Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Sarapan Pagi Bersama


__ADS_3

Bab 8


Kali ini, Ardian baru bisa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nia. Dengan buru-buru dia berjalan menuju kamarnya sendiri. Maksudnya hendak mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya itu.


Saat Nia selesai membereskan pakaiannya di lemari baju, dia pun keluar dari kamar dan berjalan hendak turun ke bawah. Didengarnya sudah gemericik air dari shower di kamar mandi yang di kamar tidur cowok itu.


Nia berjalan melewatinya dan melangkahkan kakinya perlahan menuruni anak tangga yang lebar dan melingkar.


Hari Minggu yang cerah, suara cicit burung di luar sana terdengar jelas, sinar matahari menerobos masuk lewat kaca jendela nako yang dibiarkan terbuka. Pintu depan juga terbuka lebar, membuat angin mudah masuk memberi kesejukan.


Nia berjalan ke dapur, mencari Bik Aini. Tapi Bik Aini tak ada di sana. Dia beralih ke ruang makan dan menemukan 2 piring nasi goreng lezat lengkap dengan telur mata sapi, udang, tomat, mentimun, dan selada mengelilingi piring besar itu sudah tersedia diatas meja makan. Pastinya kedua piring nasi goreng itu untuk dirinya sendiri dan Ardian.


Karena Ardian belum turun sementara perut Nia sudah terasa sangat lapar, maka gadis itu pun memutuskan untuk menyantap nasi gorengnya duluan. Saking asyiknya dia melahap nasi goreng buatan Bik Aini sampai tak menyadari ketika langkah Ardian tiba di dekatnya.


“Ehm-ehm,” Ardian berdehem dua kali untuk memberi isyarat kehadirannya.


“Uhuk-uhuk!” hampir saja Nia tersedak. Dengan cepat dia berbatuk dan setelah merasa agak lumayan, diminumnya segelas air putih yang tadi diambilnya dari dispenser.


“Hati-hatilah kalau makan!” celetuk Ardian seketika. “Lihatlah, makan saja tergesa-gesa sampai tersedak, cocoknya mendapat cap satu lagi, gadis ceroboh!”


“Lha, kamu yang mengejutkan aku, lho, sampai tersedak!” Nia membela diri.


“Memang dasarnya kamu sendiri yang ceroboh,” cibir Ardian.


“Kamulah, datangnya tak pakai suara, pakai jingkat-jingkat segala. Memang sengaja ya mau ngagetin aku?” mata Nia mendelik.


Tak tahan melihat reaksi gadis itu yang tak mau kalah plus serius banget kelihatannya, Ardian tertawa konyol. “Sudah salah sendiri masih juga menyalahkan orang lain!” sentak Ardian tak mau kalah.


“Ah, peduli amatlah! Yang penting nasi gorengnya enak betul! Buruan dimakan tuh, baru tahu rasanya!” kata Nia.

__ADS_1


“Oh… nasi goreng buatan Bik Aini memang paling enak di dunia, baru tahu, ya? Kalau aku sih sudah lama tahu dan sudah bosan mencicipinya tiap hari,” kata Ardian sambil menarik kursi yang ada di hadapan Nia dan duduk di situ.


“Wah, berarti setiap hari kamunya sarapan nasi goreng terus sampai bosan?” tanya Nia ingin tahu.


Mulutnya mengunyah telur mata sapi sementara matanya memperhatikan Ardian. Dilihatnya Ardian mulai menyendok nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya sama seperti dirinya.


“Nggak tiap hari, sih. Kadang sarapannya bisa yang lain. Suka-suka Bik Ainilah,” jawab Ardian.


“Kamu betah tinggal di Medan, Ardi?” tanya Nia tiba-tiba saat melihat pemuda itu tampak santai memakan nasi gorengnya.


Ardian tak menjawab, seolah tak mendengar pertanyaan Nia.


“Mmm… maksudku, kamu senang eh suka tinggal di Medan?” ulangnya, menekankan suaranya hingga terdengar lebih jelas pertannyaannya.


“Apa?” Ardian menaikkan kepalanya, memandang Nia dengan tatapan bertanya. Sebelah tangannya mengorek-ngorek kuping seakan-akan sudah sebulan tak membersihkannya.


“Oh…,” Ardian bergumam pelan. Dia tak segera menjawab pertanyaan Nia. Otaknya sedang memikirkan jawaban yang tepat sementara mulutnya sibuk mengunyah.


“Kamu dengar pertanyaanku, kan, Ardi?” tanya Nia.


“Iya, iya, dengar, Non!” jawab Ardi. “Ya, begitulah, senang tak senang, suka tak suka, cocok tak cocok, semuanya toh sudah dilalui dan harus dijalani. Tak tahu sampai kapan.”


“Maksudnya?” Nia tak mengerti.


“Maksudnya, ini jalan yang sudah dipilih Papa untuk kami berdua. Jalan yang dipilih Papa 10 tahun lalu, pindah ke Medan, menikah dengan gadis tua kaya raya, menjadi pengusaha sukses, dan sibuk dengan pekerjaan setiap hari. Itulah yang sudah dilalui dan harus ikut kujalani. Bukankah aku anaknya dan harus mengikuti jalan yang sudah dipilihnya?”


Nia terdiam mendengar penjelasan Ardian. Dia berpikir sebentar sebelum membalas, “Ini memang jalan yang dipilih papamu, tapi kamu tak harus mengikuti jalannya menjadi pengusaha sukses yang sibuk dengan pekerjaan setiap hari. Kamu kan kuliah mengambil jurusan yang kamu sukai dan kelak kamu bisa berkecimpung di bidang yang kamu sukai, tak harus jadi pengusaha sukses seperti papamu, Ardi.”


“Aku saja tak tahu apa yang aku inginkan,” balas Ardian.

__ADS_1


Nia tercekat. Ardian menghabiskan nasi gorengnya yang tinggal sedikit. Kali ini, Nia tak berkata apa-apa lagi sampai Ardian selesai makan.


“Kita jalan-jalan, yuk!” ajak Ardian tak lama setelah selesai menyantap sarapannya.


“Jalan-jalan? Ke mana?” tanya Nia yang masih duduk di depan Ardian, memperhatikan saat pemuda itu makan tadi.


“Keliling kota Medan dengan sepeda motor,” jawab Ardian.


“Ohya? Hebat, kamu sudah bisa naik motor, Ardi?”


“Bisa, dong! Waktu belum punya SIM pun sudah bisa, cuma belum berani bawa di jalan raya takut razia. Sekarang sudah ada SIM C-ku. Juga SIM A. Kan umurku sudah 18 tahun,” jelasnya.


“Oh, kamu biasanya mengendarai motor?” tanya Nia ingin tahu.


“Kadang-kadang, lebih sering bawa mobil karena bisa muat banyak orang. Teman-teman ada beberapa yang suka nebeng.”


“Oh…”


“Ayolah, jangan banyak tanya. Sekarang kita cabut saja , raun-raun. Bukankah kau tak pernah ke Medan sebelumnya. Ini hari Minggu, kesempatan bagus buat jalan-jalan keliling kota.”


“Sekarang juga kita pergi?” tanya Nia.


“Iyalah, sekarang, masa besok?”


Ardian bangkit dari duduknya, mencuci tangan dan mulutnya di bak cuci piring, setelah itu mengelapnya dan berjalan ke pintu depan. Nia mengikuti gerak-gerik Ardian, membereskan piring makannya, mencuci tangan dan mulut, lalu berjalan menyusul Ardian yang sudah berada di halaman rumah.


Rumah villa itu dibangun di atas lahan yang luas, selain ada kolam renang, kolam ikan, taman bunga, juga garasi besar yang bisa memuat 3 mobil. Lalu ada ayunan dari besi yang bisa memuat 6 orang berhadap-hadapan. Selain itu, ada 2 meja bulat dengan 2 pasang kursi bulat mengkilap yang dibangun melekat dengan tanah di halaman rumah itu. Pokoknya, rumah itu betul-betul adalah rumah idaman setiap orang. Asri, luas, besar, mewah, bersih, dan kelihatan megah.


* * *

__ADS_1


__ADS_2