
Bab 110
Bu Rani dan Nia memandang kepergian Riko dari balik pintu. Pemuda itu menganggukkan kepala dan mengucapkan salam pamit sekali lagi setelah memakai helm-nya dan naik ke atas sepeda motor.
Bu Rani menghela napas panjang setelah kepergian Riko. Dia duduk di kursinya dengan wajah dipenuhi beban karena merasa sudah mengecewakan orang yang selama setahun ini telah banyak menolongnya. Orang itu bukan saja memberinya bantuan materi, tapi juga semangat dan dukungan yang menghibur hati Bu Rani hingga dia merasa jauh lebih baik kini.
"Kasihan, Nak Riko," kata Bu Rani yang tak mampu menyembunyikan perasaan sedih dan kecewanya.
Tapi bagaimana pun dia tak berkeinginan memaksa Nia menerima lamaran Riko karena ini menyangkut masa depan dan kebahagiaan putrinya. Nia yang akan menjalaninya nanti jadi dia yang berhak menerima atau menolak. Bu Rani bisa melihat kalau Nia masih belum bisa membuka pintu hatinya untuk Riko.
Melihat wajah ibunya yang kecewa dan sedih, Nia merasa bersalah. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah bakti seorang anak pada orangtuanya selain berusaha membahagiakan mereka juga tak boleh mengecewakan mereka? Entahlah, Nia sendiri tak tahu.
"Ibu mau istirahat di kamar?" tanya Nia berusaha mengalihkan pikiran ibunya dari lamaran Riko yang belum diterimanya tadi.
Walaupun Nia belum memberikan jawaban menerima atau menolak, namun Bu Rani sudah bisa menebak kalau Nia akan menolak. Kalau pun menerima, Bu Rani juga tak akan tega karena merasa putrinya pasti tak ikhlas dan hanya menerima karena bakti kepada dirinya saja. Itu pun Bu Rani tak mau jika Nia merasa terpaksa. Yang paling diharapkannya sebenarnya adalah Nia yang membuka pintu hatinya untuk Riko dan melupakan Ardian.
"Iya, Ibu mau istirahat di kamar saja," kata Bu Rani lalu bangkit dari duduknya dan meraih tongkat penumpu untuk menopangnya berjalan menuju kamar.
"Nia bantu Ibu," Nia memegang lengan ibunya yang sudah berdiri di belakang tongkat penumpu dengan kedua telapak tangan memegang besi tongkat penumpu itu.
"Ibu bisa sendiri, Nia," senyum Bu Rani pada putrinya.
__ADS_1
Hati Nia agak terhibur melihat senyum ibunya itu walaupun hanya senyum kecil. Setidaknya itu sudah membuktikan kalau ibunya tidak marah atau kesal padanya. Barangkali hanya merasa tak enak saja telah mengecewakan Riko tadi.
Bu Rani dan Nia sudah sampai di kamar. Setelah meletakkan tongkat penumpu di dekat dinding, dia duduk di tepi ranjang. Sama sekali dia tak menyinggung lagi masalah lamaran Riko karena dia mengerti putrinya membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Dengan pikiran dan perasaan tenang baru bisa memutuskan sesuatu dengan benar.
"Aku keluar dulu ya, Bu," pamit Nia.
"Mau ke mana, Nia?" tanya Bu Rani.
"Nggak ke mana-mana, Bu. Cuma mau duduk di depan rumah saja," jawab Nia.
Bu Rani tersenyum. Dia menduga putrinya pasti hendak duduk di tepi sungai yang ada di samping rumah mereka untuk memikirkan lamaran Riko.
"Iya, pergilah, Nia," kata Bu Rani dengan suara lembut lalu dia pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
Nia keluar dari kamar ibunya menuju pintu depan. Dia melangkah 5 langkah ke samping sekeluarnya dari rumah. Sungai itu berada di samping kanan dari rumahnya yang didirikan di atas hamparan air sungai.
Nia duduk di tepi sungai sambil menatap air sungai yang bergerak-gerak. Pikirannya melayang pada sosok muda tampan yang selama setahun ini terus dirindukannya.
Ardian... bagaimana kabarmu sekarang? Kenapa kamu sama sekali tak mencariku hingga kini? Apakah kamu sudah tak mempedulikanku lagi? Setiap hari aku menunggumu datang menemuiku. Memberiku kabar dirimu atau menjawab kerinduanku yang demikian membuncah selama ini.
Demikian sibukkah dirimu? Demikian banyakkah pekerjaanmu di kantor menggantikan tugas papamu sampai kamu tak punya waktu pulang ke kampung halaman sendiri walaupun ada seorang gadis yang dulu sangat kamu perrhatikan? Apakah cintamu padanya selama ini hanyalah palsu? Medan-Tanjungbalai bukannya jauh sekali, Ardian. Kenapa kamu sama sekali tak sudi melihatku? Tidak terpikirkan diriku sedangkan di sini setiap hari aku memikirkanmu.
__ADS_1
Nia berkata-kata sendiri dalam hati sambil matanya memandang air sungai yang bergerak-gerak. Hatinya terasa sangat sakit dan sedih. Air matanya jatuh menetes membasahi pipi. Tak tahan lagi dia menangis tersedu-sedan. Tapi secepat kilat dia menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya.
Aku bukan gadis yang lemah, batin hatinya. Kalau aku tenggelam dalam kesedihan memikirkan dirimu, aku tak akan bisa merawat ibuku. Aku akan kehilangan tenaga dan semangat untuk mendukung orang yang telah melahirkanku. Terlebih-lebih lagi, aku akan membuatnya kecewa dan sedih sepertiku.
Tidak! Aku harus bangkit. Sudah cukup waktu yang kuberikan untukmu selama setahun ini untuk mengunjungiku, Ardian, tapi kamu tak juga datang. Aku sama sekali tak lagi penting bagimu. Semudah itu kamu melupakanku, aku juga merasa sia-sia bila terus mengingatmu. Apalagi mengharapkanmu.
Saatnya aku melepaskanmu dan memulai lembaran baru. Menerima Riko sebagai suamiku. Dia sangat menyayangi dan memperhatikan aku dan ibuku. Dia juga sudah banyak menolong, mendukung, dan menyemangati kami. Bahkan ibu juga sudah sembuh banyak berkat dukungannya. Ibu sangat menghargai dan menyukainya.
Aku harus berbakti pada ibu. Iya, itulah yang bisa kulakukan sekarang. Membahagiakan ibuku daripada terus memikirkan dirimu yang tak memikirkanku.
Aku harus melepaskanmu, Ardian. Melepaskan harapanku padamu. Melupakan dirimu dan memulai lembaran baru. Aku akan menerima lamaran Riko! Tak pantas lagi memikirkanmu bila aku sudah memutuskan menjalani masa depanku bersama cowok lain. Aku pasti akan bahagia menikah dengan Riko karena dia sangat baik padaku dan ibuku.
Nia bangkit dari duduknya di tepi sungai. Dia merasa sudah bisa memberi jawaban atas lamaran Riko. Besok kalau Riko datang lagi ke rumahnya, dia akan menyetujui lamaran itu. Riko pasti akan senang, demikian juga ibunya. Soal dirinya sendiri, dia tak mau lagi ambil pusing. Toh laki-laki yang dicintainya sudah melupakan dan melepaskannya jadi untuk apa lagi dia menunggu dan bertahan?
Nia membalikkan tubuhnya, bermaksud kembali ke dalam rumah dan ke kamar memberi tahu ibunya perihal dirinya yang akan menerima lamaran Riko.
Dia baru saja akan masuk ke dalam rumah dan langkahnya pun sudah sampai di ambang pintu saat seseorang tiba-tiba memanggilnya dari samping.
Orang itu adalah Bu Wenny, tetangganya sekian belas tahun ini yang tinggal berjarak beberapa pintu dari rumahnya dan rumah masa kecil Ardian. Orang itu jugalah wanita yang bertemu dengan Ardian dan Shella di suatu malam saat Ardian dan Shella datang ke Tanjungbalai mencari Nia.
* * *
__ADS_1