
Bab 21
Selama sebulan berikutnya, Ardian tak lagi pulang bareng Nia. Walaupun perginya sama-sama, namun selama perjalanan ke kampus di dalam mobil, Nia dan Ardian tak banyak bicara.
Begitu juga ketika berpapasan di rumah, tak saling menyapa. Mereka hanya bicara singkat saja bila ada hal penting yang perlu dijawab. Hubungan mereka terasa sangat dingin dan jauh walaupun tubuh mereka berdekatan. Nia merasa sudah kehilangan Ardian walaupun Ardian ada di dekatnya dan tinggal di rumah yang sama.
Selama sebulan itu, Hansen selalu mengantar Nia pulang kuliah tanpa pernah absen sehari pun. Cowok itu menunjukkan ketulusan hatinya pada Nia, tak sekali pun dia pernah berkata-kata apalagi bersikap kasar pada Nia seperti Ardian.
Karena kelembutan, ketulusan, dan kebaikan hati Hansen, perlahan hati Nia mulai tersentuh. Dia bermaksud membuka pintu hatinya untuk cowok itu. Tak ada salahnya menerima tawaran Hansen saat itu, menjadi pacarnya. Toh, Hansen memang tipe cowok idamannya selama ini, sabar, perhatian, penyayang, dan baik hati.
“Mamaku terus bertanya tentang teman kuliah yang kuantar pulang tiap hari, Nia,” kata Hansen di suatu kesempatan. “Mama sudah tahu kalau itu kamu. Dia pun tahu namamu Nia dan sekelas denganku.”
__ADS_1
“He-eh,” reaksi Nia. Mereka sedang duduk di dalam mobil Hansen dalam perjalanan pulang.
“Bagaimana kalau…,” ucapan Hansen terputus, terdengar agak ragu.
Nia menoleh, menunggu lanjutannya. “Kalau apa, Hansen?” tanya Nia lembut.
“Kalau kamu bersamaku datang ke rumahku? Mengunjungi Mama. Dia ingin melihatmu. Ingin sekali.”
Hansen terkejut. Tak disangkanya Nia mau menanggapi ajakannya bahkan bertanya kapan?
“Besok bisa, Nia?” ujar Hansen cepat.
__ADS_1
“Besok?” ulang Nia. “Besok kan hari Minggu?”
“Iya, justru besok hari Minggu, makanya kita punya banyak waktu,” jawab Hansen cepat.
“Baiklah, besok aku tunggu kamu jemput di rumah, pukul 11 siang,” putus Nia.
Hansen menahan napas dan mengembuskannya perlahan. Dia takut desahan napasnya yang memburu karena senang terdengar oleh Nia.
Saking bersorak hatinya, sampai-sampai dia tak berani berkata apa-apa lagi, takut gadis itu berubah pikirannya atau menolak, mengubah keputusannya.
“Iya, aku jemput kamu di rumah pukul 11 siang,” kata Hansen mengulangi ucapan Nia tadi. Setelah itu mobil pun terus melaju membawa gadis itu pulang tanpa banyak lagi percakapan di dalamnya.
__ADS_1
* * *