Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Bingkai Foto yang Pecah dan Kemarahan Ardian


__ADS_3

Bab 64


Ayu sedang mengelap meja kerja Ardian saat terdengar suara deritan pintu. Suara itu membuat bingkai foto yang di tangan Ayu hampir terlepas karena tak menyangka ada yang masuk ke ruang kerja Ardian saat dia belum selesai kerja.


Sosok Ardian yang berpakaian rapi dan formal muncul di ambang pintu dengan menenteng tas kerja. Dengan tubuh tinggi atletis dan wajah muda tampan, Ardian terlihat fit dan segar di mata siapa saja. Tak terkecuali di mata Ayu.


"Pak Ardian sudah datang!" seru Ayu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat Ardian yang melangkah masuk.


Ardian melempar senyum sumringah ke arah Ayu. Bibirnya spontan mengukir tawa kecil. Rasa senang yang hadir begitu saja saat melihat gadis belia yang disukainya itu sedang ada di ruangannya dan bakal berada di dekatnya.


Ayu buru-buru hendak menyingkir tapi tak bisa karena langkahnya disekat oleh tubuh Ardian yang kini berdiri di sampingnya.


"Pak Ardian...," Ayu mendesis. Ditatapnya Ardian dengan sepasang matanya yang besar dan berbinar. Ada pancaran kerinduan dalam bola matanya yang bundar.


"Yu... kamu sudah di sini," kata Ardian. Diletakkannya tas kerjanya ke atas meja dan saat itu juga sebenarnya dia ingin segera memeluk Ayu untuk melepas kerinduannya selama ini. Tapi hal itu tak dilakukannya karena teringat mereka sedang di kantor, Ayu sedang bekerja, dan dia pun barusan datang dengan banyak tugas yang sedang menunggu.


"Iya, Pak Ardian. Sori ya, Pak, nggak keburu ngepel Bapak sudah datang," kata Ayu. "Besok aku akan datang lebih cepat membereskan ruangan Bapak terlebih dahulu," sambungnya.


Ardian tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Yu, nggak usah dipaksakan waktunya. Aku tahu kamu rajin dan semua kerjaan pasti beres. Nggak usah buru-buru ya, Say..."


Pipi Ayu bersemu merah mendengar pujian dan panggilan mesra dari Ardian. Boss muda tampan yang berdiri di dekatnya ini terlihat sangat tampan dan segar pagi ini, membuat jantung Ayu berdetak kencang. Ditambah lagi Ardian berjarak sangat dekat dan menatapnya lekat, semakin berdeguplah jantung gadis itu.


Entah mengapa, Ardian seperti sengaja menghimpit dirinya sampai Ayu tak punya ruang untuk bergerak maju atau meninggalkan belakang meja Ardian, tempat di mana mereka berdiri.

__ADS_1


"Pak, minggir sedikit, Pak, aku mau lewat," kata Ayu saat melihat Ardian tak juga memberi jalan bagi dirinya.


"Boleh lewat tapi ada syaratnya," Ardian mencoba melakukan penawaran dengan Ayu.


"Syarat? Syarat apaan, Pak?" Ayu semakin tak mengerti dengan sikap Ardian yang seolah sengaja mengerjainya.


Ardian menunjuk pipinya dengan telunjuk kanannya, matanya melirik Ayu dengan tatapan iseng.


"Apa maksudnya, Pak?" Ayu masih tak mengerti atau takut untuk mengerti sehingga melemparkan pertanyaan lugu.


"Kecup di sini dulu," goda Ardian lalu memajukan wajahnya dan membungkuk sedikit supaya Ayu bisa mengecup pipinya.


Ayu termundur 2 langkah menanggapi permintaan Ardian yang dirasa aneh. Emang bayi minta dikecup pipinya segala? pikir Ayu.


Ardian masih menunggu reaksi Ayu yang tampak salah tingkah. Gadis belia itu tak ingin bercanda saat sedang bekerja atau saat pekerjaannya masih menumpuk.


Ayu dan Ardian sama-sama terkejut menyadari ada barang pecah di atas lantai. Rupanya bingkai foto yang terbuat dari kaca dan kayu itu tak mampu lagi bertahan saat tangan Ayu menyapu meja Ardian dan membuat bingkai itu terjatuh ke atas lantai.


Ardian terperangah. Ayu yang melihat keterkejutan di wajah Ardian spontan menciut. Foto di dalam bingkai itu pastilah sangat besar artinya bagi Ardian kalau melihat dari reaksi Ardian yang tampak terkejut dan menyesal melihat bingkai foto itu telah pecah akibat keisengan dirinya yang hendak bermain-main dengan Ayu.


Apakah ini sebuah gelagat? Atau sebuah pertanda akan berantakannya atau berakhirnya hubungan dirinya dengan Nia yang sedang di Tanjungbalai? Kalau tidak, kenapa fotonya bersama Nia di masa kanak-kanak itu bisa pecah dibuat Ayu pas di hari pertama Ayu dipindahkan ke kantor perusahaan dan itu juga karena Ardian yang iseng hendak menggoda Ayu.


"Maaf, maaf, Pak Ardian. Aku... aku... tak sengaja," kata Ayu dengan nada yang benar-benar menyesal dan tatapan mata takut ke wajah Ardian yang berubah jadi sedikit pucat. Demikian juga wajah Ayu.

__ADS_1


"Aku... aku bersihkan segera, Pak," Ayu membungkuk dengan cepat dan hendak memunguti pecahan kaca itu dengan tangannya tapi Ardian mencegahnya dengan sekali sentak.


"Hentikan!" suara Ardian terdengar kaku dan tegang. Ada kesan sedikit marah di situ.


Ayu tercekat dalam posisi jongkok. Tak berani dia bangkit untuk sejajar dengan Ardian, apalagi sampai menatap wajah Ardian yang sedang marah.


"Pergi!" usir Ardian.


"Pak? Pak Ardian? Ayu memberanikan diri menengadahkan kepalanya untuk menatap Ardian. Dilihatnya wajah Ardian yang merah padam seperti sedang berusaha menahan gejolak di hatinya agar tidak membuncah keluar.


Untunglah yang memecahkan bingkai foto keramat itu adalah Ayu, gadis yang disukainya. Seandainya saja orang lain atau cleaning service lain, pasti detik itu juga akan dipecatnya.


Kemarahan Ardian agak menurun dan gejolak darah di dadanya yang tadi memanas perlahan mendingin saat melihat wajah Ayu yang memelas dan matanya yang berkaca-kaca, seolah-olah meminta dengan sangat untuk dimaafkan.


"Sudah, kamu keluar dari ruanganku buat sementara, Yu. Nanti baru balik lagi," kata Ardian dengan nada yang sedikit dilembutkan.


Oh, syukurlah, Pak Ardian tak jadi melampiaskan kemarahannya yang membuncah padaku, batin Ayu sambil buru-buru bangkit dan lewat dari samping Ardian yang memberi sedikit jalan baginya.


Ayu keluar dari ruang kerja Ardian sambil menenteng ember berisi air dan sapu pel. Kain lapnya tadi dia genggam di tangannya bersama dengan gagang sapu pel. Beberapa langkah Ayu berjalan menuju pintu dan keluar dari situ.


Kini di ruang itu tinggal Ardian yang membungkuk untuk memungut foto yang di atasnya dipenuhi pecahan kaca. Bukan hanya di atas foto saja ada pecahan kaca, tapi juga di sekelilingnya berserak serpihan kaca yang bisa membuat tangan berdarah bila tak hati-hati memegangnya atau tak sengaja terpegang. Bahkan kaki pun bisa luka dan berdarah bila menginjak serpihan itu tanpa alas.


Ardian memungut foto itu setelah menbersihkannya dari serpihan kaca. Foto dirinya dan Nia di masa kanak-kanak yang latarnya sungai Asahan di suatu senja saat matahari terbenam.

__ADS_1


Ardian sangat menyayangi dan menjaga foto itu dari dulu hingga sekarang. Bahkan saat papanya membawanya pindah ke kota Medan dari kota kelahirannya Tanjungbalai, Ardian tak lupa membawa foto itu. Foto itu sudah bersamanya selama belasan tahun. Tapi sekarang bingkai fotonya telah pecah walaupun fotonya masih utuh.


* * *


__ADS_2