
Bab 119
"Siapa itu, Ardi?" tanya Nia dengan suara kecil. Matanya bersirobok dengan mata Ayu yang berkaca-kaca dalam kilatan amarah dan cemburu.
"Dia...," Ardian memandang Ayu lagi. Tapi buru-buru mengalihkan pandangannya karena hatinya berdebar keras melihat ekspresi wajah Ayu yang dirasanya mengerikan.
Rona wajah Ayu merah padam seperti gunung berapi yang akan meletus. Sorot matanya dipenuhi bara api selaksa lahar panas yang hendak muncrat keluar. Namun yang paling menyakitkan bagi Ardian adalah bola matanya yang berkaca-kaca dipenuhi manik-manik air mata. Ardian tak kuasa menatapnya lama-lama.
"Nanti aku jelaskan. Ayo kita ke depan dulu, Nia. Kamu kan masih capek baru datang jauh-jauh, biar istirahat di ruang tamu saja," Ardian menggenggam tangan Nia dan menggandengnya keluar dari dapur.
Tanpa menoleh lagi, Ardian membawa Nia meninggalkan Ayu yang masih menatap mereka dengan sorot mata dan rona wajah penuh gejolak.
Tinggallah Ayu seorang diri di dapur berdiri melongo bagaikan baru tersadar dari mimpi.
Nia dan Ardian sudah sampai di ruang tamu. Ardian segera menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menarik tangan Nia untuk duduk di sampingnya.
"Sudah lama sekali," kata Ardian. "Kenapa kamu datang tidak kabari aku dulu?" sesal Ardian.
"Aku... aku tak ingat nomor hp-mu," jujur Nia.
Ardian terpana. "Lho, kan ada nomor hp-ku di WA android-mu?" reaksi Ardian heran.
"Iya... memang ada. Tapi hp yang kamu belikan untukku itu sudah kujual untuk biaya berobat ibuku. Sori ya, Ardi," jelas Nia.
"Hah?" Ardian pun seolah tersadar akan sesuatu yang selama ini terasa mengganjal di hatinya. Soal dia yang beberapa kali menelepon ke WA Nia dan yang menjawab adalah seorang cowok bernama Riko.
__ADS_1
"Maksudmu... hp yang kubelikan itu tidak ada di tanganmu?" Ardian memperjelas.
"Iya, Ardi. Sudah hampir setahun aku tak pegang hp, jadi aku tak bisa mengabarimu akan kedatanganku hari ini," jawab Nia.
Ardian pun semakin sadar akan kesalahsangkaannya pada Nia selama ini. "Jadi, hp-mu sekarang di mana? Kok aku telepon ke sana, ada seorang cowok yang menjawabnya?" selidik Ardian.
"Iya. Hp yang kamu belikan itu terpaksa kujual pada Riko, teman SMA-ku dulu. Dia membelinya dengan harga lumayan tinggi jadi aku bisa menggunakan uang itu untuk membayar biaya berobat ibuku," terang Nia lagi.
Ardian pun semakin jelas akan kesalahpahamannya pada Nia selama ini. Jadi cowok yang bernama Riko itu bisa menjawab telepon dari Ardian karena hp Nia sudah dibelinya. Hp Nia ada di tangannya.
Tapi... cowok itu mengaku-ngaku sebagai pacar Nia dan juga bisa memperlihatkan bukti foto-foto berduanya dengan Nia. Dan Ardian juga memergoki Nia bersama seorang cowok yang kemungkinan besar adalah Riko saat Ardian ke Tanjungbalai mencari Nia beberapa waktu lalu.
Jadi... apakah benar Riko itu pacar barunya Nia? Ardian meneguk ludah. Dia sangat ingin bertanya langsung pada Nia saat ini namun dia takut mendengar jawabannya. Soalnya foto-foto berdua Nia dengan Riko ditambah hubungan mereka yang tampak akrab waktu kepergok Ardian sedang jalan-jalan di tepi sungai Asahan itu, membuat Ardian sangsi.
"Kenapa, Ardi?" tanya Nia, menatap wajah Ardian yang seperti penasaran mendengar ceritanya. "Ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Teman SMA-mu itu... maksudku Riko, apakah hubungan kalian sangat dekat?" Ardian bertanya sambil menahan napas.
Nia tercekat. Dia tak terpikir Ardian akan menanyakan hubungannya dengan Riko. Apakah Ardian mencurigainya?
"Aku... maksudku kami... semenjak dia tahu kondisi kesehatan ibuku, dia sering datang ke rumah menjenguk ibuku dan membawa kami jalan-jalan dengan mendorong Ibu yang duduk di atas kursi roda," cerita Nia.
"Oh...," Ardian pun berusaha menghubungkan cerita Nia itu dengan pemandangan yang dilihatnya saat ke Tanjungbalai mencari Nia dan mendapati rumahnya kosong. Ardian memergoki Nia, Riko, dan ibunya sedang jalan-jalan di tepi sungai Asahan dan ketiganya terlihat sangat akrab.
"Oh, jadi hubunganmu dengan Riko sangat akrab, Nia?" Ardian tak mampu menahan rasa ingin tahunya.
__ADS_1
"Hah?" Nia melongo. "Akrab karena Riko sering datang ke rumah menjenguk Ibu dan Ibu juga senang karena dia mau membawa kami jalan-jalan," jelas Nia.
"Itu terhadap ibumu. Bagaimana terhadapmu?" penasaran Ardian.
"Aku?" Nia menunjuk hidungnya.
"Iya, bagaimana Riko terhadapmu? Atau kamu terhadap Riko?" tanya Ardian langsung to the point.
"Riko sangat baik pada kami, Ardi. Kalau tak ada dia, aku tak tahu bagaimana jadinya aku dan ibuku yang sakit. Dia sudah banyak membantu kami selama setahun ini dengan membiayai pengobatan Ibu. Dia juga selalu membawakan banyak barang keperluan kami sehari-hari jadi aku tak perlu pusing lagi memikirkan duit untuk membeli ini itu karena aku kan tak kerja dan simpanan kami juga sudah habis. Jadi berkat bantuan Riko, ibuku bisa mendapat pengobatan yang baik dan sembuh banyak. Juga aku bisa konsentrasi menjaga beliau," terang Nia panjang lebar.
Ardian pun mulai mengerti akan latar belakang pemandangan yang dilihatnya di Tanjungbalai waktu itu. Ternyata itu jawabannya. Itu alasannya Nia tampak akrab dengan Riko saat Ardian memergoki mereka.
"Jadi bagaimana perasaanmu pada Riko?" tanya Ardian sambil menatap Nia tajam.
Nia terperangah. Ardian sedang menyelidikinya lagi. Tapi walau begitu, Nia berusaha menjawab jujur. "Perasaanku pada Riko hanya bersyukur, berterima kasih, dan berutang budi. Dia seperti dikirimkan buat menolong kami di saat susah, Ardi."
Ardian menarik napas panjang. Lega rasanya mendengar pengakuan jujur dari gadis itu. "Syukurlah, Nia," kata Ardian sambil menggenggam telapak tangannya. Dia memandang gadis yang duduk di sampingnya itu dengan perasaan rindu dan plong. "Kupikir kamu sudah melupakanku gara-gara cowok yang bernama Riko itu. Malah kupikir dia pacar barumu," Ardian pun tertawa lepas setelah berkata begitu.
Nia tersenyum kecut. "Kenapa kamu berpikir begitu, Ardi?" Nia menggengam balik telapak gangam Ardian dengan tangannya yang satu lagi. "Aku tentu saja masih mengingatmu. Malah kupikir kamu yang sudah melupakanku karena tak pernah pulang ke Tanjungbalai menjumpaiku. Aku pun hampir salah sangka kalau saja Bu Wenny tak cerita."
"Bu Wenny? Cerita?" Ardian mengeryitkan dahi.
"Iya, Bu Wenny, tetangga kita dulu. Dia bilang bertemu denganmu di rumah makan dan kamu bilang sedang mencariku. Iya kan, Ardi?"
"Oh...," Ardian pun mengingat kembali pertemuannya dengan tetangga lamanya itu waktu ke Tanjungbalai bersama Shella beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Karena cerita Bu Wenny itu, aku jadi datang mencarimu. Karena kalau kamu mencariku sampai ke Tanjungbalai berarti kamu masih mempedulikanku, Ardi," tandas Nia.
* * *