
Bab 78
"Tidak usah, Yu. Aku yang ke rumahmu," jawab Ardian.
"Oh," Ayu pun terpaksa mengiyakan. Padahal benaknya sibuk berpikir.
Bila Ardian datang menjemputnya ke rumah pasti akan bertemu dengan ibunya. Dan ibunya akan heran Ayu diajak jalan-jalan oleh boss-nya padahal Ayu sudah punya pacar.
Ibunya pasti akan heran kenapa Ayu menerima ajakan Ardian? Apakah putrinya itu tidak menjelaskan pada Ardian kalau dia sudah punya pacar yang bernama Willy dan tidak bisa menerima ajakan boss-nya itu karena akan membuat pacarnya cemburu?
"Hari Minggu pukul 2 siang aku ke rumahmu," kata Ardian.
"Iya, Pak Ardian," angguk Ayu. "Aku boleh kembali berkerja sekarang, Pak?" tanya Ayu bersiap-siap bangkit dari duduknya.
"Iya, kembalilah," Ardian mengangguk.
Ayu bangkit dari kursi dan berbalik sopan. Langkahnya gemulai menuju pintu. Memang begitulah pembawaan Ayu yang bisa menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Termasuk Ardian.
Ayu sudah sampai di pintu dan hendak membukanya ketika pintu itu dibuka dari luar. Shella yang baru datang pun berpapasan dengan Ayu yang hendak keluar.
"Lho, kamu kok di sini, Yu?" takjub Shella. "Bukankah pagi tadi begitu datang kamu sudah membersihkan ruangan Pak Ardian?"
"Iya, Kak Shel, memang sudah," jawab Ayu dengan suaranya yang renyah yang terdengar sangat manja dan merdu di telinga Ardian namun sebaliknya seperti suara kuntilanak melengking di telinga Shella.
"Lalu untuk apa kamu ke sini?" tanya Shella dengan suara tajam yang terkesan kurang senang.
__ADS_1
"Aku dipanggil Pak Ardian tadi," jawab Ayu jujur. "Ini sudah selesai dan mau balik lagi," Ayu meminggirkan badannya sedikit supaya Shella bisa masuk ke dalam. Setelah Shella berada di dalam, Ayu pun melangkah meninggalkan ruangan Ardian.
Huh! Sok sekali gayanya! rutuk Shella yang merasa gemas melihat lenggak-lenggok bokong Ayu yang melenggang ke kanan dan ke kiri seperti sedang mengejeknya atau memamerkan pinggulnya yang seperti gitar spanyol itu.
Shella memalingkan wajah, berjalan beberapa langkah mendekati meja Ardian. Seperti biasanya dia memegang berkas-berkas dalam map untuk dibaca dan ditandatangani Ardian.
"Ayu tadi masuk ke sini buat apa, Pak?" tanya Shella seperti wartawan yang menginterogasi begitu duduk di depan Ardian.
"Mana berkas-berkasnya?" Ardian tak menjawab pertanyaan Shella namun meminta map yang dibawa Shella.
Shella menyorongkan map itu ke hadapan Ardian dan menunggu Ardian membacanya sebelum menandatanganinya.
Rasanya lama sekali Shella menunggu Ardian selesai dengan pekerjaannya sebelum menjawab keingintahuannya.
"Ini," Ardian menyorongkan kembali map itu ke hadapan Shella dan Shella mengambilnya.
"Jawab dulu dong, Pak. Tadi Ayu ke sini buat apa?" Shella kembali lagi kepada ciri khasnya yang selalu ingin tahu urusan Ardian dan tak segan bertanya langsung. Bahkan jika pertanyaannya itu seperti mendesak untuk dijawab, dia pun tak segan.
"Aku mengajak Ayu jalan-jalan hari Minggu," jawab Ardian enteng.
"Hah?" Shella terbelalak. Bukankah belakangan ini Ardian sudah dingin sekali pada Ayu semenjak gadis itu memecahkan bingkai foto dirinya dengan Nia? Lalu kenapa sekarang...?
Gawat! Apakah ini berarti Ayu berhasil membuat Ardian kembali dekat dan bersikap hangat padanya? Wah, wah, jurus apa yang gadis tengik itu gunakan sampai Ardian kembali terpesona padanya?
Shella benar-benar geram dan tak habis pikir dibuat cleaning service yang menyebalkan itu. Kalau tahu begini, dulu dia tak akan sudi menyetujui keinginan Ardian memasukkan Ayu ke perusahaan. Biarkan saja gadis itu tetap di proyek luar kota melayani kepala proyek, mandor, dan para buruh bangunan.
__ADS_1
"Iya, sudah, Shel? Kalau sudah, kembalilah ke ruanganmu. Aku masih harus mengerjakan banyak hal," nada suara Ardian terdengar tegas dan tak berperasaan.
Shella curiga jangan-jangan Ardian sakit hati melihat pemandangan Nia dan cowok lain berakrab-akraban di tepi sungai Asahan. Lalu Ardian kembali melarikan perasaannya pada Ayu yang senantiasa bersedia mengobati rasa kecewanya.
Gadis itu sangat pintar dan licik, umpat Shella dalam hati.
"Iya, aku permisi, Pak," tanpa perlu diperintah 2 kali, Shella keluar dari ruang kerja Ardian dengan membawa map berisi berkas-berkas yang sudah ditandatangani Ardian.
Shella merasa tak ada gunanya mencegah Ardian dekat dengan Ayu karena boss-nya itu memang suka pada Ayu. Apalagi gadis belia itu sangat pintar mengambil hati, menunjukkan kelebihan-kelebihan fisik dan karakternya pada Ardian.
Apa boleh buat, tampaknya aku harus menyerah kali ini. Shella menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan menyusuri koridor untuk kembali ke ruangannya.
Sementara itu Ayu yang sudah kembali ke dapur sibuk berpikir. Seandainya Ardian datang ke rumahnya Minggu siang ini, maka dia harus menyetel supaya tak ketahuan oleh Willy. Karena jika Ardian tahu dia sudah punya pacar, pasti sikapnya akan kembali dingin padanya. Menganggap Ayu membohonginya karena selama ini tak pernah menceritakan soal pacarnya.
Jadi aku harus melarang Willy datang ke rumah di hari Minggu ini supaya tak bertemu Ardian. Lalu bagaimana mengatasi rasa heran ibu nanti melihat Pak Ardian datang berkunjung? Kan sangat jarang boss mau berkunjung ke rumah karyawan apalagi Ayu pun karyawan di bagian bersih-bersih. Alasan apa yang bisa masuk akal selain daripada boss-nya itu naksir karyawannya?
Aduh... pusing kepalaku. Nanti baru dipikirkan saja karena kan masih ada waktu seminggu. Berpikir demikian, Ayu buru-buru melanjutkan kembali pekerjaannya yang terbengkalai.
Hari beranjak sore dan para karyawan di perusahaan Ardian pun satu per satu meninggalkan kantor karena jam pulang telah tiba. Begitu juga Ardian yang melesat bersama mobilnya. Karena sudah lelah bekerja seharian, tentu saja dia juga pulang ke rumah untuk istirahat. Tidak keluyuran ke mana-mana lagi.
Seperti biasanya Ayu pulang paling telat. Dan seperti biasanya juga, Willy, pacarnya setia menunggunya di tempat yang agak jauh dari gerbang sehingga Ayu perlu berjalan puluhan langkah untuk sampai di situ. Semua itu dilakukan Willy atas pesan Ayu tanpa dia tahu alasannya. Seandainya saja Willy tahu alasan gadis itu adalah supaya tak kepergok Ardian, Willy pasti akan sangat sedih.
Ardian pun pasti akan kecewa pada Ayu yang tak jujur padanya kalau sebenarnya.dia sudah punya pacar yang mengantarjemputnya setiap hari.
Begitulah Ayu, di satu sisi dia enggan melepaskan Willy yang setia padanya karena tahu laki-laki itu sangat mencintainya dan bersedia melakukan apa pun untuknya. Namun di sisi lain dia enggan menolak atau menampik Ardian yang tertarik padanya karena laki-laki itu sangat ideal dijadikan gandengan. Bayangkan, tajir, tampan, baik, dan perhatian. Gadis mana yang sanggup menolaknya?
__ADS_1
* * *