Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu yang Menggairahkan dan Ardian yang Tergugah


__ADS_3

Bab 55


Ayu dan Ardian sudah selesai berenang. Mereka keluar dari kolam renang sambil tertawa senang. Betapa irinya para karyawan cewek yang ada di sekitaran kolam renang melihat kedekatan Ayu-Ardian. Mereka iri melihat Ayu yang walaupun seorang celaning service tapi bisa begitu dekat dengan anak pemilik perusahaan dan diperlakukan bak cinderella.


Mereka berjalan berdampingan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari air kolam. Tentunya Ayu masuk ke kamar mandi cewek dan Ardian ke kamar mandi cowok.


Setelah selesai mandi, Ayu dan Ardian bersalin pakaian biasa lagi yang mereka kenakan tadi sebelum berenang.


"Kamu mau makan apa, Yu? Biar kita makan di sini saja," kata Ardian.


Ayu yang ditawari Ardian tak menolak. Dengan senang hati dia ikut Ardian duduk di kursi yang ada di kantin dekat kolam renang.


"Aku nasi goreng dan es jeruk saja, Pak," kata Ayu.


Ardian memanggil pelayan yang ada di kantin, menyebutkan pesanan Ayu sekaligus pesanannya juga. "Nasi goreng 2, es jeruk 2."


"Itu saja, Pak?" tanya pelayan yang menulis pesanan Ardian di buku memo.


"Iya," Ardian mengangguk.


Setelah pelayan itu pergi, Ayu bertanya dengan suaranya yang merdu dan manja. "Kok Pak Ardian pesanannya sama dengan Ayu?"


"Iya, sengaja sama, Yu, supaya nanti kita makannya barengan seru," Ardian mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Ayu terkekeh. Shella yang duduk tak jauh dari meja Ardian dan Ayu meleletkan lidah saking sebalnya melihat kemesraan Ayu-Ardian. Tapi yang membuatnya merasa jijik adalah sikap Ayu yang manja merayu. Seperti sengaja memanas-manasi orang-orang di sekitarnya dengan gayanya yang mentel.


Seandainya saja aku bisa memberi pelajaran pada Ayu! ujar Shella dalam hati. Tunggu saja, Yu, kesempatan untuk itu pasti datang. Kamu tidak selamanya menang. Kamu tidak selamanya mendapat perhatian istimewa dari Ardian. Kamu tidak selamanya bisa menjadi putri cinderella. Besok-besok kamu akan dicampakkan Ardian. Begitulah Shella terus berkata-kata sendiri dalam hatinya mengesali Ayu.


Kemesraan antara Ayu-Ardian sedari pagi mulai dari naik kuda, berenang, sampai makan di kantin telah membuat iri para karyawan cewek perusahaan Ardian. Sepertinya sepulangnya dari Brastagi ini kisah mereka akan berlanjut dan para karyawan-karyawati akan lebih segan pada Ayu.


Seperti di kolam renang tadi, Shella pun cepat-cepat menyelesaikan makannya dan beranjak pergi dari kantin untuk menghindari pemandangan yang menyebalkan di depannya. Pemandangan kemesraan Ayu-Ardian yang membuat hatinya panas, dadanya bergolak, dan jantungnya berdegup tak karuan.


Sebenarnya Shella tak akan begitu marah atau sebal pada Ayu, kalau saja Ardian tidak menegurnya dan mengancamnya dengan halus waktu keributan kecil di kamar Ardian saat Shella memergoki Ardian dan Ayu. Gara-gara Ayu, Shella ditegur dan dimarahi Ardian, itulah yang membuat Shella menjadi sangat mengesali Ayu.


Ayu yang sedang makan di kantin semeja dengan Ardian tentu saja menyadari dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Orang lain memperhatikan Ardian dan Ayu karena bisik-bisik Ardian adalah boss perusahaan dan Ayu cleaning service. Yang cewek memperhatikan Ardian karena ketampanannya yang amat sangat. Sedangkan para karyawan-karyawati perusahaan Ardian memperhatikan mereka karena iri.


Ayu hanya bisa pura-pura tak menyadari dirinya dan Ardian menjadi pusat perhatian. Dia masih meneruskan kebiasaannya bicara dengan nada manja, suara merdu, dan pandangan mata merayu. Lesung pipit dan gigi gingsulnya benar-benar menggemaskan setiap orang yang melihatnya, termasuk Ardian.


Karena keistimewaan itu pulalah membuat dia pantas mendapat perhatian istimewa dari Ardian. Wajah bulat telur, mata bundar indah, lesung pipit, gigi gingsul, hidung bangir, bibir ranum, kulit putih mulus, dan bentuk tubuh yang aduhai montok dan seksinya. Di bagian dada menyembul tinggi 2 bukit indah kembar yang menantang dan menggiurkan. Sedangkan di bagian pinggang membentuk gitar spanyol yang meliuk dan menggairahkan.


"Kita mau ke mana lagi, Pak?" tanya Ayu yang berjalan bersisian dengan Ardian.


"Naik ayunan saja mau?" tanya Ardian.


"Wow... paling suka naik ayunan, Pak," Ayu tertawa renyah.


"Iya, karena itulah kita ke sana," Ardian tersenyum.

__ADS_1


Mereka berjalan agak jauh untuk sampai ke ayunan besar yang ada di taman. Ayu dan Ardian naik ke atas ayunan dan duduk berseberangan. Ardian mulai menggoyang-goyangkan ayunan itu ke depan dan ke belakang.


"Haha, Pak Ardian jangan kencang-kencang dong, Pak, Ayu kan takut," cekikikan gadis belia itu dengan suara yang terdengar sangat manja.


"Oh... sori... sori... pikirku kamu suka kencang-kencang, Yu," balas Ardian diringi tawa kecil.


Ardian memperlambat goyangan di ayunan itu sehingga dirinya dan Ayu bisa lebih santai duduk di sana.


Ardian yang duduk di depan Ayu berkali-kali mencuri pandang pada gadis manis yang amat cantik dan menggoda itu. Apalagi di saat dia tertawa renyah dan manja, suaranya yang merdu dan menggairahkan terasa membangkitkan hasrat kelelakian Ardian untuk menjamahnya, memeluknya, atau mengecupnya.


Untuk yang lebih jauh Ardian cepat-cepat menghalau pikirannya. Karena kalau dia membiarkan pikiran itu singgah dan menetap di benaknya, bisa-bisa sekarang juga di siang bolong begini Ayu sudah menyerah dibuatnya.


Senangnya Ayu dan Ardian bermain ayunan sambil tertawa lepas. Ardian benar-benar bisa tertawa lepas saat bersama Ayu. Tiada beban di hatinya. Tiada kecemasan apa-apa. Yang ada hanya gejolak darah muda dan debar-debar indah di dada.


Entah kenapa, setelah Ardian memberi tumpangan kamar pada Ayu di dini hari menjelang pagi, cowok itu seperti tak peduli lagi apa kata orang. Dia seperti tak menghiraukan pandangan aneh dan iri para karyawan-karyawati perusahaannya. Dan dia seperti ingin menikmati dengan sebenarnya momen indah bersama gadis itu.


"Yu, kamu pindah duduk di sini saja," kata Ardian sambil memperlambat ayunan yang digoyangkannya sambil duduk. Lima belas menit sudah mereka duduk berayun di situ sambil bicara dan tertawa.


"Pindah ke mana, Pak?" tanya Ayu tak lupa memamerkan gigi-gigi gingsulnya yang menggemaskan.


"Pindah ke sampingku!" Ardian menunjuk tempat di sampingnya.


"Aaah... emoh ah, Pak. Bukannya Pak Ardian yang ke sini saja?" Ayu mengerling pada Ardian dengan isyarat mata panas menggoda.

__ADS_1


Ardian menelan ludah. Di kamarnya lewat tengah malam tadi dia berhasil tak mengapa-apai Ayu padahal hanya mereka berdua di dalam kamar. Tapi kok di taman ini duduk di atas ayunan di siang bolong begini bisa timbul hasratnya untuk berbuat lebih jauh pada gadis itu? Apakah karena Ayu yang bangun dan riang begini di siang bolong lebih menggairahkan dan membangkitkan hasrat daripada Ayu yang tidur terlelap di ranjang dalam kelelahan?


* * *,


__ADS_2