Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Nia di Tanjungbalai


__ADS_3

Bab 32


Suara ayam berkokok terdengar bersahut-sahutan di gang yang ujungnya adalah hamparan air sungai. Hari masih sangat pagi, suara kapal penangkap ikan masih terdengar di ujung gang itu.


Nia...," suara lemah Bu Rani terdengar dari dalam kamar tidur sempit berukuran 3 X 4 meter. Kamar tidur sederhana yang dinding-dindingnya terbuat dari papan dan bawahnya adalah lantai kayu yang dibangun di atas hamparan air sungai.


Bu Rani berusaha bangkit dari ranjangnya yang kecil. Tenggorokannya sedari bangun terasa kering. Namun cangkir air minum yang biasa berisi air putih dan terletak di sampingnya sudah kosong.


"Uhuk-uhuk," Bu Rani batuk-batuk dua kali. "Uhuk-uhuk," dua kali lagi.


Semenjak suaminya alias ayahnya Nia meninggal setahun lalu, Bu Rani jadi sering sakit-sakitan. Padahal sebelumnya tubuhnya sangat kuat dan tahan banting. Namun, akibat kesedihan ditinggal pergi suami tercinta, tubuhnya pun drop dan gampang sakit.


Setengah tahun lalu Bu Rani terpaksa menelepon ke Medan, ke rumah Om Wisnu untuk memanggil pulang putrinya, karena dia sudah tak sanggup lagi mengurus diri sendiri yang sering sakit-sakitan.


Nia yang di Medan walaupun masih sibuk kuliah, namun demi baktinya pada sang ibu, ikhlas meninggalkan sejenak bangku kuliah untuk pulang ke Tanjungbalai merawat ibunya yang sakit.


Dengan terpaksa, Nia pamit pada Ardian, Om Wisnu, dan Tante Siska yang selama beberapa tahun telah begitu baik menerimanya di rumah mereka. Bahkan selama tinggal di situ, semua keperluan kuliah dan kebutuhan sehari-hari Nia dipenuhi keluarga Om Wisnu tanpa kurang sesuatu apapun.


Walau dalam hati Ardian sangat sedih Nia hendak pamit pulang ke Tanjungbalai untuk waktu yang tak bisa ditentukan, namun Ardian harus merelakan. Karena bakti seorang anak perempuan pada ibunya pastilah lebih penting daripada pelajaran di kampus ataupun hubungan dengan laki-laki yang dicintainya.


Selama beberapa tahun tinggal menumpang di rumah Ardian, hubungan Nia dan Ardian sudah sangat akrab. Mereka saling mengasihi. Namun jarak yang memisahkan keduanya.selama setengah tahun ini, membuat Ardian yang merasa kesepian ditinggal Nia, perlahan-lahan mulai mencari obat dari kesepiannya.


Nia yang sedang mandi di kamar mandi, buru-buru keluar dari sana setelah melap badan dan mengenakan pakaian rumah berupa baju kaos dan celana jeans.

__ADS_1


Dengan handuk yang masih membelit di rambut panjangnya yang basah karena keramas, Nia berjalan tergesa-gesa menuju kamar tidur Bu Rani yang sekaligus juga kamar tidurnya.


"Iya, Bu, sebentar," Nia berjalan sambil menjawab panggilan Bu Rani. Setelah membuka pintu kamar dan sampai di dalam, dia segera berjalan menghampiri ranjang ibunya. "Kenapa, Bu?" tanyanya lembut.


"Cangkir Ibu kosong, Nia. Ibu haus. Uhuk-uhuk," batuk-batuknya lagi sambil memegang tenggorokan.


"Oh, maaf, Bu. Nia tadi lupa ambilkan Ibu air minum. Pikir Nia, Ibu tak begitu cepat bangun jadi Nia mandi dulu," jawab Nia lalu mengambil cangkir yang ada di samping ranjang Bu Rani. "Bentar ya, Bu," katanya lalu membalikkan badan.


Bu Rani berusaha tersenyum. Bibirnya tampak pucat dan wajahnya yang dulu berisi sekarang tampak tirus. Kedua matanya yang dulu, di saat sang suami masih ada, selalu memancarkan kekuatan dan keceriaan, sekarang terlihat lemah dan redup.


Walau begitu, dalam hatinya bersyukur karena memiliki seorang putri cantik yang sangat berbakti seperti Nia. Anak satu-satunya yang menjadi harapannya.


Dulu, dia berharap Nia akan bisa menjadi orang sukses setamat kuliah, lalu membantu ekonomi keluarga dan meningkatkan status sosial mereka. Namun semenjak suaminya tiada, Bu Rani tak berharap lagi Nia menjadi orang sukses yang menaikkan derajat keluarga. Yang penting baginya sekarang adalah Nia bisa hidup dengan baik kelak. Bisa menemukan pasangan yang mencintai dan menyayanginya dengan setulus hati.


Dengan demikian, Bu Rani merasa tak perlu khawatir lagi bila sewaktu-waktu dia dipanggil menghadap Yang Kuasa Mengingat kondisi tubuhnya sekarang yang demikian lemah, sewaktu-waktu bisa terjadi hal tak terduga.


Nia masuk kembali dengan secangkir air putih di tangannya Cangkir plastik warna biru yang ada pegangan berbentuk kuping di sampingnya.


"Ini, Bu, airnya," Nia berjalan menghampiri Bu Rani dan meletakkan cangkir air minum itu di samping ibunya. Dibantunya ibunya duduk terlebih dahulu sebelum meminumkan air putih itu ke dalam tenggorokannya.


Bu Rani meminum air yang di dalam cangkir itu dengan tergesa, seolah sudah sangat haus. "Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk," batuknya di sela-sela minum.


"Pelan-pelan saja, Bu," kata Nia sambil menepuk-nepuk pundak ibunya perlahan.

__ADS_1


"Iya, Nia," Bu Rani tersenyum lega seusai menghabiskan isi cangkir. Disandarkannya tubuhnya di dinding papan yang mana ranjangnya mendempet di situ.


"Ibu mau sarapan bubur lagi hari ini? Atau yang lain? Biar Nia masak sekarang," tanya Nia sambil duduk di tepi ranjang, di samping ibunya.


"Nggak usah dulu, Nia, Ibu mau ke kamar mandi. Perut Ibu nggak enak."


"Oh, iya, Bu, biar Nia papah Ibu sekarang. Sekalian Nia bantuin Ibu mandi."


"Nggak apa-apa, Nia. Kamu papah Ibu saja ke kamar mandi, biar Ibu berusaha mandi sendiri. Ibu harus belajar kuat, tak boleh menyusahkanmu setiap hari."


"Jangan bilang begitu, Bu," ucap Nia dengan nada sedih. "Ini adalah kewajiban Nia sebagai seorang anak. Dulu waktu Nia bayi, Ibu juga yang memandikan Nia setiap hari. Memasak, mengurus segala keperluan Nia. Sekarang, Nia cuma bisa membalas sedikit."


Bu Rani tersenyum lagi. Kali ini senyumnya sudah agak cerah, tidak lagi muram seperti tadi. Mendapati kata-kata Nia seperti itu, hatinya pin terasa lega.


Nia membantu ibunya bangkit dari ranjang, setelah itu dengan kedua tangannya dia memapah Bu Rani.


Bu Rani yang kini sudah bangkit dari ranjang, sebelah tangannya melingkari leher putrinya, sementara sebelahnya lagi diletakkan Nia di atas pergelangan tangannya sendiri sehingga mereka berada dalam posisi yang nyaman untuk berjalan.


Belasan langkah Nia memapah Bu Rani sampai mereka tiba di depan kamar mandi. Nia mengambil bangku yang ada di dekat situ, memasukkannya ke dalam kamar mandi hingga Bu Rani bisa duduk di situ.


"Nia bantu Ibu, " kata Nia sambil menutup pintu kamar mandi.


Dengan gerakan-gerakan cekatan layaknya seorang suster profesional di rumah sakit-rumah sakit besar, Nia mulai memandikan Bu Rani. Gayung demi gayung air yang diambilnya dari dalam bak mandi, dituangkannya dengan lembut dan penuh kasih sayang ke tubuh ibunya itu.

__ADS_1


* * *


"


__ADS_2