Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Lisa Tiba di Rumah Nia


__ADS_3

Bab 114


"Baiklah, Bu, aku akan ke Medan dalam beberapa hari ini. Semoga Lisa bisa segera datang menemani Ibu," harap Nia.


Bu Rani tersenyum. "Syukurlah, semoga masalahmu dengan Ardian bisa segera teratasi ya, Nia," katanya.


"Iya, Bu," angguk Nia.


Beberapa hari kemudian, gadis yang bernama Lisa tiba di rumah Nia. Orangnya bertubuh sedang, berwajah manis, dan berambut sebahu.


Dia menyapa Bu Rani dan Nia dengan ramah. Bu Rani dan Nia pun menyambutnya dengan sukacita.


"Kenalkan, ini Nia, putri Ibu," kata Bu Rani saat Lisa sudah masuk ke dalam rumah dengan sebuah koper besar berisi pakaian dan barang-barang lain miliknya.


"Lisa," dia mengulurkan tangan sambil menyebut namanya saat bersalaman dengan Nia.


"Senang berkenalan denganmu. Aku Nia," balas Nia sambil tersenyum kecil.


"Aku juga. Semoga kita bisa jadi saudari angkat yang cocok ya, Nia," Lisa menatap Nia lekat. Dia memperhatikannya dengan cermat. Anak Bu Rani ini lembut dan cantik, kesan pertama Lisa.


Seandainya saja Lisa tahu, selain lembut dan cantik, Nia juga punya hati yang baik, sabar, dan berbakti pada orangtua.


"Lisa bisa masukkan kopernya ke dalam kamar Ibu," Bu Rani mempersilakan tamu yang baru datang itu menaruh koper besarnya ke dalam kamar.


"Oh, jadi aku tidur di mana, Bu?" tanya Lisa.


"Tidur bersama Ibu saja, Lisa. Kamar Ibu cukup untuk kita bertiga bersama Nia," Bu Rani tersenyum dan mengangguk.


Lisa melirik Nia yang berdiri di sampingnya. "Kamu nggak merasa kesempitan kan kalau aku tidur di kamarmu, Nia?" tanyanya bernada segan.


Nia menggeleng kecil sambil tersenyum tipis, "Nggak, Lisa. Aku malah senang dapat teman bicara yang sebaya. Tapi beberapa hari lagi pun aku akan ke Medan mengurus beberapa hal."


"Oh... iya, aku memang diberitahu Bu Wenny kamu akan ke Medan dan karena itu Ibu tak ada yang temani."


"Betul, Lisa. Kamu mau ya bantuin aku temani dan urus Ibu selama aku di Medan?" pinta Nia.

__ADS_1


"Mau sekali, Nia," jawab Lisa.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Nia.


"Nggak apa-apa. Aku ngajar di sekolah cuma setengah hari. Pagi-pagi aku akan urus dan masak untuk Ibu dulu sebelum berangkat ngajar. Siangnya sudah balik. Dan sorenya kan bisa beres-beres rumah. Kamu tenang saja," Lisa mengedipkan sebelah mata.


"Terima kasih, Lisa," ucap Nia tulus.


"Kok bilang terima kasih, Nia? Aku malah yang harus berterima kasih karena diperkenankan tinggal di rumah ini jadi tidak kesepian lagi di rumah sendiri," Lisa tersenyum.


Nia pun tersenyum. Dia membantu Lisa mengangkat koper besarnya ke dalam kamar. Sementara Bu Rani yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka pun tersenyum lega melihat Nia dan Lisa bisa cepat akrab walaupun baru berkenalan hari ini.


Bu Rani mengikuti Nia dan Lisa masuk ke dalam kamar. Dia meletakkan tongkat penumpunya di samping dinding lalu duduk di tepi ranjang.


"Lisa belum makan ya? Di dapur ada nasi dan lauk yang tadi dimasak Nia. Boleh ke sana makan dulu baru mandi," kata Bu Rani.


"Iya, Bu. Makasih. Ibu dan Nia sudah makan?" tanya Lisa balik.


"Sudah, Lis," jawab Nia. "Biar aku temani kamu ke dapur," ajak Nia setelah Lisa menaruh kopernya di dekat lemari. "Ohya, baju-bajumu nanti boleh susun ke dalam lemari baju ini," Nia membuka lemari baju 2 pintu yang memuat baju-bajunya dan baju-baju ibunya. Masih ada sisa 2 rak lagi di dalam lemari itu yang bisa untuk ditaruh baju-baju Lisa.


"Nggak kok, Bu. Tadi pulang ngajar masih sempat tidur siang sebentar di rumah. Setelah itu baru kemas baju dan barang-barang ke dalam koper," jawab Lisa. "Cuma memang belum sempat makan langsung ke sini."


"Nah kan, belum makan. Pergilah ke dapur sekarang. Biar Nia temani kamu makan," suruh Bu Rani.


"Iya, Bu," jawab Lisa.


Nia pun membawa Lisa ke dapur dan membuka tudung saji di atas meja. Tersedia lauk dan nasi yang tadi dimasak Nia dan sore ini bisa dimakan Lisa yang kebetulan sedang lapar.


"Ambil saja nasi dan lauknya sesukamu, Lisa. Nggak usah segan," kata Nia.


"Iya, makasih, Nia," balas Lisa.


Lisa mengambil tempat duduk di kursi makan sementara Nia mengambilkan piring dan sendok unruknya.


"Semua peralatan dapur ada di sana," tunjuk Nia memberi tahu Lisa. "Juga bahan-bahan untuk memasak seperti minyak, garam, kecap, gula, dan lain-lain."

__ADS_1


Lisa mengangguk. "Iya, Nia. Tenang saja, aku pasti akan memasak makanan yang bergizi untuk Ibu. Kamu bisa tenang di Medan." Lisa menyendok nasi yang ada di baskom yang terletak di atas meja.


"Makan dulu Lisa. Nanti baru kita ngobrol lagi," Nia menarik kursi yang ada di seberang Lisa dan duduk di sana.


"Kamu tidak ikut makan, Nia?" tanya Lisa sebelum melahap nasinya.


"Aku sudah makan tadi sama Ibu," jawab Nia.


"Kalau begitu aku makan dulu ya," izin Lisa.


"Iya, silakan," Nia mengangguk lalu duduk dengan khidmat di kursi yang berada di belakang meja makan.


"Enak sekali masakanmu, Nia," puji Lisa di sela-sela makannya.


"Biasa saja, Lis," Nia merendah. Dia melihat Lisa makan dengan lahap lalu pun mereka tak bicara lagi sampai Lisa selesai makan.


Setelah itu Nia membereskan meja dan piring. Lisa memperhatikan gerak-gerik Nia di dapur dan mengingatnya supaya besok-besok dia bisa meniru apa yang dilakukan Nia saat Nia meninggalkan rumah.


Sehabis membereskan meja dan piring, Nia dan Lisa kembali ke kamar. Mereka bertiga kembali duduk mengobrol.


"Jadi rencananya kamu kapan akan ke Medan, Nia?" tanya Lisa.


"Barangkali dalam 2-3 hari ini," jawab Nia. "Aku masih harus menunggu Riko datang dulu untuk memberitahukan padanya perihal diriku yang akan balik ke Medan."


"Siapa, Riko?" Lisa ingin tahu.


"Oh, dia temanku semasa SMA dulu yang sering datang ke rumah menjenguk Ibu," beri tahu Nia. "Selama setahun ini dia sudah banyak membantu kami. Mana tahu setelah aku ke Medan dia datang lagi, kamu harus menyambut dan memperlakukannya dengan baik ya, Lis, karena aku dan Ibu berutang budi padanya," jelas Nia.


"Oh, bereslah kalau begitu," jawab.Lisa sambil menunjukkan isyarat okey dengan jari-jari tangannya.


Bu Rani tersenyum lega melihat Nia dan Lisa yang tampak cocok dan bisa akrab padahal baru sehari bertemu. Mereka mirip kakak beradik kandung yang sedang asyik bercakap-cakap sampai melupakan sekeliling.


Malamnya setelah semua pekerjaan beres, Nia dan Lisa baringan di kamar tidur bersama Bu Rani sambil bercerita panjang lebar. Sampai larut malam saat kantuk tak tertahankan lagi barulah ketiganya jatuh tertidur.


* * *

__ADS_1


__ADS_2