Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu dan Willy di Mal


__ADS_3

Bab 70.


"Iya, ayolah," jawab Ayu.


Senangnya hati Willy Ayu bersedia jalan-jalan dengannya ke mal di malam Minggu. Tak sia-sia dia gajian hari ini karena bisa mentraktir Ayu makan di kafe.


Tak lama kemudian motor Willy pun sampai di sebuah mal yang besar dan megah. Setelah memarkirkan motornya di pelataran parkir, Willy berjalan bersisian dengan Ayu menuju bagian dalam mal.


Karena perut sudah lapar, mereka tak lagi membuang waktu untuk mengelilingi mal, melainkan langsung masuk ke dalam sebuah kafe yang ada menjual nasi goreng, mie goreng, dan lain-lain.


"Kamu mau makan apa, Yu?" tanya Willy yang duduk di depan Ayu. Meja yang mereka pilih berbentuk bundar kecil dan cukup untuk 4 orang.


"Nasi goreng saja,Wil," jawab Ayu simpel.


Walaupun dia tahu pacarnya gajian, tapi Ayu tidak mau meminta yang mahal-mahal atau meminta dibelikan barang-barang mewah. Ayu mengerti kondisi keuangan Willy yang biasa-biasa saja dan dia pun tak tega memboroskan duit pacarnya itu.


Namun yang dilupakan Ayu adalah bahwa dia sudah tega menyimpan laki-laki lain di hatinya yaitu Ardian, padahal Willy selama bertahun-tahun ini sudah sangat baik padanya.


Ayu tak akan tahu bagaimana sakit dan perihnya hati Willy suatu saat nanti bila dia tahu gadis yang dicintainya yang menjadi pacarnya selama bertahun-tahun ini ternyata tega menyelingkuhinya. Terlebih lagi, andai saja Willy tahu Ayu lebih memilih cowok itu daripada dirinya yang telah begitu setia. Bahkan Ayu pun benar-benar telah jatuh cinta dan sangat menyukai cowok itu.


"Kamu mau peralatan make up baru, Yu? Lipstik baru, baju baru, tas baru, atau lainnya, biar aku belikan," tawar Willy sebelum pesanan mereka datang.

__ADS_1


Ayu tersenyum. "Nggak usah,Wil, masih bisa dipakai yang lama," jawab gadis itu. Walaupun pikirannya melayang pada Ardian, namun Ayu bisa berakting dengan baik di depan Willy. Dia tampak seperti seorang kekasih yang mengerti dan menghargai pasangannya.


"Oh," Willy terdiam dan tak bicara lagi sampai pesanan nasi goreng mereka datang. Cowok itu juga memesan 2 mangkuk es teler untuk dirinya dan Ayu.


Begitulah malam Minggu kali ini dilalui Ayu dan Willy di mal. Willy membawa Ayu jalan-jalan ke departmen store selepas mereka makan di kafe. Walaupun tidak membeli apa-apa tapi mereka melihat-lihat di sana.


Willy juga membawa Ayu nonton di Cinema-21 yang ada di mal itu. Kali ini Ayu juga menerima tawaran Willy karena hatinya memang sedang masgul alias tak bersemangat dibuat Ardian.


Dengan jalan-jalan bersama Willy, hati gadis itu sedikit terhibur. Ini lumayan mengurangi kesedihan hatinya karena sikap Ardian yang dingin padanya selama beberapa hari ini hanya karena dia memecahkan bingkai foto di atas meja kerjanya.


Ayu tak bisa berkonsentrasi menonton film di layar lebar yang tayang di depannya. Pikirannya 70 persen melayang pada Ardian.


Gadis itu berpikir Ardian saat ini pasti sudah sampai di Tanjungbalai karena ini sudah pukul 8 malam. Lalu di mana dia akan menginap bersama Shella? Di hotelkah? Atau langsung mencari Nia dan menumpang nginap di rumahnya? Bagaimana perasaan Ardian setelah bertemu dan melihat Nia? Apakah mereka saling berpelukan melepas rindu? Apakah Ardian benar-benar sudah melupakannya saat memeluk Nia?


Namun Willy yang duduk di sampingnya dan selalu memperhatikan juga mencuri pandang padanya sedari tadi tentu saja tahu gadis itu menangis. Dia sangat kaget karena film yang mereka tonton tidak dalam scene sedih. Lalu kenapa Ayu menangis?


"Yu? Kamu kenapa?" pemuda itu tak bisa menahan keingintahuannya akan gadis itu. Walaupun dia merasa sungkan bertanya, namun rasa ingin tahu dan perhatiannya ke gadis itu lebih besar lagi.


"Filmnya sedih," kata Ayu sekenanya. Dia tak tahu dengan jelas isi dan jalan cerita film yang sedang ditontonnya. Andai saja dia tahu film itu tidak dalam scene sedih, masihkah bisa dia berbohong?


Willy meraih tangan gadis itu perlahan dan menggenggamnya lembut. Dia seolah hendak memberikan penghiburan dan kekuatan bagi gadis itu. Matanya tak bisa lagi lepas dari wajah Ayu yang duduk di sampingnya. Kalau tadi dia hanya bisa menikmati film itu 50 persen karena terus menerus memperhatikan dan mencuri pandang pada Ayu, maka kini Willy hampir tidak bisa lagi menikmati film itu karena perhatiannya sepenuhnya sudah tertumpah ke Ayu.

__ADS_1


"Kita keluar saja, Yu, kalau filmnya membuatmu sedih," prihatin Willy.


Ayu menggeleng. "Tunggu saja sampai usai," ujar Ayu sambil menyusut air matanya.


Willy tak berkata lagi. Dia hanya menuruti kemauan gadis itu dan tetap duduk di kursinya di samping Ayu sampai film itu selesai walaupun mereka berdua sama-sama tak bisa lagi menikmati film itu.


Satu jam kemudian film pun usai. Ayu dan Willy melangkah keluar dari dalam studio film bersama para pengunjung yang lumayan membludak.


"Kita mau ke mana sekarang, Yu?" tanya Willy yang melihat jam di tangannya menujukkan pukul 9 malam. Walaupun sudah malam namun Willy belum mau cepat-cepat pulang karena itu artinya dia tak akan bisa lagi berada di dekat-dekat Ayu kalau sudah mengantar gadis itu pulang.


"Kita langsung pulang saja, Wil," jawab Ayu.


"Oh... tunggu sebentar, Yu, aku mau beli beberapa potong roti untuk kamu bawa pulang kasih ibu dan adikmu Anjas," ujar Willy bagai teringat.


Mendapat tawaran tulus seperti itu, Ayu pun mengangguk.


Willy berhenti di depan sebuah toko roti yang menjual berbagai macam roti yang tampak lezat. Harum roti yang baru dipanggang yang tercium dari toko roti itu membuat perasaan Ayu tiba-tiba terasa tenang dan nyaman. Sungguh aroma wangi yang menggugah.


Willy memilih 5 potong roti rasa keju, coklat, coklat keju, pisang keju, dan coklat pisang untuk dibawa pulang Ayu. Roti-roti itu dikemas dalam plastik masing-masing.


Willy harus mengeluarkan kocek sekitar 50 ribu untuk membeli 5 potong roti. Ditambah tiket nonton dan makan berdua di kafe tadi kira-kira sudah menghabiskan duitnya 350 ribu yang berasal dari gajinya bulan ini. Namun Willy merasa sangat puas karena bisa bersama gadis yang dicintainya jalan-jalan, makan, dan nonton.

__ADS_1


Setelah merasa tak ada lagi yang mau dibeli atau tak ada lagi tujuan lain, Ayu dan Willy pun berjalan keluar dari mal menuju sepeda motor yang diparkir di pelataran yang akan membawa mereka pulang.


* * *


__ADS_2