
Bab 19
Nia melihat Hansen menjalankan mobilnya perlahan. Kali ini tujuannya mengantar Nia pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karena asyiknya berkeliling dan membaca di toko buku, mereka sampai lupa waktu.
Nia sendiri agak terkejut menyadari hari sudah sore. Baru kali ini dia singgah ke tempat lain selepas kuliah. Dan baru hari ini dia pulang telat ke rumah.
Apakah ada orang rumah yang sedang menunggunya atau malah mengkhawatirkannya? Pastinya tidak ada, pikir Nia. Om Wisnu dan Tante Siska biasanya pulang malam dan jarang bisa ketemu dengan Nia yang sudah masuk ke kamar tidur. Sedangkan Ardian, semenjak kuliah pulangnya pun menjelang malam. Cuma Bik Aini barangkali, pikir Nia geli.
Wajahnya masih bisa tersenyum bahkan tertawa saat Hansen menceritakan satu kejadian lucu yang pernah dialaminya. Tak terasakan lelah di tubuhnya walaupun seharian ini kuliah dan mengelilingi toko buku.
Memang benar, kalau kita berada di tempat yang nyaman, melakukan hal yang kita sukai, bersama orang yang menyenangkan bagi kita, hari akan terlewati cepat tanpa sadar dan tanpa lelah.
Karena hari sudah sore dan jam pulang kerja, jalan raya yang dilewati mobil Hansen bersama Nia mengalami kemacetan. Waktu tempuh ke tempat tinggal Nia yang biasanya setengah jam lebih kalau tidak macet, sekarang menjadi satu jam lebih.
“Sudah sore ya, Nia,” kata Hansen sambil menjalankan mobilnya di tengah kemacetan.
“Iya, Hansen. Sampai di rumah nanti kayaknya menjelang malam. Cuma kamu yang kasihan, harus balik lagi ke rumahmu dan malam baru tiba. Bisa-bisa papa mamamu menunggumu cemas,” kata Nia.
“Aku sudah beritahu Mama tadi lewat WA, akan telat pulangnya. Sore baru sampai karena jalan-jalan dulu ke toko buku bersama teman,” kata Hansen.
“Ohya? Mamamu nggak marah?”
“Nggaklah, aku telat pulang kuliah bukannya keluyuran ke mana-mana, melainkan cari buku buat baca.”
“Oh…”
“Ohiya, tadi mamaku tanya, pergi ke toko bukunya sama siapa? Kubilang sama teman kuliah. Terus ditanya lagi, teman kuliahnya cowok atau cewek? Kubilang cewek. Langsung Mama memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Hahaha,” cerita Hansen.
Nia mengerutkan dahi. “Emangnya, mamamu memberondongmu dengan pertanyaan apa?” tanya Nia ingin tahu.
“Dia tanya aku, dengan pacar ya? Hahaha.”
Nia ikut tertawa. “Hahaha. Jadi kamu jawab apa?”
“Jawabku, bukan dengan pacar, tapi dengan calon pacar, mamaku sayang…”
“Jiaaah…!” Nia tertawa terbahak. “Kamu bisa saja bercandanya, Hansen,” ucap Nia malu.
“Aku tak bercanda, Nia. Aku serius,” kata Hansen.
“Maksudmu?” tanya Nia hati-hati.
__ADS_1
“Maksudku, aku serius sama kamu, Nia. Berharap kamu mau jadi pacarku,” kata Hansen sambil melirik gadis di sampingnya.
Nia terbatuk. Hatinya kaget juga Hansen tiba-tiba mengutarakan niatnya. Tak disangkanya, Hansen berani mengucapkan kata-kata itu di depannya. Selama ini, dikiranya Hansen baik padanya karena mereka memang berteman baik di kampus. Tak disangkanya, Hansen memendam keinginan dan harapan lain di hatinya, menjadikannya pacar.
Ah, laki-laki itu susah dijadikan teman baik saja rupanya, pikir Nia. Dia tak pernah berpikir memiliki pacar secepat ini, karena kuliahnya baru semester 1 dan baru tinggal di Medan. Semuanya masih terasa baru bagi Nia. Dia butuh waktu menyesuaikan diri lebih lama lagi sebelum memutuskan memiliki seorang pacar. Walaupun Hansen baik dan dirasanya cocok dengan tipe cowok kesukaannya, namun dalam hati Nia seolah ada sesuatu yang mengganjal dan menghalangi.
“Tuh, nggak macet lagi, Hansen. Jalankan mobilnya,” kata Nia mengalihkan pembicaraan.
Merasa Nia tak hendak menjawab keinginannya, Hansen pun tak memaksa. Dia agak segan, takut kalau-kalau Nia mencurigai kebaikannya selama ini hanyalah karena ingin menjadikannya pacar. Kalau begitu, pertemanan baik mereka selama sebulan ini bagaimana pula nasibnya? Bisa-bisa Nia kecewa padanya lalu menjauhinya.
“Setelah baca bukunya nanti, kita tukaran, ya?” ujar Hansen juga mengganti topik pembicaraan.
“Beres, bakal tak lama aku habiskan buku-buku novel ini, karena aku memang kutu buku,” Nia cekikikan.
Hansen bernapas lega. Syukurlah gadis itu tidak marah setelah mendengar Hansen mengutarakan niatnya tadi.
Mobil itu sampai di rumah Ardian saat hari menjelang malam. Nia menyuruh Hansen memberhentikan mobilnya di depan pagar rumah Ardian saja, lalu dia pun turun sambil memegang tas kuliahnya berikut plastik asoy bermerek berisi buku-buku novel yang dibelinya tadi.
“Sampai jumpa besok, Hansen,” Nia melambaikan tangan. “Makasih banyak, ya!” serunya.
Hansen membuka kaca jendela mobil, melihat pagar besar yang sedang dibuka Wak Amat. Diperhatikannya rumah yang ditumpangi gadis itu memang sangat besar dan megah. Jauh lebih besar dan mewah daripada rumahnya sendiri yang sebenarnya sudah lumayan.
“Selamat malam, Nia. Sampai jumpa besok!” pamitnya lalu menjalankan mobil menjauhi rumah itu. Tujuannya sekarang adalah langsung pulang ke rumah karena langit mulai gelap, matahari pun nyaris tenggelam di ufuk barat.
“Malam, Wak,” katanya pada Wak Amat.
“Malam, Non Nia. Kok hari ini Non pulangnya malam? Nggak sama Nak Ardian pula?” tanya Wak Amat penasaran.
“Iya, Wak, tadi Ardi pergi kerja kelompok di rumah temannya, jadi Nia sepulang kuliah jalan-jalan dulu ke toko buku bersama teman,” jawab Nia.
“Oh…,” Wak Amat melihat plastik asoy bermerek toko buku yang dijinjing gadis itu. Plastik asoy itu tampak berat berisi buku-buku tebal. Gadis itu tak bohong, pikir Wak Amat.
“Aku duluan, Wak,” pamit Nia sambil menganggukkan kepala sedikit kepada Wak Amat dan berjalan melewatinya.
Sesampainya di dalam rumah, Nia disambut Bik Aini yang menunggu di ruang tamu. “Wah, Non Nia ke mana saja, kok pulangnya malam begini? Bibik tungguin dari tadi, Nak Ardian juga.”
“Ardi sudah pulang, Bik?” tanya Nia sambil berjalan menuju sofa ruang tamu. Maksudnya mau duduk sebentar di situ, cerita sama Bik Aini.
Belum sempat Bik Aini menjawab, sebuah suara terdengar keras, “Dari mana saja kamu?”
Nia tersentak. Ditolehkan kepalanya ke asal suara itu. Dilihatnya, Ardian entah sejak kapan berdiri di ujung tangga dengan tatapan wajah dingin bercampur cemas.
__ADS_1
“Aku… ke toko buku,” kata Nia batal duduk di sofa ruang tamu. Dipegangnya tas kuliahnya dan plastik asoy berisi belanjaannya lalu berjalan mendekati Ardian.
Ardian melihat barang berat yang dibawa Nia dalam tas asoy bermerek itu. Tampaknya memang buku-buku bacaan. “Sama siapa?” tanyanya dengan suara agak lembut sekarang.
“Sama… teman kuliah,” jawab Nia. Dia agak ragu menyebut nama Hansen di depan Ardian, takut kalau-kalau pemuda itu marah dia pergi dengan teman kuliah cowok. Walau Ardian akhir-akhir ini bersikap dingin padanya, namun Nia tak ingin mengambil risiko juga.
“Dia mengantarmu pulang? Cowok itukah, yang sekelas denganmu?”
Nia menelan ludah. Kok Ardian tahu tentang Hansen? Cowok yang sekelas denganku, berarti itu Hansen maksudnya. Jadi selama ini, Ardian tahu tentang Hansen? Padahal Nia ingat betul, tak pernah mengenalkan Hansen pada Ardian, jadi dari mana Ardian tahu?
“Iya, Hansen, teman kuliah,” jawab Nia singkat.
Ardian menahan napasnya, sebenarnya dia ingin marah, tapi mendengar kalimat singkat Nia yang diucapkan cukup jelas, nyalinya pun ciut.
“Mulai besok, suruh Hansen yang mengantar jemput kamu kuliah, Nia,” kata Ardian tiba-tiba. Kalimat itu terasa mengejutkan Nia walaupun diucapkan Ardian dengan nada lembut.
“Kok?”
“Iya, suruh Hansen yang mengantar jemput kamu ke kampus, aku nggak bisa lagi setiap hari jadi supirmu,” katanya.
Supir? Kok Ardian berkata dia supirnya? Padahal mereka kan pergi dan pulang bareng karena kuliahnya sama-sama di situ? Sekalian jalan, tidak menyusahkan Ardian, pikirnya. Nia tak pernah berpikir itu akan menjadi hal yang tak menyusahkan Ardian. Kecuali Ardian memang tak suka mereka pergi bareng lagi. Atau, itu langkah Ardian untuk semakin menghindari dan menjauh darinya?
“Jangan bilang begitu, Ardi,” kata Nia kecil. “Aku tak mungkin menyuruh Hansen mengantar jemput kuliah tiap hari. Bakal menyulitkannya.”
“Lho, kok menyulitkannya? Bukannya dia bakal senang? Begitu juga denganmu?”
“Apa maksudmu?” Nia menatap Ardian, meminta diperjelas.
Mereka berdiri di ujung tangga bawah, bicara berhadap-hadapan dengan suara yang sama-sama terdengar lembut namun dingin. Kehadiran Bik Aini yang mengamati dan mendengarkan percakapan mereka seolah tak dihiraukan keduanya.
“Maksudku, kamu dan Hansen itu cocok, kalian bisa pergi pulang kuliah sama-sama. Dengan adanya Hansen yang selalu mengantar jemput, itu bisa memperdekat hubunganmu dengannya. Tahap selanjutnya kamu bakal menjadi pacarnya,” terang Ardian.
Nia terdiam. Kenapa itu yang ada di pikiran Ardian? Dan juga tadi di pikiran Hansen? Apakah bagi mereka berdua, persahabatan antara pria dan wanita itu sulit, harus diubah menjadi percintaan?
“Aku diajak Hansen ke toko buku,” kata Nia. “Kami hanya jalan-jalan di toko buku, melihat-lihat dan membaca sampai lupa waktu. Begitu sadar, sudah sore dan karena jalanan macet jadi telat sampai di rumah.”
Kok itu pula yang dijelaskan Nia? Padahal dia menyinggung tentang pacar? pikir Ardian. Oh, gadis itu sedang mengalihkan pembicaraan rupanya.
“Aku mau ke atas dulu, Ardi,” kata Nia berjalan melewati Ardian, menaiki tangga ke lantai 2.
Di toko buku tadi jalan-jalan tak merasa capek. Setelah sampai di rumah dan diinterogasi begitu oleh Ardian, rasanya kok jadi capek.
__ADS_1
Ardian berdiri sambil mengerutkan kening. Biasanya Nia akan mengalah, tapi kali ini kok bicaranya tegas? Karena itu, Ardian batal melanjutkan kekesalannya yang menunggu Nia sedari tadi. Dia tahu, kalau Nia sudah menjawab tegas, itu artinya gadis itu ingin mengakhiri pembicaraan untuk mencegah pertengkaran.
* * *