Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Membawa Ayu ke Rumah


__ADS_3

Bab 116


Medan, rumah villa Ardian.


"Ini rumahmu, Pak?" Ayu membelalakkan mata. Hatinya berdebar keras melihat sebuah villa besar, mewah, dan megah di kompleks pervilaan elit yang baru dikunjunginya.


"Iya, Yu, ayo kita masuk," jawab Ardian yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman villa. Dia melepaskan safety belt yang melingkari bahu dan dadanya lalu membuka pintu mobil.


Ayu pun mengikuti gerakan Ardian itu dan turun dari mobil. Kakinya terasa gemetar saat menginjak tanah di halaman villa. Hatinya masih berdebar seperti terguncang melihat pemandangan menakjubkan di depannya.


Seumur hidup Ayu belum pernah menginjakkan kaki apalagi masuk ke villa mewah seperti villa Ardian ini.


Walaupun kadang lewat di kawasan elit pervilaan yang ada di tengah kota alias di tepi jalan saat dibonceng Willy, namun Ayu hanya melihati villa-villa itu sekilas karena tak pernah berpikir akan bisa masuk ke sana suatu hari nanti. Ternyata hari yang tak pernah dinanti itu adalah hari ini. Hari yang bahkan dalam impiannya pun tak berani dia pikirkan.


"Ayo masuk, Yu. Kenapa bengong?" Ardian berjalan ke sampingnya dan menggandeng tangannya.


Ayu yang sedang berdiri terpaku memandangi sekitaran villa pun tersadar. Dia tersenyum kikuk dan mengikuti langkah Ardian menuju pintu utama villa.


"Sunyi sekali, Pak," kata Ayu begitu kakinya menapak di lantai mengkilap villa itu.


Dia melihat isi dalam villa yang semuanya terdiri dari barang-barang dan perabotan mahal. Desain ruang-ruang yang ada di dalamnya terlihat menarik dan eksklusif. Bahkan tatanannya pun terlihat rapi dan bersih.


Ardian menarik tangan Ayu untuk menyadarkan gadis itu yang seperti takjub melihati isi dalam villa.


"Masuklah, Yu. Biar aku tunjukkan," Ardian menggandeng tangan Ayu untuk masuk menyusuri setiap ruangan.


Mata Ayu terbeliak kagum dan hatinya berdebar senang saat Ardian membawanya mengunjungi setiap ruangan. Memperkenalkan ruang-ruang yang ada di villa miliknya itu layaknya mempromosikan pada pembeli yang berminat membeli rumahnya.

__ADS_1


"Ini kamarku," kata Ardian saat mereka sampai di satu ruang yang sangat besar.


Ayu masuk ke dalam dan memandang sekeliling kamar yang tampak mewah dan eksklusif. Tatanannya juga rapi dan bersih.


"Bagus sekali kamarmu, Pak Ardian," puji Ayu. "Siapa yang bersihkan kamar ini, Pak?" tanyanya ingin tahu.


"Oh... biasanya Bik Aini yang sudah belasan tahun bekerja di sini. Cuma karena Bik Aini pulang kampung dan lama nggak balik, jadi sementara Nana yang menggantikan tugasnya," jawab Ardian.


"Nana siapa, Pak?" tanya Ayu penasaran.


"Nana yang biasa bertugas di gedung perusahaan dipindahkan ke sini oleh Shella saat kamu dipindahkan dari proyek ke perusahaan," jelas Ardian.


"Oh...," Ayu pun manggut-manggut. "Rumah Pak Ardian ini sunyi sekali. Nggak nampak ada siapa pun di sini kecuali bapak yang agak tua di dekat gerbang tadi yang membukakan pintu untuk kita," kata Ayu.


'Iya, Yu. Itu Wak Amat, suaminya Bik Aini. Dia masih setia bekerja di sini padahal istrinya sudah lama balik kampung. Barangkali Bik Aini merasa kesepian karena papaku dan Mama Siska sudah lama pindah tinggal ke luar negeri dan lama nggak balik. Aku lebih sering di kantor dan jarang di rumah. Sementara Nia...," Ardian tercekat. Kaget kenapa dirinya bisa tiba-tiba menyebut nama Nia walaupun setelah itu ucapannya menggantung.


Bukan apa. Dari cerita Shella dia tahu kalau Nia itu adalah gadis yang sangat berarti bagi Ardian. Ardian sangat marah dan bersikap dingin padanya selama beberapa hari saat dia memecahkan bingkai foto masa kecil Ardian bersama Nia. Ardian juga pernah sengaja ke Tanjungbalai bersama Shella untuk mencari sahabat masa kecilnya itu.


Saat Ardian ke Tanjungbalai itu, hati Ayu sangat gelisah dan dipenuhi rasa cemburu. Dia sangat takut Ardian bertemu dan baikan lagi dengan Nia hingga dirinya menjadi bukan siapa-siapa lagi di mata para karyawan lain.


Ardian melirik mata Ayu. Dia menyadari ada suatu gejolak yang lain di mata itu. Seperti cemburu. Padahal beberapa bulan lalu saat mereka bersama para karyawan merayakan old and new di Berastagi, Ayu malah menyarankan Ardian menelepon Nia. Saat itu, Ayu terlihat sangat tulus tanpa emosi negatif.


Masih diingat Ardian, walaupun Ayu harus membereskan villa yang berantakan sampai larut malam dan kehabisan tempat tidur di kamar, dia rela tidur bersandar di dinding yang ada di luar kamar Ardian. Bahkan saat udara malam yang sangat dingin di Berastagi membuatnya mengggigi, dia pun tak mengapa. Di situlah rasa simpati Ardian bertambah.


Kenapa sekarang saat dia menatap Ayu, dia merasa ada rona merah di wajahnya seperti menahan amarah dan gejolak aneh di mata seperti menahan cemburu buta.


Hati Ardian berdesir. Dia merasa kurang nyaman melihat reaksi Ayu yang seperti itu saat nama Nia disebut. Ardian hanya menyebut nama Nia sekali dan tidak bercerita apa-apa soal gadis itu tapi Ayu sudah kelihatan sangat lain seperti cemburu.

__ADS_1


Dia berpikir apakah benar selama ini sangat dekat dengan Ayu dan sering membawanya jalan-jalan tapi tak pernah memberinya status pasti?


Ardian merasa tak salah karena dulu sebelum Nia datang tinggal di rumahnya, Ardian pun sudah sering membawa temannya yang cewek jalan-jalan. Dia tak pernah memberi status yang pasti pada setiap cewek yang dia ajak jalan. Pokoknya mereka seperti diminta menemaninya jalan-jalan saja dengan imbalan dibayarkan belanjaan atau ditraktir makan.


Barangkali Ayu punya persepsi lain? Atau mungkin dia terlalu posesif? Sesuatu yang dekat dengannya dianggap miliknya seutuhnya? pikir Ardian. Jelas tidak ada laki-laki yang suka jika wanitanya seperti itu.


"Kamu kenapa, Yu?" tanya Ardian yang tak tahan melihat ekspresi Ayu seperti itu.


"Hah? Kenapa? Nggak kenapa-kenapa kok, Pak," jawab Ayu terburu-buru menyembunyikan wajahnya dari pandangan Ardian.


Hatinya berdesir. Apakah Ardian bisa membaca rasa cemburu di matanya? Gawat kalau begitu. Dia merasa sangat malu, jangan-jangan selama ini dia sudah berprasangka salah pada Ardian. Cowok yang akhir-akhir ini dekat dengannya ini apakah boleh disebut sebagai pacarnya? Ataukah hanya teman? Atau hanya sekadar hubungan boss yang butuh teman dengan karyawan di perusahaan yang dirasanya cocok? Ayu menjadi bimbang.


"Nana nggak kerja hari Minggu ya, Pak?" Ayu mencoba mengalihkan perhatian Ardian.


"Nggak, Yu. Nana datang pagi dan pulang sore setelah memasak dan membereskan rumah. Dia libur hari Minggu," jawab Ardian sambil berusaha tersenyum.


Ayu pun membalas senyum Ardian itu dengan tulus hingga membuat pemuda itu terasa lebih lega.


"Ayo kita ke ruang dapur, Yu. Aku ingin kamu memasak 2 piring nasi goreng supaya kita bisa makan bersama," ajak Ardian.


"Ayo, Pak!" balas Ayu semangat dan mereka pun sama-sama tersenyum lalu bergandengan tangan keluar dari kamar.


Ayu tak tahu kalau sebentar lagi bakal datang angin sepoi-sepoi yang kekuatannya seperti badai yang bisa meluluhlantakkan seluruh harapan dan impiannya.


Begitu juga Ardian. Hatinya akan terombang-ambing nanti saat disuruh memilih antara Nia atau Ayu.


* * *

__ADS_1


__ADS_2