Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Pak Johdy dengan Willy dan Santi


__ADS_3

Bab 98


"Cantik sekali pacarmu, Wil," puji Santi jujur.


Melihat foto wajah Ayu dari dekat, Santi tiba-tiba merasa minder. Walaupun foto close up tapi nampak sangat cantik.


"Ohya, ini ada satu lagi," kata Willy sambil mengeluarkan dari dompetnya selembar foto Ayu yang lain.


Santi lagi-lagi terburu melihat foto itu. Yang ini fotonya seluruh badan, nampak tubuh Ayu yang aduhai juga.


Srrr... darah Santi berdesir. Aliran hangat mengalir di tubuhnya. Panas dingin dia melihat dua foto Ayu yang ditunjukkan Willy. Harus diakuinya kalau pacar Willy itu memang sangat cantik dan menawan. Dia punya wajah yang sangat manis dan tubuh yang mampu menggoda.


Apalah artinya diriku? bisik Santi dalam hati. Pantaslah Willy tak pernah memandangnya dengan tatapan mata kagum karena pacarnya jauh lebih cantik dan menawan dibandingkan dirinya.


"Ini, Wil," Santi mengembalikan foto-foto Ayu itu pada Willy. Willy pun menyimpannya kembali ke dompet dan menaruh dompetnya di saku belakang.


Seorang rekan kerja Willy masuk ke ruang dapur. Dia melihat Willy dan Santi sedang duduk berhadapan dalam suasana hening. Padahal barusan mereka habis bicara dan Santi tak tahu harus bilang apa lagi setelah melihat foto Ayu.


"Wah, Wil, kamu makan siang di sini rupanya," kata rekannya sambil lewat di dekat meja yang diduduki Willy dan Santi.


"Iya, sudah siap dan mau balik ke depan," jawab Willy lalu bangkit dari duduknya.


"Lho, kenapa buru-buru, Wil? Di depan lagi sepi. Kamu di sini saja temani Santi ngobrol. Hehe," goda rekannya lalu masuk ke toilet.


Wajah Santi memerah karena malu kepergok sedang berduaan dengan Willy di dapur. Sementara Willy menjadi agak risih ketahuan rekannya makan bareng anak boss.


"Aku ke depan dulu, San," pamit Willy.


Namun sekali lagi langkahnya tertahan. Papa Santi yang mereka panggil Pak Johdy tiba-tiba muncul di ruang dapur. Dia barusan pulang dari bank dan hendak ke toilet. Kebetulan melihat putri semata wayangnya sedang bersama pegawai kepercayaannya.


"Wah, kalian di sini rupanya," senyum Pak Johdy melihat Santi dan Willy sedang bersama.


"Ah, Papa sudah pulang," sambut Santi dengan seulas senyum lega. Untunglah papanya datang di saat yang tepat menyelamatkan situasi yang sedang rikuh di antara dia dan Willy.


"Iya, mau ke toilet sebentar. Habis dari bank," jawab Pak Johdy.


"Toiletnya lagi ada orang, Pa," kata Santi membuat langkah kaki Pak Johdy tertahan.

__ADS_1


Pria setengah tua berusia hampir setengah abad itu menatap Willy dan Santi silih berganti.


"Aku mau balik ke depan dulu, Pak," kata Willy.


"Lho, kenapa buru-buru, Wil? Di sini saja dulu ngobrol dengan Santi. Nih putri Bapak jarang punya teman. Bapak senang kamu mau berteman dan ngobrol dengannya," bocor Pak Johdy.


Willy melirik Santi.


Santi tersenyum rikuh. "Ah, Papa ini sok tahu Santi tak punya teman," protesnya. "Teman-teman Santi kan banyak. Tuh semua pegawai Papa yang di depan itu teman Santi."


Pak Johdy dan Willy saling memandang. Lalu sama-sama ketawa.


"Kenapa aku ditertawai?" protes Santi mengerucutkan bibirnya.


Pak Johdy dan Willy tak menjawab. Mereka hanya saling melempar senyum sebagai tanda tahu sama tahu.


"Ohya, Wil. Tunggu sebentar, jangan pergi dulu. Ada yang mau kubicarakan denganmu," tahan Pak Johdy saat melihat Willy hendak meninggalkan dapur.


"Iya, Pak? Ada apa?" tanya Willy sopan.


Sementara melihat rekan kerjanya meninggalkan dapur dan Pak Johdy ke toilet, Willy berdiri menunggu.


Santi pun masih duduk di kursi makan tanpa melakukan apa-apa, hanya sesekali melirik Willy yang sedang berdiri menunggu.


Tak lama kemudian Pak Johdy keluar dari toilet dan berjalan mendekat. "Lho, kok berdiri, Wil? Sini duduk," dia menggeser kursi makan di dekatnya untuk diduduki Willy. Merasa tak enak dilayani, Willy pun buru-buru membalas dengan mendekatkan sebuah kursi ke boss-nya.


Pak Johdy duduk di sana. Willy juga duduk tak jauh dari boss-nya. Sementara Santi duduk di hadapan mereka.


"Begini, Wil. Aku rencananya mau menaikkan gajimu bulan depan," kata Pak Johdy.


Willy terhenyak. Hatinya berdebar keras. "Naik gaji, Pak?" surpraisnya.


"Iya," jawab Pak Johdy. "Kamu kan sudah bekerja di sini 2 tahun tapi gajimu masih 3 jutaan doang. Ya kan, San?" dia melirik putrinya.


Santi mengangguk. "Iya, Pa. Rasaku memang gaji Willy agak kurang padahal kerjaannya banyak. Juga mengurus hal-hal penting selama ini."


"Nah, makanya, bulan depan kamu naikkan gajinya sebanyak 1/3 lagi jadinya 4 jutaan."

__ADS_1


"Wah," Willy berseru kecil. Rasa kaget bercampur senang karena kenaikan gaji yang lumayan besar untuk seorang pekerja tamat SMA seperti Willy.


"Makasih banyak, Pak Johdy," Willy hanya mampu msngucapkan itu sebagai ungkapan kegembiraan hatinya. Dia merasa terharu dan senang luar biasa. Hatinya bersorak riang.


"Iya, sama-sama, Wil. Aku melihatmu sangat rajin selama ini. Kerjaanmu juga beres semua. Terus semua hal bisa kamu lakukan dengan cepat. Dan yang terutama lagi kamu orangnya jujur. Aku bisa percaya padamu," Pak Johdy menepuk-nepuk pundak Willy yang duduk di dekatnya.


Willy tersenyum lepas dengan sedikit menundukkan wajah. Bicara dengan boss memang begitu. Apalagi saat dipuji langsung, tidak boleh besar kepala. Harus menerima dengan rendah hati.


Santi yang duduk tak jauh dari mereka ikut tersenyum lega. Dia turut senang mendengar papanya akan menaikkan gaji Willy bulan depan.


"San, ingat ya jangan sampai lupa naikkan gaji Willy 1 juta lagi dari yang sebelumnya," pesan Pak Johdy.


"Pasti ingatlah, Pa," Santi terkikik.


"Oke, aku mau balik lagi ke depan dulu," pamit Pak Johdy.


"Aku juga," Willy ikut bangkit dari duduknya dan berjalan di belakang boss-nya. Sementara Santi melihat kepergian mereka sesaat lalu pun ikut bangkit.


Pak Johdy masuk ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang kerja putrinya, Santi. Sementara Willy balik lagi ke markas yang berada di bagian depan panglong.


"Tumben hari ini makan siang di dapur, Wil," kata rekannya yang tadi memergoki Willy dan Santi di dapur.


"Iya, tadi diajak makan siang bareng Santi," jawab Willy jujur.


"Wow! Ada harapan nih!" seru rekannya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Harapan apaan?" Willy memandang rekannya.


"Ya harapan menjadi menantu boss dong. Hahaha," goda rekannya.


"Hush!" Willy spontan tertawa menanggapi gurauan itu.


"Kejar saja tuh, Wil! Santi cocok denganmu. Sudah lama kuperhatikan dia ada hati padamu. Kulihat dia perhatian dan suka sekali padamu. Juga sering mencuri pandang."


"Ah, nggaklah. Santi hanya teman. Putri boss. Nggak lebih," tangkis Willy. "Lagian, aku kan sudah punya Ayu. Masa lupa?"


* * *

__ADS_1


__ADS_2