
Bab 90
"Tok-tok-tok!" Ayu mengetuk pintu setelah turun dari mobil yang diparkir Ardian di halaman rumahnya. "Bu...! Ibu...!" panggil Ayu.
Ibu Ayu terbangun. Mendengar suara Ayu memanggil, dia buru-buru bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Dibukanya pintu itu dan wajah yang ditunggu kepulangannya pun nongol di sana. "Yu, syukurlah, kamu sudah pulang," katanya lega. Diperhatikanya putrinya itu yang tak kurang satu apa pun lalu dilihatnya mobil Ardian yang melaju pergi.
"Ke mana saja kamu, Yu? Kok lama sekali?" Ibu Ayu melihat putrinya meraih bungkusan-bungkusan besar berisi barang-barang belanjaan dari mal.
Tadi Ardian membantu Ayu membuka bagasi mobil dan memindahkan barang-barang tersebut ke samping pintu. Setelah itu Ardian cepat-cepat balik ke mobil dan menunggu pintu dibuka lalu dia pun pergi.
Ardian sengaja tak menunggu sampai ibu Ayu membuka pintu karena dia sadar sudah membawa Ayu pergi sampai larut malam. Mana tahu ditegur atau dibilang lain kali tak boleh lagi pergi berdua.
"Wah, banyak sekali barang-barang belanjaanmu, Yu!" seru ibunya. "Ini semua barangmu?" tanyanya tak percaya.
"Iya, Bu, semua ini dibelikan Pak Ardian," jawab Ayu sambil memasukkan barang-barang tersebut ke dalam rumah. Ibunya membantunya.
"Masa? Dia belikan semua barang ini untukmu? Wah, banyak sekali, Yu. Tampaknya mahal. Habis berapa duit ini?" ibu Ayu melihat-lihat sekejap isi dalam bungkusan.
"Sekitar belasan juta adalah, Bu. Terus sama hp yang terbaru ini, harganya 7 juta. Dua puluh juta jugalah," dengan entengnya Ayu mengeluarkan hp android yang ditaruh di kantongan karton khusus hp tadi dan memperlihatkan pada ibunya.
"Wah, wah, royal sekali boss-mu! Memboroskan duit begitu banyak hanya untuk shoping semua barang ini? Lalu kenapa harus beli hp yang gitu mahal?" ibu Ayu menggeleng-gelengkan kepala. "Ck-ck-ck. Dasar orang kaya tak sayang duit. Tak tahu kalau duit itu susah carinya."
"Orang kaya kan gampang cari duit, Bu, makanya mereka boros," Ayu tersenyum.
"Hahaha, iya juga," ibunya pun tertawa sambil mengunci pintu rumah. Barang-barang belanjaan Ayu sudah ditaruh di di ruang tamu.
"Mau dipindahkan ke kamar nggak, Yu? Ohya, kamu sudah makan?" tanya ibunya bagai teringat. "Masih ada sisa makanan Ibu sediakan untukmu."
"Sudah, Bu. Di mal tadi. Ohya, barang-barangnya taruh di sini saja dulu karena ada barang-barangnya Ibu dan Anjas juga," beri tahu Ayu.
__ADS_1
"Oh, kamu ada beli untuk Ibu dan Anjas jugakah?" surprais ibunya.
"Bukan aku yang beli, Bu. Tapi Pak Ardian. Semuanya pakai duit Pak Ardian. Ya jelaslah ada bagian Ibu dan Anjas. Nanti kita lihat sama-sama ya, Bu. Aku mau mandi dulu."
Ayu bergegas menuju ruang belakang rumah. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Saat keluar dari kamar mandi, dia melihat ibunya sedang duduk menunggunya di kursi makan. Ayu keluar dengan selembar handuk putih membelit di dadanya.
Lho, Ibu kok nunggu Ayu?" tanya Ayu sambil terkekeh. Dia berjalan menuju kamar tidur dan mengenakan baju tidur. Ibunya menguntit di belakangnya.
Waktu Ayu mengenakan baju tidur, ibunya memperhatikannya dengan cermat. Seolah-olah ingin memastikan kalau putrinya itu tak kurang satu apa pun.
"Kenapa, Bu? Kok lihati aku seperti itu?" tanya Ayu heran.
"Ibu mau memastikan kalau kamu tak kurang satu apa pun," jawab ibunya.
"Maksud Ibu?" Ayu tak mengerti.
"Maksud Ibu, apakah Pak Ardian meminta imbalan darimu karena dia sudah menghabiskan begitu banyak duit untukmu?" mata ibunya menyelidik.
"Itu lho, misalnya seperti ini," ibu Ayu menunjuk bibirnya, pipinya, lalu lehernya.
Ayu menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Nggaklah, Bu. Pak Ardian nggak berbuat apa-apa sama Ayu."
"Oh... syukurlah," ibunya bernapas lega. Rasanya sulit percaya Ayu punya boss sebaik itu. Rela menghabiskan duit dua puluh juta dalam sekejap hanya untuk seorang karyawan tanpa meminta imbalan apa-apa. Apakah mungkin dia tak mengharapkan keuntungan dari Ayu?
"Kenapa, Bu? Ibu tak percaya padaku?Atau Ibu tak percaya pada Pak Ardian?" Ayu berjalan mendekati ibunya dan duduk di sampingnya di tepi ranjang.
"Percaya, Yu. Ibu percaya padamu," ibunya mengelus kepala Ayu lalu memeluk kepala putrinya itu.
Ayu menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. Dia merasa nyaman di sandaran ibunya. Segala kelelahan tadi akibat bertengkar dengan Riana hilang sudah. Berganti dengan rasa nyaman dan tenang.
__ADS_1
"Kenapa Pak Ardian membelikanmu barang sebanyak itu, Yu?" tanya ibunya lalu mengelus lengan putrinya.
"Nggak tahu, Bu. Pak Ardian menyuruhku mengambil barang-barang yang kusuka. Juga barang-barang yang diperlukan Ibu dan Anjas."
Ayu melepaskan kepalanya dari bahu ibunya, membalas tatapan mata ibunya yang penuh kasih sayang.
"Ayu belikan untuk Ibu beberapa stel baju rumah, baju pesta, dan tas sekolah untuk Anjas. Juga ada beberapa stel baju yang ber-merk untuk Anjas. Berikut celana jeans-nya juga dari merk terkenal. Lalu ada juga sepatu baru untuk Anjas dan dompet berkwalitas untuk Ibu," terang Ayu.
"Wah... terima kasih, Yu. Kamu masih ingat membelikan untuk Ibu dan adikmu, Anjas," ibunya terharu.
"Pak Ardian yang menyuruhku membelikan untuk Ibu dan Anjas. Katanya, ambil sesukanya saja. Hahaha," Ayu tak mampu menahan tawanya.
Ibu Ayu juga tertawa. Dia mencubit pipi putrinya. "Kamu beruntung disayang boss-mu. Lalu kamu tahu kenapa dia begitu baik padamu?"
"Nggg...," Ayu berpikir sejenak. "Oh, aku ingat. Karena dulu aku pernah menyelamatkannya waktu dia berada di lapangan proyek yang sedang dibangun."
"Menyelamatkan gimana, Yu? Kamu kok nggak pernah cerita?" ibu Ayu penasaran.
"Aku lupa cerita ke Ibu," jawab Ayu.
"Gimana kamu menyelamatkannya?" ibunya ingin tahu.
"Begini, Bu. Waktu itu Pak Ardian sedang berdiri di lapangan proyek. Dia menerima telepon dari seseorang dan berdiri di bawah bangunan tinggi. Tiba-tiba alat berat yang di atas bangunan tinggi jatuh. Aku melihatnya dan langsung berlari menyelamatkannya," cerita Ayu.
"Wah! Bahaya sekali, Yu! Kamu berlari menahan alat berat itukah? Atau gimana?" ibunya tak mengerti.
"Nggak, Bu. Aku berlari cepat dan mendorong tubuh Pak Ardian sampai jatuh ke tanah sehingga alat berat itu jatuhnya meleset ke tanah, tidak kena Pak Ardian," jelas Ayu.
"Oh, begitu rupanya," ibunya manggut-manggut. "Jadi karena itu dia begjtu baik padamu. Mungkin hari ini dia ingin membalas budimu."
"Iya, Bu. Semenjak insiden di lapangan proyek itu, Pak Ardian jadi baik dan perhatian padaku. Dia bersimpati mendengar ceritaku yang terpaksa berhenti sekolah dan mencari kerja untuk meringankan beban Ibu."
__ADS_1
Ibunya mendengarkan cerita Ayu dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu dan merasa kagum pada putrinya. Ternyata putrinya itu sangat pandai mencuri simpati orang.
* * *