sudah memulainya maka akan sulit sekali untuk tak menyelesaikannya sampai akhir. Ingat, suasana saat ini sangat berbahaya. Lanjutkan menyetir dan bawa dia pulang ke rumah. Bawa dia pulang tanpa kekurangan satu apa pun karena ibu yang melahirkannya sedang menunggunya di rumah. Kasihan ibunya. Bawa dia pulang dengan selamat!"
__ADS_1
Ardian memundurkan wajahnya kembali. Dia melihat gagang setirnya.
"Ah, bodoh sekali kamu, Ardian! Menyia-nyiakan kesempatan bagus. Kamu pasti akan menyesal nanti!" bisik hatinya yang sebelah kiri.
"Teruskan menyetir, Ardian!"
"Jangan buru-buru pulang, Ardian! Nikmati dulu tubuh Ayu!"
"Pulang, Ardian! Cepat setir mobilmu bawa Ayu pulang ke rumah!"
"Jangan! Tunggu! Ardian, lihatlah, lihatlah gadis yang di sampingmu! Dia sangat menggoda!"
"Arghhh...!" Ardian menjerit keras, mengepalkan tangannya, dan meninju kuat gagang setir-nya.
Ayu tersentak bangun. Ekspresi wajahnya kaget karena mendengar suara jeritan Ardian yang duduk di sampingnya.
Dilihatnya ke depan jalan raya lewat kaca mobil. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada kegelapan yang diterangi sedikit cahaya remang-remang.
"Uhuk-uhuk-uhuk," Ardian batuk-batuk untuk mengusir rasa sesak di dadanya.
"Pak Ardian kenapa? Apa yang terjadi, Pak? Kenapa Bapak teriak tadi? Baik-baik sajakah, Pak?" Ayu memegang lengan kiri Ardian, mencoba menatap wajahnya yang memandang ke depan.
Ardian mengembuskan napas panjang. Dia menggeleng kecil supaya Ayu tak bertanya lagi. Karena tak mungkin dia cerita pada gadis itu kalau tadi dia hampir hilang kendali. Dia nyaris tergoda untuk mengerjai Ayu. Untunglah di saat perang batin itu terjadi, Ayu tiba-tiba terbangun dan menyadarkan Ardian. Ayu terbangun karena jeritan Ardian.
"Nggak kenapa, Yu," Ardian menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankan mobilnya kembali.
Walau Ayu masih heran namun dia tak bertanya lagi karena dilihatnya Ardian sudah tenang kembali menyetir mobilnya. Sebaiknya jangan diganggu, pikir Ayu. Mengingat tadi mereka pun sudah melewati saat-saat yang tak mengenakkan dikarenakan pertengkaran sengitnya dengan Riana. Perasaan Pak Ardian pasti terganggu oleh hal itu. Barangkali tadi dia teriak untuk melampiaskan kekesalan hatinya, pikir Ayu.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Ardian meluncur mulus di jalan raya yang mulai sepi Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat tiap beberapa menit sekali. Tak terasa hari sudah larut, pukul sepuluh lewat.
Hp android Ayu berbunyi. Segera Ayu mengeluarkannya dari saku roknya dan melihat panggilan masuk di situ. Dari ibunya.
"Iya, Bu?" jawab Ayu sambil menguap.
"Yu, kamu belum mau pulang?" tanya ibunya di seberang sana.
"Iya, Bu. Ini lagi dalam perjalanan pulang."
"Oh, kamu sedang di dalam mobilkah? Masih bersama Pak Ardian, Yu?"
"Masih, Bu. Pak Ardian sedang menyetir."
"Nggak jauh lagi kan, Yu? Soalnya ini sudah larut," nada suara ibu Ayu terdengar khawatir.
"Nggak, Bu, kayaknya sepuluh menit lagi sampai."
"Baguslah, Ibu tunggu kamu ya, Yu. Jangan lama-lama karena ini sudah larut," pesan ibunya.
"Iya, Bu. Beres," Ayu menutup hp android-nya.
Ayu maklum bila ibunya rada khawatir karena ini pertama kalinya Ayu keluar bersama cowok lain. Sebelumnya Ayu hanya pernah keluar berdua dengan Willy, pacarnya.
Ibu Ayu percaya pada Willy karena Willy anaknya baik dan jujur. Ibu Ayu mengenal baik Willy karena sudah pacaran dengan putrinya selama bertahun-tahun. Sejak Willy SMP, ibu Ayu sudah mengenalnya dan mengizinkan Willy menjadi pacar putrinya. Sedangkan Ardian, boss Ayu itu, ibunya belum mengenalnya dengan baik. Dia hanya melihat kulit luarnya saja bagus tapi belum tahu isi dalamnya apakah sama bagus juga dengan kulit luarnya?
Ibu Ayu menunggu putrinya pulang sambil duduk-duduk di kursi ruang tamu. Walaupun perasaannya cemas tapi karena kantuknya, dia pun jatuh tertidur.
__ADS_1
* * *