
Bab 86
"Kenapa mengikutiku terus?" tanya Ayu dengan suara keras.
"Mengikutimu? Lho, kok dibilang mengikutimu, Yu? Kita kan bertemu tak sengaja di dalam tadi dan kalau mau keluar ya pintunya lewat sini. Nggak ada pintu lain kan?" Riana membela diri seolah tak mengerti.
"Tapi kamu dari tadi melihatiku terus," umpat Ayu dengan mata melotot.
"Emang nggak boleh melihatimu? Apa ada undang-undang yang melarang orang melihati orang lain?" Riana tak mau kalah.
"Aku tak suka kamu lihatin terus!" ketus Ayu.
"Ya kalau tak suka jangan buat orang curiga. Sikapmu itu lho kayak memusuhiku, jadi ya aku lihati teruslah. Emang aku salah apa,Yu?"
"Nggak usah dibilang. Dulu itu kamu selalu iri padaku, Riana. Aku tak pernah membalas padamu. Tapi sekarang melihatku jalan dengan boss-ku, kamu pun ngiri dan berusaha menggangguku seperti dulu!" kata Ayu dengan suara keras.
"Wah, Yu. Yu. Apa buktinya aku ngiri? Jangan sembarang bicara ya!" Riana mulai terpancing emosi juga.
"Ada apa ini?" tiba-tiba Ardian muncul di antara mereka. Kericuhan di depan ruang toilet wanita telah mengundang perhatian para pengunjung yang berada di sekitaran situ.
"Oh, Pak Ardian-mu yang ganteng datang tuh," sindir Riana sambil memandang Ayu sinis.
"Iya, ada apa?" Ardian memegang pundak Ayu. Matanya melihat raut wajah Ayu yang merah padam, lain dari biasanya. Tidak pernah Ardian melihat wajah Ayu seperti itu sebelumnya.
Ayu menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca, menatap Riana penuh kebencian.
Ardian kaget juga melihat ekspresi wajah Ayu yang marah. Ternyata Ayu bisa marah juga.
"Ada apa sih, Yu? Bisa dibicarakan baik--baik," nasihat Ardian berusaha menahan amarah Ayu. Gadis itu sudah dikuasai emosi sehingga lupa sekeliling.
"Ini orang yang menggangguku, Pak! Menggangguku sejak dari SMP sampai sekarang masih juga belum puas!" geram Ayu sambil telunjuk tangannya menuding Riana.
Ardian melihat gadis yang dikatakan mengganggunya adalah Riana, teman masa SMP-nya yang tadi sempat berbincang-bincang dengan mereka di dekat loket karcis. Lalu kenapa tiba-tiba mereka berselisih? Padahal tadi kan baik-baik saja?
"Itu Riana, Yu. Teman SMP-mu. Kenapa dengan kalian?" Ardian bertanya sambil mengingatkan Ayu. Dikiranya Ayu salah mengenali orang lalu sembarang bertengkar. Soalnya kan teman lama, kok tiba-tiba bertengkar?
__ADS_1
Riana diam. Walaupun rada emosi juga namun dia menyadari dulu memang agak keterlaluan pada Ayu. Dulu Ayu tak pernah ambil pusing tiap Riana mengusiknya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba berubah sensitif? Ayu tak sama lagi seperti dulu. Barangkali karena dia sudah mapan setelah berhasil menggaet boss-nya.
Ardian menatap Riana. Ingin tahu jawabannya. Gadis itu malah mengelak. "Aku mana ada mengganggumu tadi, Yu?"
"Tidak ya?" balas Ayu sengit. "Tapi kamu melihatiku terus! Aku nggak suka!" pekik Ayu.
"Eh... mata kan punyaku, suka aku mau melihat ke mana. Kalau tak suka dilihat, ya jangan pakai baju kayak gitu dong. Pamer belahan dada, kan sengaja itu namanya. Apalagi pamer saat keluar dengan boss-mu. Apa nggak malu kamu?"
"Eh... apa urusannya denganmu? Badan kan punyaku, bukan punyamu. Emang ada undang-undang yang melarang orang berpakaian begini? Hah?!" Ayu tak mau kalah. Dia meniru kata-kata Riana.
"Ish...," Riana mendesis.
"Apanya ish?!" sentak Ayu gusar.
"Sudah, Yu," Ardian menarik tangan Ayu yang bergerak-gerak menunjuk Riana. Cowok itu berusaha menenangkan kemarahan Ayu.
"Mentang-mentang dapat cowok milioner. Bangga sekali ya bisa gaet boss tampan kaya seperti Pak Ardian ini?" sindir Riana.
Ayu mengepalkan tangan menahan geram. Ingin sekali dia meninju wajah Riana. Terutama meninju mulutnya yang berlidah tajam. Dia ingin meninju wajah Riana sampai bengkak atau benjol supaya puas hatinya.
"Ada apa sih ini? Kok ramai begini?" Randy memperhatikan Riana, heran karena di sekelilingnya berkerumun banyak orang yang menonton pertengkaran Riana dengan Ayu tadi.
Sebenarnya waktu di ruang toilet pria tadi, Randy sudah mendengar suara ribut-ribut. Seperti suara pacarnya sedang bertengkar dengan seorang gadis.
"Teman SMP-ku yang tadi, Ran. Dia ngelunjak tiba-tiba, bilang aku mengganggunya padahal aku hanya melihatinya," sebal Riana.
"Oh... Ayu maksudmu? Kalian bertemu lagikah?" tanya Randy. Diperhatikannya wajah pacarnya yang kurang senang plus kurang puas.
"Iyalah. Siapa lagi? Mentang-mentang bisa jalan sama boss sendiri, bangga dan sombongnya minta ampun. Takabur!" umpat Riana mengeluarkan kekesalan hatinya.
"Kan sudah kubilang nggak usah ngurusi dia. Nggak ada untungnya bagimu. Terbukti kan, sekarang kamu malah rugi karena suasana hati rusak gara-gara emosi."
"Huh!" Riana mendengus.
"Di mana dia sekarang?"
__ADS_1
"Siapa?"
"Ya Ayu lho."
"Sudah pergi. Ditarik boss-nya, kalau tidak wajahku pun ditinjunya," kesal Riana.
"Ya sudahlah, kita balik saja sekarang," kata Randy.
Kerumunan orang yang menonton pertengkaran Ayu dan Riana pun bubar.
"Emang kenapa, Yu, kok bisa bertengkar sama temanmu tadi?" tanya Ardian setelah dirinya dan Ayu berada di luar dari kawasan cinema. Mereka sedang berjalan menuju lift. Barang-barang Ayu yang tadi dititipkan di lemari penonton sudah diambil Ardian balik dan sekarang dipegang Ayu.
"Dia melihatiku terus, Pak," kata Ayu.
"Hanya melihati terus kan nggak apa-apa, Yu. Pura-pura saja nggak tahu. Nggak usah ambil pusing. Kenapa harus marah dan bertengkar sampai heboh begitu," sesal Ardian.
"Waktu SMP dia suka menggangguku, Pak," ngadu Ayu.
"Oh, iyakah?" Ardian masuk ke dalam lift diikuti Ayu.
"Iya, Pak," jawab Ayu bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.
"Nanti kita cerita lagi kalau sudah di mobil ya," kata Ardian.
Ayu mengangguk. "Iya, Pak," jawabnya.
Ardian dan Ayu pun sama-sama diam sampai mereka tiba di lantai bawah. Tapi tiba-tiba Ayu teringat barang-barang belanjaannya di tempat penitipan barang. Barang-barang yang dibelikan Ardian untuknya di departmen store yang ditaruh di dalam beberapa kantongan plastik besar.
"Kita balik ke lantai 3 dulu ambil barang-barangmu," kata Ardian begitu Ayu mengingatkannya.
Ditekannya kembali tombol lift ke angka 3 dan menunggu lift bergerak ke atas karena mereka sudah telanjur di lantai bawah.
Ardian dan Ayu berjalan lagi cukup jauh untuk sampai di tempat penitipan barang departmen store. Setelah sampai, Ayu buru-buru mengambil barang-barang titipannya. Ardian membantunya memegang dua plastik karena kedua tangan Ayu pun sudah penuh dengan beberapa plastik besar berisi barang-barang belanjaan. Sepertinya semuanya adalah barang Ayu yang dibelikan Ardian. Sedangkan Ardian sama sekali tak membeli apa-apa untuk dirinya sendiri.
* * *
__ADS_1