Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Season 2-Ardian Menghamburkan Duit untuk Ayu


__ADS_3

Bab 82


Betapa enaknya jadi anak orang kaya, bisik Ayu dalam hati saat melihat Ardian membayarkan barang-barang belanjaannya yang totalnya sepuluh juta lebih.


Memang enak ya, Yu. Apalagi jika kamu berhasil jadi istri anak orang kaya, lebih enak lagi, jawab hatinya pula.


Seumur hidup, Ayu belum pernah dibelikan siapa pun barang-barang yang begini mahal dan banyak. Ini pertama kalinya dirasakan Ayu. Ternyata shoping sepuasnya tanpa takut memboroskan duit sendiri itu sangat menyenangkan. Membuat hati gembira dan puas. Ah, senangnya kalau bisa tetap seperti ini.


Perlahan tapi pasti, hati Ayu mulai dirayapi keinginan itu. Ingin bisa setiap hari atau setiap Minggu seperti ini. Tidak usah bekerja keras dan hanya bersenang-senang menghamburkan duit.


Alangkah senangnya jadi anak orang kaya atau kalau mungkin istri anak orang kaya. Ke mana-mana saja dilihati, dikagumi, dan dihormati. Tidak seperti dirinya yang sebelum mengenal Ardian, bekerja keras dan begitu rajin pun masih sering dikritik dan dicela oleh orang-orang yang tak puas padanya. Mereka melampiaskan kekesalan hati yang entah didapat dari mana pada Ayu, seolah-olah Ayu bertanggung jawab atas kekesalan hati mereka.


"Berat ya, Yu, kita titip saja dulu barang belanjaanmu karena kita masih akan jalan-jalan ke tempat lain, makan, dan nonton," Ardian membantu Ayu membawakan dua plastik besar belanjaannya, sedangkan Ayu memegang satu plastik. Dia menuju ke tempat penitipan barang untuk menitipkan barang yang dibelinya tadi di sana. Ayu mengikuti langkah Ardian ke sana dan menitipkan plastik besar belanjaannya ke tempat itu juga sehingga ada tiga plastik besar berisi barang belanjaan yang mereka titipkan di situ.


Karena belum begitu sore, Ardian mengajak Ayu jalan-jalan dulu mengelilingi mal. Mereka memasuki beberapa toko untuk melihat-lihat dan membeli sekadarnya. Setelah itu Ardian mengajak Ayu makan di kafe. Secara naluriah, dia mengajak Ayu masuk ke kafe yang sama dengan kafe yang dulu sering dia kunjungi bersama Nia. Mungkin dia merindukan momen itu kembali dan ingin mengulangnya bersama orang yang sama namun karena orang tersebut tak ada di sisinya maka dia mengajak orang lain sebagai pengganti.


Ardian senang melihat Ayu makan dengan lahap semua pesanan makanan. Wajah gadis belia itu kelihatan senang sekali dan semangat berbunga-bunga. Hati Ardian turut senang melihatnya. Setidaknya Ayu telah menghibur hatinya yang nelangsa selama ini setelah Nia tak berada di dekatnya.


"Kita mau ke mana lagi, Pak?" tanya Ayu setelah dia selesai menyantap semua hidangan di atas meja. Diseruputnya jus alpukat yang berada di dalam gelas tinggi. Segar rasanya, mendinginkan kerongkongannya yang haus setelah makan banyak.

__ADS_1


"Ya... beli hp baru, Yu? Kamu mau? Atau mungkin beli gaun baru?" usul Ardian. Duh... kenapa pula dia mengusulkan hal yang sama yang dulu dia dan Nia lakukan berdua di mal ini? Belanja hp dan gaun baru, itu yang dulu dia lakukan bersama Nia. Termasuk makan di kafe ini.


"Hp baru Pak? Buat apa? Hp-ku masih bagus kok, Pak Ardian. Gaun baru buat apa pula, Pak?" tanya Ayu heran.


"Iya... mana tahu kamu mau hp android baru yang lebih canggih? Kita ke sana nanti, Yu. Kubelikan untukmu," jawab Ardian.


"Lalu gaun untuk apa pula?" Ayu mengerutkan alis. Dia hampir tak pernah pakai gaun terusan apalagi gaun mahal.


"Gaunnya untuk kamu pakai bila sewaktu-waktu aku mengajakmu ke pesta."


Ayu membelalakkan mata. "Kita mau ke pesta, Pak? Kapan? Pesta apa?" reaksi Ayu surprais.


Ayu bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Ardian keluar dari dalam kafe. Dia menurut saja ke mana boss-nya itu membawanya pergi. Setelah menaiki lift, mereka sampai di lantai yang banyak memajang hp android baru.


Ardian memilihkan untuk Ayu hp android yang lumayan mahal dan masih baru. Lagi-lagi Ayu terkejut melihat harganya. Tujuh juta lebih. Dengan enteng saja Ardian membayar hp baru itu dan menyerahkannya pada Ayu. Sekarang Ayu menjadi pemilik sahnya.


Untuk selanjutnya Ayu memang tidak berkata apa-apa setiap Ardian membelikannya barang. Mumpung hati Ardian masih ingin dan ada padanya, ya biarkan saja cowok itu menghamburkan duit untuknya. Toh melihat Ayu senang, Ardian juga ikut senang. Begitulah pikir Ayu. Sama-sama senang.


Mereka masuk lagi ke dalam butik mewah yang menjual baju-baju mahal. Ardian memilihkan untuk Ayu dua gaun mahal yang lagi-lagi sangat mahal harganya. Dua gaun cantik dan seksi yang harganya sama dengan dua bulan gaji Ayu.

__ADS_1


Hari ini Ardian seperti ingin melampiaskan kekesalan hatinya pada Nia dengan membawa Ayu jalan-jalan dan belanja sepuasnya. Rasanya puas sekali bisa menghamburkan banyak duit untuk gadis lain sebagai balasan sakit hati atas Nia yang dilihatnya bersama cowok lain. Ardian sengaja membelikan Ayu barang-barang mahal dan mewah yang harganya berkali-kali lipat daripada barang-barang yang pernah dia belikan untuk Nia. Seolah ingin mengatakan kalau Ayu itu lebih pantas untuk dimanjakan. Ayu lebih berharga disayang dan dihamburkan duit banyak daripada Nia yang dirasa telah mengkhianatinya. Di pikiran Ardian, Nia meninggalkannya lalu mengkhianatinya. Perbuatan yang tidak bisa dimaafkan olehnya.


"Senang nggak, Yu?" Ardian bertanya pada gadis yang berjalan di sampingnya.


Gadis itu berjalan dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar-binar senang sambil memegang tas berisi dua gaun mewah dan satu hp baru.


Sebenarnya tak usah ditanya lagi, dari raut wajah Ayu sudah jelas dia sangat senang dan bahagia. Ardian hanya bertanya untuk memastikan saja dan menikmati rasa puasnya atas jawaban gadis itu. Seolah-olah ingin mengatakan pada Nia, "Lihatlah, Nia. Gadis secantik dan sebaik Ayu pun jauh lebih berterima kasih daripadamu yang tak bisa menghargai kebaikan orang lain. Ayu lebih baik dibandingkan denganmu!" rutuk Ardian dalam hati lalu terkekeh sendiri.


"Senang sekalilah, Pak. Belum pernah aku sesenang ini," jujur Ayu sambil membalas tatapan Ardian yang berjalan di sampingnya. "Tapi kenapa Bapak ketawa? Adakah yang lucu? Hehe," Ayu bertanya ingin tahu.


"Oh... iya, aku tiba-tiba teringat seseorang. Seorang gadis juga seperti kamu cuma dia lebih tua tiga tahun darimu dan lebih muda satu tahun dariku," terang Ardian sambil tersenyum tipis.


"Oh, siapakah gadis itu Pak? Pacar Pak Ardian yang dulukah?" tanya Ayu penasaran.


"Nggak, bukan siapa-siapa. Seseorang yang tidak layak lagi untuk diingat. Kamu lebih berharga darinya," kata Ardian.


Hati Ayu pun semakin berbunga-bunga mendengar kata-kata Ardian itu.


* * *

__ADS_1


__ADS_2