Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Nia Diberitahu Bu Wenny, Ardian Pernah Mencarinya


__ADS_3

Bab 111


Nia melihat Bu Wenny berjalan ke arahnya dan sekarang Bu Wenny sudah ada di dekatnya.


"Iya, Bu. Selamat pagi," balas Nia dengan sebuah salam.


"Pagi, Nia. Ada yang mau kukatakan padamu. Sebenarnya ini sudah berbulan-bulan lalu tapi baru sempat kukatakan sekarang," kata Bu Wenny.


"Maksud Bu Wenny?" Nia tak mengerti.


"Begini, Nia," Bu Wenny melirik tempat duduk batu yang di samping pintu rumah Nia. "Kita duduk di sini saja ya," tunjuknya.


Nia mengikuti langkah Bu Wenny duduk di batu itu. Mereka duduk berdampingan dengan posisi punggung membelakangi rumah Nia.


Setelah duduk, Bu Wenny pun bercerita. "Begini, Nia. beberapa bulan lalu aku bertemu sahabat masa kecilmu. Dia datang mencarimu ke sini. Ke Tanjungbalai. Maksudku, dia datang dari Medan. Aduh, gimana ini, kok jadi belepotan gini ngomongnya gara-gara mau cepat," gelengnya sambil tertawa.


Nia membesarkan bola mata. Walaupun menangkap maksud kata-kata Bu Wenny, namun dia masih agak bingung. "Dari Medan, Bu? Maksud Bu Wenny?" tanya Nia dengan perasaan was-was. Soalnya yang berhubungan dengan Medan itu hanyalah Om Wisnu dan Ardian.


"Iya, Nia. Itu... Nak Ardian datang mencarimu ke Tanjungbalai. Aku bertemu dengannya di rumah makan. Dia bilang mau datang ke rumahmu bersama sekretarisnya yang bernama Shella. Cantik lho orangnya," nyerocos Bu Wenny sambil tersenyum.


Nia membelalakkan mata. Hatinya berdesir. Apa kata Bu Wenny barusan? Ardian? Datang mencariku? Ke rumahku? Kok aku nggak tahu dan nggak bertemu dengannya? tanya Nia dalam hati.


"Kamu sudah bertemu dengannya kan, Nia?" tanya Bu Wenny sambil memegang lengan Nia.

__ADS_1


"Hah? Apa?" reaksi Nia bingung.


"Aduh... Ck... Aku tanya, apa kamu sudah bertemu dengan Ardian yang datang mencarimu ke sini? Dia jadi ke rumahmu nggak? Soalnya katanya dia akan datang ke rumahmu pas esoknya hari Minggu karena aku bertemu dengannya hari Sabtu," sambung Bu Wenny yang membuat Nia mulai mengerti.


"Bu Wenny bertemu Ardian-kah? Di sini? Di Tanjungbalai?" hatinya berdebar.


"Iya lho, Nia. Malam Minggu itu kan aku makan-makan di rumah makan seafood. Terus melihat seseorang yang mirip dengan tetangga kita dulu. Kutanya apakah dia anaknya Pak Wisnu yang namanya Ardian. Dia jawab iya namanya Ardian, anaknya Pak Wisnu. Dia juga ngaku dulu pernah tinggal di Tanjungbalai dan bertetangga dengan kita tapi lalu pindah ke Medan bersama papanya. Karena papanya kan mau menikah dengan gadis tua anak orang kaya setelah mamanya Ardian meninggal."


Setelah menjelaskan panjang lebar, Bu Wenny pun menghela napas lega.


Nia tercengang. Dia seolah tak bisa mempercayai kata-kata Bu Wenny karena terasa begitu tiba-tiba.


"Kamu sudah bertemu dengan Ardian belum? Soalnya waktu itu dia bilang mau datang ke rumahmu bersama sekretarisnya yang bernama Shella itu," kata Bu Wenny.


"Bu... Bu Wenny tidak salah mengenali orang? Itu memang Ardian-kah? Soalnya kan dia sudah pindah ke Medan waktu masih berusia 10 tahun. Pasti agak sulit mengenalinya sekarang," kata Nia seolah kurang yakin.


Nia menahan napas. Tinggi atletis dan sangat tampan. Dingin dan cuek. Tepat! Itu memang gambaran fisik dan karakter Ardian. Dug! jantung Nia berdegup kencang.


"Kamu bertemu dengan dia kan, Nia?" untuk ke sekian kali Bu Wenny mengulangi pertanyaannya.


Nia menggeleng. "Nggak, Bu. Aku nggak bertemu dengannya," jawab Nia dengan suara lemas.


"Lho? Kok nggak? Pasti bertemu kan soalnya Ardian bilang mau datang ke rumahmu keesokan harinya yang pas hari Minggu itu. Dia khusus datang ke Tanjungbalai mencarimu lho, Nia," ingat Bu Wenny.

__ADS_1


"Tapi aku tak bertemu dengan Ardian, Bu," tegas Nia. "Barangkali dia tak jadi datang ke rumahku," Nia menunduk.


"Ah... nggak mungkin! Dia pasti datang mencarimu ke rumah karena dia bilang begitu. Tujuannya dari Medan ke Tanjungbalai mau mencari Nia. Ya pastilah dia carinya ke rumahmu dan tahu rumahmu di mana karena kan tetangga lama."


Hari Minggu. Hari Minggu beberapa bulan lalu. Saat itukah Ardian datang mencariku ke rumah? pikir Nia.


Benaknya mulai terbuka. Hari Minggu selama setahun ini dia dan ibunya selalu pergi jalan-jalan bersama Riko. Biasanya pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat dan pulangnya sore-sore. Setengah harian tidak ada di rumah. Jadi logikanya, Ardian datang mencarinya ke rumah tapi tak ada orang di rumah.


Oh! Inikah kenyataannya? pekik hati Nia. Ternyata Ardian pernah datang ke Tanjungbalai bahkan ke rumahnya mencarinya tapi gagal menemuinya karena dia sendiri yang tak ada di rumah.


Oh, berarti kesalahan itu ada padaku. Bukan pada Ardian. Aku telah salah berprasangka buruk padanya selama ini. Ardian tidak melupakanku. Dia masih ingat padaku. Dia masih peduli padaku. Aku yang salah! Aku yang salah telah mencurigainya selama ini. Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak mempercayai orang yang begitu memperhatikanku? Nia menggeleng-gelengkan kepala mengusir rasa sesal di hatinya.


"Kami tak bertemu, Bu. Kalau Ardian datang ke rumahku hari Minggu pasti tak ada orang karena hari Minggu kan kami keluar dari pagi sampai sore," Nia menjawab pertanyaan Bu Wenny yang penasaran.


"Oh, iya juga ya," Bu Wenny manggut-manggut seperti barusan teringat. "Aku pun lupa kalau hari Minggu biasanya kalian keluar. Hehe. Tapi sori ya, Nia. Hal ini baru sempat kukatakan padamu sekarang karena selama beberapa bulan ini aku tinggal di Kisaran di rumah adikku. Aku baru balik kemarin dan teringat mengatakannya padamu sekarang."


"Iya, Bu. Terima kasih Bu Wenny sudah begitu baik menyampaikan berita ini padaku. Kalau tidak... kalau tidak...," Nia menggantung ucapannya. Kalau tidak, aku pasti bakal mengambil keputusan yang salah. Aku pasti akan menerima lamaran Riko karena berpikir Ardian tak lagi mempedulikanku atau sudah melupakanku.


"Iya, Nia. Nggak apa-apa," Bu Wenny tersenyum. "Jadi kamu rencananya gimana, Nia? Apakah akan balik ke Medan mencari Ardian juga? Soalnya kan aku tahu dulu itu kamu dan Ardian dekat sekali. Bahkan kamu juga pernah tinggal di rumahnya selama 3 tahun kan waktu kuliah di Medan?"


"Betul, Bu," jawab Nia. "Cuma setahun ini aku terpaksa balik ke rumah karena kan ibuku tak ada yang rawat."


"Iya, betul sekali. Kamu anak yang berbakti, Nia. Berarti kuliahmu masih tinggal 1 tahun lagi ya? Sayang sekali ya nggak dituntaskan sampai tamat," Bu Wenny menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Nia tersenyum tipis. "Lihat kondisi ibuku. Kalau ibuku semakin membaik, aku rencananya memang mau balik ke Medan melanjutkan kuliah, mencari kerja, lalu memboyong ibuku ke Medan. Sementara kami bisa sewa rumah kontrakan di sana," Nia menjelaskan rencananya.


* * *


__ADS_2