Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Riko Mulai Mendekati Nia


__ADS_3

Bab 37


"Selamat sore, Bu. Sudah agak baikan, Bu?" Riko membuka percakapan di antara mereka bertiga dengan sopan.


Bu Rani tersenyum. Kedatangan Riko di rumahnya seperti angin segar, karena selama setengah tahun ini dia terkurung di rumah saja, tidak ke mana-mana atau bertemu sesiapa selain putrinya. Tidak ada tetangga, famili, atau teman yang menjenguknya selain Riko ini. Jadi pantas saja Bu Rani merasa senang.


"Iya, Nak Riko. Kebetulan Ibu merasa lebih sehat hari ini," jawab Bu Rani memunculkan segurat senyum di bibirnya.


"Iyakah, Bu?" Nia memandang ibunya dengan rasa takjub. Ada binar-binar harapan di matanya.


"Iya, Nia," Bu Rani menatap putrinya dan tersenyum lagi.


"Syukurlah, Bu kalau merasa lebih sehat. Dokter spesialis kemarin memang betul-betul hebat," kata Riko mengacungkan jari jempol.


"Iya, Nak. Dokternya hebat, Nak Riko juga hebat bisa membuat Ibu merasa lebih semangat hari ini," kata Bu Rani lalu menundukkan kepala sedikit, mengusap air matanya yang menitik. Sedih di hatinya selama setengah tahun ini sakit tak ada yang menjenguknya, akhirnya terobati hari ini.


"Bu, Riko bawakan Ibu ini," kata Nia sambil menyentuh 2 plastik asoy yang terletak di atas meja ruang tamu.


"Iya, dibuka saja, Nia. Ada susu, roti, biskuit, apel, dan jeruk. Itu semua titipan mamaku," kata Riko.


"Iyakah?" Bu Rani melihat isi dalam plastik asoy yang sudah dibuka Nia dan ditunjukkan kepadanya. "Terima kasih ya, Nak Riko. Sampaikan terima kasih Ibu juga pada ibumu atas perhatiannya."


"Sama-sama, Bu," Riko tersenyum.


"Nia," Bu Rani menoleh pada putrinya. "Ibu mau balik ke kamar dulu. Biar Nak Riko duduk di sini saja nggak apa, kamu temani dia, Nia," kata Bu Rani.


"Iya, Bu," Nia memapah ibunya kembali ke kamar, sementara Riko duduk menunggu di ruang tamu.


Setelah membawa ibunya kembali ke dalam kamar, Nia berjalan keluar menjumpai Riko yang sedang duduk menunggu.


"Rik, terima kasih karena kunjunganmu membuat ibuku merasa lebih baik hari ini. Selama setengah tahun ini tak ada satu pun tetangga atau teman yang datang menjenguk, sementara kami tak punya famili," terang Nia dengan suara sedih.


"Aku baru tahu, Nia," kata Riko dengan nada menyesal. "Kalau saja aku tahu ibumu bisa merasa lebih baikan setelah dijenguk olehku, dari dulu aku akan sering datang ke sini menjenguknya."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Rik," Nia tersenyum.


"Aku boleh datang lagi besok-besok?" Riko memberanikan diri bertanya. Nada suaranya sangat berhati-hati karena dia takut pertanyaannya mengejukan Nia.


"Tentu saja boleh, Rik," Nia tertawa lepas. "Kalau kamu datang menjenguk ibuku tiap hari, ibuku akan cepat sembuh. Haha."


"Hahaha," Riko ikut tertawa bersama Nia. Hatinya senang bukan main. Itu berarti, ada kesempatan untuk bertemu Nia tiap hari dan melakukan pendekatan.


Mudah-mudahan bisa memberi hasil yang memuaskan suatu hari nanti, harap Riko dalam hati. Kesembuhan ibunya Nia dibarengi dengan keberhasilan hubungannya dengan gadis itu.


Nia dan Riko masih bercakap-cakap dengan dibarengi canda tawa hingga hari semakin sore dan Riko pun dengan terpaksa permisi pulang saat hari menjelang malam.


"Yeayyy...! Aku berhasil!" Riko mengacungkan kepalan kedua tangannya ke atas setelah memasukkan motor ke dalam rumahnya dan berhadapan dengan ibunya yang membuka pintu. Hari sudah hampir malam jadi kedai mereka sudah tutup.


"Ah, yang benar?" ibunya Riko memastikan seolah tak percaya. Matanya berbinar dan wajahnya berubah cerah. "Kamu disambut baik sama Nia dan ibunya?" tanyanya lagi.


Riko mengangguk, "Iya, Bu. Bahkan kata Nia, Riko boleh datang lagi ke rumahnya besok-besok. Nggak percaya kan? Haha," Riko mengedipkan sebelah mata.


Ibunya pun memukul lengan putranya yang merupakan anak satu-satunya itu.


Riko tertawa terkekeh-kekeh.


Malamnya, selepas makan dan semua kerjaan sudah beres, ibunya Riko bersama Riko dan ayahnya duduk di ruang tamu.


"Besok kamu cari satu kursi roda untuk ibunya Nia," kata ibunya Riko.


"Kursi roda? Untuk apa, Bu?" tanya Riko heran.


"Untuk diberikan kepada ibunya Nia."


Riko mengerutkan kening, pertanda tak mengerti.


"Begini, Rik," ibunya memulai penjelasan. "Dengan adanya sebuah kursi roda, ibunya Nia bisa duduk di situ dan dibawa keluar jalan-jalan melihat pemandangan luar. Kan sudah lama dia cuma terkurung di rumah seperti katamu. Jadi kalian bawa dia keluar jalan-jalan memakai kursi roda. Bisa didorong ke sana ke mari menempuh jarak cukup jauh, sedangkan kalau dipapah Nia seperti katamu, hanya bisa menyusuri sekitaran rumah."

__ADS_1


"Oh...," Riko manggut-manggut.


"Nanti kamu tanya-tanya di pertokoan, di mana ada jual kursi roda untuk orang sakit atau orang jompo."


"Iya, Bu," Riko mengangguk.


"Ambil duit sama ayahmu. Dia harus keluar modal juga kalau mau punya menantu," kata ibunya Riko sambil memandang suaminya.


"Ah, masa aku disuruh keluar modal juga?" kata ayahnya sambil menurunkan sedikit koran yang sedang dibacanya, menatap istri dan anaknya silih berganti.


"Nggak usah, Bu. Uang Riko masih banyak di dompet. Nanti biar pakai uang Riko saja," kata Riko.


"Ya sudah, harga satu kursi roda jutaan juga. Cukup uangmu?"


"Cukuplah, Bu," Riko mengedipkan mata. "Ngomong-ngomong, terima kasih Ibu sudah mengajari Riko cara-cara mendekati cewek."


"Ya memang harus begitu. Dulu ayahmu saja mendekati ibumu dengan cara seperti itu. Dibawakan oleh-oleh, dibelikan ini itu, dikunjungi, diajak keluar jalan-jalan, juga diambil hati kakek dan nenekmu sampai ibumu disetujui menjadi istri ayahmu," celoteh ibunya Riko.


"Ah, Ibu ini. Bongkar-bongkat rahasia saja," kata ayahnya Riko lalu meneruskan membaca korannya dengan senyum kecut.


Walaupun matanya membaca koran, namun telinganya sambil lalu mendengar percakapan antara istri dan anaknya.


Tak terasa hari pun semakin larut hingga Riko naik ke lantai 3 masuk ke dalam kamarnya, sementara ayah dan ibunya di lantai 2.


"Kamu yakin anak kita akan berubah kalau sudah punya istri nanti?" ayahnya Riko memulai pembicaraan berdua dengan istrinya.


"Yakin, Pak. Aku yang melahirkan dia, aku yang membesarkannya, jadi aku tahu betul sifatnya. Selama ini dia tak mau membantu kita berbisnis dan hanya melihati hp saja karena tak ada semangat. Dia sudah menyukai gadis bernama Nia ini sejak SMA. Makanya selalu menolak saat hendak dijodohkan dengan gadis lain."


"Syukurlah kalau bisa, Bu. Aku turut senang dan menaruh harapan pada gadis yang disukainya itu. Mana tahu setelah berhasil hubungannya dengan gadis itu, dia mau mendengar nasihat kita, membuka bisnis baru atau setidaknya membantuku berbisnis."


"Iyalah, Pak. Usianya pun sudah dewasa dan sudah pantas memiliki seorang pacar. Kalau nggak mulai bekerja dari sekarang, kapan lagi? Bahkan kalau bisa, secepatnya kita nikahkan saja Riko dengan Nia kalau Nia-nya mau. Aku sudah tak sabar lagi menimang cucu," khayal ibunya Riko sambil menerawang, membayangkan anak bayi kecil dalam gendongannya yang sedang menangis membahanakan rumahnya yang sunyi.


"Ah, Ibu ini," ayahnya Riko pun menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi wajah istrinya yang sedang berkhayal menjadi seorang nenek yang sedang menjagain cucunya.

__ADS_1


* * *


__ADS_2