Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Shella dan Ardian Bicara Soal Nia


__ADS_3

Bab 65


Shella mengetuk pintu ruang kerja Ardian 2 kali sebelum membukanya dan melangkah masuk. Tangannya memegang map berisi berkas-berkas yang harus ditandatangani Ardian.


Ketika langkahnya sampai di depan meja kerja Ardian, Shella mengerutkan kening.


"Lho, kenapa, Pak?" tanya Shella heran melihat mimik wajah Ardian yang tampak sedih memandangi selembar foto di tangannya. Ardian masih berdiri di belakang mejanya tanpa sempat duduk sedari tadi.


Ardian memandang sekilas pada Shella yang berdiri mematung di depan mejanya setelah meletakkan berkas-berkas di tangannya ke atas meja.


"Kenapa, Shel?" tanya Ardian balik.


"Biasa, Pak, tanda tangan," jawab Shella. "Kenapa dengan fotonya, Pak?" tanya Shella sambil matanya melirik ke atas meja kerja Ardian. Dia tak menemukan bingkai foto yang biasanya ada di atas meja itu. Apakah mungkin foto itu yang sedang dipegang dan dipandangi Ardian walaupun tanpa bingkai? pikir Shella.


""Okey, tapi kamu bersihkan dulu serpihan-serpihan kaca yang ada di lantai ini," kata Ardian sambil memberi isyarat menunjuk lantai di sampingnya dengan gerakan kepala.


"Serpihan kaca?" Shella semakin heran. Tapi setelahnya dia baru sadar mungkin saja bingkai foto yang biasanya ada di atas meja kerja Ardian itu pecah. Karena itulah Ardian tampak sedih memegang dan memandangi foto yang tanpa bingkai lagi.


"Lho, Pak, apakah bingkai fotonya pecah?" Shella berjalan menuju belakang meja kerja Ardian dan benarlah dugaannya saat melihat ada serpihan kaca yang berasal dari bingkai foto yang pecah.


Ardian menghela napas panjang sebelum menjawab, "Iya, Shel, kamu pungutilah serpihan kaca di lantai itu."


Shella mengernyitkan dahi, "Aku panggilkan Ayu ya, Pak, biar dia yang pungut," tawar Shella.


"Jangan panggil dia!" sentak Ardian keras hingga membuat Shella terlonjak kaget.


Dari tampang Ardian, sepertinya cowok itu lagi tak mood sama Ayu. Apa sebenarnya yang telah terjadi? pikir Shella. Ohya, apakah Ayu sudah masuk ke ruangan Ardian tadi? Lalu kenapa dia tak membersihkan serpihan kaca itu? Atau jangan-jangan...


"Tunggu apa lagi, Shel? Ayo bersihkan!" perintah Ardian melihat Shella yang masih berdiri bimbang.

__ADS_1


Dengan agak ragu, Shella melangkah mendekati serpihan kaca di lantai lalu memungutinya satu demi satu.


"Taruh di sini saja," Ardian menyerahkan pada Shella secarik kertas HVS kosong.


Shella menerima kertas itu dan menaruh ke atasnya serpihan-serpihan kaca dari atas lantai yang dipungutinya.


"Sudah semua, Shel?" tanya Ardian yang berdiri mengawasi Shella.


"Sudah, Pak, sudah bersih," jawab Shella lalu bangkit dari jongkoknya sambil memegang kertas berisi serpihan kaca. Dilipatnya kertas itu hingga membungkus serpihan kaca lalu menyerahkan pada Ardian, "Ini, Pak," sodor Shella.


"Buang saja ke tong sampah!" Ardian yang merasa enggan menyentuh kertas yang membungkus serpihan kaca itu membuang muka.


"Oh, okelah, Pak," balas Shella lalu membuang bungkusan berisi serpihan kaca itu ke dalam tong sampah kecil yang ada di ruangan Ardian.


Setelah dirasa beres, Ardian pun duduk di kursi yang ada di belakang meja kerjanya, sedangkan Shella berjalan memutar untuk duduk di kursi yang ada di depan Ardian.


Ardian membuka map dan mulai membaca satu per satu sebelum membubuhkan tanda tangan di lembaran yang perlu.


Shella mencuri lihat mimik Ardian. Dilihatnya ekspresi wajah Ardian sudah agak lumayan dibandingkan tadi.


Sudah menjadi sifat Shella ingin mengetahui segala hal, apalagi itu hal yang menyangkut Ardian yang selalu membuatnya penasaran.


"Pak, foto yang di bingkai itu bukankah Pak Ardian sendiri dengan sahabat masa kecil Bapak yang bernama Nia?" dengan memberanikan diri, Shella bertanya.


Ardian mengernyitkan dahi, melirik Shella dengan ujung matanya. "Dari mana kamu tahu?" selidik Ardian curiga.


"He-eh," Shella tersenyum degil. "Mamaku dan Tante Siska kan sahabat baik. Tante Siska yang cerita ke mamaku, di rumahnya ada seorang gadis yang menumpang. Katanya sahabat masa kecil Ardian waktu di Tanjungbalai. Namanya Nia, iya, kan, Pak?" Shella melempar pertanyaan usil sambil tersenyum kecil.


"Tak ada urusannya denganmu," jawab Ardian melengos lalu kembali menekuni berkas-berkasnya.

__ADS_1


"Lha, aku ini kan bukan hanya sekretaris Bapak, tapi juga teman baik yang bisa saling berbagi. Apalagi orangtua kita, mamaku dan mamanya Pak Ardian adalah sahabat baik," kilah Shella.


Ardian tak menjawab. Dia tetap menekuni berkas-berkas di mejanya walaupun telinganya dipasang juga untuk mendengar celotehan Shella.


"Pak, kalau boleh tahu, sekarang Nia, sahabat masa kecil Pak Ardian itu ada di mana? Karena dengar-dengar dari Tante Siska, Nia sementara tak menumpang lagi di rumah Bapak hingga membuat Pak Ardian sedih."


Ardian merasa hatinya berdebar mendengar pertanyaan Shella. Terutama saat nama Nia disebut berulang kali oleh Shella, hatinya bergetar. Ada sentuhan-sentuhan halus seperti gerakan jari-jari manis nan lentik di atas tuts-tuts piano memainkan nada-nada lembut.


Nia... Nia... menyebut nama itu di dalam hati, membuat Ardian terasa sejuk dan tenang. Namun, saat mengingat kepergian Nia yang tiba-tiba di saat hubungan mereka sedang dekat dan mesra-mesranya, membuat hati Ardian kembali bergolak menahan amarah. Walaupun kepergian Nia itu adalah pulang ke Tanjungbalai untuk merawat ibunya yang sakit.


"Pulang kampung," jawab Ardian sekenanya untuk meringankan rasa penasaran Shella.


"Pulang kampung, Pak?" tanya Shella heran. "Maksudnya dia tak akan lagi tinggal di rumah Bapak nanti?"


"Nggak tahu," jawab Ardian jujur. "Rumahnya memang di Tanjungbalai. Dia di rumahku hanya menumpang selama 3 tahun ini karena kuliah di Medan," terang Ardian.


"Oh...," reaksi Shella. "Dia juga sudah tamat kuliah seperti Bapakkah?" Shella masih penasaran.


"Belum," jawab Ardian. "Masih sisa satu tahun lagi."


"Oh, kalau begitu berarti ada kemungkinan dia harus atau akan balik lagi ke Medan untuk melanjutkan kuliah. Bisa saja nanti dia menumpang lagi di rumah Bapak," pendapat Shella.


"Ya, terserah dia mau balik lagi ke Medan atau tidak. Terserah dia mau menamatkan kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi atau tidak. Dan terserah dia mau tinggal menumpang lagi di rumahku atau tidak. Semuanya terserah dia!" ketus suara Ardian.


Shella tersentak. Nih Ardian kok kesalnya sama dia pula? Kenapa tidak langsung telepon ke Nia saja dan marah-marahi gadis itu yang telah meninggalkannya tiba-tiba? Barangkali karena Shella telah memancing keluar amarah yang selama ini disimpan Ardian dalam hati terhadap sahabat masa kecilnya yang bernama Nia itu. Ya salahnya sendiri kenapa begitu ingin tahu masalah Ardian dengan Nia yang seharusnya bukan urusannya.


"Ini, sudah," Ardian menyorongkan map berisi berkas-berkas yang sudah ditantanganinya ke hadapan Shella.


* * *

__ADS_1


__ADS_2