Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Nia Mencari Riko


__ADS_3

Bab 34


Penyakit Bu Rani tak kunjung sembuh. Batuk-batuk, badan lemah, dan kadang sesak napas.


Nia berencana membawa ibunya berobat lagi hari ini karena obat bulanan yang dikonsumsi ibunya selama setengah tahun ini sudah habis, sementara tak ada tanda-tanda kesembuhan.


Melihat kondisi kesehatan ibunya yang semakin menurun, Nia berencana membawa ibunya berobat ke dokter spesialis di rumah sakit. Mana tahu dengan mengganti obat lain yang lebih mahal atau dokter lain yang spesialis bisa memberikan hasil maksimal.


Tapi Nia lagi bingung. Semenjak siang tadi sehabis mengurus ibunya, Nia duduk di kursi makan sambil berpikir keras. Ke mana dia harus mendapatkan duit untuk biaya berobat ke rumah sakit? Sementara uang simpanan mereka tinggal sedikit. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, itu pun bakal habis tak lama lagi.


Nia hampir menangis memikirkan semua ini. Ingin dia meringankan sakit yang diderita ibunya tapi tak berdaya.


Ke depannya, bagaimana lagi dia dan ibunya harus melanjutkan hidup?


Dalam keadaan bingung tiba-tiba dia teringat sesuatu. Bukankah di laci lemari bajunya masih ada satu hp android yang tak digunakan lagi sejak sebulan lalu? Ya, hp yang dibelikan Ardian waktu Nia baru sampai di kota Medan tiga tahun lalu. Waktu mereka jalan-jalan ke mal, Ardian membelikannya hp itu.


Hp itu memang dibawanya ikut serta waktu balik ke Tanjungbalai setengah tahun lalu, dan sering digunakannya untuk ber-chatting dengan Ardian di WA atau menerima panggilan cowok itu. Namun dua bulan lalu hp itu tak lagi berfungsi baginya karena Ardian tak pernah lagi menghubunginya hingga lelah dia menunggu satu bulan, satu bulan berikutnya dia ungsikan hp itu ke dalam laci lemari baju. Sampai sekarang nggak pernah lagi disentuh.


Ya, karena benda itu tak lagi bermanfaat baginya, apa salahnya dijual saja untuk biaya pengobatan ibunya dan sisanya bisa untuk menambah biaya kebutuhan hidup sehari-hari.


Berpikir demikian, Nia langsung beranjak menuju kamar tidur. Dia membuka pintu kamar perlahan-lahan karena ibunya sedang tidur siang di dalam.


Nia membuka lemari bajunya lalu laci yang di dalam lemari. Hatinya lega saat hp android seharga 2 jutaan itu berada di dalam genggamannya. Apa boleh buat, hp ini harus dia jual karena ada yang lebih penting daripada hp ini, yaitu kesehatan ibunya dan kebutuhan sehari-hari.


Saat Nia sedang menggenggam hp itu, Bu Rani terbangun dan menatap putrinya. "Ada telepon dari Nak Ardian, Nia?" tanyanya ketika melihat Nia memegangi hp itu. Setahunya, sudah sebulan putrinya itu tak pernah lagi memegang hp.


"Ng...ng... nggak, Bu," jawab Nia. " Nia mau keluar sebentar, Bu. Ada hal penting yang harus Nia lakukan."

__ADS_1


"Hal penting apa, Nia?" tanya ibunya.


Nia menggigit bibir, ragu menjawab. Apakah dia harus membiarkan ibunya tahu kalau dia terpaksa harus menjual hp pemberian Ardian untuk biaya berobat ibunya ke rumah sakit? Dan sisanya untuk menambah simpanan yang hampir habis?


"Ya pergilah," ucap Bu Rani setelah melihat putrinya ragu menjawab.


"Sebentar ya, Bu. Nia akan cepat balik," katanya.


Bu Rani mengangguk


Dengan langkah kaki tergesa-gesa Nia berjalan keluar dari kamar dan menuju pintu keluar. Dia berjalan menyusuri sepanjang gang rumahnya untuk sampai ke depan jalan raya. Tujuannya adalah rumah Riko yang di pajak, karena cowok itu satu-satunya yang terpikirkan olehnya di saat begini.


Nia berjalan terus agak jauh sampai dia tiba di pajak. Diberanikannya dirinya masuk ke kedai sembako milik orangtua Riko. Sekarang dia bukan seorang pembeli, tapi seorang penjual yang akan menawarkan hp bekas kepada orang di rumah itu.


"Selamat siang, Bu," kata Nia ketika berada di dalam kedai itu.


Ibunya Riko yang sedang menunggui kedai menatap Nia yang baru masuk ke dalam kedainya.


"Ng... hari ini Nia nggak beli apa-apa, Bu. Nia mau mencari Riko. Riko-nya ada, Bu?" tanya Nia sopan.


"Oh, mau cari Riko ya? Iya, ada, kamu langsung masuk saja ke dalam dan naik ke lantai 2, biasanya dia ada di ruang tamu nonton TV atau main hp."


Nia menelan ludah, segan dia masuk ke rumah orang. Maunya tadi dia minta Riko dipanggilkan saja ke bawah menemuinya. Tapi karena sudah disuruh masuk dan naik ke lantai 2, Nia pun menganggukkan kepala dengan sopan, " Iya, Bu," katanya.


Ibunya Riko tak sempat lagi melayani Nia lebih lanjut karena segera datang 2-3 orang pembeli yang memasuki kedai dan minta diambilkan ini itu. Dia sibuk melayani pembeli.


Nia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan dalam kedai sembako itu, setelah itu naik ke lantai 2.

__ADS_1


Sesampainya di sana, dia tak menemukan Riko di ruang tamu seperti kata ibunya. Rumah Riko sangat sunyi. Sepertinya Riko itu anak tunggal seperti dirinya. Ayahnya pun tak nampak, barangkali sedang keluar rumah membeli barang atau mengantar barang, pikir Nia.


"Riko... Riko...," Nia memanggil-manggil sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu dan ruang makan. Tidak ada sesiapa di sana. Nia mulai gelisah. Ke mana Riko?


Samar-samar Nia mendengar suara musik cukup keras di lantai 3. Apakah mungkin Riko ada di sana? pikirnya.


Mengingat waktunya tak bisa lagi diboroskan karena tadi dia sudah berkata pada ibunya akan segera balik, Nia pun membulatkan tekad dan keberanian untuk naik ke lantai 3 mencari Riko.


Sesampainya dia di atas, lagi-lagi tak menemukan Riko di sana. Hanya suara musik yang terdengar semakin jelas dari dalam sebuah kamar.


Oh, apakah Riko sedang di kamar? pikir Nia.


Walaupun hatinya agak ciut berada di rumah orang lain sendirian, namun tekadnya untuk segera menjual hp pada Riko dan setelah itu bergegas pulang membuatnya memberanikan diri berjalan mendekati kamar asal suara musik yang cukup keras itu.


"Riko...! Riko...! Riko...!" Nia memanggil- manggil dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu dengan menahan rasa gelisah di hatinya.


Karena pintu itu tak juga dibukakan, barangkali karena suara musik yang keras sampai tak kedengaran suara panggilan, Nia pun menyentuh pegangan pintu itu, menekannya ke bawah lalu mendorongnya ke dalam. Ternyata pintu itu tak terkunci.


Nia membelalakkan mata. Di depannya, terpampang suasana dalam kamar tidur yang demikan berantakan. Bantal guling selimut sprei berantakan. Baju-baju digantung dan dilempar sana-sini. Belum lagi kursi terbalik dan meja yang ditaruh sembarangan. Lalu rak dengan buku-buku yang berdebu ditaruh sembarangan dan bertumpuk-tumpuk berserakan. Sama sekali tidak rapi!


Begitu pintu dibuka dari luar, orang yang sedang tiduran di ranjang sambil memegangi gadget, menoleh dan terlonjak spontan.


"Nia?!" seru Riko bukan kepalang kagetnya didatangi Nia seperti itu.


Wajah Riko memerah karena malu disebabkan suasana kamarnya yang demikian berantakan ditambah lagi dirinya yang hanya memakai singlet dengan celana ponggol.


"Ya, Riko," jawab Nia.

__ADS_1


* * *


Waduh, gimana nih pembicaraan selanjutnya antara Nia dan Riko? 😁


__ADS_2