Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Willy Melamar Ayu


__ADS_3

Bab 106


"Duduk di sini saja," kata Ayu sambil menunjuk tempat duduk batu yang ada di taman.


Willy duduk di samping Ayu di tempat duduk batu itu. Di sekeliling mereka adalah pepohonan rindang dan bebungaan indah. Cuaca di senja hari saat matahari hampir tenggelam di ufuk barat terasa sejuk setelah siangnya diterpa terik mentari. Angin berembus sepoi-sepoi menerpa wajah Ayu dan Willy.


"Oke, Wil, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ayu sambil memandang wajah Willy yang duduk di sampingnya.


Willy melihat wajah Ayu sudah lumayan senang dibandingkan sebelum ke taman. Barangkali karena berada di taman yang menyejukkan ditemani rindangnya pepohonan dan indahnya bebungaan membuat hatinya terhibur.


"Aku... mau melamarmu," Willy berkata dengan suara tenang dan perlahan supaya tak mengejutkan Ayu.


Ayu tercekat. Dipandanginya wajah Willy dalam-dalam. Sejenak dia trenyuh. Wajah itu dulu sangat disukainya karena selalu bisa menghibur hatinya dan pemiliknya pun selalu bersedia mendengar keluh kesahnya.


Tapi, entah kenapa setelah Ayu melihat seraut wajah baru yang jauh lebih tampan dan punya latar belakang menjanjikan, wajah itu seolah tersisihkan dari hatinya, berganti wajah baru itu.


Kenapa bisa begitu? Apakah dia sudah berubah hati? Atau selama ini dia tak benar-benar mencintai Willy? Hanya suka padanya karena Willy selalu mengalah, sayang, perhatian, dan mendengarkan semua perintah dan larangannya? Willy juga selalu bisa menghiburnya dan mengurangi kegalauan hatinya dengan mendengarkan segala keluh kesah dan kesedihannya. Bahkan Willy juga tak keberatan Ayu melampiaskan segala kekesalan dan kemarahan hatinya pada dirinya.


Apalagi cuma mengantarjemputnya dan menjadikannya alat transportasi ke mana-mana. Lebih tak keberatan lagi Willy bahkan sangat senang dan ikhlas.


Melihat wajah itu kembali saat ini dan mengingat semua kebaikannya membuat Ayu sedikit tersentuh. Namun tiba-tiba muncul seraut wajah lain di pelupuk matanya. Wajah Ardian yang nyaris sempurna yang menjadi impian para gadis dan latar belakangnya yang membuat gadis mana pun mengharapkannya.


Tidak! Willy melamarku? Jadi, aku harus menerima lamarannya? Menikah dengannya? Menjadi istrinya? Menjadi ibu rumah tangga biasa yang mengurus suami, anak, dan ibu mertua? Atau kalau tidak, tetap melanjutkan menjadi cleaning service untuk seterusnya?


Oh, tidak! Ayu menggeleng-geleng. Itu sama saja dengan dari dulu sampai nanti tetap hidup susah serba kekurangan. Tak ada peningkatan status sosial maupun dalam hal keuangan karena Willy hanya seorang pegawai biasa di panglong. Bukan boss besar yang memiliki perusahaan besar seperti Ardian.


"Bagaimana, Yu? Kamu mau kan?" tanya Willy.

__ADS_1


"Hah? Maksudmu, Wil? Kamu ingin melamarku?" Ayu memperjelas maksud pemuda itu.


"Betul, Yu. Aku mau melamarmu jadi istriku. Bersediakah kamu?" ulang Willy memperjelas kalimatnya


"Tunggu dulu...," Ayu menggeleng-geleng heran. "Kenapa tiba-tiba sekali kamu mau melamarku, Wil? Maksudku, ini terlalu mendadak," senyum Ayu kecut.


"Aku serius, Yu. Sudah kupikirkan aku mau menjadikanmu istri. Milikku seutuhnya," ucap Willy. Ditatapnya Ayu dengan mata penuh harap.


"Tapi ini terlalu mendadak, Wil. Kenapa kamu katakan di taman ini dan di saat aku baru pulang kerja? Kayak aneh begitu. Biasanya melamar itu kan datang ke rumah saat suasana tenang dan santai," kilah Ayu.


"Akhir-akhir ini kamu semakin sibuk. Setiap kali aku ingin bertamu ke rumah kamu menolak. Jadi aku tak punya kesempatan mengutarakannya di rumahmu," jujur Willy.


Ayu terdiam. Memang benar yang dikatakan Willy, dirinya selalu mencari alasan menolak kedatangan Willy ke rumahnya akhir-akhir ini kecuali untuk mengantar jemput saja sampai di halaman rumah tanpa sempat masuk ke dalam. Pantas saja jika Willy mencuri sedikit waktunya sepulang dari kerja dengan mengajaknya ke taman ini mendengarkan maksud hatinya.


"Tapi bagiku ini masih terlalu mendadak, Wil. Umurku masih 17 tahun. Kamu pun masih 19 tahun. Apa nggak terlalu cepat kita menikah?" tanya Ayu.


"Aku merasa sudah siap menikahimu," jawab Willy.


"Aku... sudah punya gaji 4 juta. Itu cukup untuk biaya rumah tangga kita," jawab Willy polos.


Lagi-lagi Ayu tertawa. "Membangun sebuah rumah tangga itu tidak cukup hanya mengandalkan gaji, Wil. Tapi juga perlu mental kuat dan pertimbangan matang. Jangan sampai setelah menikah baru menyesal," Ayu mendengus seperti memberi nasihat bagi dirinya sendiri untuk tidak gegabah menerima lamaran Willy.


"Lalu, harus bagaimana, Yu, supaya kita bisa menikah secepatnya?" Willy menatap pacarnya penuh harap.


"Ya tunggu lagilah," jawab Ayu enteng.


"Aku nggak bisa menunggu lagi, Yu!" ujar Willy agak keras.

__ADS_1


Ayu terhenyak. "Maksudmu? Kenapa tidak bisa?"


""Karena... sudah cukup lama aku menunggu, Yu. Hubungan kita pun sudah terjalin 6 tahun. Lebih baik segera kita lanjutkan ke jenjang pernikahan supaya tak sia-sia kebersamaan kita selama ini," tegas Willy.


Ayu menatap Willy heran. Tatapan matanya menyelidik. Dia merasa Willy agak lain hari ini seolah bukan dirinya yang selama ini menurut, tapi lebih banyak menuntut.


"Tetap tak bisa, Wil. Alasan yang paling mudah, dengan gaji 4 juta tak akan cukup membiayai keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak, ibu mertua, dan 3 adik perempuan," pungkas Ayu.


"Cukup, Yu. Pasti cukup. Kita bukan hanya mengandalkan gajiku, tapi juga gajimu. Adikku yang paling besar, Anna sudah mulai kerja dan bakal ikut meringankan beban keluarga juga. Lalu ibuku juga sering menerima pesanan orang membuat kue," kata Willy mengutarakan pendapatnya.


"Gajiku untuk keperluan ibuku dan adikku, Anjas, Wil. Bukan untuk anggota keluargamu," ingat Ayu.


Willy menunduk, "Aku akan berusaha lebih keras lagi," katanya.


"Ohya? Kamu bisa usahakan supaya kita memiliki rumah sendiri, Wil? Aku tak mau tinggal bareng mertua apalagi bareng 3 adik ipar. Seratus persen kujamin pasti ribut dan nggak cocok. Apalagi kamu tahu sifatku. Aku nggak suka diatur apalagi dikekang," ketus Ayu.


"Aku... tak bisa membeli rumah sendiri. Sementara boleh tinggal bersama ibuku dan adik-adikku. Nanti kita pikirkan lagi cara untuk kredit rumah sendiri. Atau tinggal di kontrakan saja," Willy mengutarakan usulnya.


Ayu tertawa terbahak-bahak. "Tinggal di rumah kontrakan? Kredit rumah sendiri? Oh, gampang sekali kamu bicaranya, Wil! Kemampuanmu untuk itu semua apakah ada? Bisa kamu? Apa kamu tega melihat istrimu menderita gara-gara menikah buru-buru tanpa pikir panjang dan tanpa persiapan? Apa kamu tega melihat istrimu hidup serba kekurangan?"


"Tapi... aku... aku rasa gajiku sudah cukup untuk kita berumah tangga," sanggah Willy. Dia seperti tak mampu lagi memikirkan alibi lain yang lebih kuat. Dia tak mahir mencari kata-kata atau pemikiran bagus yang bisa membuat Ayu percaya atau menerima lamarannya.


"Jangan bicarakan soal pernikahan dulu, Wil, kalau merasa belum siap," kata Ayu.


"Tapi aku...," Willy masih mencoba meyakinkan.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Aku sudah capek mau istirahat," Ayu bangkit menuju sepeda motor Willy yang diparkir.

__ADS_1


Willy pun terpaksa mengikuti langkah Ayu.


* * *


__ADS_2