Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Nia-Ardian Pulang Kampung (TAMAT-Season 1).


__ADS_3

Bab 23


“Bu…! Bu…!” panggil Nia di depan pintu rumah papan berukuran 6 X 12 meter itu. Hari sudah sore ketika Nia dan Ardian tiba di Tanjungbalai, di rumah masa kecil mereka.


Bu Rani keluar tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Wajahnya tampak cerah dan tersenyum gembira menyambut kepulangan mereka berdua.


Sebelumnya, Nia memang sudah mengabarkan ibunya kalau dia dan Ardian akan pulang naik kereta api siang, mengunjungi ayah dan ibu Nia, sekalian melihat kembali kampung halaman yang ditinggalkan Ardian 10 tahun lalu.


“Masuklah, Nia, Ardian,” kata Bu Rani ramah. Dibantunya Nia membawa tas ransel berisi pakaian lalu menuntun mereka ke dalam.


“Ibu senang kalian datang mengunjungi Ibu setelah 3 bulan Nia pindah ke Medan,” kata Bu Rani.


“Iya, Bu. Nia rindu Ibu,” kata Nia sambil memeluk ibunya yang duduk di sampingnya. “Kebetulan kampus libur seminggu jadi Nia terpikir untuk mengajak Ardian pulang kampung.”


“Betul, Bu,” Ardian membenarkan dengan mengangguk ketika Bu Rani menatapnya.


“Ternyata kamu sudah sebesar ini juga, Ardian. Dulu masih culun dan imut,” ingat Bu Rani.


“Iya, Bu, aku ingat wajah Ibu masih tetap sama seperti dulu. Tak banyak perubahan,” kata Ardian jujur.

__ADS_1


“Oh, berarti Ibu awet muda, dong, Ardi! Tak berubah selama 10 tahun ini?” tawa Nia.


Bu Rani dan Ardian ikut tertawa. Mereka mengobrol di ruang tamu.


Nia membawa tas ranselnya ke dalam kamar. Tiba-tiba dia teringat untuk membawa Ardian melihat kembali rumahnya yang dulu, yang ada di samping rumah Nia.


Rumah Om Wisnu semenjak ditinggalkan 10 tahun lalu selalu dibersihkan dan dirawat Bu Rani. Jadi sewaktu-waktu bila Om Wisnu atau Ardian pulang kampung, mereka bisa menempatinya dengan nyaman.


“Ayo, kubawa kamu ke rumahmu yang dulu,” kata Nia. “Ibu bilang, kamu bisa menempatinya malam ini, sudah dibersihkann dan diisi airnya di kamar mandi,” terang Nia.


Ardian mengangguk. Mereka pamit pada Bu Rani untuk melihat rumah sebelah, rumah Ardian yang dulu.


“Kamu mandi sekarang, Ardi?” tanya Nia sambil melongok air di bak mandi yang sudah diisi Bu Rani.


“Mmmm… Iya, aku mau mandi sekarang, tapi syaratnya kita mandi sama-sama,” kata Ardian.


Nia melotot. Mandi sama-sama? Apa maksud Ardian dengan kalimatnya? Apakah pemuda itu bermaksud kurang ajar padanya?


“Apa?! Mandi sama-sama?! Di sini?!” bentak Nia dengan tatapan mata sadis. Seperti mau meletuskan kemarahannya yang tiada tara.

__ADS_1


“Nggaklah, mana mungkin di sini, Nia? Gimana pula jalan pikiranmu itu? Entah apa yang kamu pikirkan? Mandi sama-sama di sungai maksudku, berenang bersama, seperti masa kecil kita. Kebetulan airnya sedang pasang, bukan?” tanya Ardian.


“Oh....,” Nia mengembuskan napas lega. Baru mengerti maksud Ardian. Rupanya pemuda itu terkenang masa kecilnya bersama Nia dan ingin mengulanginya sesaat.


“Iya, kita mandi sama-sama di sungai,” setuju Nia. “Sekarang?” tanyanya.


“Iyalah, sekarang,” jawab Ardian.


Nia menggandeng tangan Ardian keluar dari rumah masa kecilnya. Membawa langkah Ardian hingga mendekati tepi Sungai Asahan.


“Siap-siap, ya!” kata Nia memberi aba-aba.


Ardian mengambil ancang-ancang.


“Satu-dua-tiga!” seru Nia.


Mereka pun sama-sama mencemplungkan diri ke dalam sungai.


* * *

__ADS_1


__ADS_2