
Bab 9
Saat Ardian berjalan mengambil motornya di garasi motor, Nia iseng-iseng berjalan menuju ayunan besi dan duduk di sana. Diayun-ayunkannya ayunan itu ke depan dan ke belakang sambil tertawa cekikikan.
Ardian yang sudah selesai mengeluarkan motornya dari dalam garasi, mencari-cari gadis itu tapi tak kelihatan berdiri di dekatnya. Dengan heran, dia mencagak motornya sebentar, berjalan mencari Nia di sekitar halaman rumah itu.
“O-o, rupanya kau ada di sini!” serunya saat melihat Nia sedang asyik bermain ayunan.
“Ardi!” panggil Nia. “Asyik sekali ayunan ini, ayo kamu kemari duduk di sini, di sampingku,” ajaknya sambil tertawa lebar..
Ardian berdiri sambil menghela napas panjang. Sepertinya, masa kecil gadis ini cukup suram, pikirnya. Hanya menaiki ayunan besi saja sudah bisa membuatnya tertawa lebar.
“Emoh, ah! Entar dikira masa kecil suram kalau cuma duduk sambil mengayun. Biasanya duduk di ayunan itu sambil membaca buku atau menikmati secangkir teh menatap matahari senja,” kata Ardian.
“Oh,” Nia bangkit dari duduknya dan turun dari ayunan besi itu.
Dikira Ardian, dia akan menuju ke motor yang diparkirnya tak jauh dari situ, tapi gadis itu malah berjalan ke arah lain, menuju kolam ikan.
“Wah, banyak ikan di sini, Ardi!” serunya. “Cantik-cantik semua ikannya. Ikan mas-kah ini, Ardi?” tanyanya penasaran.
“Itu peliharaan Papa,” kata Ardi. “Aku sih tak hobi begituan dan jarang melihat kolam ikannya. Memangnya warnanya emas, ya?” balik bertanya Ardian.
“Eh, lihat itu kolam renangnya, besar dan bagus sekali. Bolehkah aku cemplung sebentar di sini, Ardi?” tanyanya seketika.
Rasanya, berhari-hari sudah dia tak berenang di sungai seperti kebiasaannya tiap sore di kampung halaman. Melihat air di kolam renang, tangan-tangan dan kaki-kakinya terasa dipanggil untuk bergerak-gerak di dalam sana.
“Berenang? Sekarang?” heran Ardian. Dikerutkannya kening tak mengerti sama sekali. “Bukankah kita akan keluar jalan-jalan naik motorku sekarang?” ingat pemuda itu sambil menatap Nia yang seolah lupa tujuannya keluar dari pintu rumah.
“Ups! Iya, aku jadi lupa. Sori ya, Ardi. Seumur hidup baru sekali ini aku melihat pemandangan di sekitar rumah yang beginian. Hehe,” katanya malu.
“Nggak apa-apa. Kapan-kapan saja kamu bisa berenang di sini, Nia. Bukankah liburanmu ke sini masih panjang dan kamu masih akan lama di rumahku,” kata Ardian.
“Iya,” Nia tak berkata apa-apa lagi. Dia melihat tampang Ardian yang seolah mulai kesal menunggunya sedari tadi.
Dia benar-benar lupa hendak keluar bersama pemuda itu dengan menaiki motor besarnya berdua. Ingatannya seolah hilang begitu melihat pemandangan bagus di pekarangan rumah.
Rasanya, dia masih belum puas duduk di ayunan, melihat ikan-ikan yang berenang ke sana ke sini di dalam kolam, dan tak sabar lagi ingin segera menceburkan diri di dalam kolam renang yang luas itu. Matanya menari ke mana-mana melihat bunga-bunga yang bermekaran di taman bunga. Ingin dia mendekati tanaman-tanaman itu, memetik bunganya setangkai dua tangkai, mencium harum baunya, lalu menyematkannya ke rambut panjangnya. Pasti akan mirip dengan artis di film-film tempo dulu, pikirnya geli.
“Ini, pakai helm-mu,” kata Ardian saat Nia sudah ada di dekat motornya.
Nia memakai helm seperti yang diinstruksikan Ardian.
Saat dia naik ke atas boncengan pemuda itu, diperhatikannya garasi mobil yang semalam dilihatnya. Di situ, nampak satu mobil berlogo Toyoto dan tulisan Fortuner di belakangnya. Oh, ini namanya Toyota Fortuner, toh, pikir Nia. Tak dilihatnya mobil Pajero Sport yang semalam membawanya ke rumah ini dari stasiun kereta api. Pasti sedang dikendarai Om Wisnu ke Brastagi. Sedangkan yang sedang ada di garasi kali ini adalah mobilnya Ardian, tebak Nia.
Ardian menjalankan motornya perlahan keluar dari pekarangan rumah itu. Wak Amat yang menjaga gerbang segera membuka gerbang untuk dilalui oleh Ardian dan Nia yang sedang berboncengan di atas sepeda motor besar itu.
“Makasih, Wak…!” Nia masih sempat mengucapkan terima kasih pada Wak Amat sebelum motor yang didudukinya melesat cepat menyusuri jalan di kompleks perumahan elit itu untuk sampai ke gerbang keluar yang dijaga beberapa satpam.
“Pegang yang erat,” perintah Ardian.
__ADS_1
Nia yang tadi cuma memegang sedikit belakang baju Ardian, menggerakkan tangan kanannya ke samping pinggang Ardian, memegangnya sedikit.
Merasa belum pas, Ardian meraih dua tangan Nia dan melingkarkannya ke depan perutnya hingga dada gadis itu pun tersentak menempel di punggung kekar cowok di depannya.
Belum sempat Nia berkata-kata, Ardian sudah melesatkan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi hingga Nia pun terpaksa diam dan berkonsentrasi dengan pegangannya.
“Kita mau ke mana?” di suatu kesempatan saat motor berhenti di lampu merah, Nia bertanya.
“Kan sudah kubilang tadi, jalan-jalan keliling kota Medan!” jawab Ardian.
“Oh, kita akan ke mal-kah?” tanya Nia asal-asalan.
“Kapan-kapan kita ke mal. Kali ini khusus keliling kota dengan sepeda motor.”
Nia tak bertanya lagi karena dirasanya Ardian sepertinya tak suka dia banyak bertanya atau berkomentar. Hanya ingin gadis itu menuruti keinginannya saja.
Terserah mau diajak ke mana, yang penting sesuai kemauannya sajalah.
Nia melihat-lihat setiap ruas jalan yang dilaluinya bersama Ardian. Mulai dari lampu merah, persimpangan empat, jembatan layang, pasar, toko, bank, aneka dagangan di kaki lima, sekolah, tempat ibadah, supermarket, klinik, praktik dokter, rumah sakit, sampai pabrik-pabrik.
Setelah keluar dari kawasan perindustrian, motor itu melaju ke arah pusat kota yang tampak agak lengang di Minggu siang.
“Nah, kalau tadi itu pabrik-pabrik adanya di kawasan perindustrian, sekarang mall-mall besar adanya di pusat kota,” jelas Ardian bagaikan seorang pemandu wisata.
“Oh, ya?” Nia membetulkan duduknya sebentar, rasanya lumayan penat juga duduk di atas motor keliling-keliling seperti itu.
Saat motor itu melaju cukup jauh menuju pusat kota, mulailah Ardian mengenalkan lagi tempat demi tempat terkenal di kota Medan pada sahabat masa kecilnya itu.
“Itu JW. Marriot, Nia,” kata Ardian. “Papa dan Mama sering ke sana bersama relasi bisnis,” tunjuknya pada satu bangunan tinggi dan megah.
“Iya,” angguk Nia.
“Itu Podomoro, bakal jadi bangunan terbaru paling keren di kota Medan,” jelas Ardian bangga.
“Iya, semalam aku pun lewat sini saat diantar papamu,” kata Nia.
“Oh, iya, kita keliling-keliling lagi, ya,” kata Ardian.
Ardian terus membawa Nia berkeliling di seantero kota Medan. Setiap sudut kota sampai ke ujung-ujungnya seolah pantang dilewati pemuda itu.
Nia merekam tempat-tempat yang diperkenalkan oleh Ardian, seperti Centre Point, Sun Plaza, Thamrin Plaza, Hermes, dan entah apa lagi namanya. Nia tak bisa merekam dengan cepat semua nama tempat yang disebutkan Ardian.
Kerongkongannya sedari tadi terasa kering. Ardian belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan motornya di tepi jalan atau di mana saja untuk membeli segelas minuman buat Nia yang sudah kehausan sedari tadi.
Sudah empat jam mereka berkeliling-keliling mengitari kota Medan. Nia merasa sudah sangat lelah dan hampir tak sanggup lagi berada di atas motor besar Ardian. Karena lelah dan hausnya tanpa berani bilang pada Ardian, gadis itu pun hanya bisa membenamkan kepalanya ke punggung Ardian. Matanya merasa ngantuk dan rasanya dia ingin tidur sekejap.
Menyadari gadis yang duduk di belakangnya seperti kelelahan menyandarkan kepala di belakang punggungnya, Ardian pun menghentikan motornya di satu tempat yang rindang oleh pepohonan di satu sudut kota.
Merasa motor yang dikendarai Ardian kini berhenti, Nia pun menarik kepalanya kembali dari punggung Ardian dan melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Ardian.
__ADS_1
“Kamu lelah, Nia?” tanya Ardian saat menyuruh Nia turun dari atas boncengan.
Dengan cepat, Nia melompat turun dan membuka helm-nya yang sudah terasa berat membebani kepalanya sedari tadi.
Tak ingin mengecewakan Ardian, karena melihat pemuda itu begitu bersemangat membawanya jalan-jalan sampai memperkenalkan semua tempat kepadanya, Nia hanya mengangguk kecil.
“Kita beli minum, ya?” tawarnya.
Gadis itu mengangguk lagi. “Iya,” kali ini dia menjawab, cepat dan penuh harap.
Ardian baru menyadari gadis itu sudah kelelahan dan kehausan sedari tadi. Diarahkannya pandangannya ke sekeliling. Untunglah matanya segera menemukan satu gerobak motor penjual es tebu. Ardian pun berjalan menuju penjual es tebu itu dan memesan 2 bungkus es tebu asli yang langsung diperas dari tebunya dengan mesin.
Nia melihat ada tempat duduk batu di trotoar tempat motor Ardian berhenti. Dia duduk di sana menunggu Ardian membeli minuman mereka.
Selesai membeli es tebu, Ardian berjalan menuju tempat Nia duduk di atas batu trotoar kaki lima. Setelah dekat, diserahkannya plastik berisi es tebu berikut pipet untuk diminum gadis itu.
Dengan cepat Nia menyeruput es tebu dalam genggamannya. Diseruputnya tiada henti selama beberapa detik sampai Ardian pun terheran melihat sikapnya. Kerongkongan gadis itu dialiri air tebu yang tiada henti bergerak hingga akhirnya Ardian pun tertawa geli.
“Haus sekali, ya?” tanya Ardian.
Nia mengangguk. Matanya menengadah menatap Ardian, tapi mulutnya masih menyeruput minuman di dalam plastik itu seolah ingin dihabiskan sekejap dalam satu kali sedotan.
“Enak?” tanya Ardian.
Nia mengangguk lagi.
“Mau lagi? Biar aku belikan lagi,” tawar Ardian saat melihat gadis itu sudah menghabiskan minuman di tangannya dan bernapas lega.
“Nggak, Ardi, nggak usah. Terima kasih.”
Ardian mengambil tempat duduk di samping gadis itu, menyeruput minuman di tangannya dengan perlahan dan gaya santai. Pepohonan rindang melindungi mereka dari sinar matahari sore yang mulai tenggelam.
Nia membetulkan letak rambutnya ke belakang, sementara Ardian duduk menatapnya sambil minum.
“Sudah sore ya, Ardi,” kata Nia setelah membuang plastik yang ada di genggamannya ke dalam tong sampah di dekat situ.
“Iya, tak terasa sudah sore. Empat jam kita keliling-keliling mengitari kota Medan tapi belum juga setiap sudut kita kunjungi,” kata Ardian. “Masih banyak sekali tempat yang terlewatkan. Besok-besok aku bawa kamu lagi keliling-keliling.”
“Nggak usah, Ardi,” tolak Nia. “Tak semua tempat mesti ditunjukkan padaku. Lagipula, untuk apa?” kata Nia.
Dia merasa tak nyaman bila harus mengulangi raun-raun yang dilakukan Ardian tadi. Maklumlah, di kotanya sendiri, Nia termasuk anak rumahan, tidak suka keluyuran. Dia cuma keluar rumah kalau memang ada hal penting yang harus diurus atau dikerjakan, misalnya ke sekolah atau ke pasar.
“Kalau begitu, kita ke mal saja ya kapan-kapan.. Shopping, makan, nonton, karaoke…”
Nia tersenyum kecil. Ternyata setelah dewasa, hobi Ardian dan hobinya tidak sama lagi. Nia masih tetap lebih suka di rumah, membaca, belajar, berenang di sungai, atau sekadar duduk-duduk di beranda berjemur matahari pagi dan menikmati angin sore.
Sedangkan Ardian sudah berubah menjadi anak kota besar masa kini yang hobi jalan-jalan ke mall. Menurut Nia, jalan-jalan ke mal akan menghabiskan banyak duit. Di rumah pun dia sudah merasa senang tanpa perlu menghabiskan duit.
* * *
__ADS_1