
Bab 121
Nia mulai mencicipi nasi goreng yang dimasak Ayu. Begitu juga Ardian. Tak bisa dipungkiri, nasi goreng buatan Ayu memang sangat lezat.
"Hmmm... nasi gorengnya enak sekali, Yu," Nia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Ayu yang sedang mencuci kuali.
Ayu yang berdiri membelakangi Nia dan Ardian spontan berbalik sejenak menatap Nia yang sedang memperhatikannya.
Tatapan Ayu tak sengaja bertemu tatapan Ardian yang kebetulan juga sedang memperhatikannya.
"Thanks!" Ayu menjawab pendek lalu buru-buru memalingkan wajah. Diputarnya kembali tubuhnya menghadap bak cuci piring. Hatinya amat sakit melihat pemandangan Ardian berdua dengan Nia di belakang meja makan.
Seperti mimpi, sejam lalu dia berdua dengan Ardian di ruang dapur. Seharusnya sekarang dia juga yang berdua dengan Ardian di meja makan. Nasi goreng 2 piring yang dimasaknya tadi adalah untuk dirinya dan Ardian. Ardian jelas membawanya ke rumah dan memintanya memasak 2 piring nasi goreng untuk mereka berdua. Kenapa bisa tiba-tiba Nia yang memakan nasi gorengnya? Ayu merasa Nia yang datang sekonyong-konyong mengambil alih haknya.
Walau Nia merasa jawaban Ayu cukup ketus, namun dia kembali menundukkan wajah memakan nasi gorengnya. Nia tak mengerti kenapa cleaning service yang dibilang Ardian menggantikan tugas Bik Aini ini bersikap aneh dan tak ramah. Balasan yang dia berikan atas pujian Nia dirasa Nia tidak senang sama sekali.
Kenapa? Apakah Ayu memang tak suka dipuji? Atau ada hal lain yang tak dimengertinya? Mungkinkah Ardian menyembunyikan sesuatu darinya? hati Nia bertanya-tanya. Walaupun nasi goreng yang dimakannya enak, namun reaksi Ayu membuat perasaan Nia tak enak.
"Sudah, Nia?" tanya Ardian membuyarkan lamunan Nia yang duduk di sampingnya.
"Ups! Sudah!" jawab Nia sambil meletakkan sendok dan garpunya setelah memasukkan suapan terakhir ke mulut.
__ADS_1
"Kita kembali ke ruang tamu ngobrol dan cerita-cerita atau ke kamarmu, Nia?" tanya Ardian.
Walaupun Ardian tahu di ruang dapur itu ada Ayu yang bisa mendengar pertanyaannya, namun dia berusaha tak mempedulikannya. Ardian berusaha mengabaikan kehadiran Ayu dengan menanyakan apa yang memang ingin dia tanyakan ke Nia.
"Kita... maksudku aku mau mandi dulu. Setelah itu baru ngobrol lagi di ruang tamu, Ardi," jawab Nia.
"Iya, mandilah. Baju-bajumu kamu bawa juga? Kalau tidak, di kamarmu tersisa beberapa. Waktu itu kamu tidak membawa pulang semua bajumu. Aku tahu kamu pasti akan balik lagi suatu hari nanti, Nia, dan ternyata benar," senyum Ardian.
Nia juga tersenyum. Dia bangkit dari duduknya lalu sekali lagi menoleh ke arah Ayu yang berdiri membelakangi mereka. Sebenarnya Nia ingin mengajaknya bicara lebih banyak namun diurungkannya niatnya itu setelah melihat reaksi Ayu tadi. Sepertinya gadis cleaning service yang dibilang Ardian menggantikan tugas Bik Aini itu tidak menyukainya. Nia bisa merasakan kehadirannya seolah-olah menjadi pengganggu bagi Ayu.
"Aku naik ke lantai atas dulu, Ardi. Mau mandi," kata Nia.
"Iya, Nia, pergilah, entar aku menunggumu di ruang tamu," balas Ardian sambil mengangguk kecil.
Nia terus berjalan meninggalkan ruang dapur dan menuju tangga ke lantai 2. Dia sengaja memberi waktu bagi Ardian menyelesaikan urusannya dengan Ayu sementara dirinya ke lantai atas.
Semoga Ardian bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan gadis cleaning service itu. Kalau tidak, Nia pun merasa tak enak kembali ke rumah Ardian. Nia berusaha mempertahankan kepercayaannya pada Ardian kalau Ayu hanyalah seperti gadis-gadis Ardian yang lain yang cuma diajak temani sekejap atau jalan-jalan bareng saat dirinya tak ada.
Tapi hatinya sulit melakukan itu karena tadi dia melihat sendiri pemandangan kedekatan Ardian dengan Ayu. Ayu terlihat sangat cantik dan seksi. Dia lain dibandingkan gadis-gadis Ardian yang lain yang sebelum Ardian dekat dengan Nia sering dibawa cowok itu jalan bareng. Ayu punya kharisma yang mampu membuat pria bertekuk lutut. Bukan sekadar kecantikan wajahnya yang dahsyat dan kemolekan tubuhnya yang aduhai.
Nia sudah sampai di lantai 2. Dia masuk ke kamarnya untuk mengambil satu stel baju rumah dari dalam tas travel. Kamar yang ditempati Nia dulu masih tertata rapi dan bersih. Tidak ada orang lain yang menempatinya semenjak ditinggal setahun lalu.
__ADS_1
Sementara itu di dapur. Ayu sudah selesai mencuci kuali dan perkakas masak lain di bak cuci piring. Dia mengelap tangannya lalu berbalik menghadap Ardian.
Kebetulan Ardian juga sudah selesai makan dan sedang duduk melamun. Seperti sedang memikirkan sesuatu
"Pak Ardian...," panggil Ayu dengan suara bergetar. Matanya menatap Ardian dengan penuh rindu seolah sudah setahun Ardian tak menyentuhnya padahal barusan 1-2 jam lalu Ardian memeluknya.
Ardian mengangkat wajahnya menatap gadis itu. Matanya menyirat bimbang namun dalam. Ada rasa prihatin di situ. Sebenarnya banyak hal yang ingin dia katakan pada Ayu namun kalimatnya seolah susah keluar karena Ardian takut akan menghunjam atau menyakiti perasaan Ayu.
"Iya, Yu?" Ardian menunggu apa yang akan diucapkan Ayu. Rasanya memang lebih baik bila gadis itu yang bicara duluan.
"Aku... kita... Pak Ardian... maksudku... akh!" Ayu pun tak tahu harus bicara apa. Dia menundukkan wajah seolah tak kuasa membalas tatapan Ardian yang dirasanya amat menghunjam.
Walaupun Ardian menatapnya dengan lembut dan tenang, namun Ayu bisa melihat sorot mata cowok itu yang dalam dan mengandung sejuta makna. Ayu mengira banyak hal yang ingin dikatakan atau dijelaskan Ardian padanya namun kenapa cowok itu tak juga bicara?
Ayu mengangkat wajahnya, berusaha menguatkan hati membalas tatapan Ardian. Hatinya sangat sakit melihat pemandangan tadi dan ke depannya pun bakal menerima kenyataan pahit. Cowok itu tak bisa lagi digenggamnya karena seseorang telah kembali ke sisinya. Apakah Ardian bakal mengabaikannya, menyisihkannya, atau meninggalkannya?
"Tadi itu... sahabat masa kecil Pak Ardian-kah?" akhirnya Ayu menemukan pertanyaan yang bisa membuat Ardian menjelaskan.
"Iya, Yu," jawab Ardian. Suaranya tegas seolah menekankan kalau sahabat masa kecil itu sangat berarti baginya. "Dia sudah kembali," sambung Ardian. "Nia sudah kembali."
Ayu terhenyak. Gadis itu menunggu kalimat cowok itu selanjutnya namun Ardian segera menunduk setelah mengucapkan kalimat itu. Cowok itu merasa berat mengatakan hal dalam hatinya pada gadis yang telah menolongnya, membuatnya bersimpati, dan mengobati kesepiannya selama setahun ini.
__ADS_1
* * *