
Bab 108
Pagi-pagi Riko sudah sampai di depan rumah Nia dengan sepeda motornya. Setelah memarkirkan motor dan melepaskan helm, dia berjalan menuju pintu rumah Nia dan mengetuknya. Di tangannya menenteng plastik berisi 3 bungkus lontong sayur pedas untuk sarapan dia, Nia, dan ibunya.
"Tok-tok-tok," Riko mengetuk pintu rumah Nia 3 kali sambil mengucapkan salam dan memanggil nama Nia.
Terdengar suara tapak-tapak kaki mendekati pintu lalu pintu pun dibuka dari dalam.
"Nia," panggil Riko begitu melihat orang yang membuka pintu. Senyum pun mengembang di bibir pemuda itu.
"Pagi sekali, Rik," sambut Nia dengan seulas senyum ramah.
"Iya, ini aku beli lontong 3 bungkus untuk sarapan kita bersama ibumu," Riko menunjukkan plastik berisi 3 bungkus sarapan yang ditentengnya. Diangkatnya sedikit ke atas bungkusan di tangannya.
Nia tersenyum lagi. "Trims, Riko. Ayo kita makan sama-sama," katanya sambil menguakkan pintu lebih lebar dan mempersilakan pemuda itu masuk.
Riko pun masuk sambil menenteng bungkusan di tangannya. Nia mengikuti di belakangnya dan membiarkan pintu terbuka.
"Kamu duduk dulu, Rik. Aku ambilkan piring untuk menaruh lontong ini," kata Nia lalu berjalan menuju dapur.
Riko duduk di ruang tamu sementara Nia mengambilkan 3 piring untuk menaruh 3 bungkus lontong.
Beberapa saat kemudian gadis itu kembali ke ruang tamu dengan 3 piring dan 3 sendok di tangannya.
Riko segera membantu Nia menaruh lontong sayur di 3 piring. Setelah itu Nia berjalan menuju kamar menemui ibunya.
"Bu, ayo kita sarapan dulu. Riko sudah belikan kita 3 bungkus lontong," Nia mendekati ibunya yang sedang berbaring lalu membantunya bangkit.
"Ambilkan tongkatku saja, aku bisa sendiri," kata Bu Rani, ibunya Nia.
Nia pun meraih tongkat penumpu yang ada di samping ranjang dan meletakkannya di depan ibunya.
Dengan tongkat penumpu itu, Bu Rani berjalan keluar dari kamar bersama Nia di sisinya. Mereka berdua menuju ruang tamu tempat di mana Riko sedang duduk menunggu.
"Pagi, Bu...," sapa Riko menyambut kehadiran Bu Rani dan Nia di ruang tamu.
"Pagi, Nak Riko," balas Bu Rani lalu duduk di kursi yang disodorkan Nia ke depannya.
Nia melipat tongkat penumpu yang dilepaskan ibunya lalu meletakkannya di samping dinding.
__ADS_1
"Hari ini pagi sekali, Nak. Ada berita bagus apa?" Bu Rani tersenyum sambil memandang Riko dan Nia silih berganti.
Nia berjalan beberapa langkah mengambil lontong yang ada di meja ruang tamu lalu membawanya ke hadapan ibunya.
"Ini lontongnya, Bu. Biar aku suapi ya, Bu," kata Nia.
"Nggak usah, Nia. Ibu bisa sendiri," jawab Bu Rani menerima lontong yang disodorkan Nia ke hadapannya.
"Punyamu mana, Nia? Kita makan sama-sama," kata Bu Rani.
"Ada, Bu. Ini dibelikan Riko juga," Nia kembali berjalan mendekati meja yang ada di depan Riko dan mengambil bagiannya.
"Kita makan sama-sama, Bu, Riko," Nia memandang pada ibunya yang duduk di sampingnya dan pada Riko yang duduk di depannya.
"Ayo," kata Riko meraih piring berisi lontongnya juga.
Mereka bertiga makan sama-sama dari piring masing-masing.
"Wah, lezat sekali lontong ini. Nak Riko tahu saja mana sarapan yang paling enak," Bu Rani melirik Nia yang duduk di sampingnya.
Nia mengangguk sebagai tanda setuju atas pendapat ibunya.
Bu Rani tersenyum. Dia melanjutkan makannya. Mereka bertiga tak bicara lagi sampai selesai memakan lontong masing-masing.
Setelah siap, Bu Rani menyerahkan piring kosongnya pada Nia untuk dibawa ke dapur.
Nia membawa piring kosongnya beserta piring-piring kosong ibunya dan Riko untuk dicuci di belakang.
Sementara Nia di dapur, Bu Rani mengajak Riko berbincang-bincang.
"Terima kasih ya, Nak Riko. Selama ini sudah banyak membantu kami. Bukan saja dalam hal materi, tapi juga memberi perhatian, tenaga, dan waktu. Sungguh budimu tak terbalas," Bu Rani memandang pada Riko yang duduk di seberangnya.
"Ah, ada-ada saja Ibu ini. Cuma secuil bantuan, Ibu terlalu melebih-lebihkan," balas Riko dengan nada merendah. Walaupun hatinya senang mendengar kalimat dari ibunya Nia, namun dia tak ingin besar kepala.
"Bagaimana kami harus membalas budinya Nak Riko ini? Soalnya bukan cuma berbentuk materi, tapi juga perhatian, tenaga, dan waktu. Ibu jadi tak enak terus-terusan merepotkan Nak Riko," Bu Rani berkata dengan nada segan.
"Aduh, Bu. Jangan sungkan begitu. Aku jadi tak enak. Hehe. Aku dan Nia sahabat baik waktu SMA. Sesama sahabat harus saling membantu dan meringankan beban. Iya kan, Bu?" kilah Riko.
Bu Rani tersenyum. "Sebenarnya Ibu lebih suka bila kamu dan Nia bisa lebih daripada sekadar sahabat baik," jujurnya.
__ADS_1
Riko memandang Bu Rani dengan hati berdebar. "Maksud Ibu?" tanyanya hati-hati.
"Ya misalnya bisa ditingkatkan menjadi pacaran atau..."
Nah, ini dia! pekik Riko dalam hati diiringi sorak-sorai bergembira.
Bu Rani bisa melihat perubahan mimik wajah Riko menjadi begitu gembira dan semangat. Rona berseri-seri menghiasi raut wajahnya yang lumayan ganteng.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, Nak Riko?" tanya Bu Rani dengan senyum dikulum.
"Hah?" Riko tersadar dan merasakan wajahnya memerah.
"Ibu senang kalau kamu berjodoh dengan Nia bukan saja sebagai teman tapi juga sebagai..."
Sebelum Bu Rani menyelesaikan ucapannya, Nia muncul di ruang tamu. Dia baru selesai mencuci piring di dapur.
Bu Rani dan Riko meliriknya. Nia pun jadi ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ada apa nih, Bu? Riko? Kok senyum-senyum dan tampak hepi? Kayaknya sedang menggosipkan aku ya?" Nia kembali duduk di kursinya di samping Bu Rani.
"Iya tuh, Nia. Ibu baru berandai-andai," jawab Bu Rani.
"Berandai-andai gimana, Bu?" tanya Nia penasaran.
"Berandai-andai kamu dan Riko bukan saja menjadi sahabat baik, melainkan juga...," Bu Rani melirik Riko yang menahan napas.
Nia menunggu apa yang hendak diucapkan ibunya.
"Ah, biarlah Nak Riko sendiri saja yang katakan pada Nia maksud Ibu tadi," Bu Rani memberi dukungan pada Riko yang memang tujuannya hari ini sama dengan keinginan Bu Rani.
"Apa tuh, Riko?" tanya Nia dengan suara lembut, membuat hati Riko semakin berani mengajukan maksud hati.
"Aku...," Riko membuka mulut. Dia ingin segera mengajukan kalimat lamaran pada Nia, tapi suaranya seperti tercekat di kerongkongan.
"Iya, Riko?" tunggu Nia.
"Iya, Nak Riko. Utarakan maksudmu," Bu Rani memberi semangat pada Riko sambil mengangguk.
Merasa mendapat dukungan dari ibunya Nia dan Nia sendiri juga memberi peluang padanya untuk mengutarakan maksud hati, Riko pun menjadi berani.
__ADS_1
* * *