Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ayu Menyarankan Ardian Menelepon Nia


__ADS_3

Bab 47


Ardian duduk di sofa menunggu Ayu menyelesaikan pekerjaannya. Tampaknya dia lebih betah duduk di ruang tamu menunggu Ayu bekerja sambil melihati hp-nya daripada bergabung dengan para karyawan di taman merayakan malam old and new.


Karena sibuk bekerja membereskan dapur, Ayu tidak sempat bertanya pada Ardian kenapa belum juga ke taman bergabung dengan para karyawan.


Sudah setengah jam lebih Ardian duduk di sofa. Walau dirinya tampak sedang melihati hp, namun beberapa kali kalau diperhatikan dia mencuri pandang pada Ayu yang sedang bekerja.


Ayu tidak menyadari hal itu karena dia sedang memburu waktu supaya kerjaannya cepat selesai.


Saat Ayu selesai dengan pekerjaannya, dilihatnya Ardian masih duduk di sofa melihati hp. Pikir Ayu, Ardian memang sedang asyik dengan gadgetnya. Padahal sebenarnya Ardian sedang menungguinya.


Ayu berjalan mendekati Ardian yang kelihatan menunduk melihati hp. "Pak," sapanya ketika dekat.


Ardian mengangkat kepalanya, seolah-olah baru menatap Ayu lagi, padahal dari tadi dia sudah berkali-kali menatap Ayu dari kejauhan walaupun secara sembunyi-sembunyi.


"Iya, Yu? Sudah selesai kerjaanmu?" tanya Ardian.


"Sudah, Pak," jawab Ayu sambil tersenyum lega. "Bapak kok belum juga ke taman bergabung dengan mereka?" tanyanya heran.


"Ehm," Ardian mendehem. "Kamu duduk di sini, Yu. Jangan berdiri saja. Capek kan, dari tadi berdiri saja," tunjuk Ardian pada tempat di sampingnya.


Ayu merasa segan duduk di samping Ardian, tapi Ardian memastikan dengan seulas senyum ramah seperti berkata, "Tidak apa-apa, Yu."


Ayu yang memang sudah capek pun duduk di samping Ardian. Dia mengambil jarak sekitar satu meter dari Ardian. Jadi walaupun mereka duduk di sofa yang sama namun jarak mereka berjauhan.


"Gumana, Pak? Belum mau ke taman?" ulang Ayu.


"Sebentar lagi," jawab Ardian. "Kamu mau ikut, Yu?" tanyanya.

__ADS_1


"Kayaknya nggak, Pak. Aku pun asing dengan mereka. Bapak saja yang ke sana gabung," jawab Ayu.


Ardian tak menjawab. Merasa tak tahu harus bicara apa dengan gadis di sampingnya, Ardian melihati kembali hp-nya.


"Ehm... Pak Ardian tidak chat dengan pacar Bapak di malam tahun baru?" tanya Ayu tiba-tiba. Dia mencoba mencari topik pembicaraan ketika dilihatnya cowok di sampingnya diam saja.


Ardian tersentak. Pertanyaan sederhana itu membuat ingatan Ardian kembali pada seorang gadis bernama Nia. Hatinya bergetar. Sesuatu rasa yang aneh menggelegak di sana. Berdesir. Seperti sebuah rindu teramat sangat yang sulit diungkapkan. Namun rindu itu terasa dingin. Nyaris beku karena terlalu lama dibiarkan alias tak dihangatkan.


"Pak, Pak," Ayu memanggil Ardian yang tampak tepekur mendengar pertanyaannya barusan.


"I-ya, Yu?" Ardian mengalihkan pandangannya dari hp kepada gadis di sampingnya.


"Pacar Bapak mungkin sedang menunggu chat atau telepon dari Bapak di malam tahun baru?" tebak Ayu seolah mengingatkan.


Ardian terdiam sesaat sebelum nenjawab, "Nggak tahu, Yu." Dia menggeleng lalu menunduk, enggan memikirian kenapa selama 3 bulan lebih ini tak pernah lagi menghubungi Nia lewat hp.


"Lupakan saja," jawab Ardian pendek.


"Lupakan? Maksud Pak Ardian?" tanya Ayu tak mengerti.


"Nggak apa-apa," Ardian berusaha tersenyum sambil menggeleng.


"Oh, aku boleh pinjam hp Bapak sebentar?" tanya Ayu hati-hati.


"Pinjam? Hp-ku? Untuk apa?" tanya Ardian bingung.


"Ada deh, Pak," Ayu tersenyum misterius.


Dengan heran Ardian menyerahkan hp-nya ke dalam genggaman Ayu. Setelah hp itu berada di tangannya., Ayu berkata, "Nah, sekarang Bapak sebutkan nama seorang gadis yang paling spesial di hati Bapak sebelum aku ubek-ubek hp Bapak ini," seloroh Ayu setengah mengancam.

__ADS_1


Ardian ternganga. Karena hp-nya telanjur berada di tangan Ayu dan tak mungkin diambilnya kembali dengan paksa atau memintanya kembali terkesan tidak sopan, Ardian pun menyebutkan sebuah nama. "Nia," ucapnya kecil, nyaris tak terdengar.


Ayu yang mendengar nama itu disebut, walau sekejap hatinya berdesir aneh, namun memasang seulas senyum juga sambil mulai melihati hp di tangannya.


Benarlah seperti dugaannya, Ardian akan memiliki banyak chat dengan gadis bernama Nia itu di aplikasi whattsapp yang ada di hp-nya. Namun Ayu sedikit heran saat dia melihat chattingan terakhir Ardian dengan gadia bernama Nia itu adalah 3 bulan lalu. Apakah itu berarti Pak Ardian sudah putus hubungan dengannya?


"Pak, maaf aku kurang ajar tapi aku ingin Pak Ardian bisa bahagia di malam tahun baru. Aku ingin Pak Ardian bisa saling menyapa dengan Kak Nia yang merupakan gadis paling spesial di hati Bapak," terang Ayu.


"Maksudmu,Yu?" tanya Ardian sambil menajamkan mata.


"Maksudku, aku mau Pak Ardian telepon Kak Nia sekarang mengucapkan selamat tahun baru."


Ardian diam tepekur. Dia tak hendak melaksanakan niat Ayu itu. Menelepon Nia yang sudah sengaja didiamkannya selama 3 bulan ini seperti menjatuhkan gengsi dan harga dirinya.


"Pak Ardian sedang marahan dengan Kak Nia?" tebak Ayu setelah melihat ekspresi wajah Ardian yang dingin menanggapu usulnya itu.


"Barangkali," jawab Ardian pendek.


Terasa ada kekesalan dan kemarahan di hatinya yang masih dipendamnya semenjak Nia pamit pulang ke Tanjungbalai setengah tahun lalu. Katanya, dia tak tahu kapan baru bisa balik lagi ke Medan. Nia meninggalkan Ardian begitu saja.


Selama 3 bulan awal Ardian masih rajin menelepon dan mengirim chat pada Nia, tapi 3 bulan berikutnya dia memutuskan berhenti menghubungi gadis itu dengan alasan mulai menangani perusahaan yang dipercayakan diurus olehnya sementara papa mamanya keliling dunia, jalan-jalan dan tinggal di rumah yang di luar negeri.


"Apapun kemarahan Bapak itu, sebaiknya dilupakan di malam tahun baru," nasihat Ayu. "Hanya ada kesempatan setahun sekali, Pak, mengucapkan selamat tahun baru."


Setelah berkata begitu, Ayu merasa hatinya berdebar. Dia kaget dan heran kenapa begitu berani memberi nasihat pada Ardian, anak boss besarnya. Padahal dirinya hanya seorang cleaning service, bukan siapa-siapanya Ardian. Cuma nilai plusnya, Ayu pernah menyelamatkan Ardian dari bahaya insiden di lapangan pada proyek luar kota.


Ardian tercekat. Dia tak kalah kagetnya mendengar nasihat Ayu itu yang diucapkannya dengan lancar. Memangnya sekarang dia sedang berhadapan dengan siapa? pikir Ardian. Apakah Ayu itu ibunya atau neneknya? Tidak, Ayu hanya seorang bawahan yang bahkan tidak dipandang sebelah mata tapi berani menasihati atasannya langsung, walaupun itu bukan berkaitan dengan masalah pekerjaan. Namun walaupun hanya masalah pribadi, Ayu termasuk berani. Apalagi perkenalannya dengan Ardian baru terjadi 3 bulan lalu dan ini pun baru kali kedua mereka bertemu.


* * *

__ADS_1


__ADS_2