
Bab 22
Hari Minggu yang dijanjikan.
Nia berjalan turun ke bawah setelah siap berpakaian. Bibirnya dipoles lipstik tipis warna merah jambu. Pakaian yang dikenakannya sederhana namun sopan. Blus lengan panjang putih dipadu rok panjang coklat.
Rencananya, siang ini dia akan berkunjung ke rumah Hansen menemui ibunya. Dalam hati Nia, dia akan mengiyakan bila ibu Hansen bertanya padanya, apakah Nia itu pacarnya Hansen? Dengan mengiyakan, maka hubungannya dengan Hansen yang semula samar, menjadi terang. Dia ingin memberi kepastian pada Hansen untuk membalas kebaikan pemuda itu padanya.
“Ardian belum bangun, Bik?” tanya Nia pada Bik Aini saat tak melihat Ardian di meja makan.
“Nak Ardian lagi jogging di kompleks perumahan, Non,” jawab Bik Aini.
“Oh…,” Nia tak bertanya lagi.
Dia duduk menghadapi sarapannya di meja makan. Baru beberapa suap makanan itu itu masuk ke mulutnya, hp android yang terletak di satu bagian dari meja makan itu berbunyi. Pesan masuk.
Nia melirik hp android yang letaknya cukup jauh darinya. Baru sekarang dia menyadari ada hp yang tertinggal di meja makan dan dia mengetahui itu hp-nya Ardian setelah berjalan mendekat. Barangkali Ardian lupa membawa hp-nya tadi, pikir Nia.
Nia hendak berjalan kembali ke kursinya ketika hp itu berbunyi lagi. Lagi. Dan lagi. Pesan masuk terus menerus. Sepertinya pesan dari WA Ardian yang terus masuk. Entah dari siapa.
Merasa penasaran dan seperti terpanggil, Nia menyentuh hp Ardian, mengambilnya dari atas meja hingga kini hp itu ada di tangannya. Dibukanya aplikasi WA Ardian dan dibacanya pesan yang masuk.
Ini kiriman video rekaman yang terbaru, Ardian.
Penasaran, Nia membuka video itu karena dalam gambar video itu seolah ada dirinya. Benarlah, ternyata rekaman video itu adalah rekaman dirinya saat bersama dengan Hansen. Dia sampai kaget, tak menyangka ada yang merekamnya diam-diam saat dia di dalam kelas berbincang-bincang dengan Hansen sambil tertawa.
Digulungnya layar sentuh hp itu ke atas, membaca pesan sebelumnya dan rekaman-rekaman semuanya. Hati Nia semakin berdebar, karena semua rekaman video yang dikirim oleh nomor WA yang masuk tadi adalah rekaman dirinya bersama Hansen.
Bahkan ketika dia dan Hansen sedang menikmati jajanan di depan kampus, sedang berjalan berdampingan di koridor, dan saat memasuki mobil Hansen.
Wah, wah! Nia tak mengerti arti semua rekaman itu. Dia mencoba mengerti dengan membaca pesan-pesan sebelumnya yang masuk dari nomor WA itu.
Baiklah, aku akan memata-matai gerak-gerik mereka. Hansen dan Nia, gadis yang kamu cintai. Mereka sekelas denganku jadi lebih mudah bagiku merekam mereka dari belakang. Demi kamu, Ardian. Tapi aku tak mengerti, kenapa kamu harus berpura-pura tak peduli pada Nia? Padahal kamu sangat peduli padanya. Buktinya, kamu menyuruhku memantau setiap gerak-geriknya.
Jadi, Ardian menyuruh si pengirim WA memantau gerak-geriknya di kampus? Terutama saat bersama Hansen? Apa maksud Ardian berbuat begitu?
Nia membaca lagi pesan-pesan sebelumnya.
Kalau kamu sayang padanya, katakan saja terus terang, Ardian. Katakan pada Nia, kalau kamu mencintainya. Kenapa harus kamu curhatkan padaku saja tapi tak berani mengatakannya pada Nia? Apakah kamu takut dia akan menolakmu?
Ardian menjawab,
__ADS_1
Bukan begitu, Santi. Aku melihat Nia sangat cocok dengan Hansen, tidak seperti denganku. Aku sering melihatnya kesal menghadapi sikapku. Saat bersamaku, Nia jarang bisa tertawa lepas. Saat bersama Hansen, dia sering sekali tertawa. Jadi kupikir, dia lebih menyukai Hansen daripada aku. Mengatakan cinta padanya, hanya akan membebani hatinya yang tidak mencintaiku.
Nia menggulung lagi layar hp Ardian yang digenggamnya erat-erat. Seolah takut direbut sebelum dia membaca semua pesan WA yang masuk dari nomor itu. Dia takut tak habis membaca percakapan antara Ardian dengan temannya yang bernama Santi itu.
Percakapan mereka semuanya tentang Nia dan Hansen, tidak ada lainnya.
Nia tercenung sehabis membaca semua percakapan antara Ardian dengan Santi. Dia tahu, Santi itu teman kuliah yang sekelas dengannya, tapi mereka hampir tak pernah bertegur sapa. Tak disangkanya, diam-diam Santi merekam dirinya bersama Hansen demi Ardian atau atas perintah Ardian.
“Untuk apa kamu melihat hp-ku?” Ardian tiba-tiba saja sudah ada di ruang makan, berdiri di dekat meja makan, memandang Nia dengan mata mendelik. “Kembalikan!”
Nia tak tahu entah sejak kapan Ardian ada di situ, memergokinya yang sedang membaca isi WA-nya.
Nia gelagapan saat Ardian merebut hp di tangannya dengan satu gerakan cepat. Ditatapnya Nia dengan mata tajam, lalu beralih melihat hp-nya sendiri. Sialnya, Nia belum sempat keluar dari aplikasi WA yang dibukanya. Ardian pasti menyadari kalau Nia membaca isi WA-nya dengan Santi.
Ardian terpana. Hatinya berdesir. Begitu juga Nia. Semua rahasia Ardian kini terbongkar sudah. Gadis di depannya sudah tahu segalanya. Entah bagaimana reaksinya sekarang dan apa yang akan dipikirkan Nia tentang dirinya? Memata-matainya? Merekamnya diam-diam? Menyukainya tapi tak berani berterus terang?
“Kenapa harus seperti itu, Ardi?” tanya Nia memecah keheningan. Suaranya terdengar lembut, tidak ada kemarahan tersirat di situ.
“Kenapa? Kenapa bagaimana?” Ardian mengangkat kepalanya, menatap Nia tajam. Hatinya terasa pedih harus melakonkan semua peran dingin. Padahal dia ingin sekali memeluk hangat gadis itu, membelai rambutnya, menyandarkan kepalanya di bahunya yang bidang, membisikkan kata-kata lembut, lalu menjanjikan masa depan yang indah. Tapi, semua itu tak dilakukannya karena gengsi dan tak percaya diri. Dia takut Nia akan menolaknya dan lebih memilih Hansen.
Sebagai laki-laki gagah yang selalu dikejar-kejar dan digandrungi banyak cewek cantik modis, Ardian merasa bakal jatuh gengsi bila ditolak gadis sederhana seperti Nia. Padahal gadis itu memang memiliki banyak kelebihan dibandingakan cewek-cewek lain yang dikenal Ardian selama ini. Nia penampilannya sederhana tapi wajah, fisik, dan non fisiknya amat sempurna di mata Ardian.
“Kenapa kamu tak katakana terus terang padaku, kalau kamu menyukaiku?” tanya Nia tajam.
Ardian merasa Nia sudah mengetahui segalanya. Nia pasti sudah membaca semua isi percakapannya dengan Santi. Karena itu, Ardian merasa tak ada lagi yang perlu disembunyikan.
“Karena aku tak bisa menerima, bila kamu menolakku dan memilih Hansen,” jawab Ardian jujur.
“Karena itukah kamu berpura-pura menjauh dan bersikap dingin padaku? Kamu tersiksa melihatku bersama Hansen tapi kamu gengsi mencegah kedekatan kami, bahkan seolah-olah merestui hubungan kami dengan menyuruh Hansen mengantarku pulang kuliah setiap hari. Sikap dingin yang kamu tunjukkan padaku itu hanyalah topeng untuk menutupi rasa tak berdayamu, bukan, Ardi?” tebak Nia.
Ardian melengos. “Iya!” jawabnya singkat.
“Ardian, kenapa kamu begitu bodoh. Sebenarnya aku…”
Belum sempat Nia melanjutkan ucapannya, terdengar sapaan salam di depan rumah. Nia mengenali, itu suara Hansen. Ternyata Hansen sudah datang di jam segini, padahal janji mereka pukul 11 siang.
Ardian menatap Nia yang tampak bingung. “Tamumu sudah datang. Keluarlah menyambutnya,” kata Ardian.
Diperhatikannya pakaian yang dikenakan Nia, pakaian resmi seperti hendak menemui calon mertua. Pastilah Nia akan keluar bersama Hansen, ke rumahnya barangkali? Menemui calon mertua?
“Nanti kita bicara lagi,” kata Nia lalu berbalik keluar dari ruang makan. Ditemuinya Hansen yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
“Masuklah, Hansen,” kata Nia menyambut kedatangan Hansen di rumah Ardian.
Hansen masuk dan duduk di ruang tamu.
“Kenapa cepat sekali datangnya?” tanya Nia.
“Aku… tak sabar lagi menjemputmu ke rumah. Ibuku sudah menyiapkan makan siang dan menunggumu sedari pagi,” jawab Hansen jujur.
Ardian berdiri di balik pintu ruang makan, menguping pembicaraan Nia dengan tamunya.
Nia menunduk. “Maaf, Hansen, kali ini terpaksa harus mengecewakanmu,” kata Nia tiba-tiba. Ditatapnya Hansen yang duduk di depannya dengan rasa bersalah.
“Maksudmu?” tanya Hansen hati-hati. Hatinya berdebar.
“Aku tak jadi ikut ke rumahmu.”
“Lho, kok?”
“Maafkan aku, Hansen. Aku baru menyadari sesuatu pagi ini. Kurasa, kalau aku ikut ke rumahmu mengunjungi mamamu, itu sama dengan aku mengiyakan hubungan kita adalah sepasang kekasih. Padahal… padahal… aku… aku…”
“Padahal kamu tak ingin menjadi kekasihku? Padahal kamu tak mencintaiku, begitu, kan, Nia?” sambung Hansen.
Nia mengangguk. Tak disangkalnya, perasaannya pada Hansen selama ini hanyalah perasaan berterima kasih karena Hansen sangat baik dan tulus padanya. Pemuda itu juga tipe cowok idamannya. Namun, hatinya tak bisa berbohong kalau cintanya bukan untuk Hansen. Bagaimana jadinya nanti kalau dia menerima Hansen karena rasa terima kasih, bukan karena cinta?
Hansen mendesah. Kecewa betul hatinya. Ditatapnya Nia dalam-dalam, seolah berusaha mengerti jalan pikiran dan isi hati gadis itu. Hansen memikirkan kembali semua sikap Nia padanya selama ini tidak ada satu pun yang menyiratkan cinta, melainkan persahabatan. Nia selalu memperlakukannya layaknya seorang sahabat baik, tak lebih.
“Nggak apa-apa, Nia,” kata Hansen akhirnya. “Kita masih bisa jadi teman,” ucapnya kecil.
Nia mengangkat kepalanya, menatap Hansen. Pemuda itu tersenyum padanya dengan tulus, tak ada kemarahan tersirat di situ walaupun baru dikecewakan. Hansen sayang Nia, karena itu dia tak akan menyakiti hati Nia dengan kemarahan. Mencintai seseorang adalah membiarkannya bahagia, menghargai pilihan dan keputusannya. Itulah yang terlintas di benak Hansen.
“Maaf sekali lagi, Hansen,” ulang Nia.
“Terima kasih kamu sudah mengerti diriku,” ucapnya.
Hansen mengangguk. Tak lama setelah itu, dia permisi pulang dan menghilang di balik pintu. Wak Amat membukakan gerbang untuknya.
Nia bangkit dari duduknya, hendak berjalan ke ruang makan menemui Ardian. Tubuhnya hampir menabrak Ardian yang buru-buru keluar dari tempat persembunyiaannya.
Kepergok Nia, dia menguping pembicaraannya dengan Hansen sedari tadi.
Gadis itu mendelik, memelototi Ardian.
__ADS_1
Ardian celingak-celinguk. Cengengesan sebentar sebelum kabur ke kamarnya dengan langkah seribu.
* * *